Tidak Harus Hebat di Usia Muda: Setiap Orang Punya Waktunya

Tidak Harus Hebat di Usia Muda: Setiap Orang Punya Waktunya

Oleh: Dr. Mulyanti, S.Kep., Ns., MPH

Maraknya narasi “Young, Rich, and Successful” di media sosial sering kali membuat banyak orang merasa tertekan saat belum meraih pencapaian besar di usia 20-an. Kecemasan akan masa depan serta rasa takut tertinggal (fear of missing out) kerap memicu quarter-life crisis. Padahal, gagasan bahwa puncak pencapaian harus diraih selagi muda sama sekali tidak berdasar secara ilmiah.

Memahami Quarter-Life Crisis

Quarter-life crisis merupakan fase kebingungan dan kecemasan mendalam yang umum terjadi pada transisi menuju kedewasaan, biasanya di rentang usia 20 hingga awal 30 tahun. Pada masa ini, seseorang sering kali mempertanyakan arah karier, kestabilan finansial, hingga tujuan hidupnya.

Kondisi ini makin diperparah oleh paparan media sosial yang hanya menampilkan momen terbaik orang lain. Membandingkan diri dengan pencapaian teman sebaya memunculkan rasa tidak mampu dan kebingungan. Padahal, quarter-life crisis bukanlah tanda kegagalan atau gangguan medis, melainkan kesempatan emas untuk mengevaluasi nilai diri serta menentukan arah hidup yang lebih realistis.

Bukti Ilmiah: Puncak Kesuksesan Tidak Terbatas Usia

  • Jody Brotosuseno (Pendiri Waroeng Steak and Steak)

Siapa yang tidak kenal restoran steak lokal ini? Jody Brotosuseno dan istrinya mulai merintis Waroeng Steak & Shake di usia muda dengan modal nekat dan sempat berkali-kali gagal. Namun, ekspansi besar-besaran dan puncaknya baru mereka rasakan di usia matang setelah bertahun-tahun jatuh bangun menguji resep dan strategi bisnis. Kesuksesan restoran ini adalah buah dari proses panjang, bukan keajaiban semalam.

  • Andrea Hirata (Penulis Novel Laskar Pelangi)

Andrea Hirata dulunya adalah pegawai kantoran biasa di PT Telkom. Beliau baru menerbitkan novel pertamanya, Laskar Pelangi, di usia mendekati 40 tahun. Karya pertamanya itu langsung meledak, menjadi bestseller, diangkat ke film layar lebar, dan diakui secara internasional.

Kematangan Berpikir Butuh Waktu

Secara ilmiah, riset neurosains menunjukkan bahwa prefrontal cortex—bagian otak yang mengatur kontrol emosi, analisis risiko, dan pengambilan keputusan bijak—baru matang sempurna di usia 25 hingga 30 tahun. Artinya, wajar jika di usia 20-an Anda masih sering bingung, salah langkah, atau mencari arah.

Setiap Orang Memiliki Garis Waktu Masing-Masing

Media sosial hanya memperlihatkan keberhasilan orang lain, bukan perjuangan berdarah-darah di belakangnya. Kegagalan atau lambatnya proses di usia muda bukanlah penanda bahwa Anda tertinggal.

Kesuksesan bukan tentang seberapa cepat Anda memulai, melainkan seberapa konsisten Anda bertahan dan berkembang. Jangan ukur standar hidupmu dengan garis waktu orang lain—karena setiap orang akan mekar di waktunya masing-masing.

Kesepian Emosional (Loneliness) pada Lansia: Ketika Kehadiran Fisik Saja Tidak Cukup

Kesepian Emosional (Loneliness) pada Lansia: Ketika Kehadiran Fisik Saja Tidak Cukup

Oleh : M. Ischaq Nabil Asshiddiqi, MNS

Kesepian sebagai Krisis Kesehatan Global

Kesepian (loneliness) pada lansia telah diakui sebagai salah satu krisis kesehatan masyarakat paling mendesak di abad ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian, dengan prevalensi yang sangat tinggi di kalangan lansia (World Health Organization, 2025).

Secara epidemiologis, kesepian pada lansia memang umum secara global, dan relevansinya di Indonesia meningkat seiring bertambahnya populasi usia lanjut (Chawla et al., 2021; Salari et al., 2025). Indonesi menghadapi penuaan penduduk yang cepat, dan beberapa studi menggambarkan kesepian lansia sebagai masalah yang makin nyata dalam konteks perubahan keluarga, urbanisasi, dan migrasi antargenerasi (Asri et al., 2025; Schröders et al., 2021).

Secara konseptual, kesepian didefinisikan sebagai “pengalaman tidak menyenangkan yang muncul ketika jaringan hubungan sosial seseorang tidak memadai secara signifikan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif” (Perlman & Peplau, 1982). Weiss (1974) mengembangkan tipologi yang membedakan antara kesepian emosional (emotional loneliness) sebagai tidak adanya hubungan mendalam, dan kesepian sosial (social loneliness) sebagai tidak adanya jaringan pertemanan atau komunitas yang lebih luas (Weiss, 1974).

Fenomena yang menjadi pusat perhatian dalam riset keperawatan gerontologi saat ini adalah kesepian emosional pada lansia yang justru terjadi di tengah keramaian, ketika seseorang secara objektif memiliki banyak kontak sosial tetapi secara subjektif merasakan kekosongan emosional yang mendalam (Piven et al., 2025). Artikel ini akan mengupas fenomena tersebut, dampaknya terhadap kesehatan, sudut pandang agama Islam, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh perawat, keluarga, dan masyarakat.

