by Admin Keperawatan | Jun 11, 2026 | Artikel
Oleh: Mulyanti, S.Kep., Ns., MPH
Pernah mendengar teman diejek karena penampilannya? Atau melihat seseorang dikucilkan dari kelompok pertemanan? Banyak orang menganggap hal seperti itu hanya candaan biasa. Namun, jika tindakan tersebut membuat seseorang merasa sedih, takut, malu, atau tertekan, itu bisa termasuk bullying atau perundungan.
Bullying masih menjadi masalah yang sering terjadi di lingkungan sekolah maupun media sosial. Sayangnya, tidak semua orang menyadari bahwa tindakan yang dianggap sepele dapat meninggalkan luka yang mendalam bagi korbannya.
Apa Itu Bullying?
Bullying adalah tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk menyakiti, merendahkan, mengintimidasi, atau mengganggu orang lain. Bullying biasanya terjadi berulang kali dan membuat korban merasa tidak berdaya.
Perundungan tidak selalu berupa kekerasan fisik. Kata-kata, sikap, bahkan unggahan di media sosial juga bisa menjadi bentuk bullying.
Jenis-Jenis Bullying
1. Bullying Verbal: Bullying verbal dilakukan melalui kata-kata yang menyakitkan, seperti:
- Mengejek penampilan fisik
- Memberi julukan yang merendahkan
- Menghina kemampuan seseorang
- Mengancam atau mempermalukan teman
2. Bullying Fisik: Bullying fisik melibatkan tindakan yang menyakiti tubuh atau barang milik orang lain, seperti:
- Memukul
- Menendang
- Mendorong
- Merusak barang milik teman
3. Bullying Sosial: Bullying sosial bertujuan mengucilkan atau merusak hubungan seseorang dengan lingkungan sekitarnya, misalnya:
- Mengabaikan teman secara sengaja
- Menyebarkan gosip
- Mengajak teman lain untuk menjauhi seseorang
4. Cyberbullying: Cyberbullying terjadi melalui internet atau media sosial, seperti:
- Memberikan komentar kasar
- Menyebarkan foto tanpa izin
- Mengirim pesan yang menghina
- Membuat konten untuk mempermalukan seseorang
Dampak Bullying bagi Remaja
Bullying bukan sekadar masalah perasaan sesaat. Korban bullying dapat mengalami berbagai dampak negatif, antara lain:
- Kehilangan Kepercayaan Diri: Korban sering mulai meragukan kemampuan dan nilai dirinya karena terus menerima perlakuan negatif.
- Gangguan Emosi: Bullying dapat menyebabkan stres, kecemasan, kesedihan, bahkan depresi.
- Prestasi Akademik Menurun: Korban mungkin kehilangan motivasi belajar, sulit berkonsentrasi, atau enggan datang ke sekolah.
- Menarik Diri dari Lingkungan Sosial: Perasaan takut dan tidak aman dapat membuat korban memilih menjauh dari teman-temannya.
Mengapa Bullying Harus Dihentikan?
Setiap orang berhak merasa aman dan dihargai. Bullying tidak membuat seseorang terlihat lebih kuat atau lebih hebat. Sebaliknya, bullying dapat merusak kesehatan mental dan hubungan sosial orang lain.
Lingkungan sekolah yang sehat adalah lingkungan yang mendukung, menghargai perbedaan, dan memberikan kesempatan bagi setiap siswa untuk berkembang.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Bullying?
Jika kamu mengalami bullying, jangan memendamnya sendiri.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan:
- Ceritakan kepada orang tua, guru, atau konselor sekolah.
- Simpan bukti jika bullying terjadi secara online.
- Jangan membalas dengan kekerasan.
- Cari dukungan dari teman yang dapat dipercaya.
- Ingat bahwa menjadi korban bullying bukanlah kesalahanmu.
Jika Menjadi Saksi Bullying
Banyak kasus bullying terus terjadi karena orang-orang di sekitarnya memilih diam.
Jika melihat bullying:
- Jangan ikut mendukung atau menertawakan korban.
- Berikan dukungan kepada korban.
- Laporkan kepada guru atau pihak sekolah.
- Tunjukkan bahwa perilaku bullying tidak dapat diterima.
Bersama Ciptakan Sekolah yang Aman
Mencegah bullying bukan hanya tugas guru atau orang tua. Setiap siswa memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan saling menghargai.
Mulailah dari hal sederhana: menghormati perbedaan, menjaga ucapan, dan berani membantu teman yang membutuhkan. Sekolah yang bebas bullying akan menjadi tempat yang lebih menyenangkan untuk belajar, berteman, dan meraih masa depan.
Ingat!
Bercanda boleh, tetapi jangan sampai membuat orang lain terluka. Apa yang menurut kita lucu, bisa jadi menjadi luka bagi orang lain.
by Admin Keperawatan | Jun 11, 2026 | Artikel
Penulis : Rafi Achmad Rukhama, S.Kep., Ns., M.N.Sc
Ketika seorang lansia tiba-tiba menjadi bingung, sering melamun, berbicara tidak nyambung, atau tampak seperti “pikun mendadak”, banyak keluarga menganggap kondisi tersebut sebagai bagian normal dari proses penuaan. Padahal, perubahan mental yang terjadi secara tiba-tiba pada lansia dapat menjadi tanda kegawatan medis yang dikenal sebagai delirium. Kondisi ini sering tidak dikenali, bahkan oleh tenaga kesehatan, meskipun berhubungan dengan peningkatan risiko kematian, perawatan rumah sakit yang lebih lama, dan penurunan kualitas hidup setelah pasien pulang.
