Author : Despita Pramesti, S.Kep.Ns.,M.Kes

Perkembangan teknologi digital telah meningkatkan penggunaan media sosial secara signifikan, terutama di kalangan remaja. Laporan Digital 2025 Global Overview Report dari We Are Social & Meltwater menunjukkan bahwa pada awal tahun 2025 terdapat sekitar 5,24 miliar pengguna media sosial aktif di dunia atau sekitar 63,9% dari populasi global. Di Indonesia, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dengan rata-rata waktu penggunaan media sosial mencapai lebih dari 3 jam per hari. Sementara itu, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2024 melaporkan bahwa tingkat penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 79,5%, yang menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat, termasuk remaja, terhadap berbagai platform digital.

Salah satu media sosial yang paling populer adalah TikTok. Melalui algoritma personalisasi, TikTok menyajikan konten yang menarik dan sesuai dengan minat pengguna sehingga mendorong penggunaan dalam durasi yang lebih lama. Meskipun bermanfaat sebagai sarana hiburan, kreativitas, dan komunikasi, penggunaan TikTok yang berlebihan mulai dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan mental, termasuk gejala depresi.

Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan TikTok yang berlebihan atau bersifat adiktif dengan meningkatnya risiko depresi. Systematic review oleh Conte dkk. (2025) yang melibatkan 20 penelitian dari 10 negara melaporkan bahwa penggunaan TikTok secara intensif berhubungan dengan penurunan kesejahteraan psikologis, rendahnya harga diri, gangguan citra tubuh, serta meningkatnya gejala depresi. Temuan tersebut diperkuat oleh systematic review dan meta-analysis terbaru yang menunjukkan bahwa penggunaan TikTok yang bermasalah berkaitan secara signifikan dengan depresi, kecemasan, stres, dan gangguan kualitas tidur.

Beberapa mekanisme diduga mendasari hubungan tersebut. Paparan konten yang menampilkan kehidupan ideal dapat memicu social comparison sehingga menurunkan harga diri. Selain itu, fenomena fear of missing out (FoMO) mendorong remaja terus menggunakan TikTok agar tidak tertinggal tren. Penggunaan hingga larut malam juga dapat mengganggu kualitas tidur, sedangkan paparan konten negatif yang berulang berpotensi memperkuat suasana hati negatif.

Meskipun demikian, TikTok bukan merupakan penyebab tunggal depresi. Depresi merupakan kondisi yang bersifat multifaktorial dan dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, keluarga, serta lingkungan sosial. Selain itu, sebagian besar penelitian yang tersedia masih menggunakan desain cross-sectional, sehingga hanya menunjukkan adanya hubungan, bukan hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, diperlukan penelitian longitudinal untuk memastikan apakah penggunaan TikTok merupakan penyebab atau konsekuensi dari munculnya gejala depresi pada remaja.