Memahami Perbedaan Mendasar: Isolasi Sosial versus Kesepian

Untuk memahami fenomena ini, kita perlu membedakan dua konsep yang kerap tertukar. Isolasi sosial (social isolation) adalah kondisi objektif yang mengacu pada sedikitnya jumlah kontak sosial, kecilnya jaringan pertemanan, atau tinggal sendirian tanpa kehadiran orang lain secara fisik. Kesepian (loneliness) adalah pengalaman subjektif yang menyakitkan, muncul dari ketidaksesuaian antara hubungan interpersonal yang diinginkan dengan hubungan yang dirasakan saat ini (Perlman & Peplau, 1982). Seseorang dapat merasa kesepian meskipun dikelilingi banyak orang, dan sebaliknya, seseorang yang tinggal sendiri belum tentu merasa kesepian.

Penelitian kualitatif oleh Piven dan kolega (2025) mengidentifikasi perbedaan mendasar antara kesepian emosional dan kesepian sosial. Kesepian emosional muncul akibat kehilangan hubungan yang mendalam seperti kehilangan pasangan hidup atau konflik dengan anak yang membuat lansia merasa “tidak memiliki siapa-siapa lagi” meskipun secara fisik tidak sendirian. Sementara itu, kesepian sosial lebih berkaitan dengan kurangnya jaringan pertemanan atau komunitas yang lebih luas (Piven et al., 2025).

Dampak Kesehatan: Ketika Kesepian Merusak Tubuh

Kesepian bukan sekadar pengalaman psikologis; ia merupakan stressor multisistem yang dampaknya pada kesehatan fisik setara dengan faktor risiko utama seperti merokok dan obesitas (Rahman & Zahari, 2026). Berbagai meta-analisis global menunjukkan bahwa kesepian secara konsisten meningkatkan morbiditas dan mortalitas.

  1. Mortalitas. Sebuah meta-analisis terhadap 86 studi dengan lebih dari 1 juta partisipan menemukan bahwa kesepian meningkatkan risiko kematian semua penyebab sebesar 14% (HR 1,14; IK 95% 1,10–1,18) (Nakou et al., 2025). Tinjauan lain bahkan melaporkan angka hingga 32% (Rahman & Zahari, 2026).
  2. Demensia dan Kognitif. Penelitian berskala besar terhadap 608.561 individu menunjukkan bahwa kesepian meningkatkan risiko demensia secara umum sebesar 31%, dengan rincian 39% untuk penyakit Alzheimer dan 74% untuk demensia vaskular (Luchetti et al., 2024).
  3. Kardiovaskular dan Metabolik. Kesepian dikaitkan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular (Rahman & Zahari, 2026), serta memperburuk tekanan darah dan respons stres oksidatif.
  4. Kesehatan Mental. Dampak paling nyata adalah pada psikologis, di mana kesepian meningkatkan risiko depresi dan kecemasan (Rahman & Zahari, 2026)
  5. Secara biologis, kesepian memicu inflamasi kronis (peningkatan CRP dan IL-6), disregulasi sumbu HPA (peningkatan kortisol), serta atrofi hipokampus yang mengganggu memori dan regulasi emosi (Rahman & Zahari, 2026; Warren, 2025). Singkatnya, kesepian bukanlah kondisi yang “hanya ada di kepala” melainkan ancaman sistemik yang nyata.

Fenomena “Tersosialisasi namun Kesepian”

Salah satu temuan paling menarik dari penelitian terkini adalah bahwa kesepian emosional dapat terjadi pada lansia yang secara objektif memiliki jaringan sosial yang luas. Park dan kolega (2025) mengidentifikasi lima pola hubungan sosial pada lansia dengan gangguan kognitif, dan menemukan bahwa kesepian emosional tertinggi terjadi pada kelompok dengan hubungan dekat yang terbatas atau negatif, termasuk pola hubungan yang beragam namun penuh ketegangan (Park et al., 2025).

Dengan kata lain, memiliki banyak hubungan sosial tidak menjamin perlindungan dari kesepian emosional. Yang menentukan adalah kualitas hubungan di antaranya adalah sejauh mana lansia merasa didengar, dipahami, dan divalidasi secara emosional oleh orang-orang terdekatnya. Seorang lansia dapat hadir dalam pertemuan keluarga setiap minggu, tetapi jika percakapan hanya bersifat transaksional (membahas obat, keuangan, atau cuaca) tanpa ruang untuk berbagi perasaan dan pengalaman batin, maka kesepian emosional tetap dapat terjadi.

Implikasi bagi Praktik Keperawatan

1. Peran Kritis Perawat

Perawat berada di garis depan dalam mendeteksi dan mengintervensi kesepian pada lansia. Sebuah commentary terbaru menyoroti bahwa perawat praktik umum (general practice nurses/GPNs) memiliki potensi besar untuk berperan sebagai “health connectors” menghubungkan lansia dengan sumber daya sosial dan komunitas (Asshiddiqi, 2026). Penelitian yang dikomentarinya (Thompson et al., 2025) menunjukkan bahwa perawat memiliki keterampilan klinis, hubungan terapeutik, dan kemauan untuk memberikan perawatan holistik yang berpusat pada individu (person centered care) (Thompson et al., 2026).

Namun, Asshiddiqi (2026) menegaskan bahwa efektivitas perawat sangat dipengaruhi oleh sistem di mana mereka bekerja. Studi implementasi menunjukkan bahwa meskipun perawat memiliki kemauan dan keterampilan, mereka sering terhambat oleh model pendanaan perawatan primer yang lebih memprioritaskan aktivitas medis akut daripada kerja preventif dan sosial (Asshiddiqi, 2026; Thompson et al., 2026). Hal ini menegaskan bahwa intervensi keperawatan yang sukses memerlukan dukungan kebijakan dan sistem yang selaras.

Lebih jauh, Asshiddiqi (2026) mengutip temuan menarik dari Thompson et al. (2025) bahwa perawat di garis depan menyarankan agar intervensi sosial dimulai lebih awal, idealnya sejak masa pensiun, untuk mencegah isolasi sebelum mengakar. Ini menunjukkan perlunya pendekatan siklus hidup (life-course approach) dalam asesmen risiko kesepian, tidak hanya menunggu hingga lansia berusia lebih lanjut di atas 75 tahun.

