Jebakan Merasa Sehat: Mengapa Obat Hipertensi Tidak Boleh Dihentikan Saat Tubuh Terasa Bugar?

Jebakan Merasa Sehat: Mengapa Obat Hipertensi Tidak Boleh Dihentikan Saat Tubuh Terasa Bugar?

Oleh: Anindita Farda Khusnia, S.Kep., Ns., M.N.Sc., M.Sc

Hipertensi tetap menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pelayanan kesehatan primer dan keperawatan komunitas di seluruh dunia. Dikenal luas sebagai The Silent Killer, penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala klinis yang khas sampai akhirnya terjadi kerusakan organ target. Namun, tantangan terbesar dalam penatalaksanaan jangka panjang penyakit ini justru muncul ketika pasien sudah mendapatkan terapi obat.

Sebuah fenomena klasik yang sangat sering dijumpai di masyarakat adalah tindakan pasien yang memutuskan secara sepihak untuk menghentikan konsumsi obat antihipertensi begitu mereka merasa tubuhnya sudah sehat, bugar, dan hasil pengukuran tekanan darahnya menunjukkan angka yang normal. Perilaku ini dikenal dalam dunia medis sebagai intentional non-adherence (ketidakpatuhan yang disengaja). Sikap menghentikan obat tanpa instruksi medis (early discontinuation) ini merupakan bentuk kesalahpahaman yang fatal dan dapat memicu konsekuensi klinis yang mengancam nyawa.

Mengapa pasien sering berhenti minum obat saat merasa sudah sehat?

Ada beberapa faktor utama yang melandasi mengapa pasien hipertensi di komunitas sering melakukan putus obat mandiri:

  1. Miskonsepsi “Sembuh” vs “Terkontrol”

Banyak penderita hipertensi yang masih menganggap penyakit kronis ini sama dengan penyakit akut seperti demam atau flu, di mana obat hanya diminum saat gejala muncul dan dihentikan total ketika tubuh sudah terasa nyaman.

  • Tidak adanya Gejala yang Menipu

Ketika obat antihipertensi bekerja dengan baik, tekanan darah pasien akan turun ke rentang normal, dan gejala seperti pusing atau kaku di tengkuk akan hilang. Kondisi nyaman dan bugar inilah yang kerap mengecoh pasien; mereka mengira telah “sembuh total”, padahal tubuh mereka bugar justru karena obat tersebut sedang bekerja aktif di dalam darah.

  • Kekhawatiran yang Keliru Terhadap Fungsi Ginjal

Mitos yang beredar kuat di masyarakat menyatakan bahwa mengonsumsi obat kimia setiap hari dalam jangka panjang akan merusak ginjal. Ketakutan yang tidak berdasar ini membuat banyak pasien sengaja libur minum obat ketika merasa tubuhnya sedang baik-baik saja.

Fakta Medis: Mekanisme Kontrol Jangka Panjang

Berdasarkan beberapa referensi, hipertensi adalah penyakit tidak menular (PTM) bersifat kronis yang tidak bisa disembuhkan secara total, melainkan dikendalikan (managed). Sifat dari obat antihipertensi, baik golongan ACE Inhibitor, ARB, Beta Blocker, CCB, maupun Diuretik yang bekerja menjaga regulasi hemodinamik tubuh agar tekanan darah konstan berada di bawah angka 140/90 mmHg.

Ketika seorang pasien memutuskan berhenti minum obat secara mendadak, tubuh akan mengalami efek pantulan yang dikenal sebagai rebound hypertension. Tanpa adanya efek farmakologis dari obat yang menstabilkan diameter pembuluh darah dan volume cairan tubuh, tekanan darah dapat melonjak kembali ke tingkat yang jauh lebih tinggi dan lebih agresif daripada sebelum pengobatan dimulai.

Ancaman Fatal Krisis Hipertensi dan Kerusakan Organ

Dampak dari penghentian obat antihipertensi secara sepihak tidaklah sederhana. Data klinis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) menunjukkan bahwa mayoritas kasus krisis hipertensi, baik hypertension urgency maupun hypertension emergency (krisis hipertensi yang disertai kerusakan organ akut) dipicu oleh riwayat ketidakpatuhan atau putus obat.

Ketika dinding pembuluh darah kembali dihantam oleh tekanan tinggi yang melonjak mendadak tanpa perlindungan obat, beberapa risiko fatal yang siap mengintai pasien antara lain:

  1. Stroke Hemoragik: Pembuluh darah di otak tidak kuat menahan lonjakan tekanan mendadak sehingga pecah, memicu kelumpuhan hingga kematian.
  2. Serangan Jantung Kronis (Infark Miokard): Jantung dipaksa memompa darah melawan tekanan yang sangat tinggi secara tiba-tiba, meningkatkan risiko gagal jantung akut.
  3. Kerusakan Ginjal yang Dipercepat (Hypertensive Nephropathy): Ini adalah ironi terbesar. Pasien berhenti minum obat karena takut ginjalnya rusak, padahal fluktuasi tekanan darah yang tidak terkontrol akibat putus obat justru merupakan penyebab utama sklerosis pembuluh darah ginjal yang berujung pada Gagal Ginjal Kronis (GGK). Obat hipertensi justru berfungsi melindungi ginjal dari kerusakan akibat tekanan darah yang terlalu tinggi.

