Oleh: M. Ischaq Nabil Asshiddiqi, S.Kep.,Ns.,MNS
Pengantar
Dalam upaya memahami peta kesehatan Indonesia, kita perlu menyelami lebih dari sekadar data epidemiologi. Global Burden of Disease (GBD) menunjukkan beban yang nyata (1), sementara sikap fatalisme sering kali menjadi tantangan dan hambatan dunia kesehatan (2,3) yang tidak teridentifikasi. Sebagai bangsa dengan mayoritas Muslim, pembahasan tentang kesehatan di Indonesia seringkali tidak dapat dipisahkan dari kerangka nilai-nilai budaya dan agama yang mengakar dalam bentuk perilaku keseharian masyarakatnya. Selain itu, penting untuk merefleksikan bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga menawarkan perspektif mendalam tentang perilaku kesehatan, bagaimana mensyukuri dan menjaga nikmat kesehatan, nikmat yang justru paling sering dilalaikan. Artikel ini akan menghubungkan data GBD dengan koreksi terhadap fatalisme melalui penguatan kesadaran akan kesehatan .
1. Penyakit Kronis dan Nilai-nilai Spiritual
Studi Global Burden of Disease (GBD) secara konsisten menunjukkan pergeseran beban penyakit Indonesia dan banyak negara lainnya dari penyakit menular ke Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan kanker (4,5). Faktor risiko utamanya berkaitan dengan pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan merokok yang mencerminkan perubahan gaya hidup yang tidak sehat. Beban ganda penyakit ini menjadi ujian besar bagi sistem kesehatan nasional.
Penyakit kronis mendominasi GBD karena sifatnya yang progresif dan menyebabkan ketergantungan pengobatan jangka panjang. Faktor risikonya yang dapat dimodifikasi seharusnya menjadi peluang untuk pencegahan. Di sinilah ajaran Islam menawarkan fondasi yang kuat. Konsep menjaga kesehatan dianggap sebagai bagian dari menjaga jiwa (hifdzu an-nafs), yang merupakan salah satu dari lima maqashid syari’ah yang dicetuskan oleh Imam Asy-Syatibi. Dengan demikian, jika kita lihat dengan sudut pandang yang lebih luas, pencegahan penyakit dan perawatan kesehatan bukan hanya tindakan medis semata, tetapi juga kewajiban agama untuk memelihara anugerah kesehatan yang telah Allah SWT karuniakan kepada kita sebagai wujud Amanah dan rasa Syukur kita kepada-Nya.
Nabi Muhammad SAW menerangkan tentang keutamaan Mukmin yang Kuat:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim)
Makna dalam konteks kesehatan: Hadis ini secara eksplisit menyatakan keutamaan menjadi pribadi Mukmin yang kuat. Pribadi yang kuat ini bisa dimaknai kuat dan sehat secara Dzohir maupun Batin. Atau dalam sudut pandang antropologi kesehatan, Mukmin yang kuat adalah Individu yang kuat dalam berbagai aspek meliputi aspek fisik (Bio), mental (Psycho), sosial (Socio), dan spiritual (Spiritual). Selain itu, hadis tersebut juga mengisyaratkan sebuah perintah untuk aktif mencari manfaat atau kebaikan, yang mencakup segala bentuk upaya kebaikan termasuk menjaga kesehatan. Berbagai penelitian telah menunjukkan keterkaitan erat antara nilai-nilai spiritual dengan penyakit kronis dan perilaku kesehatan (6–8), meskipun beberapa diantaranya telah menunjukkan pemahaman yang keliru terkait nilai-nilai spiritual dapat bermanifestasi dalam bentuk fatalisme dan berpengaruh negatif terhadap perilaku kesehatan (2,3,9,10).
3. Mendefinisikan Ulang Fatalisme: Antara Tawakkal dan Ikhtiar dalam Kesehatan
Fatalisme kesehatan yang bermasalah adalah sikap pasif yang mengabaikan ikhtiar, dengan memandang sehat dan sakit sudah ditentukan oleh nasib atau takdir. Sikap ini berbeda dengan tawakkal yang sesungguhnya, yang diawali dengan ikhtiar semaksimal mungkin.
Fatalisme kesehatan sering disalahartikan sebagai bagian dari keimanan. Padahal, dalam ajaran Islam, terdapat keseimbangan yang fundamental antara ikhtiar (usaha) dan tawakkal (berserah diri kepada Allah setelah usaha maksimal).
