Menolak Tumbang di Usia Senja: Terapi Bekam Kini Jadi Andalan Keperawatan Modern untuk Lansia

Menolak Tumbang di Usia Senja: Terapi Bekam Kini Jadi Andalan Keperawatan Modern untuk Lansia

Penulis : Ns. Imam Akbar, S.Kep.,S.Psi.,M.Kep.

Pernahkah Anda mendengar keluhan dari kakek, nenek, atau orang tua anda di rumah? seperti,

“Aduh, sendi rasanya kaku semua,” atau

“Tensi bapak lagi naik nih, kepala rasanya berat,”

Seiring bertambahnya usia, tubuh memang mengalami penurunan fungsi secara alami. Penyakit degeneratif seperti hipertensi, kolesterol tinggi, hingga nyeri sendi (osteoarthritis) sering kali menjadi “tamu tak diundang” di masa tua. Selama ini, solusi yang paling umum terlintas mungkin hanyalah rentetan obat-obatan farmasi. Namun, tahukah Anda bahwa dunia keperawatan modern kini menawarkan pendekatan yang jauh lebih holistik dan minim efek samping?

Perkenalkan, primadona dalam asuhan keperawatan gerontik (perawatan lansia) saat ini: Terapi Komplementer Bekam (Cupping Therapy).

Bagi sebagian orang, bekam mungkin masih dianggap sebagai pengobatan tradisional biasa. Namun, di bangku kuliah keperawatan saat ini, bekam dikaji secara mendalam sebagai praktik berbasis bukti ilmiah (evidence-based practice) yang efektif untuk lansia. Mari kita bedah mengapa terapi klasik ini kembali menjadi tren di dunia kesehatan modern!

1. “Pintu Keluar” Alami untuk Tensi dan Kolesterol

Lansia sering kali harus bergulat dengan tekanan darah tinggi. Terapi bekam basah (wet cupping) bekerja seperti katup pelepas tekanan. Saat proses vakum dan skarifikasi (goresan ringan) dilakukan di titik-titik tertentu, tubuh dirangsang untuk melepaskan Nitric Oxide (NO). Senyawa ini bertugas melebarkan pembuluh darah, yang secara otomatis membuat tekanan darah berangsur stabil. Selain itu, bekam membantu menarik keluar sisa metabolisme dan tumpukan zat pro-inflamasi dari bawah kulit, meringankan kerja ginjal dan hati.

2. Obat Nyeri Alami (Tanpa Bikin Ketergantungan!)

Nyeri lutut atau punggung yang tak kunjung hilang adalah musuh utama produktivitas lansia. Melalui stimulasi di area nyeri, bekam memicu otak untuk melepaskan endorfin hormon pereda nyeri alami tubuh yang kekuatannya jauh lebih aman dari obat penghilang rasa sakit berbahan kimia. Aliran darah baru yang kaya oksigen juga ditarik ke area sendi yang bermasalah, mempercepat penyembuhan radang dan mengurangi kekakuan otot.

3. Sentuhan Psikologis yang Bikin “Ayem”

Keperawatan bukan hanya soal menyembuhkan fisik, tapi juga merawat jiwa. Proses terapi bekam memberikan efek relaksasi yang mendalam. Perhatian, sentuhan terapeutik, dan komunikasi yang terjalin antara perawat dan pasien selama terapi berlangsung terbukti mampu menurunkan tingkat stres dan kecemasan lansia, membuat mereka merasa lebih dihargai dan diperhatikan.

Mengapa Harus Dilakukan oleh Perawat Profesional?

Meski terdengar sederhana, bekam pada lansia tidak boleh dilakukan sembarangan! Kulit lansia cenderung lebih tipis, rapuh, dan sensitif. Selain itu, lansia mungkin mengonsumsi obat pengencer darah yang membutuhkan perhatian khusus.

Di sinilah peran krusial seorang perawat profesional. Seorang perawat tidak hanya asal “menarik darah”, tetapi melakukan pengkajian komprehensif (tekanan darah, riwayat penyakit, status gizi) sebelum tindakan. Tarikan vakum pun disesuaikan agar tidak merusak jaringan kulit yang sudah menipis. Keselamatan pasien (patient safety) adalah hal yang paling utama.

Masa Depan Keperawatan Ada di Sini Mengintegrasikan kearifan lokal seperti bekam ke dalam ilmu keperawatan medis adalah bukti nyata bahwa asuhan kesehatan terus berevolusi. Perawatan masa kini tidak lagi sekadar menghilangkan gejala, tetapi memadukan ilmu medis dan terapi komplementer untuk menghadirkan kualitas hidup terbaik di masa tua.