Untuk memutus rantai yang salah kaprah ini, pendekatan edukasi di tingkat Puskesmas maupun komunitas harus diubah secara fundamental. Petugas kesehatan dan perawat komunitas perlu menekankan beberapa poin krusial kepada pasien dan keluarganya sejak awal diagnosis ditegakkan:

  1. Komitmen Seumur Hidup: Edukasi pasien bahwa kepatuhan terapi (medication adherence) pada hipertensi adalah sebuah komitmen jangka panjang.
  2. Modifikasi Dosis Harus Melalui Dokter: Sampaikan bahwa pengurangan dosis atau penggantian jenis obat hanya boleh dilakukan melalui evaluasi klinis berkala oleh dokter berdasarkan pemeriksaan objektif, bukan berdasarkan perasaan bugar yang dirasakan secara subjektif oleh pasien.
  3. Pemberdayaan Keluarga: Melibatkan anggota keluarga sebagai Pengawas Minum Obat (PMO) terbukti sangat efektif dalam menurunkan angka intentional non-adherence di tingkat rumah tangga.

Perasaan sehat dan bugar pada penderita hipertensi yang sedang dalam masa terapi obat bukanlah tanda bahwa mereka boleh berhenti berobat. Rasa bugar tersebut adalah indikator keberhasilan obat dalam melindungi organ-organ vital mereka. Menjaga tekanan darah tetap stabil dengan rutin mengonsumsi obat jauh lebih mudah, murah, dan aman daripada harus mengobati komplikasi organ tubuh yang sudah terlanjur rusak akibat kelalaian sesaat. Sehat karena obat, bukan berarti sembuh total. Jangan stop obatmu tanpa kata dokter. Yuk, rutin minum obat demi jantung dan ginjal yang sehat!

Referensi:

Alfian, R., & Radam, R. (2022). Hubungan tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan minum obat pasien hipertensi di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas, 6(2), 85-93.

Pradana, A., & Saputri, D. M. (2023). Faktor risiko kejadian krisis hipertensi pada pasien yang mengalami putus obat di instalasi gawat darurat. Jurnal Ilmiah Keperawatan Indonesia, 14(1), 45-54.

Ramli, R., & Siregar, F. (2025). Edukasi keperawatan komunitas berbasis keluarga untuk menurunkan angka intentional non-adherence pada penderita hipertensi. Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan, 9(1), 12-20.

Sari, N. M., & Wijaya, I. P. (2024). Persepsi keliru tentang fungsi ginjal dan hubungannya dengan kepatuhan terapi jangka panjang pasien hipertensi kronis. Jurnal Klinik dan Farmakoterapi Indonesia, 13(3), 112-121.

Wulan, S., & Utami, T. (2022). Efek rebound hypertension akibat penghentian obat antihipertensi secara mendadak: Sebuah tinjauan literatur. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia, 18(2), 201-210.

Dibalik Mimpi Buruk: Apa yang Terjadi pada Saraf Saat Kita Tidur?

Dibalik Mimpi Buruk: Apa yang Terjadi pada Saraf Saat Kita Tidur?

Oleh : Tifany Hayuning Ratri

Mimpi buruk sering kali membuat kita terbangun dengan jantung berdebar kencang dan keringat dingin. Fenomena ini bukan sekadar bunga tidur biasa, melainkan hasil dari aktivitas rumit yang terjadi di dalam otak dan sistem saraf kita.

Berikut adalah penjelasan ilmiah tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik layar saat Anda mengalami mimpi buruk.

  1. Panggung Utama: Fase Tidur REM

Mimpi buruk paling sering terjadi selama fase tidur REM (Rapid Eye Movement). Fase ini biasanya terjadi pada sepertiga akhir malam. Gelombang otak pada fase REM sangat aktif, mirip seperti saat kita bangun. Mata bergerak cepat di balik kelopak mata yang tertutup. Otot-otot besar tubuh mengalami kelumpuhan sementara (atonia) agar kita tidak mempraktikkan gerakan dalam mimpi.

2. Amigdala: Tombol Alarm Otak

Saat bermimpi buruk, bagian otak yang bernama amigdala menjadi sangat aktif. Amigdala adalah pusat pemrosesan emosi, terutama rasa takut dan kecemasan. Bagian ini bekerja tanpa filter ketat dari otak depan (korteks prefrontal) yang biasa logika. Akibatnya, otak memproses emosi takut secara mentah dan intens, menciptakan skenario mimpi yang menyeramkan.

3. Batang Otak dan Lonjakan Adrenalin

Meskipun tubuh Anda lumpuh demi keselamatan, sistem saraf otonom Anda tetap bereaksi terhadap ancaman di dalam mimpi. Batang otak mengirimkan sinyal darurat ke tubuh. Kelenjar adrenal melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Efek fisiknya nyata: detak jantung meningkat, tekanan darah naik, dan napas menjadi cepat. Lonjakan hebat inilah yang sering kali memaksa otak Anda terjaga tiba-tiba dari tidur.

