Menguatkan Ikatan Antar Generasi untuk Kesehatan Lansia

Menguatkan Ikatan Antar Generasi untuk Kesehatan Lansia

Penulis : Brune Indah Yulitasari, S.Kep., Ns., M.N.s.,

Kadang kita tidak sadar, hubungan kita dengan orang tua atau kakek-nenek di rumah itu perlahan berubah, bukan karena ada konflik besar, tapi karena kita makin jarang benar-benar hadir. Kita lebih sering sibuk dengan dunia sendiri, scroll media sosial, chat teman, atau mengejar aktivitas harian. Sementara mereka ada di dekat kita, tapi tidak benar-benar kita ajak terlibat. Padahal, buat lansia, hal sederhana seperti diajak ngobrol, ditemani duduk, atau sekadar didengarkan itu punya makna yang besar, bahkan bisa berpengaruh ke kesehatan mereka, baik secara mental maupun fungsi kognitif seperti daya ingat dan konsentrasi. Banyak lansia sebenarnya tidak mengeluh ketika merasa kesepian, mereka hanya jadi lebih diam, lebih banyak mengalah, atau tidak lagi mencoba memulai percakapan karena merasa tidak ingin mengganggu. Di sisi lain, kita sebagai generasi muda sering merasa obrolan dengan mereka tidak nyambung, terlalu lambat, atau berulang, sehingga tanpa sadar kita memilih untuk menghindar.

Perubahan ini sebenarnya tidak terjadi begitu saja. Cara hidup kita sekarang memang sangat berbeda dibandingkan generasi mereka. Dulu, interaksi dalam keluarga terjadi secara alami—di ruang makan, di teras rumah, atau saat berkumpul tanpa banyak distraksi. Sekarang, hampir semua orang punya kesibukan masing-masing, dan ketika ada waktu luang pun, perhatian kita sering terbagi dengan layar. Teknologi memang memudahkan banyak hal, tapi juga secara perlahan mengurangi kualitas interaksi langsung. Selain itu, banyak keluarga yang sekarang tidak lagi tinggal dalam satu lingkungan yang sama; anak-anak merantau untuk sekolah atau bekerja, sehingga hubungan dengan orang tua menjadi lebih jarang dan lebih formal. Perubahan peran dalam keluarga juga ikut berpengaruh, di mana lansia yang dulu menjadi pusat pengambilan keputusan kini lebih sering berada di posisi pasif, hanya mengikuti alur yang sudah ditentukan oleh generasi yang lebih muda. Semua hal ini membuat jarak antar generasi tidak selalu terlihat, tapi terasa. Padahal kalau kita mau sedikit saja melambat dan membuka ruang, ada banyak hal yang bisa kita dapat—cerita hidup yang nyata, cara mereka menghadapi masa sulit tanpa kemudahan teknologi, sampai nilai-nilai sederhana tentang kesabaran, ketahanan, dan arti keluarga. Hubungan antar generasi sebenarnya bukan soal siapa yang harus berubah mengikuti siapa, tapi bagaimana kita bisa saling mendekat meskipun hidup di zaman yang berbeda. Kita tidak harus selalu punya topik yang menarik atau percakapan panjang, cukup mulai dari hal kecil seperti menyapa dengan sungguh-sungguh, bertanya tentang keseharian mereka, atau meluangkan waktu tanpa tergesa-gesa dan tanpa distraksi. Bahkan hal seperti mengajarkan mereka menggunakan ponsel atau menemani menonton televisi bisa menjadi momen yang membuat mereka merasa dihargai dan tidak sendirian. Yang sering kita anggap sepele, justru bisa jadi hal yang paling berarti bagi mereka. Dan tanpa kita sadari, hubungan seperti ini bukan hanya membantu lansia merasa lebih sehat dan bahagia, tapi juga membentuk kita menjadi pribadi yang lebih peka, lebih sabar, dan lebih menghargai keberadaan orang-orang terdekat. Karena pada akhirnya, kedekatan dalam keluarga tidak tercipta dari hal-hal besar atau momen tertentu saja, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus, dari kesediaan untuk benar-benar hadir, dan dari perhatian sederhana yang mungkin tidak terlihat besar, tapi dampaknya bisa sangat dalam bagi mereka yang merasakannya.