2. Asesmen yang Tepat dan Personal

Praktik asesmen konvensional yang hanya menanyakan “Apakah Anda tinggal sendiri?” atau “Berapa kali Anda bertemu keluarga?” tidak cukup untuk mendeteksi kesepian emosional. Alat ukur seperti UCLA Loneliness Scale versi 3 telah direkomendasikan untuk asesmen di fasilitas kesehatan (Salari et al., 2025).

Asshiddiqi (2026) menekankan bahwa lansia bukanlah kelompok yang homogen; mereka adalah individu unik dengan perspektif, kondisi kesehatan, kepribadian, dan latar belakang budaya yang beragam. Oleh karena itu, pendekatan personal melalui wawancara mendalam sangat penting untuk memahami konteks setiap lansia. Perawat dapat mengajukan pertanyaan terbuka seperti:

  • “Kepada siapa Anda biasanya bercerita ketika merasa sedih atau khawatir?”
  • “Dalam kunjungan keluarga terakhir, apakah Anda merasa benar-benar didengarkan?”
  • “Apakah ada hal yang ingin Anda bagikan tetapi merasa tidak ada orang yang tepat untuk mendengarkannya?”

3. Mendengarkan sebagai Terapi

Salah satu intervensi paling sederhana namun paling kuat adalah mendengarkan secara aktif dan tanpa menghakimi. Lansia dengan kesepian emosional sering kali tidak membutuhkan solusi atas masalah mereka, akan tetapi mereka membutuhkan seseorang yang bersedia mendengar cerita, kekhawatiran, dan kerinduan mereka tanpa tergesa-gesa memberikan nasihat (Piven et al., 2025).

Peran Keluarga: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Meskipun perawat memiliki peran profesional, benteng utama perlindungan bagi lansia tetaplah keluarga.

1. Komunikasi Empatik: Mendengar dengan Hati

Komunikasi empatik adalah fondasi utama. Lansia yang merasa didengarkan dan dipahami akan merasa dihargai serta tidak menjalani masa tua dengan perasaan kesepian.

Beberapa teknik komunikasi empatik yang dapat diterapkan:

  • Mendengarkan aktif (active listening): Berikan perhatian penuh saat lansia berbicara. Jangan menyela, terburu-buru memberi solusi, atau memainkan gawai.
  • Validasi perasaan: Akui dan terima perasaan lansia tanpa menghakimi. Ucapkan kalimat seperti, “Saya mengerti bahwa Bapak merasa sedih,” bukan “Sudahlah, jangan sedih.”
  • Bahasa tubuh yang mendukung: Tatap mata, tersenyum, dan sesekali mengangguk. Sentuhan lembut di pundak atau genggaman tangan juga dapat menyampaikan kehangatan.
  • Libatkan dalam diskusi keluarga: Ajak lansia memberikan pendapat dalam pengambilan keputusan keluarga, sekecil apa pun.

2. Kehadiran Fisik yang Berkualitas

Bagi keluarga yang tinggal serumah, luangkan waktu khusus setiap hari untuk mengobrol, mendengarkan cerita mereka, atau sekadar menonton acara TV bersama. Yang terpenting adalah kualitas interaksi, bukan sekadar kehadiran fisik. Mengajak lansia mengobrol, melibatkan mereka dalam keputusan keluarga, dan memberikan dukungan emosional yang konsisten akan membantu mencegah perasaan kesepian (Hajek et al., 2025).

3. Teknologi sebagai Penghubung: Video Call

Bagi keluarga yang tidak lagi tinggal serumah, teknologi komunikasi daring menjadi solusi yang sangat efektif. Tinjauan sistematis tahun 2024 menunjukkan bahwa intervensi berbasis teknologi, termasuk konferensi video, merupakan salah satu kategori intervensi yang efektif untuk mengatasi kesepian pada lansia (Zaharia et al., 2024).

Tips praktis:

  • Jadwalkan panggilan video secara rutin, misalnya jika tidak bisa setiap hari, setidaknya setiap hari Minggu atau dua kali seminggu.
  • Libatkan cucu-cucu dalam panggilan video, senyum dan celoteh mereka sering kali membawa kebahagiaan tersendiri.
  • Gunakan panggilan video tidak hanya untuk “mengecek keadaan,” tetapi juga untuk bercerita, bernostalgia, atau sekadar “makan bersama” secara virtual.

Landasan Islam: Menghormati Lansia adalah Ajaran Agama

Dalam ajaran Islam, memuliakan orang tua dan lansia adalah perintah yang jelas dan merupakan bagian dari pengagungan kepada Allah SWT. Berikut adalah dalil-dalil yang menjadi landasan.

1. Dalil Al-Qur’an: QS. Al-Isra’ (17): 23

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Terjemahan:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.”

Ayat ini secara tegas mengajarkan bahwa ketika orang tua mencapai usia lanjut, dimana saat mereka paling rentan, kewajiban berbuat baik justru semakin ditekankan. Bahkan mengucapkan kata “ah” (yang menunjukkan rasa tidak sabar) pun dilarang. Dalam konteks kesepian emosional, larangan ini mencakup sikap mengabaikan perasaan mereka atau menunjukkan kebosanan saat mereka bercerita.

2. Hadis Memuliakan Lansia sebagai Pengagungan kepada Allah

Nabi Muhammad SAW, Bersabda:

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ

Terjemahan:

“Sesungguhnya termasuk pengagungan kepada Allah adalah memuliakan orang Muslim yang telah beruban (lanjut usia).”

(HR. Abu Dawud dan Albukhari)

Dengan demikian, upaya keluarga untuk memberikan perhatian, mendengarkan dengan empati, dan memastikan lansia tidak merasa kesepian bukan hanya tindakan sosial yang terpuji, tetapi juga ibadah yang bernilai di sisi Allah SWT.