4. Mengapa Otak Melakukan Ini?

Para ilmuwan saraf memiliki beberapa teori mengapa sistem saraf kita menciptakan mimpi buruk: Simulasi Ancaman: Otak sedang “berlatih” menghadapi bahaya di dunia nyata dalam lingkungan yang aman. Saringan Emosi: Otak mencoba memproses dan Mengurangi intensitas emosi negatif atau trauma yang Anda alami di siang hari.

Mengalami mimpi buruk sesekali adalah hal yang sepenuhnya normal bagi sistem saraf yang sehat. Namun, jika mimpi buruk terjadi sangat sering hingga mengganggu kualitas istirahat Anda, itu bisa menjadi sinyal bahwa otak Anda sedang mengalami stres berlebih atau kelelahan kronis.

Bullying: Bercanda yang Bisa Menjadi Luka

Bullying: Bercanda yang Bisa Menjadi Luka

Oleh: Mulyanti, S.Kep., Ns., MPH

Pernah mendengar teman diejek karena penampilannya? Atau melihat seseorang dikucilkan dari kelompok pertemanan? Banyak orang menganggap hal seperti itu hanya candaan biasa. Namun, jika tindakan tersebut membuat seseorang merasa sedih, takut, malu, atau tertekan, itu bisa termasuk bullying atau perundungan.

Bullying masih menjadi masalah yang sering terjadi di lingkungan sekolah maupun media sosial. Sayangnya, tidak semua orang menyadari bahwa tindakan yang dianggap sepele dapat meninggalkan luka yang mendalam bagi korbannya.

Apa Itu Bullying?

Bullying adalah tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk menyakiti, merendahkan, mengintimidasi, atau mengganggu orang lain. Bullying biasanya terjadi berulang kali dan membuat korban merasa tidak berdaya.

Perundungan tidak selalu berupa kekerasan fisik. Kata-kata, sikap, bahkan unggahan di media sosial juga bisa menjadi bentuk bullying.

Jenis-Jenis Bullying

1. Bullying Verbal:  Bullying verbal dilakukan melalui kata-kata yang menyakitkan, seperti:

  • Mengejek penampilan fisik
  • Memberi julukan yang merendahkan
  • Menghina kemampuan seseorang
  • Mengancam atau mempermalukan teman

2. Bullying Fisik: Bullying fisik melibatkan tindakan yang menyakiti tubuh atau barang milik orang lain, seperti:

  • Memukul
  • Menendang
  • Mendorong
  • Merusak barang milik teman

3. Bullying Sosial: Bullying sosial bertujuan mengucilkan atau merusak hubungan seseorang dengan lingkungan sekitarnya, misalnya:

  • Mengabaikan teman secara sengaja
  • Menyebarkan gosip
  • Mengajak teman lain untuk menjauhi seseorang

4. Cyberbullying: Cyberbullying terjadi melalui internet atau media sosial, seperti:

  • Memberikan komentar kasar
  • Menyebarkan foto tanpa izin
  • Mengirim pesan yang menghina
  • Membuat konten untuk mempermalukan seseorang

Dampak Bullying bagi Remaja

Bullying bukan sekadar masalah perasaan sesaat. Korban bullying dapat mengalami berbagai dampak negatif, antara lain:

  1. Kehilangan Kepercayaan Diri: Korban sering mulai meragukan kemampuan dan nilai dirinya karena terus menerima perlakuan negatif.
  2. Gangguan Emosi: Bullying dapat menyebabkan stres, kecemasan, kesedihan, bahkan depresi.
  3. Prestasi Akademik Menurun: Korban mungkin kehilangan motivasi belajar, sulit berkonsentrasi, atau enggan datang ke sekolah.
  4. Menarik Diri dari Lingkungan Sosial: Perasaan takut dan tidak aman dapat membuat korban memilih menjauh dari teman-temannya.

Mengapa Bullying Harus Dihentikan?

Setiap orang berhak merasa aman dan dihargai. Bullying tidak membuat seseorang terlihat lebih kuat atau lebih hebat. Sebaliknya, bullying dapat merusak kesehatan mental dan hubungan sosial orang lain.

Lingkungan sekolah yang sehat adalah lingkungan yang mendukung, menghargai perbedaan, dan memberikan kesempatan bagi setiap siswa untuk berkembang.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Bullying?

Jika kamu mengalami bullying, jangan memendamnya sendiri.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  • Ceritakan kepada orang tua, guru, atau konselor sekolah.
  • Simpan bukti jika bullying terjadi secara online.
  • Jangan membalas dengan kekerasan.
  • Cari dukungan dari teman yang dapat dipercaya.
  • Ingat bahwa menjadi korban bullying bukanlah kesalahanmu.

Jika Menjadi Saksi Bullying

Banyak kasus bullying terus terjadi karena orang-orang di sekitarnya memilih diam.

Jika melihat bullying:

  • Jangan ikut mendukung atau menertawakan korban.
  • Berikan dukungan kepada korban.
  • Laporkan kepada guru atau pihak sekolah.
  • Tunjukkan bahwa perilaku bullying tidak dapat diterima.