Delirium adalah gangguan fungsi otak akut yang ditandai dengan perubahan kesadaran, perhatian, dan kemampuan berpikir yang muncul dalam hitungan jam hingga beberapa hari. Berbeda dengan demensia yang berkembang perlahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, delirium terjadi secara mendadak. Seorang lansia yang pagi hari masih mampu berkomunikasi dengan baik dapat menjadi sangat bingung pada malam harinya. Karena gejalanya sering menyerupai pikun, depresi, atau kelelahan biasa, banyak kasus yang terlambat mendapatkan penanganan.
Yang menarik, delirium sering kali bukan penyakit utama, melainkan sinyal bahwa tubuh sedang mengalami gangguan serius. Infeksi saluran kemih, pneumonia, dehidrasi, gangguan elektrolit, efek samping obat, hipoksia, hingga serangan jantung dapat memicu terjadinya delirium. Pada lansia, otak menjadi lebih sensitif terhadap perubahan fisiologis sehingga gangguan kecil sekalipun dapat menimbulkan perubahan perilaku yang signifikan.
Salah satu alasan delirium menjadi kegawatan yang tersembunyi adalah karena gejalanya tidak selalu berupa agitasi atau perilaku agresif. Banyak pasien justru mengalami hypoactive delirium, yaitu kondisi ketika pasien tampak sangat tenang, mengantuk, kurang berinteraksi, dan lebih banyak tidur. Tipe ini sering dianggap sebagai tanda pasien sedang beristirahat atau kelelahan, padahal justru memiliki risiko keterlambatan diagnosis yang lebih tinggi dibandingkan delirium hiperaktif.
Di instalasi gawat darurat, perubahan status mental akut pada lansia seharusnya dipandang sebagai tanda vital keenam. Sama seperti tenaga kesehatan menilai tekanan darah, nadi, atau frekuensi napas, perubahan kesadaran dan perilaku perlu dievaluasi secara sistematis. Sayangnya, fokus penilaian sering masih tertuju pada keluhan fisik sehingga delirium terlewatkan. Padahal, keberadaan delirium dapat menjadi petunjuk awal adanya kondisi yang mengancam jiwa.
Keluarga memiliki peran penting dalam mendeteksi delirium karena mereka adalah pihak yang paling mengenal kondisi normal pasien. Informasi sederhana seperti “biasanya ibu tidak seperti ini” atau “bapak tiba-tiba tidak mengenali anggota keluarga” dapat menjadi petunjuk klinis yang sangat berharga. Oleh karena itu, keterlibatan keluarga dalam proses asesmen lansia perlu menjadi bagian dari pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien.
Penanganan delirium tidak hanya berfokus pada gejala kebingungan yang muncul, tetapi juga mencari dan mengatasi penyebab yang mendasarinya. Semakin cepat penyebab ditemukan, semakin besar peluang pasien untuk pulih tanpa mengalami penurunan fungsi kognitif jangka panjang. Lingkungan yang tenang, pencahayaan yang cukup, orientasi waktu yang jelas, serta kehadiran anggota keluarga juga dapat membantu mempercepat pemulihan.
Di tengah meningkatnya jumlah populasi lansia, delirium layak mendapatkan perhatian lebih sebagai salah satu kegawatan geriatri yang sering tidak terlihat. Ketika seorang lansia tiba-tiba berubah menjadi bingung, mengantuk, atau tidak seperti biasanya, jangan langsung menganggapnya sebagai proses penuaan. Bisa jadi, kondisi tersebut adalah alarm dari tubuh yang sedang menghadapi masalah serius dan membutuhkan pertolongan segera. Mengenali delirium berarti memberikan kesempatan yang lebih besar bagi lansia untuk mendapatkan penanganan tepat waktu dan mempertahankan kualitas hidupnya.
Kata Kunci : Delirium pada lansia, Kegawatan geriatri, Perubahan status mental akut pada lansia, Acute Confusional State, Delirium di Instalasi Gawat Darurat, Kegawatan tersembunyi pada lansia
Referensi :
Potter, J., & George, J. (2006). The prevention, diagnosis and management of delirium in older people: Concise guidelines. Clinical Medicine, 6(3), 303–308.
National Institute for Health and Care Excellence. (2023). Delirium: Prevention, diagnosis and management in hospital and long-term care (CG103).
Silva, L. O. J. E., Berning, M. J., Stanich, J. A., Gerberi, D. J., Murad, M. H., Han, J. H., & Bellolio, F. (2021). Risk factors for delirium in older adults in the emergency department: A systematic review and meta-analysis. Annals of Emergency Medicine, 78(4), 549–565.
Chen, F., Liu, L., Wang, Y., Liu, Y., Fan, L., & Chi, J. (2022). Delirium prevalence in geriatric emergency department patients: A systematic review and meta-analysis. American Journal of Emergency Medicine, 59, 121–128.
Iglseder, B., Frühwald, T., & Jagsch, C. (2022). Delirium in geriatric patients. Wiener Medizinische Wochenschrift, 172, 114–121.
by Admin Keperawatan | Jun 11, 2026 | Artikel
Oleh: M. Ischaq Nabil Asshiddiqi
Sebuah artikel jurnal penelitian terbaru dari dosen Keperawatan, Universitas Alma Ata bersama peneliti dari Thailand (Prince of Songkla University) dan Amerika Serikat (Johns Hopkins University) mengungkap bahwa dimensi spiritualitas, terutama ketenangan batin (peace) dan keyakinan spiritual (faith), memiliki hubungan yang erat dengan rendahnya tekanan psikologis (diabetes distress) pada lansia dengan diabetes tipe 2. Studi ini telah diterima untuk publikasi di jurnal internasional Discover Public Health (Springer Nature).