Kesimpulan

Kesepian emosional pada lansia adalah fenomena yang nyata, berbahaya, dan sering kali tidak terdeteksi. Kesepian emosional dapat terjadi pada lansia yang tinggal bersama keluarga, aktif secara sosial, dan tampak “baik-baik saja” dari luar. Sebagai perawat, pendidik, dan anggota keluarga, kita memiliki tanggung jawab untuk melihat melampaui permukaan, tetapi juga melihat lebih dalam. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa kesepian emosional merusak kesehatan fisik dan mental, setara dengan faktor risiko utama penyakit kronis (Rahman & Zahari, 2026; Nakou et al., 2025). Namun, intervensi sederhana seperti mendengarkan secara aktif, dan komunikasi rutin baik secara langsung maupun melalui panggilan video terbukti efektif (Zaharia et al., 2024).  Dalam perspektif Islam, semua upaya ini bukan sekadar tindakan sosial, melainkan pengamalan perintah Allah untuk memuliakan orang tua dan lansia, sebuah ibadah yang sarat dengan pahala. Maka, sudah saatnya kesepian emosional pada lansia mendapatkan perhatian yang setara dengan hipertensi atau diabetes, sebagai kondisi yang dapat dicegah, dideteksi, dan diintervensi secara holistik, dengan memadukan ilmu keperawatan, kasih sayang keluarga, dan nilai-nilai spiritual.

Daftar Pustaka

Asri, Y., Hartono, A., Murwani, A., Kristiarini, J. J., & Manga, Y. B. (2025). Prevalence and Associated Factors of Loneliness Among Older Adults in Indonesia: Insights from the Indonesian Family Life Survey (IFLS-5). Jurnal Ners, 20(1), 9–16. https://doi.org/10.20473/jn.v20i1.59927

Asshiddiqi, M. I. N. (2026). Commentary: The pivotal role of general practice nurses in addressing loneliness and fostering social connectedness among older people. Journal of Research in Nursing, 31(3–4), 260–262. https://doi.org/10.1177/17449871251408187

Chawla, K., Kunonga, T. P., Stow, D., Barker, R., Craig, D., & Hanratty, B. (2021). Prevalence of loneliness amongst older people in high-income countries: A systematic review and meta-analysis. PLOS ONE, 16(7), e0255088. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0255088

Hajek, A., Sutin, A. R., Posi, G., Stephan, Y., Peltzer, K., Terracciano, A., Luchetti, M., & König, H.-H. (2025). Chronic loneliness and chronic social isolation among older adults. A systematic review, meta-analysis and meta-regression. Aging & Mental Health, 29(2), 185–200. https://doi.org/10.1080/13607863.2024.2385448

Luchetti, M., Aschwanden, D., Sesker, A. A., Zhu, X., O’Súilleabháin, P. S., Stephan, Y., Terracciano, A., & Sutin, A. R. (2024). A meta-analysis of loneliness and risk of dementia using longitudinal data from >600,000 individuals. Nature Mental Health, 2(11), 1350–1361. https://doi.org/10.1038/s44220-024-00328-9

Nakou, A., Dragioti, E., Bastas, N.-S., Zagorianakou, N., Kakaidi, V., Tsartsalis, D., Mantzoukas, S., Tatsis, F., Veronese, N., Solmi, M., & Gouva, M. (2025). Loneliness, social isolation, and living alone: A comprehensive systematic review, meta-analysis, and meta-regression of mortality risks in older adults. Aging Clinical and Experimental Research, 37(1), 29. https://doi.org/10.1007/s40520-024-02925-1

Park, S., Park, S., Kim, B., Amano, T., & Baek, J. (2025). Social relationship patterns and their association with emotional and social loneliness in older adults with cognitive impairments. Aging & Mental Health, 29(6), 1152–1161. https://doi.org/10.1080/13607863.2025.2475313

Perlman, D., & Peplau, L. A. (1982). Theoretical approaches to loneliness. John Wiley & Sons. https://www.researchgate.net/publication/284634633_Theoretical_approaches_to_loneliness

Piven, M., Swissa, S., Asulin, O., & Osnat, B. (2025). Characteristics of Coping with Loneliness and the Influence of Living Arrangements Among Older Adults: Findings from a Comparative Qualitative Study. Journal of Gerontological Social Work, 68(1), 3–22. https://doi.org/10.1080/01634372.2024.2430604

Rahman, H. A., & Zahari, N. H. (2026). The Silent Crisis: Loneliness in Older Adults—A Critical Review of Impacts, Strategies and Path Forward. Scandinavian Journal of Caring Sciences, 40(3), e70292. https://doi.org/10.1111/scs.70292

Salari, N., Najafi, H., Rasoulpoor, S., Canbary, Z., Heidarian, P., & Mohammadi, M. (2025). The global prevalence and associated factors of loneliness in older adults: A systematic review and meta-analysis. Humanities and Social Sciences Communications, 12(1), 985. https://doi.org/10.1057/s41599-025-05304-x

Schröders, J., Nichter, M., San Sebastian, M., Nilsson, M., & Dewi, F. S. T. (2021). ‘The Devil’s Company’: A Grounded Theory Study on Aging, Loneliness and Social Change Among ‘Older Adult Children’ in Rural Indonesia. Frontiers in Sociology, 6. https://doi.org/10.3389/fsoc.2021.659285

Thompson, C., Halcomb, E., Montgomery, A., & Peters, K. (2026). Factors influencing the implementation of a general practice nurse-led intervention to improve social connectedness among older people in Australia: A qualitative descriptive study. Journal of Research in Nursing, 31(3–4), 243–259. https://doi.org/10.1177/17449871251410561

Warren, A. (2025). Loneliness as a driver of allostatic load: Mechanisms linking social disconnection to physiological dysregulation and health disparities. Stress, 28(1), 2594067. https://doi.org/10.1080/10253890.2025.2594067

Weiss, R. S. (1974). Loneliness: The Experience of Emotional and Social Isolation. publisher not identified.