Bersama Ciptakan Sekolah yang Aman

Mencegah bullying bukan hanya tugas guru atau orang tua. Setiap siswa memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan saling menghargai.

Mulailah dari hal sederhana: menghormati perbedaan, menjaga ucapan, dan berani membantu teman yang membutuhkan. Sekolah yang bebas bullying akan menjadi tempat yang lebih menyenangkan untuk belajar, berteman, dan meraih masa depan.

Ingat!

Bercanda boleh, tetapi jangan sampai membuat orang lain terluka. Apa yang menurut kita lucu, bisa jadi menjadi luka bagi orang lain.

“Bukan Sekadar Pikun”: Delirium, Kegawatan Tersembunyi yang Sering Terjadi pada Lansia

“Bukan Sekadar Pikun”: Delirium, Kegawatan Tersembunyi yang Sering Terjadi pada Lansia

Penulis : Rafi Achmad Rukhama, S.Kep., Ns., M.N.Sc

Ketika seorang lansia tiba-tiba menjadi bingung, sering melamun, berbicara tidak nyambung, atau tampak seperti “pikun mendadak”, banyak keluarga menganggap kondisi tersebut sebagai bagian normal dari proses penuaan. Padahal, perubahan mental yang terjadi secara tiba-tiba pada lansia dapat menjadi tanda kegawatan medis yang dikenal sebagai delirium. Kondisi ini sering tidak dikenali, bahkan oleh tenaga kesehatan, meskipun berhubungan dengan peningkatan risiko kematian, perawatan rumah sakit yang lebih lama, dan penurunan kualitas hidup setelah pasien pulang.

Delirium adalah gangguan fungsi otak akut yang ditandai dengan perubahan kesadaran, perhatian, dan kemampuan berpikir yang muncul dalam hitungan jam hingga beberapa hari. Berbeda dengan demensia yang berkembang perlahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, delirium terjadi secara mendadak. Seorang lansia yang pagi hari masih mampu berkomunikasi dengan baik dapat menjadi sangat bingung pada malam harinya. Karena gejalanya sering menyerupai pikun, depresi, atau kelelahan biasa, banyak kasus yang terlambat mendapatkan penanganan.

Yang menarik, delirium sering kali bukan penyakit utama, melainkan sinyal bahwa tubuh sedang mengalami gangguan serius. Infeksi saluran kemih, pneumonia, dehidrasi, gangguan elektrolit, efek samping obat, hipoksia, hingga serangan jantung dapat memicu terjadinya delirium. Pada lansia, otak menjadi lebih sensitif terhadap perubahan fisiologis sehingga gangguan kecil sekalipun dapat menimbulkan perubahan perilaku yang signifikan.

Salah satu alasan delirium menjadi kegawatan yang tersembunyi adalah karena gejalanya tidak selalu berupa agitasi atau perilaku agresif. Banyak pasien justru mengalami hypoactive delirium, yaitu kondisi ketika pasien tampak sangat tenang, mengantuk, kurang berinteraksi, dan lebih banyak tidur. Tipe ini sering dianggap sebagai tanda pasien sedang beristirahat atau kelelahan, padahal justru memiliki risiko keterlambatan diagnosis yang lebih tinggi dibandingkan delirium hiperaktif.

Di instalasi gawat darurat, perubahan status mental akut pada lansia seharusnya dipandang sebagai tanda vital keenam. Sama seperti tenaga kesehatan menilai tekanan darah, nadi, atau frekuensi napas, perubahan kesadaran dan perilaku perlu dievaluasi secara sistematis. Sayangnya, fokus penilaian sering masih tertuju pada keluhan fisik sehingga delirium terlewatkan. Padahal, keberadaan delirium dapat menjadi petunjuk awal adanya kondisi yang mengancam jiwa.

Keluarga memiliki peran penting dalam mendeteksi delirium karena mereka adalah pihak yang paling mengenal kondisi normal pasien. Informasi sederhana seperti “biasanya ibu tidak seperti ini” atau “bapak tiba-tiba tidak mengenali anggota keluarga” dapat menjadi petunjuk klinis yang sangat berharga. Oleh karena itu, keterlibatan keluarga dalam proses asesmen lansia perlu menjadi bagian dari pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien.

Penanganan delirium tidak hanya berfokus pada gejala kebingungan yang muncul, tetapi juga mencari dan mengatasi penyebab yang mendasarinya. Semakin cepat penyebab ditemukan, semakin besar peluang pasien untuk pulih tanpa mengalami penurunan fungsi kognitif jangka panjang. Lingkungan yang tenang, pencahayaan yang cukup, orientasi waktu yang jelas, serta kehadiran anggota keluarga juga dapat membantu mempercepat pemulihan.

Di tengah meningkatnya jumlah populasi lansia, delirium layak mendapatkan perhatian lebih sebagai salah satu kegawatan geriatri yang sering tidak terlihat. Ketika seorang lansia tiba-tiba berubah menjadi bingung, mengantuk, atau tidak seperti biasanya, jangan langsung menganggapnya sebagai proses penuaan. Bisa jadi, kondisi tersebut adalah alarm dari tubuh yang sedang menghadapi masalah serius dan membutuhkan pertolongan segera. Mengenali delirium berarti memberikan kesempatan yang lebih besar bagi lansia untuk mendapatkan penanganan tepat waktu dan mempertahankan kualitas hidupnya.