Mengapa Diabetes Distress Penting untuk Diperhatikan?
Diabetes distress adalah beban emosional yang muncul dari rutinitas pengelolaan diabetes yang kompleks dan tidak pernah berhenti: mengatur pola makan, mengecek gula darah, minum obat, dan menghadapi komplikasi. Berbeda dengan depresi klinis, diabetes distress secara langsung terkait dengan rasa gagal, takut, dan lelah karena tuntutan manajemen penyakit diabetes setiap harinya. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan ketidakpatuhan berobat, memburuknya kontrol gula darah, dan menurunnya kualitas hidup.
Namun, di Indonesia, studi tentang faktor pelindung (protective factors) terhadap diabetes distress terutama dari aspek spiritualitas yang lebih spesifik masih sangat terbatas. Penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut.
Bagaimana Penelitian Dilakukan?
Penelitian ini melibatkan 198 lansia dengan diabetes tipe 2 yang berobat di Klinik Geriatri RSUP Soeradji Tirtonegoro, Klaten, Jawa Tengah.
Penelitian ini mengukur:
- Spiritualitas menggunakan kuesioner FACIT‑Sp‑Ex (23 item) yang mengukur empat domain: makna hidup (meaning), ketenangan batin (peace), keyakinan (faith), dan keterhubungan (relational spirituality).
- Diabetes distress menggunakan kuesliu Diabetes Distress Scale (DDS‑17) yang juga mengukur empat domain: beban emosional, distress terkait dokter, distress terkait aturan pengobatan, dan distress interpersonal.
Selain itu, faktor sosial ekonomi (pendapatan, pendidikan) dan klinis (lama menderita diabetes, komplikasi, IMT) juga dianalisis sebagai variabel kontrol.
Temuan Utama: Apa yang Membuat Lansia Lebih Tenang?
1. Spiritualitas Lansia Tinggi, Distress Rendah
Secara deskriptif, lansia dalam penelitian ini memiliki tingkat spiritualitas total yang tinggi (rata‑rata skor mentah 74,6 dari kemungkinan maksimal 92). Sebaliknya, tingkat diabetes distress mereka tergolong rendah (rata‑rata skor 1,14 dari skala 1–6). Ini menunjukkan bahwa secara umum, sampel lansia di klinik geriatri memiliki cadangan spiritual yang baik yang mungkin membantu mereka menghadapi penyakit kronis.
2. Domain “Peace” (Ketenangan Batin) Paling Kuat Berhubungan dengan Rendahnya Distress
Dari keempat domain spiritualitas, peace menunjukkan hubungan paling kuat (β = -0,276, p = 0,004). Artinya, semakin tinggi rasa damai, semakin rendah tekanan emosional akibat diabetes.
Apa itu “peace”? Dalam kuesioner FACIT‑Sp Ex, peace mencakup perasaan batin yang tenang, harmoni, dan bebas dari kekhawatiran meskipun sedang sakit. Penelitian ini menemukan bahwa peace lebih dominan dibandingkan domain lain karena ia secara langsung meredam reaksi afektif negatif (cemas, takut, putus asa) terhadap rutinitas diabetes. Peace juga terbukti berhubungan dengan beban emosional, distress terkait aturan pengobatan, dan distress interpersonal – tiga dari empat dimensi diabetes distress.
Temuan ini sejalan dengan penelitian global yang menunjukkan bahwa peace adalah “ujung afektif” dari spiritualitas – yaitu kondisi batin yang paling dekat dengan kesejahteraan emosional. Berbeda dengan makna hidup (meaning) yang lebih kognitif, peace bersifat langsung menenangkan sistem saraf dan mengurangi reaktivitas stres. Dalam konteks lansia dengan diabetes, kedamaian batin membantu mereka menerima fluktuasi gula darah atau kegagalan sementara dalam diet tanpa menghakimi diri sendiri.
3. Faith (Keyakinan) Juga Berperan, Terutama pada Beban Emosional
Domain faith (keyakinan kepada Tuhan) juga menunjukkan hubungan negatif yang signifikan (β = -0,199, p = 0,046). Faith terutama terkait dengan rendahnya beban emosional (Emotional Burden) – perasaan marah, takut, putus asa. Keyakinan spiritual memberi makna positif terhadap penderitaan (misalnya: “penyakit ini adalah ujian atau amanah dari Tuhan”) dan menumbuhkan harapan.
Dalam studi kualitatif di Indonesia, pasien diabetes sering menyebut spiritualitas sebagai “obat batin” yang membuat mereka tidak merasa sendiri. Keyakinan bahwa Tuhan selalu bersama dan akan menolong memberikan ketenangan tersendiri. Namun, penelitian ini juga mengingatkan bahwa keyakinan yang keliru (fatalisme pasif) justru dapat membuat pasien menyerah pada pengobatan medis. Oleh karena itu, pendekatan spiritual harus dilakukan dengan bijak dan berimbang.