Menyiapkan Kemandirian Ibu: Urgensi Discharge Planning untuk Bayi BBLR dalam Menekan Risiko Stunting

Menyiapkan Kemandirian Ibu: Urgensi Discharge Planning untuk Bayi BBLR dalam Menekan Risiko Stunting

Penulis: Dr. Anafrin Yugistyowati, Ns., M.Kep., Sp.Kep., An

Membawa pulang bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) seringkali menjadi momen yang mendebarkan bagi orang tua. Setelah hari-hari penuh pengawasan medis di ruang perinatologi, wajar jika muncul pertanyaan di benak Ibu dan Ayah: “Sanggupkah kami merawat bayi sekecil ini sendirian di rumah?” Kecemasan ini adalah hal yang manusiawi, namun tidak boleh dibiarkan tanpa solusi.

Di sinilah peran penting Discharge Planning atau perencanaan pulang yang dimulai sejak bayi baru lahir hingga siap meninggalkan rumah sakit. Berdasarkan hasil riset terbaru, persiapan kepulangan bukan sekadar urusan administrasi atau tanda tangan surat izin pulang. Ini adalah proses pemberdayaan yang terstruktur untuk mengubah kecemasan keluarga menjadi kemandirian yang kuat.

Perawat di ruang perinatologi memegang peran sentral sebagai pendamping dan edukator utama. Sejak bayi dirawat, perawat bertugas “memandirikan” keluarga melalui bimbingan praktis yang melibatkan tidak hanya Ibu, tapi juga Ayah dan anggota keluarga terdekat. Keterlibatan Ayah dalam perawatan BBLR sangat krusial sebagai sistem pendukung utama yang dapat memberikan ketenangan emosional bagi Ibu.

Melalui bimbingan langsung dari perawat, keluarga dilatih untuk menguasai keterampilan khusus, seperti Perawatan Metode Kanguru (PMK) yakni teknik mendekap bayi di dada untuk menjaga suhu tubuhnya tetap stabil layaknya di dalam inkubator. Selain itu, keluarga diajarkan cara memberikan nutrisi yang tepat dan mengenali tanda-tanda bahaya secara dini. Kemandirian ini penting agar saat di rumah nanti, keluarga tidak lagi merasa kebingungan menghadapi kondisi bayi yang rentan.

Mengapa persiapan ini begitu krusial? Persiapan yang matang terbukti secara ilmiah mampu menurunkan tingkat stres dan kecemasan keluarga. Saat Ibu dan Ayah merasa yakin dan terampil merawat bayinya, risiko depresi pasca-melahirkan dapat ditekan. Kondisi psikologis Ibu yang tenang dan dukungan penuh dari Ayah akan sangat membantu kelancaran ASI, sehingga bayi dapat tumbuh dengan lebih optimal.

Lebih jauh lagi, kemandirian keluarga dalam merawat BBLR di rumah adalah langkah nyata dalam memutus rantai stunting. BBLR memang memiliki risiko tumbuh kembang yang lebih menantang, namun dengan pemantauan nutrisi, kehangatan, dan cinta yang konsisten dari keluarga yang berdaya, risiko tersebut bisa kita cegah bersama.

Pada akhirnya, kepulangan BBLR adalah sebuah kemenangan kecil yang harus dirayakan dengan kesiapan. Dengan peran aktif perawat dalam memberikan edukasi yang tepat sejak di rumah sakit, kita tidak hanya mengirim bayi pulang, tetapi kita mengirimkan sebuah keluarga yang siap, percaya diri, dan penuh harapan untuk mengawal masa depan buah hati yang sehat, kuat, dan bebas stunting.

Key Word: Prodi Pendidikan Profesi Ners Terbaik di Jogja; BBLR; Program Discharge Planning; Kemandirian Ibu; Risiko Stunting

Deteksi Dini Stroke Kenali Tandanya, Selamatkan Nyawa dalam “Golden Period“

Deteksi Dini Stroke Kenali Tandanya, Selamatkan Nyawa dalam “Golden Period“

Penulis : Tifany Hayuning Ratri,S.Kep.,Ns.,M.Kep

Stroke sering kali datang tanpa peringatan, namun tubuh sebenarnya memberikan tanda-tanda awal yang sering diabaikan. Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, sehingga menyebabkan jutaan sel otak mati.

Mengapa Deteksi Dini itu Penting ?

Stroke masih menjadi penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di Indonesia. Namun kabar baiknya stroke dapat dicegah dan diobati dengan cepat.Golden Periode (periode emas) adalah rentang waktu kurang dari 4,5 jam setelah muncul gejala dimana terapi medis sangat efektif mengurangi dampak stroke.

Kenali Metode “ FAST”

Kementrian Kesehatan RI merumuskan singkatan yang mudah untuk mengenali gejala stroke :

F (Fase / wajah)     : Minta orang tersebut tersenyum.Perhatikan apakah satu sisi wajah terkulai atau tidak simetris.