World Health Organization. (2025). Loneliness and isolation – the hidden threat to global health we can no longer ignore. World Health Organization. https://www.who.int/news-room/commentaries/detail/loneliness-and-isolation-the-hidden-threat-to-global-health-we-can-no-longer-ignore

Zaharia, G., Ibáñez-del Valle, V., Cauli, O., & Corchón, S. (2024). The Long-Lasting Effect of Multidisciplinary Interventions for Emotional and Social Loneliness in Older Community-Dwelling Individuals: A Systematic Review. Nursing Reports, 14(4), 3847–3863. https://doi.org/10.3390/nursrep14040281

Penggunaan Media Sosial TikTok dan Munculnya Gejala Depresi pada Remaja

Penggunaan Media Sosial TikTok dan Munculnya Gejala Depresi pada Remaja

Author : Despita Pramesti, S.Kep.Ns.,M.Kes

Perkembangan teknologi digital telah meningkatkan penggunaan media sosial secara signifikan, terutama di kalangan remaja. Laporan Digital 2025 Global Overview Report dari We Are Social & Meltwater menunjukkan bahwa pada awal tahun 2025 terdapat sekitar 5,24 miliar pengguna media sosial aktif di dunia atau sekitar 63,9% dari populasi global. Di Indonesia, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dengan rata-rata waktu penggunaan media sosial mencapai lebih dari 3 jam per hari. Sementara itu, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2024 melaporkan bahwa tingkat penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 79,5%, yang menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat, termasuk remaja, terhadap berbagai platform digital.

Salah satu media sosial yang paling populer adalah TikTok. Melalui algoritma personalisasi, TikTok menyajikan konten yang menarik dan sesuai dengan minat pengguna sehingga mendorong penggunaan dalam durasi yang lebih lama. Meskipun bermanfaat sebagai sarana hiburan, kreativitas, dan komunikasi, penggunaan TikTok yang berlebihan mulai dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan mental, termasuk gejala depresi.

Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan TikTok yang berlebihan atau bersifat adiktif dengan meningkatnya risiko depresi. Systematic review oleh Conte dkk. (2025) yang melibatkan 20 penelitian dari 10 negara melaporkan bahwa penggunaan TikTok secara intensif berhubungan dengan penurunan kesejahteraan psikologis, rendahnya harga diri, gangguan citra tubuh, serta meningkatnya gejala depresi. Temuan tersebut diperkuat oleh systematic review dan meta-analysis terbaru yang menunjukkan bahwa penggunaan TikTok yang bermasalah berkaitan secara signifikan dengan depresi, kecemasan, stres, dan gangguan kualitas tidur.

Beberapa mekanisme diduga mendasari hubungan tersebut. Paparan konten yang menampilkan kehidupan ideal dapat memicu social comparison sehingga menurunkan harga diri. Selain itu, fenomena fear of missing out (FoMO) mendorong remaja terus menggunakan TikTok agar tidak tertinggal tren. Penggunaan hingga larut malam juga dapat mengganggu kualitas tidur, sedangkan paparan konten negatif yang berulang berpotensi memperkuat suasana hati negatif.

Meskipun demikian, TikTok bukan merupakan penyebab tunggal depresi. Depresi merupakan kondisi yang bersifat multifaktorial dan dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, keluarga, serta lingkungan sosial. Selain itu, sebagian besar penelitian yang tersedia masih menggunakan desain cross-sectional, sehingga hanya menunjukkan adanya hubungan, bukan hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, diperlukan penelitian longitudinal untuk memastikan apakah penggunaan TikTok merupakan penyebab atau konsekuensi dari munculnya gejala depresi pada remaja.

TWS Lebih Berbahaya bagi Telinga: Mitos atau Fakta?

TWS Lebih Berbahaya bagi Telinga: Mitos atau Fakta?

Oleh: Allama Zaki Almubarok, S.Kep., Ns., M.Kep

Pendahuluan

TWS kini menemani banyak aktivitas sehari-hari: mengikuti kuliah daring, menerima panggilan, berolahraga, menonton video, hingga mendengarkan musik sebelum tidur. Bentuknya yang kecil dan tanpa kabel membuat perangkat ini mudah digunakan hampir sepanjang hari. Kemudahan tersebut juga melahirkan kekhawatiran. Ada anggapan bahwa TWS lebih berbahaya karena menggunakan Bluetooth atau berada dekat dengan gendang telinga. Padahal, dalam konteks gangguan pendengaran akibat suara, perhatian utama dalam pedoman kesehatan bukanlah ada atau tidaknya kabel, melainkan seberapa keras suara yang mencapai telinga dan berapa lama paparan berlangsung.

Kajian sistematis yang melibatkan lebih dari 19.000 remaja dan dewasa muda menunjukkan bahwa kebiasaan mendengarkan yang tidak aman masih banyak ditemukan. Para peneliti memperkirakan sekitar 0,67–1,35 miliar anak muda di dunia berpotensi berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat penggunaan perangkat audio pribadi dan paparan suara keras di tempat hiburan (Dillard et al., 2022).

Mengenal TWS dan Perangkat Audio Pribadi

TWS atau true wireless stereo merupakan earphone nirkabel yang terhubung melalui Bluetooth tanpa kabel di antara kedua perangkat. Istilah earbud biasanya digunakan untuk perangkat kecil yang ditempatkan di bagian luar atau sedikit masuk ke liang telinga. Sementara itu, in-ear monitor atau IEM menggunakan ujung silikon yang masuk dan menutup liang telinga dengan lebih rapat.