Jadi, siap melihat para lansia kembali bugar dan tersenyum lepas berkat terapi komplementer? Dunia keperawatan siap mendampingi langkah mereka!!!

Jangan Hanya Merekam! Ini yang Harus Dilakukan Saat Melihat Kecelakaan Lalu Lintas

Jangan Hanya Merekam! Ini yang Harus Dilakukan Saat Melihat Kecelakaan Lalu Lintas

Oleh: Sofyan Indrayana, S.Kep., Ns., MS

Melihat korban kecelakaan lalu lintas tergeletak di jalan tentu membuat panik. Namun, jangan hanya merekam! Tindakan sederhana yang tepat dapat membantu menyelamatkan nyawa korban sebelum petugas medis tiba.

Kecelakaan lalu lintas, terutama kecelakaan sepeda motor, dapat terjadi kapan saja. Korban bisa mengalami luka ringan, patah tulang, cedera kepala, hingga gangguan pernapasan yang mengancam nyawa. Di tengah situasi tersebut, masih banyak orang yang memilih merekam kejadian daripada memberikan pertolongan. Padahal, sebagai sesama manusia, kita memiliki kesempatan untuk membantu. Berikut langkah pertolongan pertama yang perlu diketahui masyarakat saat melihat kecelakaan lalu lintas:

  1. Pastikan Keamanan Diri dan Lokasi

Sebelum mendekati korban, perhatikan kondisi sekitar. Ingat: Penolong yang ikut menjadi korban akan semakin memperburuk situasi

  • Pastikan kendaraan lain tidak sedang melaju dengan kecepatan tinggi.
  • Berhenti di tempat yang aman dan nyalakan lampu hazard jika memungkinkan.
  • Jangan berdiri di tengah jalan atau langsung berlari mendekati korban.
  • Mintalah bantuan orang lain untuk mengatur lalu lintas dan mengamankan lokasi.
  • Segera Hubungi Bantuan Darurat

Jika terjadi kecelakaan, segera minta bantuan petugas medis. Di Indonesia, masyarakat dapat menghubungi: 119 untuk layanan darurat medis dan 110 untuk bantuan kepolisian. Sampaikan informasi dengan jelas:

  • Kejadian secara lengkap.
  • Jumlah korban.
  • Kondisi korban, misalnya tidak sadar atau mengalami perdarahan.
  • Jenis kecelakaan, misalnya kecelakaan sepeda motor.
  • Akses jalan yang dapat dilalui ambulans.
  • Periksa Respons dan Pernapasan Korban

Setelah lokasi aman, dekati korban dan lakukan pemeriksaan awal.

Periksa respons:

  • Panggil korban dengan suara keras, “Pak/Bu, apakah bisa mendengar saya?”
  • Jika tidak merespons, segera minta orang lain menghubungi bantuan darurat.

Periksa pernapasan:

  • Perhatikan apakah dada korban bergerak dan apakah korban bernapas normal.
  • Jika korban tidak responsif dan tidak bernapas normal, segera mulai CPR (resusitasi jantung paru) dan gunakan AED jika tersedia, mengikuti panduan operator darurat atau pelatihan yang dimiliki.
  • Jika korban masih bernapas normal, pantau terus sampai petugas datang.
  • Hentikan Perdarahan yang Mengancam Nyawa

Perdarahan hebat dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Jika terdapat darah yang mengalir deras:

  • Tekan langsung luka menggunakan kain bersih, kasa, atau bahan yang tersedia.
  • Pertahankan tekanan secara terus-menerus.
  • Jika kain tembus darah, tambahkan kain di atasnya dan tetap tekan.
  • Untuk perdarahan hebat pada lengan atau tungkai yang tidak terkontrol dengan tekanan langsung, gunakan tourniquet komersial jika tersedia dan Anda terlatih menggunakannya.
  • Jangan mencabut benda yang tertancap pada tubuh korban. Tekan area di sekitar benda tersebut dan tunggu bantuan medis.
  • Jangan Sembarangan Memindahkan Korban

Korban mungkin mengalami cedera tulang belakang, leher, atau kepala. Memindahkan korban secara sembarangan dapat memperburuk cedera. Jangan memindahkan korban kecuali:

  • Lokasi membahayakan nyawa korban, misalnya risiko tertabrak kendaraan atau kebakaran.
  • Korban perlu dipindahkan untuk melakukan CPR dan penolong terlatih.
  • Ada instruksi dari petugas medis atau keadaan darurat lain yang mengharuskan evakuasi.
  • Jika korban menggunakan helm, jangan langsung melepasnya. Helm sebaiknya dilepas oleh dua orang yang terlatih, terutama jika terdapat gangguan jalan napas dan pelepasan diperlukan.
  • Bantu Korban Tetap Tenang dan Hangat