A (Arm/lengan)      : Minta orang tersebut mengangkat kedua lengan. Periksa Apakah salah satu lengan melemah atau jatuh.

S (Speech/Bicara)  : Minta orang tersebut mengulangi kalimat sederhana. Apakah bicaranya pelo, tidak jelas, atau tidak mampubicara ?

T (Time/Waktu)      : Jika terdapat salah satu gejala diatas, segera bawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas penanganan stroke.

Selain tanda itu, tanda lain yang muncul yaitu pandangan kabur secara tiba-tiba dan sakit kepala hebat yang datang mendadak.

Faktor Resiko yang Harus Diwaspadai

Stroke tidak hanya menyerang lansia, namun kini usia muda pun beresiko.Faktor utama stroke yaitu:

  1. Hipertensi (tekanan darah tinggi)
  2. Diabetes Melitus
  3. Kolestrol Tinggi
  4. Merokok
  5. Kurang olahraga dan obesitas

Tindakan Pencegahan (CERDIK)

Lakukan langkah “CERDIK” untuk mencegah stroke:

  1. Cek kesehatan secara berkala
  2. Enyahkan asap rokok
  3. Rajin aktivitas fisik/olahraga
  4. Diet seimbang (kurangi garam/gula/lemak)
  5. Istirahat cukup
  6. Kelola stres

Jangan pernah mengabaikan gejala stroke meskipun ringan dan hilang timbul, karena bisa menjadi peringatan stroke ringan (TIA) sebelum serangan besar terjadi. Waktu adalah Otak !

Referensi:

  • Kementrian Kesehatan RI.(2019,29 Oktober). begini cara mengenali gejala stroke.Ayo Sehat Kemkes.kemkes.go.id
  • Nasution,A.,& Sari,D.P.(2024). Edukasi dan simulasi deteksi dini stroke dengan pendekatan FAST pada kelompok beresiko. Jurnal Pengabdian Masyarakat SPIKesNas,2(1),22-29
Gen Z & Hipertensi: Mengapa ‘Silent Killer’ Mulai Mengincar Usia 20-an?

Gen Z & Hipertensi: Mengapa ‘Silent Killer’ Mulai Mengincar Usia 20-an?

Penulis : Anindita Farda Khusnia, S.Kep., Ns., M.N.Sc., M.Sc

Dulu, hipertensi sering dianggap sebagai “penyakit orang tua” atau kakek-nenek kita. Namun, data terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: semakin banyak anak muda di usia 20-an yang mulai menunjukkan angka tensi di atas normal. Mengapa generasi yang terlihat bugar ini mulai diincar oleh the silent killer?

Jebakan Hustle Culture dan Stres Digital

    Gen Z hidup di era kompetisi tinggi yang memicu gaya hidup hustle culture. Penelitian oleh American Psychological Association (2023) dan berbagai studi  menunjukkan bahwa stres kronis meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis.

    Ketika kita stres karena tugas atau pekerjaan, tubuh melepaskan hormon kortisol dan adrenalin yang meningkatkan denyut jantung. Jika ini terjadi terus-menerus (kronis), pembuluh darah akan mengalami ketegangan permanen. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) juga berkontribusi pada gangguan tidur, di mana kurang tidur <6 jam terbukti secara klinis meningkatkan risiko hipertensi hingga 20-30% pada dewasa muda.

    “Garam Tersembunyi” dalam Kuliner Kekinian

    Banyak dari kita merasa aman karena jarang menambahkan garam ke masakan. Namun, riset dalam Journal of Clinical Hypertension (2021) menyoroti bahaya Ultra-Processed Foods (UPF).

    Hidden Sodium: Makanan viral seperti camilan pedas, saus dalam fast food, hingga makanan kaleng mengandung natrium tinggi sebagai pengawet.

    Dampaknya: Natrium yang berlebih mengikat air dalam pembuluh darah, meningkatkan volume darah, dan memaksa jantung memompa lebih keras.

    Ancaman Sedenter di Balik Layar

    Meskipun Gen Z melek teknologi, hal ini membawa risiko perilaku sedenter (kurang gerak). Studi meta-analisis dalam The Lancet (2018/2022) mengonfirmasi bahwa duduk lebih dari 8 jam sehari tanpa aktivitas fisik yang berarti sama bahayanya dengan merokok. Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan kekakuan pada pembuluh darah (arterial stiffness) sejak usia dini.