Nabi Muhammad SAW mencontohkan Prinsip Ikhtiar sebelum Tawakkal. Suatu saat salah seorang sahabat hendak melaksanakan sholat di Masjid dan meninggalkan untanya begitu saja. Melihat hal itu, lalu Nabi SAW mengingatkan sahabat tersebut dan Beliau bersabda:
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
“Ikatlah (untamu) lalu bertawakallah.” (HR. At-Tirmidzi)
Makna dalam konteks kesehatan: “Mengikat unta” adalah contoh analogi untuk melakukan segala upaya preventif dan kuratif yang manusiawi dan logis dalam menjaga kesehatan, baru kemudian berserah diri pada Allah atas hasil akhirnya.
Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga telah memerintahkan untuk berobat ketika sakit, sebagaimana sabda beliau:
يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِفَاءً، إِلاَّ دَاءً وَاحِدًا الْهَرَمُ
“Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah! Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan menurunkan pula obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu tua.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Daud)
Makna Kesehatan: Ini adalah perintah langsung (amr) untuk aktif mencari pengobatan, yang merupakan antitesis dari sikap fatalis pasif. Perintah ini mencakup pencegahan (mencegah penyakit) dan pengobatan (menyembuhkan penyakit).
Lebih lanjut, Islam juga melarang umatnya untuk berperilaku yang membahayakan dan merugikan:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 195).
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’: 29)
Makna Kesehatan: Ayat-ayat tersebut telah mengisyaratkan tentang larangan perbuatan yang merusak dan merugikan. Dalam konteks kesehatan, perilaku mengabaikan upaya pencegahan penyakit (seperti skrining, vaksinasi), meneruskan gaya hidup berisiko tinggi (merokok, makan berlebihan), atau tidak patuh berobat dapat ditafsirkan sebagai bentuk “membahayakan” atau “membunuh diri” secara perlahan, yang dilarang keras oleh Allah SWT.
4. Kesehatan sebagai Nikmat yang Paling Sering Dilalaikan
Melampaui diskusi tentang ikhtiar dan tawakkal, Islam secara khusus mengingatkan manusia akan sifat mereka yang sering lalai (ghaflah) terhadap nikmat-nikmat Allah, terutama nikmat yang tampak “biasa”. Di antara semua nikmat, kesehatan dan waktu luang seringkali tidak dihargai hingga keduanya hilang. Nabi Muhammad SAW bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu (merugi) karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)
Makna Mendalam untuk Kesehatan Masyarakat:
Hadis ini merupakan alarm atau peringatan spiritual dan sosial. Kata مَغْبُونٌ (maghbunun) berarti “tertipu” atau “dirugikan”, menunjukkan bahwa manusia sering kali:
- Mengabaikan (Lalai): Menganggap kesehatan sebagai kondisi default yang akan selalu ada, sehingga tanpa disadari perilaku kesehariannya menunjukkan tidak ada urgensi untuk menjaganya.
- Menyia-nyiakan: Tidak memanfaatkan masa sehat untuk berbuat kebaikan, termasuk melakukan tindakan pencegahan penyakit, olahraga, atau pola makan sehat dan proporsional (Toyyib).
- Baru Menyesal Setelah Hilang: Baru menyadari nilai kesehatan ketika penyakit telah datang.
Dalam konteks fatalisme, kelalaian ini sering kali dimanifestasikan sebagai sikap pasif: “Selama ini baik-baik saja, tidak perlu periksa atau berobat” atau seringkali kita temukan ungkapan “orang merokok dan tidak sama-sama akan mati”. Sikap ini memperparah siklus GBD karena penyakit kronis seperti hipertensi, stroke, dan diabetes sering tidak bergejala di awal, dan baru terdeteksi setelah menyebabkan kerusakan organ.
Hubungan Erat antara GBD, Fatalisme, dan Kelalaian akan Nikmat Sehat
- GBD sebagai Cermin Kelalaian Kolektif: Tingginya angka PTM di Indonesia akibat gaya hidup tidak sehat (diet, kurang aktivitas, merokok) adalah bukti empiris dari “kelalaian” massal terhadap nikmat sehat. Masyarakat “menukar” kesehatan jangka panjang dengan kenikmatan sesaat (makanan tinggi gula/lemak, rokok).
- Fatalisme sebagai Rasionalisasi Kelalaian: Ketika ditanya mengapa tidak menjaga kesehatan, jawaban fatalis seperti “Itu sudah takdir” atau “Biar saja, nanti juga kena kalau sudah waktunya” sering kali menjadi pembenaran bagi kelalaian dan ketidakmauan untuk mengubah kebiasaan buruk. Ini adalah bentuk pembenaran diri atas sikap pasif yang dikemas sebagai takdir.