Korban kecelakaan dapat mengalami ketakutan, nyeri, dan syok. Hal sederhana yang dapat dilakukan:

  • Bicara dengan tenang.
  • Beri tahu bahwa bantuan sedang dalam perjalanan.
  • Tutupi tubuh korban dengan selimut atau kain agar tetap hangat.
  • Jangan memberikan makanan, minuman, atau obat melalui mulut kepada korban yang tidak sadar atau mungkin memerlukan tindakan operasi.
  • Jangan memaksa korban berdiri atau berjalan.
  • Tetap dampingi korban dan pantau perubahan kesadaran serta pernapasannya.
  • Hindari Tindakan yang Dapat Membahayakan

Beberapa tindakan yang sebaiknya tidak dilakukan oleh penolong awam:

❌ Mengangkat korban secara beramai-ramai tanpa kebutuhan mendesak.

❌ Menarik kepala atau leher korban.

❌ Melepas helm secara paksa.

❌ Memberikan minuman kepada korban yang tidak sadar.

❌ Mengoleskan bahan apa pun ke luka terbuka.

❌ Mengabaikan perdarahan hebat karena sibuk merekam.

❌ Mengambil foto atau video korban tanpa memperhatikan privasi dan martabatnya.

Kecelakaan lalu lintas bukan tontonan. Setiap detik sangat berarti bagi korban, terutama pada kondisi henti napas, perdarahan hebat, atau gangguan kesadaran. Mulailah dengan memastikan keselamatan, menghubungi bantuan, menghentikan perdarahan, memeriksa pernapasan, dan tidak melakukan tindakan yang membahayakan korban.

Referensi

  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 232.
  2. American Heart Association. 2025 American Heart Association Guidelines for CPR and Emergency Cardiovascular Care.
  3. International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies. International First Aid, Resuscitation and Education Guidelines.
Bukan Cuma di Rumah Sakit! Ini Serunya Belajar Keperawatan Komunitas & Posyandu Remaja di Kegiatan Profes Ners Universitas Alma Ata

Bukan Cuma di Rumah Sakit! Ini Serunya Belajar Keperawatan Komunitas & Posyandu Remaja di Kegiatan Profes Ners Universitas Alma Ata

Oleh: Deny Yuliawan, S.Kep., Ns., MHPE

Bayanganmu tentang kuliah keperawatan cuma seputar ruang perawatan yang dingin, bau antiseptik, dan pegang suntikan di rumah sakit? Eits, tunggu dulu!

Di Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata (UAA), Mas/Mbak bakal menemukan sisi lain dari dunia keperawatan yang seru, dinamis, dan berdampak langsung ke masyarakat: dalam kegiatan Stase Keperawatan Komunitas!

Salah satu kegiatan paling hits dan berkesan yang dirasakan Mas/Mbak Profesi Ners FKIK UAA adalah terjun langsung mengelola Posyandu Remaja di tengah-tengah masyarakat. Penasaran kan sejauh apa keseruannya? Yuk, simak!

  1. Jadi “Hero” Kesehatan Sejak Masa Kuliah

Di Stase Keperawatan Komunitas, Mas/Mbak gak cuma belajar teori di dalam kelas. Mas/Mbak bakal diajak turun langsung ke desa-desa dan komunitas warga. Di sana, Mas/Mbak belajar bagaimana merangkul sesama anak muda melalui program Posyandu Remaja.

Mas/Mbak gak cuma mengukur tinggi badan, berat badan, atau tekanan darah teman-sebayamu, tapi juga menjadi tempat curhat yang nyaman terkait kesehatan mental, gizi, hingga edukasi gaya hidup sehat tanpa kesan menggurui.

  • Mengasah Leadership dan Public Speaking

Pernah merasa grogi tampil di depan umum? Tenang! Lewat kegiatan komunitas ini, skill komunikasimu bakal teruji dan makin terasah alami. Mas/Mbak belajar caranya menyampaikan materi kesehatan dengan gaya yang asyik, kreatif, dan relatable buat anak muda. Pengalaman ini bakal bikin Mas/Mbak jadi pribadi yang makin percaya diri dan punya jiwa kepemimpinan yang tangguh!

  • Belajar Empati dan Mengenal Ragam Budaya Lokal

Kuliah di Yogyakarta bersama Ners FKIK Universitas Alma Ata memberikanmu kesempatan emas untuk berinteraksi langsung dengan kearifan lokal masyarakat sekitar. Mahasisiswa akan belajar betapa berharganya senyuman dan ucapan terima kasih dari warga saat Mas/Mbak membimbing warga. Rasa bahagia saat kehadiranmu memberi manfaat nyata untuk orang lain itu priceless banget!