    Vaping dan “Coffee Culture

    Kebiasaan mengonsumsi kafein dosis tinggi melalui kopi kekinian dan penggunaan rokok elektrik (vape) menjadi faktor pemicu baru. Jurnal Tobacco Induced Diseases (2020) mencatat bahwa nikotin dalam vape tetap memicu penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi) secara instan, yang jika dilakukan berulang kali, akan merusak elastisitas arteri di usia muda.

    Bagaimana Cara Melawannya?

    Berdasarkan panduan AHA/ACC 2017 yang masih menjadi referensi utama hingga 2026, pencegahan adalah kunci utama bagi dewasa muda:

    1. Rule of 130/80: Jangan tunggu sampai 140/90. Jika tensi Anda mulai menyentuh 130/80 mmHg, itu adalah sinyal “kuning” untuk segera mengubah pola hidup.
    2. Diet DASH untuk Pemula: Perbanyak buah dan sayur. Cobalah untuk membatasi asupan natrium maksimal 2.300 mg (sekitar 1 sendok teh garam) per hari.
    3. Move More: Gunakan smartwatch untuk memastikan Anda mencapai minimal 7.000–10.000 langkah sehari.

    Hipertensi di usia 20-an bukan lagi mitos. Sebagai generasi digital, kita punya keunggulan informasi untuk mendeteksi ini lebih awal. Jangan biarkan masa depanmu terhambat oleh penyakit yang sebenarnya bisa dicegah melalui pilihan kecil setiap harinya.

    Referensi:

    • Whelton, P. K., et al. (2018). Guideline for the Prevention, Detection, Evaluation, and Management of High Blood Pressure in Adults. Journal of the American College of Cardiology.
    • Muntner, P., et al. (2018). Trends in Blood Pressure Control Among US Adults. JAMA.
    • Kurnia, A., dkk. (2022). Gaya Hidup dan Hubungannya dengan Hipertensi pada Dewasa Muda. Jurnal Keperawatan/Kesehatan Masyarakat Indonesia.
    • Hall, J. E., et al. (2019). Obesity-Induced Hypertension: Interaction of Neurohumoral and Renal Mechanisms. Circulation Research.
    • Gregory A. Roth., et al. (2020) Global Burden of Cardiovascular Diseases and Risk Factors, 1990–2019: Update From the GBD 2019 Study. American College of Cardiology Foundation.
    Triase dan Peran Vital Perawat dalam Keperawatan Gawat Darurat

    Triase dan Peran Vital Perawat dalam Keperawatan Gawat Darurat

    Penulis : Rafi Achmad Rukhama

    Keperawatan gawat darurat merupakan bidang yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan kesiapsiagaan tinggi dalam setiap tindakan yang dilakukan. Perawat yang bekerja di unit ini memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan pertolongan pertama kepada pasien dengan kondisi yang mengancam nyawa. Situasi yang dihadapi sering kali datang tanpa peringatan, sehingga kemampuan untuk melakukan penilaian cepat dan menentukan prioritas tindakan menjadi hal yang sangat penting dalam praktik sehari-hari.

    Salah satu aspek utama dalam keperawatan gawat darurat adalah proses triase, yaitu pengelompokan pasien berdasarkan tingkat kegawatannya. Melalui triase, perawat dapat menentukan pasien mana yang harus segera mendapatkan penanganan dan mana yang dapat menunggu. Proses ini membutuhkan ketelitian, pengalaman, serta pemahaman yang mendalam terhadap tanda dan gejala klinis. Kesalahan dalam triase dapat berdampak serius terhadap keselamatan pasien, sehingga perawat harus benar-benar kompeten dalam menjalankannya.

    Selain keterampilan teknis, perawat gawat darurat juga dituntut memiliki kemampuan komunikasi yang efektif. Mereka harus mampu berkoordinasi dengan tim medis, memberikan instruksi yang jelas, serta menjelaskan kondisi pasien kepada keluarga dengan bahasa yang mudah dipahami. Dalam kondisi penuh tekanan, komunikasi yang baik dapat membantu mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien.

    Tidak kalah penting, aspek etika dalam keperawatan gawat darurat juga harus selalu dijunjung tinggi. Perawat harus mampu mengambil keputusan yang tepat tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan profesionalisme. Dalam situasi darurat, sering kali muncul dilema etis yang menuntut perawat untuk tetap berpihak pada keselamatan dan kepentingan terbaik pasien.

    Dengan kompleksitas tugas dan tanggung jawab yang dimiliki, keperawatan gawat darurat menjadi salah satu pilar penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Perawat tidak hanya berperan sebagai pelaksana tindakan medis, tetapi juga sebagai pengambil keputusan awal yang menentukan arah penanganan pasien. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi, pelatihan berkelanjutan, dan dukungan sistem yang baik sangat diperlukan agar perawat dapat menjalankan perannya secara optimal.