Kata Kunci : Delirium pada lansia, Kegawatan geriatri, Perubahan status mental akut pada lansia, Acute Confusional State, Delirium di Instalasi Gawat Darurat, Kegawatan tersembunyi pada lansia

Referensi :

Potter, J., & George, J. (2006). The prevention, diagnosis and management of delirium in older people: Concise guidelines. Clinical Medicine, 6(3), 303–308.

National Institute for Health and Care Excellence. (2023). Delirium: Prevention, diagnosis and management in hospital and long-term care (CG103).

Silva, L. O. J. E., Berning, M. J., Stanich, J. A., Gerberi, D. J., Murad, M. H., Han, J. H., & Bellolio, F. (2021). Risk factors for delirium in older adults in the emergency department: A systematic review and meta-analysis. Annals of Emergency Medicine, 78(4), 549–565.

Chen, F., Liu, L., Wang, Y., Liu, Y., Fan, L., & Chi, J. (2022). Delirium prevalence in geriatric emergency department patients: A systematic review and meta-analysis. American Journal of Emergency Medicine, 59, 121–128.

Iglseder, B., Frühwald, T., & Jagsch, C. (2022). Delirium in geriatric patients. Wiener Medizinische Wochenschrift, 172, 114–121.

Ketenangan Batin (Peace) dan Keyakinan Spiritual (Faith): Kunci Spiritualitas untuk Mengurangi Diabetes Distress pada Lansia

Ketenangan Batin (Peace) dan Keyakinan Spiritual (Faith): Kunci Spiritualitas untuk Mengurangi Diabetes Distress pada Lansia

Oleh: M. Ischaq Nabil Asshiddiqi

Sebuah artikel jurnal penelitian terbaru dari dosen Keperawatan, Universitas Alma Ata bersama peneliti dari Thailand (Prince of Songkla University) dan Amerika Serikat (Johns Hopkins University) mengungkap bahwa dimensi spiritualitas, terutama ketenangan batin (peace) dan keyakinan spiritual (faith), memiliki hubungan yang erat dengan rendahnya tekanan psikologis (diabetes distress) pada lansia dengan diabetes tipe 2. Studi ini telah diterima untuk publikasi di jurnal internasional Discover Public Health (Springer Nature).

Mengapa Diabetes Distress Penting untuk Diperhatikan?

Diabetes distress adalah beban emosional yang muncul dari rutinitas pengelolaan diabetes yang kompleks dan tidak pernah berhenti: mengatur pola makan, mengecek gula darah, minum obat, dan menghadapi komplikasi. Berbeda dengan depresi klinis, diabetes distress secara langsung terkait dengan rasa gagal, takut, dan lelah karena tuntutan manajemen penyakit diabetes setiap harinya. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan ketidakpatuhan berobat, memburuknya kontrol gula darah, dan menurunnya kualitas hidup.

Namun, di Indonesia, studi tentang faktor pelindung (protective factors) terhadap diabetes distress terutama dari aspek spiritualitas yang lebih spesifik masih sangat terbatas. Penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut.

Bagaimana Penelitian Dilakukan?

Penelitian ini melibatkan 198 lansia dengan diabetes tipe 2 yang berobat di Klinik Geriatri RSUP Soeradji Tirtonegoro, Klaten, Jawa Tengah.

Penelitian ini mengukur:

  • Spiritualitas menggunakan kuesioner FACIT‑Sp‑Ex (23 item) yang mengukur empat domain: makna hidup (meaning), ketenangan batin (peace), keyakinan (faith), dan keterhubungan (relational spirituality).
  • Diabetes distress menggunakan kuesliu Diabetes Distress Scale (DDS‑17) yang juga mengukur empat domain: beban emosional, distress terkait dokter, distress terkait aturan pengobatan, dan distress interpersonal.

Selain itu, faktor sosial ekonomi (pendapatan, pendidikan) dan klinis (lama menderita diabetes, komplikasi, IMT) juga dianalisis sebagai variabel kontrol.

Temuan Utama: Apa yang Membuat Lansia Lebih Tenang?

1. Spiritualitas Lansia Tinggi, Distress Rendah

Secara deskriptif, lansia dalam penelitian ini memiliki tingkat spiritualitas total yang tinggi (rata‑rata skor mentah 74,6 dari kemungkinan maksimal 92). Sebaliknya, tingkat diabetes distress mereka tergolong rendah (rata‑rata skor 1,14 dari skala 1–6). Ini menunjukkan bahwa secara umum, sampel lansia di klinik geriatri memiliki cadangan spiritual yang baik yang mungkin membantu mereka menghadapi penyakit kronis.

2. Domain “Peace” (Ketenangan Batin) Paling Kuat Berhubungan dengan Rendahnya Distress

Dari keempat domain spiritualitas, peace menunjukkan hubungan paling kuat (β = -0,276, p = 0,004). Artinya, semakin tinggi rasa damai, semakin rendah tekanan emosional akibat diabetes.