  • Didampingi Dosen Mentor yang Friendly dan Suportif

Takut salah waktu terjun ke lapangan? Jangan khawatir! Selama kegiatan keperawatan komunitas khsusunya di Posyandu Remaja, dosen-dosen pakar dari Profesi Ners FKIK UAA akan selalu mendampingi dan membimbingmu. Suasana bimbingan yang komunikatif dan kekeluargaan bikin proses belajar terasa seperti petualangan yang menyenangkan.

  • Modal Utama Menjadi Ners Masa Depan yang Komplit!

Perawat masa kini dituntut bukan hanya jago secara klinis (hard skill), tapi juga unggul dalam pendekatan sosial dan empati (soft skill). Pengalaman nyata di bidang Keperawatan Komunitas Ners FKIK UAA ini akan menjadi bekal berharga yang membedakanmu dengan lulusan kampus lain saat memasuki dunia kerja profesional nanti.

“Menjadi perawat profesional bukan hanya tentang merawat yang sakit di rumah sakit, tetapi juga tentang menjaga yang sehat agar tetap tersenyum di tengah masyarakat.”

Yuk, Raih Impianmu Bersama Profesi Ners FKIK Universitas Alma Ata!

Memilih tempat kuliah adalah langkah awal menentukan arah masa depanmu. Kalau Mas/Mbak ingin merasakan pengalaman kuliah yang seimbang antara teori modern, praktik lapangan yang seru, serta penanaman nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan, Program Studi Pendidikan Profesi Ners FKIK Universitas Alma Ata adalah pilihan paling pas buat Mas/Mbak!

Siap merasakan serunya jadi bagian dari perawat masa depan yang berdampak?

Mari bergabung bersama keluarga besar Universitas Alma Ata!

  • Kata Kunci Utama: Keperawatan Komunitas, Posyandu Remaja.
  • Kata Kunci Turunan: Kuliah Keperawatan Yogyakarta, FKIK Alma Ata, Pengalaman Praktik Perawat, Keunggulan Profesi Ners UAA.
  • Target Audiens: Siswa kelas 12 SMA/SMK/MA, alumni, dan masyarakat umum.
Patient Safety: Keselamatan Pasien Tidak Boleh Bergantung pada Ingatan

Patient Safety: Keselamatan Pasien Tidak Boleh Bergantung pada Ingatan

Oleh: Dihan Fahry Muhammad, S.Kep., Ns., MPH

Bayangkan seorang perawat menjalankan tugas pada jam sibuk: obat harus diberikan tepat waktu, kondisi pasien perlu dipantau, keluarga bertanya, telepon berbunyi, dan pergantian shift sudah dekat. Dalam situasi seperti ini, keselamatan pasien tidak cukup dijaga dengan imbauan untuk “lebih teliti”. Keselamatan harus ditopang oleh sistem kerja yang membuat tindakan benar menjadi lebih mudah dilakukan dan kesalahan lebih cepat dikenali sebelum mencederai pasien.

Inilah inti patient safety: bukan sekadar tidak adanya insiden, melainkan kemampuan layanan kesehatan untuk mencegah bahaya yang sebenarnya dapat dihindari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar satu dari sepuluh pasien mengalami bahaya selama menerima pelayanan kesehatan; lebih dari separuh kejadian tersebut diperkirakan dapat dicegah. Kesalahan pengobatan menjadi salah satu penyumbang utama. WHO bahkan menegaskan bahwa keselamatan pasien harus menjadi bagian dari budaya, proses, perilaku, teknologi, dan lingkungan pelayanan.

Temuan penelitian terbaru memberi satu pesan penting: keselamatan pasien bukan hanya soal kompetensi individu, tetapi hasil dari kerja tim dan desain sistem.

Budaya keselamatan: fondasi yang sering tidak terlihat

Kita kerap berfokus pada siapa yang melakukan kesalahan. Padahal, pertanyaan yang lebih bermanfaat adalah: “Apa dalam sistem kerja kita yang memungkinkan kesalahan itu terjadi?”

Studi tinjauan sistematis dan meta-analisis pada 2025 menemukan hubungan bermakna antara budaya keselamatan pasien yang positif dengan berkurangnya missed nursing care—asuhan keperawatan yang tertunda, terlewat, atau tidak terselesaikan. Dukungan manajemen, pembelajaran organisasi, dan budaya keselamatan di unit kerja menjadi faktor yang berperan penting. Labrague & Cayaban, 2025

Hal ini sejalan dengan meta-analisis global terhadap 21 studi dan lebih dari 10.000 perawat. Kerja sama dalam unit memperoleh penilaian terbaik, sedangkan kecukupan staf menjadi dimensi dengan penilaian terendah. Kyriakeli dkk., 2025 Pesannya jelas: tim yang kompak memang penting, tetapi keselamatan akan sulit dipertahankan bila beban kerja dan jumlah tenaga tidak dikelola secara memadai.