4. Makna Hidup (Meaning) dan Keterhubungan (Relational) Tidak Signifikan dalam Regresi
Meskipun dalam analisis korelasi sederhana, makna hidup menunjukkan hubungan cukup kuat dengan distress, namun setelah dikontrol dengan peace dan faith dalam analisis regresi, makna hidup menjadi tidak signifikan. Artinya, efek makna hidup terhadap distress sebagian besar “diserap” oleh peace dan faith. Hal yang sama terjadi pada domain keterhubungan (relasional) – tidak terbukti signifikan.
Mengapa domain relational/keterhubungan (rasa terhubung dengan Tuhan, sesama, atau alam) tidak signifikan? Peneliti menduga bahwa dalam budaya Islam yang mayoritas (59,6% sampel Muslim), hubungan dengan Tuhan lebih sering diekspresikan melalui praktik terstruktur (shalat, puasa, zakat) daripada melalui “rasa terhubung” individualistis yang diukur oleh kuesioner FACIT‑Sp Ex. Ini menunjukkan catatan tentang pentingnya alat ukur yang sensitif budaya.
5. Pendapatan Rendah Meningkatkan Risiko Distress
Faktor sosial ekonomi yang paling signifikan adalah pendapatan bulanan. Semakin rendah pendapatan, semakin tinggi diabetes distress (β = -0,153, p = 0,033). Pendapatan rendah menjadi hambatan untuk membeli obat, alat cek gula darah, makanan sehat, dan mengakses edukasi diabetes.
Studi ini merekomendasikan agar tenaga kesehatan secara rutin menanyakan kesulitan finansial pasien, misalnya: “Apakah Anda pernah kesulitan membeli obat atau alat cek gula darah karena biaya?” Jika ya, pasien perlu mendapatkan perhatian lebih seperti kepastian jaminan keksehatan, pemberian obat generik dan penyederhanaan regimen pengobatan yang dapat mengurangi beban biaya.
6. Mengapa Lansia di Klinik Geriatri Hampir Tidak Mengalami Distress Terkait Dokter dan Tenaga Kesehatan (Physician-related Distress)?
Salah satu temuan menarik adalah hampir tidak adanya variasi pada domain physician‑related distress (rerata 1,00, SD 0,02). Semua peserta melaporkan tingkat distress terendah terhadap dokter dan tenaga kesehatan mereka.
Peneliti menghubungkan temuan ini dengan studi nasional Arifin dkk. (2019) yang menunjukkan bahwa pasien di pelayanan kesehatan tersier (rumah sakit besar) memiliki kemungkinan distress tinggi hingga 3,68 kali lebih rendah dibanding pasien di pelayanan primer. Pasien di rumah sakit besar merasa lebih percaya pada spesialis dan menganggap fasilitas penunjang serta obat lebih lengkap. Ditambah lagi, budaya Indonesia yang cenderung sangat menghormati otoritas medis juga berperan.
Meskipun ini kabar baik – karena menunjukkan bahwa pelayanan di RSUP sudah berkualitas – peneliti juga mengingatkan bahwa hasil ini tidak bisa digeneralisasi ke semua fasilitas kesehatan. Di puskesmas atau klinik swasta kecil, mungkin tingkat physician‑related distress berbeda. Penelitian lebih lanjut di berbagai tingkat fasilitas diperlukan.
Implikasi untuk Praktik dan Penelitian ke Depan
Bagi Tenaga Kesehatan:
- Lakukan skrining spiritual sederhana. Cukup satu pertanyaan: “Apakah Anda merasakan ketenangan atau kenyamanan dari keyakinan spiritual Anda dalam mengelola diabetes?” Jawaban dapat membantu mengidentifikasi lansia yang mungkin mendapat manfaat dari dukungan spiritual.
- Integrasikan aspek peace dan faith dalam konseling. Tidak perlu menjadi konselor agama, tetapi tunjukkan penghormatan pada nilai spiritual pasien. Misalnya, “Selain minum obat, apakah ada praktik spiritual yang membuat Bapak/Ibu merasa lebih tenang?”
- Perhatikan faktor ekonomi. Sediakan informasi tentang program bantuan biaya, resep obat generik, dan bantuan layanan kesehatan lainnya yang relevan.
Bagi Peneliti Selanjutnya:
- Studi longitudinal diperlukan untuk melihat hubungan sebab‑akibat antara spiritualitas dan diabetes distress.
- Uji coba intervensi yang secara khusus menargetkan peace (misalnya berbasis mindfulness atau acceptance and commitment therapy) perlu dilakukan.
- Pengembangan alat ukur spiritualitas yang lebih sensitif budaya untuk masyarakat Muslim Indonesia menjadi prioritas.
Penutup
Penelitian ini memberikan bukti bahwa ketenangan batin (peace) dan keyakinan spiritual (faith) adalah dua aspek spiritualitas yang paling kuat terkait dengan rendahnya tekanan psikologis pada lansia diabetes. Pendekatan perawatan yang peka terhadap aspek spiritualitas, sekaligus memperhatikan kondisi ekonomi pasien, dapat menjadi strategi sederhana namun berdampak besar untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dengan diabetes.
👨⚕️ Para Peneliti
- Bpk. M. Ischaq Nabil Asshiddiqi (Universitas Alma Ata & The University of Hong Kong) – peneliti utama
- Prof. Kantaporn Yodchai & Prof. Ploenpit Thaniwattananon (Prince of Songkla University, Thailand)
- Dr. Emma C. Lewis & Prof. Joel Gittelsohn (the Johns Hopkins University, USA)
- Prof. Hamam Hadi (Universitas Alma Ata)
Penelitian ini didanai oleh Higher Education Research Promotion and Thailand’s Education Hub for Southern Region of ASEAN Countries Project Office of the Higher Education Commission (Grant No. TEH‑AC 036/2017).