Apa itu “peace”? Dalam kuesioner FACIT‑Sp Ex, peace mencakup perasaan batin yang tenang, harmoni, dan bebas dari kekhawatiran meskipun sedang sakit. Penelitian ini menemukan bahwa peace lebih dominan dibandingkan domain lain karena ia secara langsung meredam reaksi afektif negatif (cemas, takut, putus asa) terhadap rutinitas diabetes. Peace juga terbukti berhubungan dengan beban emosional, distress terkait aturan pengobatan, dan distress interpersonal – tiga dari empat dimensi diabetes distress.

Temuan ini sejalan dengan penelitian global yang menunjukkan bahwa peace adalah “ujung afektif” dari spiritualitas – yaitu kondisi batin yang paling dekat dengan kesejahteraan emosional. Berbeda dengan makna hidup (meaning) yang lebih kognitif, peace bersifat langsung menenangkan sistem saraf dan mengurangi reaktivitas stres. Dalam konteks lansia dengan diabetes, kedamaian batin membantu mereka menerima fluktuasi gula darah atau kegagalan sementara dalam diet tanpa menghakimi diri sendiri.

3. Faith (Keyakinan) Juga Berperan, Terutama pada Beban Emosional

Domain faith (keyakinan kepada Tuhan) juga menunjukkan hubungan negatif yang signifikan (β = -0,199, p = 0,046). Faith terutama terkait dengan rendahnya beban emosional (Emotional Burden) – perasaan marah, takut, putus asa. Keyakinan spiritual memberi makna positif terhadap penderitaan (misalnya: “penyakit ini adalah ujian atau amanah dari Tuhan”) dan menumbuhkan harapan.

Dalam studi kualitatif di Indonesia, pasien diabetes sering menyebut spiritualitas sebagai “obat batin” yang membuat mereka tidak merasa sendiri. Keyakinan bahwa Tuhan selalu bersama dan akan menolong memberikan ketenangan tersendiri. Namun, penelitian ini juga mengingatkan bahwa keyakinan yang keliru (fatalisme pasif) justru dapat membuat pasien menyerah pada pengobatan medis. Oleh karena itu, pendekatan spiritual harus dilakukan dengan bijak dan berimbang.

4. Makna Hidup (Meaning) dan Keterhubungan (Relational) Tidak Signifikan dalam Regresi

Meskipun dalam analisis korelasi sederhana, makna hidup menunjukkan hubungan cukup kuat dengan distress, namun setelah dikontrol dengan peace dan faith dalam analisis regresi, makna hidup menjadi tidak signifikan. Artinya, efek makna hidup terhadap distress sebagian besar “diserap” oleh peace dan faith. Hal yang sama terjadi pada domain keterhubungan (relasional) – tidak terbukti signifikan.

Mengapa domain relational/keterhubungan (rasa terhubung dengan Tuhan, sesama, atau alam) tidak signifikan? Peneliti menduga bahwa dalam budaya Islam yang mayoritas (59,6% sampel Muslim), hubungan dengan Tuhan lebih sering diekspresikan melalui praktik terstruktur (shalat, puasa, zakat) daripada melalui “rasa terhubung” individualistis yang diukur oleh kuesioner FACIT‑Sp Ex. Ini menunjukkan catatan tentang pentingnya alat ukur yang sensitif budaya.

5. Pendapatan Rendah Meningkatkan Risiko Distress

Faktor sosial ekonomi yang paling signifikan adalah pendapatan bulanan. Semakin rendah pendapatan, semakin tinggi diabetes distress (β = -0,153, p = 0,033). Pendapatan rendah menjadi hambatan untuk membeli obat, alat cek gula darah, makanan sehat, dan mengakses edukasi diabetes.

Studi ini merekomendasikan agar tenaga kesehatan secara rutin menanyakan kesulitan finansial pasien, misalnya: “Apakah Anda pernah kesulitan membeli obat atau alat cek gula darah karena biaya?” Jika ya, pasien perlu mendapatkan perhatian lebih seperti kepastian jaminan keksehatan, pemberian obat generik dan penyederhanaan regimen pengobatan yang dapat mengurangi beban biaya.

6. Mengapa Lansia di Klinik Geriatri Hampir Tidak Mengalami Distress Terkait Dokter dan Tenaga Kesehatan (Physician-related Distress)?

Salah satu temuan menarik adalah hampir tidak adanya variasi pada domain physician‑related distress (rerata 1,00, SD 0,02). Semua peserta melaporkan tingkat distress terendah terhadap dokter dan tenaga kesehatan mereka.

Peneliti menghubungkan temuan ini dengan studi nasional Arifin dkk. (2019) yang menunjukkan bahwa pasien di pelayanan kesehatan tersier (rumah sakit besar) memiliki kemungkinan distress tinggi hingga 3,68 kali lebih rendah dibanding pasien di pelayanan primer. Pasien di rumah sakit besar merasa lebih percaya pada spesialis dan menganggap fasilitas penunjang serta obat lebih lengkap. Ditambah lagi, budaya Indonesia yang cenderung sangat menghormati otoritas medis juga berperan.