Budaya keselamatan yang sehat berarti staf dapat melaporkan near miss, insiden, atau kondisi tidak aman tanpa ketakutan untuk dipermalukan. Pelaporan bukan alat mencari kambing hitam, melainkan kesempatan belajar. Ketika sebuah kesalahan hampir terjadi tetapi berhasil dicegah, organisasi justru memperoleh pelajaran berharga sebelum pasien mengalami dampak buruk.

Obat aman membutuhkan sistem, bukan hafalan semata

Pemberian obat merupakan salah satu proses dengan risiko tinggi karena melibatkan banyak langkah: resep, penyiapan, identifikasi pasien, dosis, rute, waktu pemberian, dokumentasi, dan pemantauan respons. Gangguan kecil di tengah proses dapat memicu kesalahan.

Tinjauan sistematis tahun 2025 terhadap 14 penelitian menunjukkan bahwa intervensi untuk mengurangi interupsi saat pemberian obat menjadi area penting dalam menjaga keselamatan. Zhang dkk., 2025 Artinya, perlindungan terhadap waktu pemberian obat—misalnya dengan pengaturan alur kerja, komunikasi tim, dan penanda yang disepakati—bukan persoalan sepele.

Riset lain pada 2025 juga menunjukkan bahwa intervensi yang dipimpin perawat secara keseluruhan efektif menurunkan kesalahan pemberian obat pada pasien dewasa rawat inap. Intervensi tersebut meliputi pendidikan, strategi perbaikan berbasis protokol, teknologi alur kerja, serta manajemen obat elektronik; pendekatan gabungan dinilai lebih menjanjikan daripada hanya mengandalkan satu cara. Eze dkk., 2025

Bagi praktik keperawatan, prinsip “benar pasien, benar obat, benar dosis, benar waktu, benar rute, dan benar dokumentasi” tetap fundamental. Namun, prinsip ini perlu diperkuat melalui sistem: identifikasi pasien yang konsisten, verifikasi obat berisiko tinggi, dokumentasi yang mudah diakses, lingkungan kerja yang mendukung konsentrasi, serta budaya saling mengingatkan.

Handover bukan formalitas pergantian shift

Saat pergantian shift, informasi klinis dan tanggung jawab pelayanan berpindah dari satu perawat kepada perawat berikutnya. Bila informasi penting terlewat, risiko dapat mengikuti pasien sepanjang proses perawatan.

Tinjauan sistematis terbaru mengenai kesalahan nursing handover menunjukkan bahwa bentuk kesalahan yang paling sering ditemukan adalah hilangnya atau tidak lengkapnya informasi. Faktor penyebabnya tidak tunggal: kompleksitas proses, lingkungan yang ramai, faktor organisasi, hingga kompetensi individu. Peneliti merekomendasikan komunikasi terstruktur, protokol yang distandardisasi, dan pelatihan berbasis kompetensi. Lee dkk., 2026

Karena itu, handover yang efektif perlu menjawab pertanyaan mendasar: siapa pasiennya, apa masalah utamanya, apa perubahan terkini, risiko apa yang perlu diantisipasi, dan tindakan apa yang harus dilanjutkan. Kerangka komunikasi seperti SBAR dapat membantu membuat informasi lebih ringkas, terstruktur, dan dapat ditindaklanjuti.

Melibatkan pasien dan keluarga secara tepat juga dapat memperkuat proses ini. Tinjauan sistematis mengenai bedside handover menunjukkan manfaat pada kepuasan pasien, keterlibatan, otonomi, dan pertukaran informasi. Namun, implementasinya tetap harus memperhatikan privasi, kondisi klinis pasien, serta beban kerja tenaga kesehatan. Tobiano dkk., 2024

Dari “hati-hati” menjadi “sistem yang aman”

Membangun keselamatan pasien tidak selalu harus dimulai dengan teknologi mahal. Langkah kecil yang konsisten dapat memberikan dampak nyata:

  • membiasakan identifikasi pasien dengan minimal dua identitas;
  • menerapkan komunikasi terstruktur saat handover dan kondisi darurat;
  • menyediakan ruang aman untuk melaporkan insiden dan near miss;
  • melakukan evaluasi sederhana atas kejadian untuk menemukan akar masalah;
  • melibatkan pasien serta keluarga dalam konfirmasi identitas, obat, dan rencana perawatan;
  • memastikan pemimpin unit hadir dalam mendukung staf dan menindaklanjuti pembelajaran.