📄 Artikel Lengkap
Naskah lengkap akan segera terbit di Discover Public Health (Springer Nature).
Spirituality and its domain-specific associations with diabetes distress in Indonesian older adults with type 2 diabetes mellitus.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi penulis korespondensi:
M. Ischaq Nabil Asshiddiqi – ischaq.nabil@almaata.ac.id
Referensi:
Asshiddiqi, M. I. N., Yodchai, K., Thaniwattananon, P., Lewis, E. C., Gittelsohn, J., & Hadi, H. (2026). Spirituality and its domain‑specific associations with diabetes distress in older Indonesian adults with type 2 diabetes. Discover Public Health. https://doi.org/10.1186/s12982-026-02291-5
by Admin Keperawatan | Jun 4, 2026 | Artikel
Oleh: Despita Pramesti, S.Kep.Ns.,M.Kes
Masa remaja sering disebut sebagai fase pencarian jati diri. Pada periode ini, remaja mulai mengurangi ketergantungan pada orang tua dan semakin banyak menghabiskan waktu bersama teman sebaya. Tidak mengherankan jika pendapat, penerimaan, dan hubungan dengan teman menjadi salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan remaja.
Namun, di balik pentingnya peran teman sebaya, terdapat dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, teman dapat menjadi sumber dukungan yang membantu remaja menghadapi berbagai tantangan hidup. Di sisi lain, tekanan dari kelompok teman (peer pressure) dapat menjadi sumber stres yang berkontribusi terhadap munculnya masalah kesehatan mental, termasuk depresi.
Penelitian yang dilakukan oleh Alfi Rahmadani, Despita Pramesti, bersama tim peneliti dari Universitas Alma Ata Yogyakarta menemukan bahwa kualitas interaksi teman sebaya memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian depresi pada remaja madya. Penelitian yang melibatkan 311 siswa SMK Negeri 1 Sedayu tersebut menunjukkan bahwa semakin baik interaksi sosial yang dimiliki remaja, semakin rendah risiko mereka mengalami depresi.
Remaja dan Kebutuhan untuk Diterima
Bagi sebagian besar remaja, diterima oleh kelompok teman bukan hanya kebutuhan sosial biasa. Penerimaan dari teman sering kali menjadi bagian dari pembentukan identitas diri. Ketika seorang remaja merasa dihargai, didengarkan, dan dianggap sebagai bagian dari kelompok, ia akan memiliki rasa percaya diri yang lebih baik serta kemampuan menghadapi tekanan hidup yang lebih kuat.
Sebaliknya, ketika remaja mengalami penolakan, dikucilkan, atau merasa tidak memiliki teman yang dapat dipercaya, mereka lebih rentan mengalami kesepian, stres emosional, dan gangguan suasana hati. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gejala depresi apabila berlangsung dalam waktu yang lama. Penelitian Despita Pramesti menegaskan bahwa kurangnya dukungan sosial dan adanya penolakan dari teman sebaya dapat menjadi faktor yang memicu munculnya depresi pada remaja.
Teman Sebaya Sebagai Faktor Pelindung
Hubungan pertemanan yang sehat memiliki peran penting sebagai “benteng psikologis” bagi remaja. Teman yang suportif dapat membantu remaja mengatasi tekanan akademik, konflik keluarga, maupun masalah pribadi lainnya.
Remaja yang memiliki teman dekat cenderung lebih mudah berbagi cerita ketika menghadapi masalah. Mereka tidak merasa sendirian dalam menghadapi kesulitan. Dukungan sederhana seperti mendengarkan keluh kesah, memberikan semangat, atau menemani saat menghadapi masa sulit ternyata memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental.
Berbagai penelitian internasional juga menunjukkan bahwa kualitas hubungan teman sebaya berhubungan erat dengan rendahnya gejala depresi pada remaja. Hubungan yang positif dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis serta membantu perkembangan sosial dan emosional yang lebih sehat.
Ketika Peer Pressure Menjadi Ancaman
Meski demikian, tidak semua pengaruh teman sebaya bersifat positif. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak remaja menghadapi tekanan untuk mengikuti norma kelompok. Mereka merasa harus berpakaian seperti teman-temannya, mengikuti tren tertentu, memiliki jumlah teman yang banyak, atau menunjukkan pencapaian tertentu agar diterima oleh lingkungan sosialnya. Fenomena ini dikenal sebagai peer pressure atau tekanan teman sebaya.
Peer pressure sering kali tidak terlihat secara langsung. Tekanan tersebut dapat muncul dalam bentuk sindiran, ejekan, perbandingan sosial, atau ketakutan untuk dianggap berbeda. Akibatnya, remaja dapat merasa harus terus menyesuaikan diri meskipun hal tersebut bertentangan dengan keinginan atau kenyamanan mereka.
Penelitian menunjukkan bahwa tekanan teman sebaya yang tinggi berhubungan dengan menurunnya kepercayaan diri remaja. Semakin besar tekanan untuk mengikuti kelompok, semakin rendah kemampuan remaja mempertahankan keyakinan dan identitas dirinya.