Meskipun ini kabar baik – karena menunjukkan bahwa pelayanan di RSUP sudah berkualitas – peneliti juga mengingatkan bahwa hasil ini tidak bisa digeneralisasi ke semua fasilitas kesehatan. Di puskesmas atau klinik swasta kecil, mungkin tingkat physician‑related distress berbeda. Penelitian lebih lanjut di berbagai tingkat fasilitas diperlukan.

Implikasi untuk Praktik dan Penelitian ke Depan

Bagi Tenaga Kesehatan:

  1. Lakukan skrining spiritual sederhana. Cukup satu pertanyaan: “Apakah Anda merasakan ketenangan atau kenyamanan dari keyakinan spiritual Anda dalam mengelola diabetes?” Jawaban dapat membantu mengidentifikasi lansia yang mungkin mendapat manfaat dari dukungan spiritual.
  2. Integrasikan aspek peace dan faith dalam konseling. Tidak perlu menjadi konselor agama, tetapi tunjukkan penghormatan pada nilai spiritual pasien. Misalnya, “Selain minum obat, apakah ada praktik spiritual yang membuat Bapak/Ibu merasa lebih tenang?”
  3. Perhatikan faktor ekonomi. Sediakan informasi tentang program bantuan biaya, resep obat generik, dan bantuan layanan kesehatan lainnya yang relevan.

Bagi Peneliti Selanjutnya:

  1. Studi longitudinal diperlukan untuk melihat hubungan sebab‑akibat antara spiritualitas dan diabetes distress.
  2. Uji coba intervensi yang secara khusus menargetkan peace (misalnya berbasis mindfulness atau acceptance and commitment therapy) perlu dilakukan.
  3. Pengembangan alat ukur spiritualitas yang lebih sensitif budaya untuk masyarakat Muslim Indonesia menjadi prioritas.

Penutup

Penelitian ini memberikan bukti bahwa ketenangan batin (peace) dan keyakinan spiritual (faith) adalah dua aspek spiritualitas yang paling kuat terkait dengan rendahnya tekanan psikologis pada lansia diabetes. Pendekatan perawatan yang peka terhadap aspek spiritualitas, sekaligus memperhatikan kondisi ekonomi pasien, dapat menjadi strategi sederhana namun berdampak besar untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dengan diabetes.

👨‍⚕️ Para Peneliti

  • Bpk. M. Ischaq Nabil Asshiddiqi (Universitas Alma Ata & The University of Hong Kong) – peneliti utama
  • Prof. Kantaporn Yodchai & Prof. Ploenpit Thaniwattananon (Prince of Songkla University, Thailand)
  • Dr. Emma C. Lewis & Prof. Joel Gittelsohn (the Johns Hopkins University, USA)
  • Prof. Hamam Hadi (Universitas Alma Ata)

Penelitian ini didanai oleh Higher Education Research Promotion and Thailand’s Education Hub for Southern Region of ASEAN Countries Project Office of the Higher Education Commission (Grant No. TEH‑AC 036/2017).

📄 Artikel Lengkap

Naskah lengkap akan segera terbit di Discover Public Health (Springer Nature).

Spirituality and its domain-specific associations with diabetes distress in Indonesian older adults with type 2 diabetes mellitus.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi penulis korespondensi:
M. Ischaq Nabil Asshiddiqi – ischaq.nabil@almaata.ac.id

Referensi:

Asshiddiqi, M. I. N., Yodchai, K., Thaniwattananon, P., Lewis, E. C., Gittelsohn, J., & Hadi, H. (2026). Spirituality and its domain‑specific associations with diabetes distress in older Indonesian adults with type 2 diabetes. Discover Public Health. https://doi.org/10.1186/s12982-026-02291-5

Ketika Teman Sebaya Menjadi Penentu Kesehatan Mental Remaja: Antara Dukungan dan Tekanan Sosial

Ketika Teman Sebaya Menjadi Penentu Kesehatan Mental Remaja: Antara Dukungan dan Tekanan Sosial

Oleh: Despita Pramesti, S.Kep.Ns.,M.Kes


Masa remaja sering disebut sebagai fase pencarian jati diri. Pada periode ini, remaja mulai mengurangi ketergantungan pada orang tua dan semakin banyak menghabiskan waktu bersama teman sebaya. Tidak mengherankan jika pendapat, penerimaan, dan hubungan dengan teman menjadi salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan remaja.
Namun, di balik pentingnya peran teman sebaya, terdapat dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, teman dapat menjadi sumber dukungan yang membantu remaja menghadapi berbagai tantangan hidup. Di sisi lain, tekanan dari kelompok teman (peer pressure) dapat menjadi sumber stres yang berkontribusi terhadap munculnya masalah kesehatan mental, termasuk depresi.
Penelitian yang dilakukan oleh Alfi Rahmadani, Despita Pramesti, bersama tim peneliti dari Universitas Alma Ata Yogyakarta menemukan bahwa kualitas interaksi teman sebaya memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian depresi pada remaja madya. Penelitian yang melibatkan 311 siswa SMK Negeri 1 Sedayu tersebut menunjukkan bahwa semakin baik interaksi sosial yang dimiliki remaja, semakin rendah risiko mereka mengalami depresi.