Keselamatan pasien pada akhirnya adalah tanggung jawab bersama. Perawat memiliki peran sentral karena berada paling dekat dengan pasien sepanjang waktu, tetapi perawat tidak seharusnya memikul keselamatan seorang diri. Ketika institusi menyediakan sistem yang baik, tim berkomunikasi terbuka, dan pasien dilibatkan sebagai mitra, pelayanan kesehatan akan bergerak dari sekadar “menghindari kesalahan” menjadi benar-benar menghadirkan perawatan yang aman, bermartabat, dan berkualitas.

Karena dalam pelayanan kesehatan, jika tidak aman, maka belum dapat disebut sebagai pelayanan yang baik.

Referensi:

  1. Labrague, L. J., & Cayaban, A. R. (2025). Association between patient safety culture and missed nursing care in healthcare settings: A systematic review and meta-analysis. Journal of Advanced Nursing, 81(11), 7992–8004. https://doi.org/10.1111/jan.16758
  2. Kyriakeli, G., Georgiadou, A., Symeonidou, A., Tsimtsiou, Z., Dardavesis, T., & Kotsis, V. (2025). Patient safety culture among nurses in hospital settings worldwide: A systematic review and meta-analysis. The Joint Commission Journal on Quality and Patient Safety, 51(5), 350–360. https://doi.org/10.1016/j.jcjq.2025.01.007
  3. Zhang, W., Zhang, Y., Guo, Z., He, Y., & Ma, W. (2025). Effectiveness of interventions for reducing interruptions during medication administration: A systematic review. Worldviews on Evidence-Based Nursing, 22(4), e70067. https://doi.org/10.1111/wvn.70067
  4. Eze, A. U., Marufu, T., Amagyei, A., Nelson, D., Laparidou, D., & Manning, J. C. (2026). Assessing the effectiveness of interventions implemented by nurses to reduce medication administration errors in hospitalised acute adult patient settings: Systematic review and meta-analysis. Journal of Clinical Nursing, 35(3), 1104–1124. https://doi.org/10.1111/jocn.70109
  5. Maher, A. G., Hsu, H. R., Ebrahim, M. E. B. M., Vukasovic, M., & Coggins, A. (2025). Implementation of bedside handover that includes patients or carers in hospital settings: A systematic review. Journal of Evaluation in Clinical Practice, 31(6), e14223. https://doi.org/10.1111/jep.14223
  6. Understanding nursing handoff errors in clinical practice: Trends and contributing factors based on a systematic review and meta-analysis. (2026). BMC Nursing, 25, 359. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41947172/
Kakek-Nenek Sering Bilang “Aku Nggak Apa-Apa”. Tapi, Benarkah Mereka Baik-Baik Saja?

Kakek-Nenek Sering Bilang “Aku Nggak Apa-Apa”. Tapi, Benarkah Mereka Baik-Baik Saja?

 

Oleh: Brune Indah Yulitasari, S.Kep., Ns., MNS

Kesepian dan depresi ternyata tidak hanya menjadi persoalan anak muda. Lansia juga dapat mengalaminya, dan kondisi tersebut berkaitan dengan kualitas hidup mereka. Lalu, apa yang bisa dilakukan Gen Z? Bagi generasi Z, kehidupan sehari-hari mungkin terasa sangat sibuk. Kuliah, pekerjaan, organisasi, pertemanan, hingga scrolling media sosial bisa membuat waktu berjalan begitu cepat. Tanpa disadari, ada orang-orang terdekat yang mungkin jarang kita tanyakan kabarnya—termasuk orang tua, kakek, dan nenek. Padahal, perhatian sederhana dari keluarga bisa menjadi sesuatu yang berarti bagi lansia.

Sebuah penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sleman, Yogyakarta, terhadap 192 lansia penderita hipertensi dan diabetes melitus menunjukkan adanya hubungan antara kesepian dan depresi dengan kualitas hidup lansia. Hasilnya cukup menarik. Sebanyak 58,9% lansia berada pada kategori kesepian rendah, sedangkan 39,1% berada pada kategori tidak kesepian. Meskipun sebagian besar berada pada tingkat rendah, tetap terdapat lansia yang mengalami kesepian sedang hingga tinggi.

Yang perlu dipahami, kesepian tidak selalu berarti seseorang tinggal sendirian. Seorang lansia bisa saja tinggal bersama keluarga, tetapi tetap merasa kesepian apabila jarang diajak berbicara, tidak dilibatkan dalam aktivitas keluarga, atau merasa tidak memiliki tempat untuk berbagi cerita.

Penelitian menemukan hubungan negatif yang bermakna antara kesepian dan kualitas hidup (r = -0,418; p < 0,001). Sederhananya, semakin tinggi tingkat kesepian yang dirasakan lansia, semakin rendah kualitas hidupnya.