Headphone digunakan di atas atau mengelilingi daun telinga, sedangkan headset pada dasarnya adalah headphone atau earphone yang dilengkapi mikrofon. Kategori tersebut dapat saling tumpang tindih; misalnya, sebuah TWS dapat berbentuk in-ear sekaligus memiliki mikrofon.

Posisi perangkat yang dekat dengan telinga tidak otomatis membuatnya lebih berbahaya. Begitu pula, perangkat berkabel tidak otomatis lebih aman. Faktor yang lebih menentukan adalah tingkat tekanan suara yang mencapai telinga, durasi paparan, kemampuan perangkat menghasilkan suara, kecocokan pemasangan, dan kebiasaan pengguna mengatur volume.

Bluetooth menggunakan gelombang radio non-ionisasi untuk mengirimkan data. Namun, kerusakan pendengaran akibat bising terjadi karena energi suara yang diterima sistem pendengaran. Karena itu, berdasarkan kerangka safe listening WHO, menyimpulkan bahwa TWS lebih merusak pendengaran hanya karena bersifat nirkabel tidaklah tepat.

Mengapa Hal Ini Penting?

Suara masuk melalui liang telinga, menggetarkan gendang telinga, kemudian diteruskan menuju koklea atau rumah siput di telinga dalam. Di dalam koklea terdapat sel sensorik yang sering disebut sel rambut. Sel ini mengubah getaran menjadi sinyal listrik yang kemudian diterjemahkan oleh otak sebagai suara.

Paparan suara yang terlalu keras atau berlangsung terlalu lama dapat membuat struktur tersebut mengalami kelelahan dan kerusakan. Menurut National Institute on Deafness and Other Communication Disorders, sel rambut manusia yang telah rusak tidak dapat tumbuh kembali seperti semula. Kerusakan dapat terjadi perlahan sehingga seseorang belum tentu langsung menyadarinya.

Desibel atau dB digunakan untuk mengukur tingkat suara. Skalanya bersifat logaritmik: sedikit kenaikan angka dapat berarti peningkatan energi suara yang besar. Prinsip NIOSH menjelaskan bahwa setiap kenaikan 3 dB menggandakan energi suara sehingga waktu paparan yang dianjurkan perlu dikurangi sekitar separuh (CDC/NIOSH, 2024).

Sebagai acuan safe listening, WHO menyebutkan bahwa suara rata-rata 80 dB dapat didengarkan hingga sekitar 40 jam per minggu. Pada 90 dB, waktu tersebut turun menjadi sekitar empat jam per minggu. Angka ini merupakan panduan paparan, bukan jaminan mutlak, karena kepekaan setiap orang dapat berbeda.

Lingkungan juga memengaruhi perilaku mendengarkan. Di kendaraan umum, jalan raya, pusat kebugaran, atau ruang kerja yang bising, pengguna cenderung menaikkan volume agar suara terdengar lebih jelas. Perangkat yang pas, memiliki isolasi suara yang baik, atau dilengkapi active noise cancellation (ANC) dapat membantu mengurangi kebutuhan menaikkan volume. Penelitian Hoshina et al. (2022) menunjukkan bahwa teknologi pengendalian kebisingan dapat menurunkan tingkat volume yang dipilih pengguna dalam lingkungan bising.

Namun, ANC bukan pelindung otomatis. Jika volume tetap tinggi dan digunakan berjam-jam, risiko paparan berlebihan tetap ada. Fitur ini juga perlu digunakan secara bijak ketika berjalan, berkendara, atau berada di tempat yang membutuhkan kewaspadaan terhadap suara lingkungan.

Tanda atau Hal yang Perlu Diperhatikan

Setelah menggunakan perangkat audio, perhatikan beberapa tanda berikut:

  • Telinga berdenging, berdesis, atau berdengung.
  • Suara terasa teredam atau kurang jelas.
  • Telinga terasa penuh setelah mendengarkan.
  • Sulit memahami percakapan, terutama di tempat ramai.
  • Kesulitan mendengar suara bernada tinggi.
  • Sering meminta orang lain mengulang perkataan.
  • Memerlukan volume yang semakin tinggi dibandingkan sebelumnya.

Keluhan yang membaik setelah beberapa saat bukan berarti paparan tersebut sepenuhnya aman. Tinnitus atau pendengaran yang terasa menurun sementara setelah paparan suara keras dapat menjadi peringatan bahwa telinga membutuhkan perlindungan dan waktu pemulihan.

Apa yang Dapat Dilakukan?

Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu menjaga kesehatan pendengaran:

  • Mulai dari volume rendah. WHO menyarankan volume tidak lebih dari sekitar 60% sebagai panduan praktis. Namun, angka persentase ini tidak seragam karena setiap kombinasi ponsel, aplikasi, rekaman, dan perangkat audio memiliki keluaran suara berbeda.
  • Upayakan rata-rata suara di bawah 80 dB. Gunakan fitur pemantauan paparan suara pada perangkat yang kompatibel. Aplikasi pengukur kebisingan lingkungan tidak selalu dapat mengukur suara di dalam earphone secara akurat.
  • Kurangi durasi ketika volume meningkat. Semakin keras suara, semakin singkat waktu mendengarkan yang lebih aman.
  • Berikan jeda secara berkala. Lepaskan perangkat dan beristirahatlah di tempat yang lebih tenang.
  • Gunakan perangkat yang pas. Isolasi suara yang baik atau ANC dapat mengurangi dorongan menaikkan volume ketika berada di lingkungan bising.
  • Patuhi peringatan volume. Jangan terus-menerus mengabaikan notifikasi batas paparan suara dari ponsel.
  • Jauhkan diri dari sumber suara keras. Pada konser, acara olahraga, atau lingkungan kerja bising, jaga jarak dari pengeras suara dan gunakan pelindung telinga yang sesuai.