Remaja dan Kebutuhan untuk Diterima
Bagi sebagian besar remaja, diterima oleh kelompok teman bukan hanya kebutuhan sosial biasa. Penerimaan dari teman sering kali menjadi bagian dari pembentukan identitas diri. Ketika seorang remaja merasa dihargai, didengarkan, dan dianggap sebagai bagian dari kelompok, ia akan memiliki rasa percaya diri yang lebih baik serta kemampuan menghadapi tekanan hidup yang lebih kuat.
Sebaliknya, ketika remaja mengalami penolakan, dikucilkan, atau merasa tidak memiliki teman yang dapat dipercaya, mereka lebih rentan mengalami kesepian, stres emosional, dan gangguan suasana hati. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gejala depresi apabila berlangsung dalam waktu yang lama. Penelitian Despita Pramesti menegaskan bahwa kurangnya dukungan sosial dan adanya penolakan dari teman sebaya dapat menjadi faktor yang memicu munculnya depresi pada remaja.

Teman Sebaya Sebagai Faktor Pelindung
Hubungan pertemanan yang sehat memiliki peran penting sebagai “benteng psikologis” bagi remaja. Teman yang suportif dapat membantu remaja mengatasi tekanan akademik, konflik keluarga, maupun masalah pribadi lainnya.
Remaja yang memiliki teman dekat cenderung lebih mudah berbagi cerita ketika menghadapi masalah. Mereka tidak merasa sendirian dalam menghadapi kesulitan. Dukungan sederhana seperti mendengarkan keluh kesah, memberikan semangat, atau menemani saat menghadapi masa sulit ternyata memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental.
Berbagai penelitian internasional juga menunjukkan bahwa kualitas hubungan teman sebaya berhubungan erat dengan rendahnya gejala depresi pada remaja. Hubungan yang positif dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis serta membantu perkembangan sosial dan emosional yang lebih sehat.

Ketika Peer Pressure Menjadi Ancaman
Meski demikian, tidak semua pengaruh teman sebaya bersifat positif. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak remaja menghadapi tekanan untuk mengikuti norma kelompok. Mereka merasa harus berpakaian seperti teman-temannya, mengikuti tren tertentu, memiliki jumlah teman yang banyak, atau menunjukkan pencapaian tertentu agar diterima oleh lingkungan sosialnya. Fenomena ini dikenal sebagai peer pressure atau tekanan teman sebaya.
Peer pressure sering kali tidak terlihat secara langsung. Tekanan tersebut dapat muncul dalam bentuk sindiran, ejekan, perbandingan sosial, atau ketakutan untuk dianggap berbeda. Akibatnya, remaja dapat merasa harus terus menyesuaikan diri meskipun hal tersebut bertentangan dengan keinginan atau kenyamanan mereka.
Penelitian menunjukkan bahwa tekanan teman sebaya yang tinggi berhubungan dengan menurunnya kepercayaan diri remaja. Semakin besar tekanan untuk mengikuti kelompok, semakin rendah kemampuan remaja mempertahankan keyakinan dan identitas dirinya.

Media Sosial Memperkuat Tekanan Sosial
Di era digital, peer pressure tidak lagi hanya terjadi di sekolah atau lingkungan bermain. Media sosial memperluas ruang interaksi sekaligus memperbesar peluang terjadinya perbandingan sosial. Remaja dapat melihat teman-temannya mengunggah prestasi akademik, kegiatan sosial, liburan, atau kehidupan yang tampak sempurna. Tanpa disadari, mereka mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Perbandingan yang terus-menerus dapat memunculkan perasaan tidak cukup baik, tidak berhasil, atau tertinggal dari teman-temannya. Ketika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, risiko munculnya kecemasan dan depresi menjadi lebih tinggi.
Diskusi masyarakat Indonesia di berbagai platform daring juga menunjukkan bahwa banyak remaja dan mahasiswa merasakan tekanan sosial untuk memiliki banyak teman, aktif dalam pergaulan, serta selalu terlihat berhasil. Beberapa bahkan mengaitkan kesepian dan kurangnya relasi sosial dengan perasaan gagal dalam hidup.


Membangun Lingkungan Pertemanan yang Sehat
Temuan penelitian Alfi Ramadhani, Despita Pramesti dan tim peneliti memberikan pesan penting bahwa kualitas hubungan sosial lebih penting dibandingkan kuantitas pertemanan. Remaja tidak harus memiliki banyak teman untuk merasa bahagia. Yang lebih penting adalah memiliki hubungan yang sehat, saling mendukung, dan memberikan rasa aman secara emosional.
Sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental remaja. Program peer support, edukasi kesehatan mental, pencegahan perundungan, serta peningkatan keterampilan komunikasi dapat membantu remaja membangun hubungan sosial yang lebih positif.

Referensi utama:
• Rahmadani, A., Pramesti, D., Kamala, R. F., & Rofiyati, W. (2024). Hubungan Interaksi Teman Sebaya dengan Kejadian Depresi pada Remaja Madya. (jktp.jurnalpoltekkesjayapura.com)