Media Sosial Memperkuat Tekanan Sosial
Di era digital, peer pressure tidak lagi hanya terjadi di sekolah atau lingkungan bermain. Media sosial memperluas ruang interaksi sekaligus memperbesar peluang terjadinya perbandingan sosial. Remaja dapat melihat teman-temannya mengunggah prestasi akademik, kegiatan sosial, liburan, atau kehidupan yang tampak sempurna. Tanpa disadari, mereka mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Perbandingan yang terus-menerus dapat memunculkan perasaan tidak cukup baik, tidak berhasil, atau tertinggal dari teman-temannya. Ketika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, risiko munculnya kecemasan dan depresi menjadi lebih tinggi.
Diskusi masyarakat Indonesia di berbagai platform daring juga menunjukkan bahwa banyak remaja dan mahasiswa merasakan tekanan sosial untuk memiliki banyak teman, aktif dalam pergaulan, serta selalu terlihat berhasil. Beberapa bahkan mengaitkan kesepian dan kurangnya relasi sosial dengan perasaan gagal dalam hidup.
Membangun Lingkungan Pertemanan yang Sehat
Temuan penelitian Alfi Ramadhani, Despita Pramesti dan tim peneliti memberikan pesan penting bahwa kualitas hubungan sosial lebih penting dibandingkan kuantitas pertemanan. Remaja tidak harus memiliki banyak teman untuk merasa bahagia. Yang lebih penting adalah memiliki hubungan yang sehat, saling mendukung, dan memberikan rasa aman secara emosional.
Sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental remaja. Program peer support, edukasi kesehatan mental, pencegahan perundungan, serta peningkatan keterampilan komunikasi dapat membantu remaja membangun hubungan sosial yang lebih positif.
Referensi utama:
• Rahmadani, A., Pramesti, D., Kamala, R. F., & Rofiyati, W. (2024). Hubungan Interaksi Teman Sebaya dengan Kejadian Depresi pada Remaja Madya. (jktp.jurnalpoltekkesjayapura.com)
by Admin Keperawatan | Jun 4, 2026 | Artikel
Penulis: Penulis: Allama Zaki Almubarok, S.Kep., Ns., M.Kep
Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Universitas Alma Ata
Minuman manis kini bukan lagi sekadar pelengkap makan. Dalam kehidupan sehari-hari, minuman seperti kopi susu gula aren, teh kekinian, boba, minuman rasa buah, minuman bersoda, hingga minuman kemasan sering menjadi bagian dari rutinitas. Bagi sebagian orang, minuman manis dianggap sebagai “teman belajar”, “penambah semangat kerja”, atau “hadiah kecil” setelah hari yang melelahkan. Masalahnya, kebiasaan ini sering terasa biasa saja karena efeknya tidak langsung terlihat. Seseorang mungkin merasa tubuhnya masih sehat, masih muda, masih aktif, dan belum memiliki keluhan apa pun. Padahal, konsumsi gula berlebih yang dilakukan terus-menerus dapat menjadi pintu masuk berbagai masalah kesehatan, terutama obesitas, resistensi insulin, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, hingga gangguan ginjal.
Isu ini menjadi semakin penting karena diabetes tidak lagi hanya identik dengan usia lanjut. Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan bahwa diabetes tipe 2 yang dahulu lebih banyak ditemukan pada orang dewasa, kini juga semakin sering terjadi pada usia yang lebih muda. Artinya, gaya hidup sejak remaja dan dewasa muda memiliki peran besar dalam menentukan risiko kesehatan di masa depan.
Mengapa Minuman Manis Perlu Diwaspadai?
Minuman manis sering dianggap lebih “ringan” dibanding makanan berat. Banyak orang merasa, “Ini kan cuma minuman.” Padahal, justru karena berbentuk minuman, gula dapat masuk ke tubuh dengan cepat tanpa memberikan rasa kenyang yang cukup. Saat seseorang mengonsumsi minuman berpemanis, kadar gula darah dapat meningkat lebih cepat. Jika kebiasaan ini terjadi berulang, tubuh harus terus bekerja keras menghasilkan insulin untuk mengatur kadar gula darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu resistensi insulin, yaitu keadaan ketika sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin. Inilah salah satu jalur utama menuju diabetes melitus tipe 2.
Yang perlu dipahami, risiko tidak hanya berasal dari gula pasir yang ditambahkan sendiri. Gula juga dapat tersembunyi dalam berbagai bentuk, seperti sirup, krimer manis, susu kental manis, topping, boba, saus karamel, minuman kemasan, hingga minuman rasa buah yang tampak “segar” tetapi mengandung gula tinggi.
Tren Minuman Kekinian dan Tantangan Kesehatan Masyarakat
Minuman manis kekinian memiliki daya tarik yang kuat, terutama bagi remaja dan dewasa muda. Rasanya enak, tampilannya menarik, mudah dibeli, sering muncul di media sosial, dan kadang menjadi bagian dari gaya hidup. Tidak jarang, seseorang membeli minuman manis bukan karena haus, tetapi karena kebiasaan, tren, atau dorongan sosial.
Fenomena ini membuat edukasi kesehatan menjadi semakin penting. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan juga mulai memberi perhatian serius terhadap konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih. Salah satu kebijakan terbaru adalah penerapan label gizi berupa Nutri-Level pada pangan siap saji, terutama minuman berpemanis, agar masyarakat lebih mudah memahami kandungan gizi dan membuat pilihan yang lebih sehat. Kebijakan seperti ini menunjukkan bahwa masalah konsumsi gula bukan lagi persoalan individu semata, tetapi sudah menjadi isu kesehatan masyarakat. Pilihan minuman yang tampak sederhana dapat berdampak luas jika dilakukan oleh banyak orang dalam jangka panjang.