Peran Perawat dan Keluarga

Perawat berperan penting dalam promosi kesehatan pendengaran melalui edukasi, pengkajian kebiasaan mendengarkan, pengenalan tanda awal, serta rujukan bila ditemukan keluhan. Mahasiswa keperawatan juga dapat memasukkan edukasi safe listening dalam kegiatan penyuluhan di sekolah, kampus, keluarga, dan masyarakat.

Keluarga dapat menjadi teladan dengan mengatur volume televisi dan perangkat audio secara wajar, mengingatkan anak untuk beristirahat, serta menyediakan pelindung telinga saat menghadiri kegiatan bising. Pendekatan sebaiknya bersifat suportif, bukan melarang atau menyalahkan pengguna perangkat.

Kapan Harus Mencari Pertolongan?

Segera cari pertolongan medis apabila pendengaran tiba-tiba menurun pada satu atau kedua telinga, terutama jika disertai tinnitus atau pusing berputar. Kondisi tersebut perlu dinilai dengan cepat oleh tenaga kesehatan.

Konsultasikan pula ke puskesmas, klinik, dokter THT, atau tenaga kesehatan pendengaran apabila tinnitus menetap, pendengaran semakin berkurang, percakapan sulit dipahami, telinga terasa penuh terus-menerus, atau terdapat nyeri maupun cairan dari telinga. Pemeriksaan pendengaran diperlukan untuk mengetahui penyebabnya; pembaca tidak dianjurkan menegakkan diagnosis sendiri.

Kesimpulan

TWS bukanlah musuh kesehatan telinga, tetapi kebiasaan mendengarkan yang tidak aman dapat menjadi masalah. Perangkat nirkabel maupun berkabel sama-sama dapat menimbulkan risiko ketika digunakan terlalu keras dan terlalu lama. Sebaliknya, keduanya dapat digunakan dengan lebih aman apabila volume, durasi, kondisi lingkungan, dan waktu istirahat dikendalikan.

Mari mulai memperlakukan kesehatan pendengaran sebagai bagian dari pola hidup sehat. Dengarkan dengan nyaman, beri telinga waktu beristirahat, dan jangan ragu memeriksakan pendengaran ketika muncul keluhan.

Disclaimer

Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, pengobatan, atau konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan.

Daftar Pustaka

Centers for Disease Control and Prevention–National Institute for Occupational Safety and Health (CDC–NIOSH) (2024) ‘Understand noise exposure’. Available at: https://www.cdc.gov/niosh/noise/prevent/understand.html (Accessed: 4 August 2026).

Dillard, L.K., Arunda, M.O., Lopez-Perez, L., Martinez, R.X., Jiménez, L. and Chadha, S. (2022) ‘Prevalence and global estimates of unsafe listening practices in adolescents and young adults: a systematic review and meta-analysis’, BMJ Global Health, 7(11), e010501. Available at: https://doi.org/10.1136/bmjgh-2022-010501.

Hoshina, T., Fujiyama, D., Koike, T. and Ikeda, K. (2022) ‘Effects of an active noise control technology applied to earphones on preferred listening levels in noisy environments’, Journal of Audiology & Otology, 26(3), pp. 122–129. Available at: https://doi.org/10.7874/jao.2021.00612.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2025) ‘Kemenkes ajak masyarakat peduli kesehatan pendengaran’. Available at: https://www.kemkes.go.id/eng/kemenkes-ajak-masyarakat-peduli-kesehatan-pendengaran (Accessed: 4 August 2026).

National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (2025) ‘Noise-induced hearing loss’. Available at: https://www.nidcd.nih.gov/health/noise-induced-hearing-loss (Accessed: 4 August 2026).

World Health Organization (2019) Safe listening devices and systems: a WHO–ITU standard. Geneva: World Health Organization and International Telecommunication Union. Available at: https://iris.who.int/handle/10665/280085 (Accessed: 4 August 2026).

World Health Organization (2026) ‘Deafness and hearing loss: Safe listening’. Available at: https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/deafness-and-hearing-loss-safe-listening (Accessed: 4 August 2026).

“Ultimate Preparation” bagi Remaja Cewek, jangan hanya soal Glow Up aja !!!

“Ultimate Preparation” bagi Remaja Cewek, jangan hanya soal Glow Up aja !!!

Oleh: Dr. Wahyuningsih, S.Kep., Ns., M.Kep

Masa sekolah bukan sekadar jembatan menuju kedewasaan. Ini adalah masa golden age buat investasi diri. Khususnya bagi remaja cewek, suatu hari nanti, kalian bakal tumbuh jadi wanita dewasa yang mandiri, dan bahkan mungkin jadi pilar utama dalam keluarga sosok ibu yang cerdas, sehat, dan tangguh.

Nah, biar masa remaja kalian tidak hanya terlewat begitu saja, ada beberapa checklist aktivitas “Ultimate Prep” yang bisa membuat kalian makin berkualitas dari sekarang!

1. Glow Up Luar Dalam: Pahami & Rawat Tubuh Sendiri

Memasuki usia remaja, tubuh kita mengalami banyak perubahan. Menjaga kesehatan reproduksi itu hukumnya wajib, bukan hal yang tabu untuk dipelajari. Beberapa hal yang bisa diterapkan adalah:

  • Pola Makan Gizi Seimbang: Jangan hobi skipping sarapan atau hanya makan junk food. Asupan zat besi dan nutrisi penting sekali agar tidak mudah anemia dan lelah.
  • Jaga Kebersihan Diri: Pahami siklus menstruasi dan cara menjaga kebersihan organ kewanitaan dengan benar.
  • Olahraga Rutin: Tidak perlu yang berat, jalan kaki, stretching, atau dance favoritmu sudah cukup membuat hormon bahagia naik dan tulang kuat

Ingat: Kesehatan tubuh yang kalian investasikan di usia remaja adalah fondasi utama untuk masa reproduksi yang sehat di masa depan.