- Islam Mengajarkan Kewaspadaan Proaktif: Hadis tentang dua nikmat diatas bukan untuk membuat kita bersikap pasif, melainkan untuk membangun kesadaran (awareness). Kesadaran bahwa kesehatan adalah modal yang suatu hari akan dipertanggungjawabkan penggunaannya di hadapan Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
لاَ تُزَوَّلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ
“Kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari Kiamat hingga dia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, tentang ilmunya untuk apa diamalkannya, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. At-Tirmidzi)
Kalimat “tentang tubuhnya untuk apa digunakan” memberikan dimensi tanggung jawab keagamaan yang sangat kuat terhadap bagaimana kita bersikap Amanah terhadap tubuh kita yang merupakan Anugerah yang tak ternilai. Hal ini dapat dievaluasi dan diukur dari perilaku kesehatan kita. Apakah kita sudah mengisi tubuh kita dengan makanan halal dan Toyyib (makanan yang baik, proporsional, dan sehat)? Atau kita melalaikannya dengan berperilaku berlebihan, “sembrono”, hingga mudah sakit? Atau menjaganya sebagai bentuk ketaatan, amanah dan rasa syukur kita kepada Allah SWT?.
Kesimpulan
Lonjakan Burden of Disease akibat PTM di Indonesia adalah alarm yang memanggil kita untuk bertindak lebih mendalam dan komprehensif. Fatalisme kesehatan, yang kerap bersembunyi di balik pemahaman agama yang parsial, merupakan tantangan yang harus diluruskan dengan pemahaman Islam yang holistik dan dinamis. Mahasiswa, Pendidik, dan Praktisi perlu mengidentifikasi dan menyadari bahwa fatalisme ada di antara perilaku kesehatan masyarakat kita. Islam, dengan dalil-dalil yang jelas, bukan agama yang mengajarkan kepasrahan buta. Ia justru mendorong umatnya untuk berikhtiar maksimal dengan menjaga pola makan, mencegah risiko, dan berikhtiar/berobat ketika sakit sebagai bentuk konkret dari iman, baru kemudian bertawakkal dengan penuh kepercayaan kepada Allah SWT atas hasil akhirnya. Menjaga kesehatan perlu dilihat dengan sudut pandang yang lebih luas. Ia tidak sekedar perilaku yang bersifat duniawi, tetapi juga sebagai modal akhirat dalam bentuk pengabdian atau ibadah dan rasa syukur kepada Allah SWT. Mari bersama bergerak dari narasi “pasrah pada sakit” menuju semangat “berikhtiar untuk sehat sebagai bentuk ibadah”.
Biografi Penulis:
M. Ischaq Nabil Asshiddiqi, S.Kep., Ns., MNS merupakan dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Alma Ata dan kandidat PhD in Gerontology di the University of Hong Kong dengan fokus pengajaran dan penelitian dibidang keperawatan gerontologi dan komunitas, kesehatan masyarakat, dan penyakit tidak menular.
Daftar Pustaka
1. Vos T, Lim SS, Abbafati C, Abbas KM, Abbasi M, Abbasifard M, et al. Global burden of 369 diseases and injuries in 204 countries and territories, 1990–2019: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2019. The Lancet. 2020 Oct 17;396(10258):1204–22.
2. Cohn L, Villar OED. Fatalism and health behavior: a meta-analytic review. Ciudad Juárez, Chihuahua, México: Universidad Autónoma de Ciudad Juárez; 2015.
3. Kulakçı-Altıntaş H, Ayaz-Alkaya S. Fatalism tendency and health beliefs about medication use in older adults: A predictive correlational design. Geriatric Nursing. 2024 Jan 1;55:29–34.
4. Mboi N, Syailendrawati R, Ostroff SM, Elyazar IR, Glenn SD, Rachmawati T, et al. The state of health in Indonesia’s provinces, 1990–2019: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2019. The Lancet Global Health. 2022 Nov 1;10(11):e1632–45.
5. Health Development Policy Agency. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 [Internet]. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan | BKPK Kemenkes. 2024 [cited 2025 July 30]. Available from: https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hasil-ski-2023/
6. Asshiddiqi MIN, Yodchai K, Taniwattananon P. Predictors of diabetes distress among older persons with type 2 diabetes mellitus in Indonesia. J Res Nurs. 2021 June;26(4):307–17.
7. Abu-Raiya H, Pargament KI. Religious coping among diverse religions: Commonalities and divergences. Psychology of Religion and Spirituality. 2015;7(1):24–33.
8. Koenig HG. Religion, Spirituality, and Health: The Research and Clinical Implications. International Scholarly Research Notices. 2012;2012(1):278730.
9. Brevik TB, Sæther KW. Approaching religious fatalism in cancer screening education. Journal of Evaluation in Clinical Practice. 2024;30(5):842–7. 10. Franklin MD, Schlundt DG, McClellan LH, Kinebrew T, Sheats J, Belue R, et al. Religious fatalism and its association with health behaviors and outcomes. Am J Health Behav. 2007;31(6):563–72.