Diabetes di Indonesia: Angka yang Perlu Menjadi Perhatian
Berdasarkan data International Diabetes Federation, Indonesia termasuk negara dengan jumlah penderita diabetes dewasa yang tinggi di dunia. Jumlah orang dewasa dengan diabetes di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 20 juta orang pada tahun 2024 dan diproyeksikan terus meningkat pada tahun 2050.
Yang lebih mengkhawatirkan, banyak orang dengan diabetes tidak menyadari bahwa dirinya sudah mengalami gangguan gula darah. Ini terjadi karena diabetes sering berkembang perlahan. Pada tahap awal, keluhan bisa sangat ringan atau bahkan tidak terasa. Seseorang baru menyadari ketika muncul gejala seperti sering haus, sering buang air kecil, cepat lelah, berat badan turun tanpa sebab jelas, luka sulit sembuh, atau hasil pemeriksaan gula darah menunjukkan angka yang tinggi.Karena itu, pencegahan dan deteksi dini jauh lebih penting daripada menunggu munculnya komplikasi.
Bukan Berarti Tidak Boleh Manis Sama Sekali
Edukasi kesehatan tidak seharusnya membuat masyarakat takut berlebihan. Tujuannya bukan melarang semua orang menikmati makanan atau minuman manis. Yang perlu dibangun adalah kesadaran untuk mengatur frekuensi, porsi, dan pilihan. Masalah utama bukan pada satu gelas minuman manis sesekali, tetapi pada kebiasaan konsumsi harian yang tidak terkontrol. Misalnya, minum kopi susu manis setiap pagi, teh manis saat makan siang, minuman kemasan saat sore, lalu minuman manis lagi saat malam. Jika pola ini berlangsung lama, tubuh akan menerima beban gula berlebih secara terus-menerus. Kementerian Kesehatan menganjurkan batas konsumsi gula harian sekitar 50 gram atau setara 4 sendok makan per orang per hari. Jumlah ini termasuk gula dari semua sumber makanan dan minuman, bukan hanya gula yang ditambahkan langsung ke dalam teh atau kopi.
Tanda Tubuh Mulai Memberi Sinyal
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
• sering merasa haus;
• sering buang air kecil, terutama malam hari;
• cepat lelah meskipun aktivitas tidak berat;
• mudah mengantuk setelah makan atau minum manis;
• berat badan naik, terutama di area perut;
• luka lebih lama sembuh;
• penglihatan kabur;
• sering lapar meskipun sudah makan;
• riwayat keluarga dengan diabetes;
• tekanan darah atau kolesterol mulai meningkat.
Tanda-tanda ini tidak selalu berarti seseorang pasti diabetes, tetapi menjadi alasan kuat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan sederhana seperti gula darah puasa, gula darah sewaktu, HbA1c, tekanan darah, berat badan, indeks massa tubuh, dan lingkar perut dapat membantu mengetahui kondisi tubuh lebih awal.
Cara Sederhana Mengurangi Gula Tanpa Merasa Tersiksa
Mengubah kebiasaan tidak harus langsung ekstrem. Justru perubahan kecil yang konsisten lebih mudah dipertahankan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Mulai Kurangi Tingkat Kemanisan
Jika terbiasa memesan minuman dengan gula normal, mulai turunkan menjadi less sugar. Setelah terbiasa, kurangi lagi secara bertahap. Lidah manusia bisa beradaptasi. Semakin sering mengurangi gula, semakin mudah menikmati rasa yang tidak terlalu manis.
- Batasi Frekuensi, Bukan Hanya Porsi
Minuman manis sebaiknya tidak menjadi konsumsi harian. Jadikan sebagai konsumsi sesekali, bukan rutinitas. Misalnya, cukup satu sampai dua kali dalam seminggu, bukan setiap hari.
- Pilih Air Putih sebagai Minuman Utama
Air putih tetap menjadi pilihan terbaik untuk kebutuhan cairan harian. Jika ingin variasi, bisa memilih infused water tanpa gula, teh tawar, atau kopi tanpa gula berlebih.
- Perhatikan Label Gizi
Saat membeli minuman kemasan, biasakan membaca informasi nilai gizi. Perhatikan kandungan gula per sajian. Kadang satu botol minuman memiliki lebih dari satu takaran saji, sehingga jumlah gula yang masuk bisa lebih tinggi dari yang terlihat sekilas.
- Jangan Minum Kalori Tanpa Sadar
Banyak orang merasa sudah mengurangi makan, tetapi lupa bahwa minuman manis juga menyumbang kalori. Kopi susu, boba, minuman cokelat, atau teh kemasan dapat menyumbang energi cukup besar tanpa membuat kenyang lama.
- Imbangi dengan Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan gula sebagai energi dan meningkatkan sensitivitas insulin. Tidak harus langsung olahraga berat. Jalan cepat, naik tangga, bersepeda, senam ringan, atau aktivitas fisik 30 menit sehari dapat menjadi langkah awal yang baik.
- Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Berkala
Jangan menunggu sakit. Pemeriksaan gula darah dan tekanan darah perlu dilakukan secara berkala, terutama jika memiliki riwayat keluarga diabetes, berat badan berlebih, lingkar perut meningkat, atau kebiasaan konsumsi makanan dan minuman tinggi gula.