Depresi juga perlu diperhatikan

Hal serupa ditemukan pada kondisi depresi. Sebagian besar responden memang berada dalam kategori normal, yaitu 82,3%. Namun, 13,5% mengalami depresi ringan, 2,6% depresi sedang, dan 1,5% depresi berat.

Depresi juga memiliki hubungan negatif yang bermakna dengan kualitas hidup (r = -0,464; p < 0,001). Hubungan ini sedikit lebih kuat dibandingkan hubungan kesepian dengan kualitas hidup.

Artinya, kondisi psikologis lansia tidak boleh dianggap sepele.

Kadang-kadang, tanda-tandanya tidak terlihat jelas. Lansia mungkin lebih banyak diam, kehilangan minat melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai, jarang berinteraksi, atau mengatakan bahwa dirinya tidak ingin merepotkan keluarga.

Kalimat seperti “Aku nggak apa-apa” juga tidak selalu berarti semuanya benar-benar baik-baik saja.

Gen Z bisa melakukan apa?

Kabar baiknya, membantu lansia tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar.

Pertama, mulai dari komunikasi sederhana. Kirim pesan WhatsApp, telepon, atau lakukan video call. Pertanyaan seperti “Mbah lagi apa?”, “Sudah makan?”, atau “Hari ini kegiatannya apa?” dapat membuka ruang percakapan.

Kedua, luangkan waktu untuk hadir. Tidak harus berjam-jam. Duduk bersama sambil minum teh, menemani berjalan pagi, atau sekadar mendengarkan cerita mereka sudah merupakan bentuk perhatian.

Ketiga, libatkan lansia dalam aktivitas. Ajak mereka mengikuti kegiatan keluarga, kegiatan sosial, olahraga ringan, kegiatan keagamaan, atau aktivitas produktif sesuai kemampuan dan minat mereka. Merasa masih dilibatkan dan dibutuhkan dapat membuat lansia memiliki kesempatan untuk tetap aktif secara sosial.

Keempat, jangan hanya bertanya tentang kesehatan fisik. Sesekali tanyakan juga, “Belakangan ini Ibu/Bapak merasa kesepian nggak?” atau “Ada yang sedang dipikirkan?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat membuka percakapan tentang kondisi emosional yang mungkin selama ini mereka simpan. Yang juga penting, jangan menunggu sampai lansia meminta perhatian. Banyak lansia tidak ingin merepotkan anak atau cucunya sehingga memilih diam ketika membutuhkan teman berbicara.

Hadir ternyata punya arti besar Penelitian ini memang tidak membuktikan bahwa kesepian atau depresi secara langsung menyebabkan rendahnya kualitas hidup karena penelitian menggunakan desain cross-sectional. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa kondisi psikologis dan kualitas hidup lansia saling berkaitan dan layak mendapatkan perhatian.

Kualitas hidup lansia bukan hanya soal bebas dari penyakit. Ada aspek fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan yang ikut berperan. Karena itu, perhatian kepada lansia seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Keluarga dan generasi muda juga memiliki peran penting.

Bagi Gen Z, mungkin perhatian itu terlihat kecil. Hanya sebuah telepon. Sebuah kunjungan. Atau sekadar duduk dan mendengarkan cerita yang mungkin sudah pernah kita dengar berkali-kali. Tetapi bagi seorang lansia, perhatian tersebut bisa menjadi pesan sederhana bahwa mereka masih dianggap penting, masih didengar, dan masih menjadi bagian dari kehidupan kita. Jadi, kalau hari ini kamu belum menghubungi orang tua atau kakek-nenekmu, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengirim satu pesan:

“Lagi apa? Aku kangen.” ❤️

Cegah Stunting dari Rumah: Kisah Sukses Tim PKM Universitas Alma Ata Akselerasikan Program “ASIH IBU PAUD” di Kalurahan Guwosari

Cegah Stunting dari Rumah: Kisah Sukses Tim PKM Universitas Alma Ata Akselerasikan Program “ASIH IBU PAUD” di Kalurahan Guwosari

Oleh: Dr. Anafrin Yugistyowati, Ns., M.Kep., Sp.Kep., An
Dosen Prodi Profesi Ners Universitas Alma Ata

Masalah stunting dan kesehatan gizi anak usia dini merupakan tantangan bersama yang membutuhkan tindakan nyata dari lini terkecil, yaitu keluarga dan lingkungan pengasuhan dasar. Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Alma Ata Yogyakarta bergerak meluncurkan program pemberdayaan inovatif bertajuk ASIH IBU PAUD, yang merupakan singkatan dari “Akselerasi Penurunan Stunting Melalui Intervensi Holistik Ibu Berbasis PAUD”, berlokasi di Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul. Program yang didanai oleh Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026 melalui Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat ini hadir menghadirkan secercah harapan baru bagi pencegahan stunting berbasis komunitas.