    Kenapa Self-Efficacy Penting bagi Mahasiswa?

    Kenapa Self-Efficacy Penting bagi Mahasiswa?

    Penulis : Mulyanti, S.Kep., Ns., M.PH

    Banyak mahasiswa merasa stuck dalam menjalani perkuliahan, mulai dari tugas yang menumpuk, praktik yang menegangkan, hingga skripsi yang tidak kunjung selesai. Masalah ini sering kali bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena kurangnya keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri. Konsep self-efficacy yang diperkenalkan oleh Albert Bandura menjelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sangat memengaruhi bagaimana ia berpikir, bertindak, dan menghadapi tantangan. Dengan kata lain, sebelum seseorang benar-benar gagal, sering kali ia sudah “menyerah” dalam pikirannya terlebih dahulu.

    Self-efficacy dapat dipahami sebagai keyakinan individu bahwa dirinya mampu menyelesaikan tugas atau menghadapi situasi tertentu. Mahasiswa yang memiliki self-efficacy tinggi cenderung lebih berani mencoba, tidak mudah menyerah, serta mampu bertahan ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, mahasiswa dengan self-efficacy rendah cenderung ragu-ragu, sering menunda pekerjaan, dan menghindari tantangan karena takut gagal. Pola ini bukan hanya menghambat perkembangan akademik, tetapi juga membentuk kebiasaan pasif yang berlanjut hingga dunia kerja.

    Dalam kehidupan perkuliahan, self-efficacy memiliki peran yang sangat penting. Mahasiswa yang yakin pada kemampuannya akan lebih aktif dalam proses belajar, berani bertanya, dan terlibat dalam diskusi. Mereka juga lebih mampu mengelola stres dan melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai akhir dari segalanya. Sebaliknya, mahasiswa yang tidak memiliki keyakinan diri cenderung terjebak dalam overthinking, menunda pekerjaan karena merasa belum siap, dan akhirnya kehilangan banyak kesempatan untuk berkembang.

    Selain itu, self-efficacy juga berperan besar dalam praktik lapangan atau klinik. Dalam situasi nyata, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memahami teori, tetapi juga mampu mengambil tindakan dan keputusan. Mahasiswa dengan self-efficacy tinggi akan lebih siap menghadapi pasien, berani mencoba, dan belajar dari pengalaman. Sebaliknya, mereka yang kurang percaya diri cenderung pasif, menunggu instruksi, dan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan klinisnya.

    Self-efficacy tidak muncul begitu saja, tetapi terbentuk melalui beberapa proses utama. Menurut Albert Bandura, sumber utama pembentukan self-efficacy adalah pengalaman keberhasilan (mastery experience), yaitu pengalaman berhasil menyelesaikan tugas yang akan memperkuat keyakinan diri. Sebaliknya, kegagalan yang tidak dikelola dengan baik dapat menurunkan kepercayaan diri. Selain itu, pengalaman tidak langsung (vicarious experience), seperti melihat teman atau orang lain berhasil, juga dapat meningkatkan keyakinan bahwa diri sendiri mampu. Dukungan verbal (verbal persuasion), seperti dorongan dari dosen, teman, atau keluarga, turut berperan dalam membentuk self-efficacy. Terakhir, kondisi emosional dan fisiologis, seperti kecemasan atau stres, juga memengaruhi bagaimana seseorang menilai kemampuannya sendiri.

    Untuk meningkatkan self-efficacy, mahasiswa tidak perlu menunggu merasa “siap” sepenuhnya. Justru, keyakinan diri dibangun melalui pengalaman mencoba dan menghadapi tantangan. Memulai dari target kecil, fokus pada proses, serta berani keluar dari zona nyaman merupakan langkah penting dalam membangun kepercayaan diri. Selain itu, evaluasi diri yang objektif dan lingkungan yang suportif juga berperan dalam memperkuat self-efficacy seseorang. Pada akhirnya, self-efficacy bukan tentang merasa paling mampu, tetapi tentang keberanian untuk tetap melangkah meskipun belum sepenuhnya yakin. Mahasiswa yang mampu mengembangkan self-efficacy akan lebih siap menghadapi tekanan akademik, lebih tangguh dalam menghadapi kegagalan, dan lebih percaya diri dalam memasuki dunia kerja. Tanpa keyakinan diri, potensi yang dimiliki sering kali tidak pernah benar-benar dimaksimalkan.