Peran Keluarga, Kampus, dan Tenaga Kesehatan
Pencegahan diabetes tidak cukup hanya dengan memberi nasihat “kurangi gula”. Diperlukan lingkungan yang mendukung. Keluarga dapat mulai dengan menyediakan minuman sehat di rumah. Sekolah dan kampus dapat memperkuat edukasi gizi, aktivitas fisik, serta budaya hidup sehat. Sementara tenaga kesehatan, termasuk perawat, memiliki peran penting dalam edukasi, skrining, konseling, dan pendampingan perubahan perilaku.
Bagi institusi pendidikan kesehatan, isu ini menjadi sangat relevan. Mahasiswa kesehatan bukan hanya perlu memahami teori penyakit tidak menular, tetapi juga mampu menjadi agen edukasi bagi masyarakat. Literasi kesehatan tentang gula, minuman manis, diabetes, dan pencegahan penyakit kronis perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak menghakimi, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Penutup
Minuman manis kekinian memang menarik, mudah ditemukan, dan sering terasa menyenangkan. Namun, jika dikonsumsi berlebihan dan menjadi kebiasaan harian, dampaknya dapat serius bagi kesehatan. Diabetes, penyakit jantung, obesitas, dan gangguan ginjal bukan muncul tiba-tiba. Banyak di antaranya berawal dari kebiasaan kecil yang terus diulang selama bertahun-tahun. Menjaga kesehatan bukan berarti tidak boleh menikmati rasa manis sama sekali. Yang terpenting adalah bijak memilih, sadar porsi, mengurangi frekuensi, dan rutin memeriksa kesehatan. Usia muda bukan jaminan bebas penyakit. Justru usia muda adalah waktu terbaik untuk membangun kebiasaan sehat sebelum tubuh memberi peringatan yang lebih berat. Mulailah dari langkah sederhana: kurangi gula hari ini, pilih air putih lebih sering, bergerak lebih aktif, dan periksa kesehatan secara berkala. Karena kesehatan masa depan dibentuk dari keputusan kecil yang kita ambil setiap hari.
Daftar Pustaka
World Health Organization. Diabetes Fact Sheet.
International Diabetes Federation. IDF Diabetes Atlas 2025.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kemenkes Terbitkan Aturan untuk Cegah Konsumsi Gula Berlebih.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Cegah Meningkatnya Diabetes, Jangan Berlebihan Konsumsi Gula, Garam, Lemak.
Lara-Castor, L. et al. Burdens of Type 2 Diabetes and Cardiovascular Disease Attributable to Sugar-Sweetened Beverages in 184 Countries. Nature Medicine.
Survei Kesehatan Indonesia 2023. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
by Admin Keperawatan | May 28, 2026 | Artikel
Oleh: Ika Mustika Dewi, S.Kep., Ns., M.Kep
Pernah gak sih kamu merasa super stres, cemas, dan gak tenang waktu mau menghadapi ujian sekolah? Rasanya tuh kayak ada kupu-kupu yang terbang di dalam perut. Nah, yang bikin heran, giliran jadwal datang bulan tiba, eh… malah telat atau justru datangnya kecepatan.
Ternyata, siklus menstruasi kamu yang tiba-tiba berantakan itu bukan tanpa alasan, lho! Ada hubungan erat antara rasa cemas yang kamu rasakan dengan siklus bulananmu. Yuk, kita bahas bareng-bareng biar gak penasaran!
Apa Hubungannya Cemas Sama Menstruasi?
Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan pada remaja putri di salah satu SMA di Yogyakarta, banyak banget remaja yang mengalami kecemasan tingkat sedang saat mempersiapkan ujian (sekitar 46,4%). Dan tebak apa? Banyak dari mereka yang akhirnya mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur.
Bagaimana itu bisa terjadi?
- Sinyal Bahaya di Otak: Saat kita cemas atau stres karena mikirin ujian, otak kita bakal mengirimkan “sinyal bahaya”.
- Hormon Jadi Egois: Karena otak fokus mengurus rasa cemas, produksi hormon reproduksi kita (seperti estrogen dan progesteron) jadi ikut terganggu.
- Siklus Jadi Berantakan: Akibat hormon yang tidak seimbang ini, dinding rahim yang harusnya luruh tepat waktu jadi ikutan bingung. Akhirnya, jadwal menstruasimu bisa maju, mundur, atau bahkan gak datang sama sekali alias bolos!
Gimana Cara Menguranginya?
Mengalami cemas menjelang ujian itu sebenarnya normal banget kok. Kecemasan yang wajar bahkan bisa bikin kita jadi lebih termotivasi untuk belajar. Tapi, kalau kecemasannya berlebihan, efeknya bisa gak baik buat kesehatan tubuh dan siklus mensturasimu.
Nah, biar siklus menstruasi kamu tetap aman dan teratur, yuk lakukan langkah simpel ini:
- Atur Waktu Belajar (Cicil Materi): Jangan pakai sistem kebut semalam (SKS)! Belajar mencicil jauh-jauh hari bikin kamu lebih siap dan mengurangi rasa panik.
- Punya Coping yang Positif: Kalau mulai merasa cemas, coba ambil napas dalam-dalam, dengerin musik favorit, atau cerita ke teman/keluarga tentang apa yang kamu khawatirkan.
- Jaga Tubuh Tetap Happy: Jangan lupa tetap makan makanan bergizi, minum air putih yang cukup, dan tidur yang teratur ya!
Ingat ya, ujian itu penting untuk kenaikan kelas, tapi kesehatan tubuh dan pikiranmu jauh lebih berharga! Stay healthy and positive!