2. Asah Brain Power: Cewek Cerdas Itu Atraktif!

Katanya, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Berarti, makin luas wawasan kalian sekarang, makin keren pula cara kalian memimpin kehidupan kalian (dan keluarga kalian) kelak!

  • Rajin Baca & Eksplorasi Hal Baru: Jangan hanya scroll TikTok, coba luangkan waktu untuk membaca buku, dengerin podcast edukatif, atau belajar bahasa baru.
  • Belajar Problem Solving: Kalau ada masalah di sekolah atau organisasi, latih diri kalian untuk  mencari solusi, bukan hanya panik. Ini adalah modal mahal untuk masa depan.

3. Latih Life Skills Sehari-hari (Bukan Hanya Soal Masak!)

Menjadi pilar rumah tangga atau wanita dewasa bukan berarti kalian harus jago segalanya dari sekarang. Tapi, punya dasar life skills akan membuat kalian super mandiri:

  • Manajemen Waktu & Keuangan: Coba belajar atur uang saku dan bagi waktu antara belajar, organisasi, dan me-time.
  • Dasar Merawat Rumah & Memasak: Belajar memasak makanan simpel yang sehat atau sekadar menjaga kamar tetap rapi itu bentuk kasih sayang ke diri sendiri

4. Emotional Fitness: Kelola Emosi & Pilih Lingkungan yang Tepat

Kualitas diri juga kelihatan dari cara kita mengelola perasaan dan berinteraksi dengan orang lain.

  • Pahami Emosi kalian: Normal sekali jika emosi kalian naik-turun di usia remaja. Yang penting, belajar meluapkannya dengan cara positif (seperti jurnaling atau olahraga).
  • Cari Circle yang Positif: Bertemanlah dengan orang-orang yang saling mendukung (supportive), bukan yang hobi merendahkan atau membawa pengaruh buruk.

Saatnya Mulai Langkah Kecil Kalian!

Menjadi individu berkualitas dan siap menghadapi masa depan, termasuk masa reproduktif dan menjadi pilar keluarga nanti, tidak bisa instan. Semuanya harus dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang kalian buat hari ini.

Yuk, manfaatkan masa-masa sekolah ini untuk terus eksplorasi potensi diri. Be healthy, be smart, and be the best version of you!

Liburan Gratis Lewat Pikiran: Cara Seru Usir Stres!

Liburan Gratis Lewat Pikiran: Cara Seru Usir Stres!

Oleh: Ika Mustika Dewi, S.Kep., Ns., M.Kep

Lagi Stres dan Cemas? Yuk, Cobain Guided Imagery Buat Nenangin Pikiran!

Menjadi remaja itu seru, tapi jujur aja, kadang bisa bikin pusing tujuh keliling. Di masa transisi dari anak-anak menuju dewasa ini, banyak banget hal baru yang harus kita hadapi. Belum lagi kalau ada tekanan tugas sekolah, masalah pertemanan, sampai tuntutan buat terus beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Gak heran kalau rasa stres dan cemas sering tiba-tiba datang menghampiri.

Ada satu cara seru dan murah meriah untuk mengatasi kecemasan ini. Namanya adalah Guided Imagery. Apa sih itu? Yuk, kita kulik bareng-bareng!

Mengenal Guided Imagery: Liburan Gratis Lewat Pikiran

Guided Imagery adalah sebuah teknik relaksasi yang memanfaatkan kekuatan imajinasi dan pikiran kita. Simpelnya, teknik ini mengajak kita buat “jalan-jalan virtual” atau membayangkan tempat dan kejadian yang menyenangkan di dalam pikiran kita sendiri.

Saat melakukan guided imagery, kamu bisa mengaktifkan seluruh indra tubuhmu. Bukan cuma membayangkan pemandangan indah secara visual, tapi kamu juga bisa seolah-olah mendengar suara gemercik air yang menenangkan, mencium bau rumput yang segar, hingga merasakan embusan angin sepoi-sepoi. Lewat kekuatan imajinasi ini, tubuh kita dirangsang untuk menyembuhkan diri dan menjadi jauh lebih rileks.

Kenapa Bisa Menurunkan Kecemasan?

Ketika kita merasa cemas atau stres, tubuh kita sebenarnya sedang mengirimkan sinyal panik. Nah, guided imagery hadir sebagai tombol pause otomatis untuk kepanikan tersebut.

Berdasarkan hasil kegiatan edukasi kesehatan yang dilakukan pada remaja di Depok, Sleman, teknik ini terbukti menjadi alternatif relaksasi yang sangat efektif untuk menurunkan kecemasan dan stres. Saat pikiran kita fokus mengkhayalkan hal-hal yang indah dan damai, mood positif kita akan meningkat secara drastis. Efeknya, hormon stres di dalam tubuh bakal ikutan turun, sehingga pikiran jadi lebih tenang dan kualitas hidup kita juga ikut meningkat.

Gimana Cara Memulainya?

Kabar baiknya, teknik relaksasi ini sangat mudah dan bisa kamu lakukan secara gratis di mana saja kapan pun kamu butuh energi baru. Ini dia tahapan sederhananya:

  • Cari Posisi Nyaman: Duduk atau berbaringlah di tempat yang tenang, lalu pejamkan matamu perlahan.
  • Atur Napas: Ambil napas dalam-dalam lewat hidung, tahan sebentar, lalu hembuskan perlahan lewat mulut. Ulangi sampai tubuhmu terasa lebih ringan.
  • Mulai Perjalanan Imajinasi: Bayangkan sebuah tempat yang paling bikin kamu merasa aman dan bahagia. Bisa jadi pantai sepi, pegunungan yang hijau, atau kamar tidurmu sendiri. Rasakan suasananya seolah-olah kamu benar-benar sedang berada di sana.

Yuk, kurangi cemasmu dan mulai luangkan waktu beberapa menit setiap hari buat mempraktikkan guided imagery ini. Selamat mencoba dan stay relax!