Inisiatif ini dipimpin oleh Dr. Anafrin Yugistyowati, Ns., M.Kep., Sp.Kep., An dari Prodi Pendidikan Profesi Ners, berkolaborasi dengan ahli gizi Hastrin Hositanisita, S.Gz., M.Sc dan pakar sistem informasi Tri Rochmadi, S.Kom., M.Kom serta melibatkan peran aktif para mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan Universitas Alma Ata. Dipilihnya Kalurahan Guwosari bukan tanpa alasan, sebab wilayah ini merupakan salah satu kawasan lokus prioritas penanganan stunting di Bantul yang memerlukan dorongan berupa penguatan pengetahuan gizi terstandar serta pola pengasuhan yang lebih responsif dari orang tua dan kader PAUD.

Rangkaian kegiatan dikemas secara interaktif dan menyenangkan untuk merangkul 33 peserta yang terdiri dari kelompok ibu PAUD dan ibu dengan balita setempat. Mengawali program, tim menguji tingkat pemahaman awal peserta yang saat itu mencatatkan rerata skor pengetahuan sebesar 68,7 persen, di mana mayoritas peserta masih berada pada kategori pengetahuan cukup dan kurang. Berangkat dari kondisi tersebut, intervensi holistik mulai dijalankan dengan memberikan Modul Pelatihan ASIH IBU PAUD dan Buku Panduan Responsive Feeding yang telah terlindungi Hak Cipta resmi. Ibu-ibu tidak hanya mendengarkan teori, tetapi diajak langsung mempraktikkan pengolahan bahan pangan lokal bernilai gizi tinggi melalui sesi fun cooking yang menggugah semangat.

Inovasi digital turut diperkenalkan melalui Buku Saku Digital ASIH berbasis WhatsApp Group. Teknologi ini menjadi instrumen praktis yang memudahkan ibu mencatat tumbuh kembang anak secara mandiri dari layar ponsel mereka. Jika pada awal program keterampilan digital peserta hanya berada di angka 46,15 persen dan didominasi kategori kurang, pemanfaatan sistem WhatsApp ini berhasil membawa transformasi dramatis. Hasil evaluasi akhir mencatat tingkat kemandirian digital peserta meningkat pesat mencapai 83,55 persen, tanpa ada lagi peserta yang berada pada kategori kurang.

Tidak berhenti pada edukasi digital dan kuliner, program ini menjamin ketahanan pangan keluarga secara konkrit dan berkelanjutan. Tim menyalurkan bantuan PAUD Kit ASIH-Grow yang dilengkapi fasilitas pendukung berupa instalasi Kandang Telur ASIH dan Kebun Daun ASIH vertikultur. Sebanyak 18 unit instalasi ayam petelur dan tanaman sayuran organik kini menghiasi pekarangan rumah tangga peserta, membuat seratus persen mitra sasaran memiliki akses mandiri terhadap telur segar dan sayuran kaya vitamin tanpa perlu bergantung sepenuhnya pada bahan belanjaan pasar.

Dampak keseluruhan dari intervensi holistik ini mencatatkan angka yang sangat menginspirasi. Pemahaman ibu-ibu Guwosari mengenai gizi dan pola asuh meningkat sebesar 30,13 persen dengan rata-rata skor akhir mencapai 89,4 persen, yang menempatkan seratus persen peserta berada pada kategori pengetahuan baik dan sangat baik. Keberhasilan di lapangan ini makin disempurnakan dengan terbitnya tiga Hak Cipta HKI, publikasi di media massa nasional, karya video edukasi di YouTube, hingga rekognisi 6 SKS MBKM bagi mahasiswa yang berdedikasi mendampingi masyarakat.

Apresiasi tinggi datang dari Lurah Guwosari Bapak Masduki Rahmad, SIP yang menggarisbawahi pentingnya pencegahan stunting dari rumah tangga. Sementara itu, Dr. Anafrin Yugistyowati, Ns., M.Kep., Sp.Kep., An menegaskan bahwa kolaborasi erat antara kampus, pemerintah kalurahan, puskesmas, dan masyarakat ini merupakan bukti bahwa stunting dapat diatasi dengan pendekatan yang ramah, inovatif, dan berorientasi kemandirian. Model ASIH IBU PAUD kini siap dijadikan contoh praktik baik yang dapat direplikasi di wilayah lain demi mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan bebas stunting.

Key Word: Prodi Pendidikan Profesi Ners Terbaik di Jogja; Stunting; PKM Universitas Alma Ata; ASIH IBU PAUD; Pengabdian Masyarakat Alma Ata; Penurunan Stunting Bantul