Oleh: Allama Zaki Almubarok, S.Kep., Ns., M.Kep
Pendahuluan
TWS kini menemani banyak aktivitas sehari-hari: mengikuti kuliah daring, menerima panggilan, berolahraga, menonton video, hingga mendengarkan musik sebelum tidur. Bentuknya yang kecil dan tanpa kabel membuat perangkat ini mudah digunakan hampir sepanjang hari. Kemudahan tersebut juga melahirkan kekhawatiran. Ada anggapan bahwa TWS lebih berbahaya karena menggunakan Bluetooth atau berada dekat dengan gendang telinga. Padahal, dalam konteks gangguan pendengaran akibat suara, perhatian utama dalam pedoman kesehatan bukanlah ada atau tidaknya kabel, melainkan seberapa keras suara yang mencapai telinga dan berapa lama paparan berlangsung.
Kajian sistematis yang melibatkan lebih dari 19.000 remaja dan dewasa muda menunjukkan bahwa kebiasaan mendengarkan yang tidak aman masih banyak ditemukan. Para peneliti memperkirakan sekitar 0,67–1,35 miliar anak muda di dunia berpotensi berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat penggunaan perangkat audio pribadi dan paparan suara keras di tempat hiburan (Dillard et al., 2022).
Mengenal TWS dan Perangkat Audio Pribadi
TWS atau true wireless stereo merupakan earphone nirkabel yang terhubung melalui Bluetooth tanpa kabel di antara kedua perangkat. Istilah earbud biasanya digunakan untuk perangkat kecil yang ditempatkan di bagian luar atau sedikit masuk ke liang telinga. Sementara itu, in-ear monitor atau IEM menggunakan ujung silikon yang masuk dan menutup liang telinga dengan lebih rapat.
Headphone digunakan di atas atau mengelilingi daun telinga, sedangkan headset pada dasarnya adalah headphone atau earphone yang dilengkapi mikrofon. Kategori tersebut dapat saling tumpang tindih; misalnya, sebuah TWS dapat berbentuk in-ear sekaligus memiliki mikrofon.
Posisi perangkat yang dekat dengan telinga tidak otomatis membuatnya lebih berbahaya. Begitu pula, perangkat berkabel tidak otomatis lebih aman. Faktor yang lebih menentukan adalah tingkat tekanan suara yang mencapai telinga, durasi paparan, kemampuan perangkat menghasilkan suara, kecocokan pemasangan, dan kebiasaan pengguna mengatur volume.
Bluetooth menggunakan gelombang radio non-ionisasi untuk mengirimkan data. Namun, kerusakan pendengaran akibat bising terjadi karena energi suara yang diterima sistem pendengaran. Karena itu, berdasarkan kerangka safe listening WHO, menyimpulkan bahwa TWS lebih merusak pendengaran hanya karena bersifat nirkabel tidaklah tepat.
Mengapa Hal Ini Penting?
Suara masuk melalui liang telinga, menggetarkan gendang telinga, kemudian diteruskan menuju koklea atau rumah siput di telinga dalam. Di dalam koklea terdapat sel sensorik yang sering disebut sel rambut. Sel ini mengubah getaran menjadi sinyal listrik yang kemudian diterjemahkan oleh otak sebagai suara.
Paparan suara yang terlalu keras atau berlangsung terlalu lama dapat membuat struktur tersebut mengalami kelelahan dan kerusakan. Menurut National Institute on Deafness and Other Communication Disorders, sel rambut manusia yang telah rusak tidak dapat tumbuh kembali seperti semula. Kerusakan dapat terjadi perlahan sehingga seseorang belum tentu langsung menyadarinya.
Desibel atau dB digunakan untuk mengukur tingkat suara. Skalanya bersifat logaritmik: sedikit kenaikan angka dapat berarti peningkatan energi suara yang besar. Prinsip NIOSH menjelaskan bahwa setiap kenaikan 3 dB menggandakan energi suara sehingga waktu paparan yang dianjurkan perlu dikurangi sekitar separuh (CDC/NIOSH, 2024).
Sebagai acuan safe listening, WHO menyebutkan bahwa suara rata-rata 80 dB dapat didengarkan hingga sekitar 40 jam per minggu. Pada 90 dB, waktu tersebut turun menjadi sekitar empat jam per minggu. Angka ini merupakan panduan paparan, bukan jaminan mutlak, karena kepekaan setiap orang dapat berbeda.
Lingkungan juga memengaruhi perilaku mendengarkan. Di kendaraan umum, jalan raya, pusat kebugaran, atau ruang kerja yang bising, pengguna cenderung menaikkan volume agar suara terdengar lebih jelas. Perangkat yang pas, memiliki isolasi suara yang baik, atau dilengkapi active noise cancellation (ANC) dapat membantu mengurangi kebutuhan menaikkan volume. Penelitian Hoshina et al. (2022) menunjukkan bahwa teknologi pengendalian kebisingan dapat menurunkan tingkat volume yang dipilih pengguna dalam lingkungan bising.
Namun, ANC bukan pelindung otomatis. Jika volume tetap tinggi dan digunakan berjam-jam, risiko paparan berlebihan tetap ada. Fitur ini juga perlu digunakan secara bijak ketika berjalan, berkendara, atau berada di tempat yang membutuhkan kewaspadaan terhadap suara lingkungan.
Tanda atau Hal yang Perlu Diperhatikan
Setelah menggunakan perangkat audio, perhatikan beberapa tanda berikut:
- Telinga berdenging, berdesis, atau berdengung.
- Suara terasa teredam atau kurang jelas.
- Telinga terasa penuh setelah mendengarkan.
- Sulit memahami percakapan, terutama di tempat ramai.
- Kesulitan mendengar suara bernada tinggi.
- Sering meminta orang lain mengulang perkataan.
- Memerlukan volume yang semakin tinggi dibandingkan sebelumnya.
Keluhan yang membaik setelah beberapa saat bukan berarti paparan tersebut sepenuhnya aman. Tinnitus atau pendengaran yang terasa menurun sementara setelah paparan suara keras dapat menjadi peringatan bahwa telinga membutuhkan perlindungan dan waktu pemulihan.
Apa yang Dapat Dilakukan?
Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu menjaga kesehatan pendengaran:
- Mulai dari volume rendah. WHO menyarankan volume tidak lebih dari sekitar 60% sebagai panduan praktis. Namun, angka persentase ini tidak seragam karena setiap kombinasi ponsel, aplikasi, rekaman, dan perangkat audio memiliki keluaran suara berbeda.
- Upayakan rata-rata suara di bawah 80 dB. Gunakan fitur pemantauan paparan suara pada perangkat yang kompatibel. Aplikasi pengukur kebisingan lingkungan tidak selalu dapat mengukur suara di dalam earphone secara akurat.
- Kurangi durasi ketika volume meningkat. Semakin keras suara, semakin singkat waktu mendengarkan yang lebih aman.
- Berikan jeda secara berkala. Lepaskan perangkat dan beristirahatlah di tempat yang lebih tenang.
- Gunakan perangkat yang pas. Isolasi suara yang baik atau ANC dapat mengurangi dorongan menaikkan volume ketika berada di lingkungan bising.
- Patuhi peringatan volume. Jangan terus-menerus mengabaikan notifikasi batas paparan suara dari ponsel.
- Jauhkan diri dari sumber suara keras. Pada konser, acara olahraga, atau lingkungan kerja bising, jaga jarak dari pengeras suara dan gunakan pelindung telinga yang sesuai.
Peran Perawat dan Keluarga
Perawat berperan penting dalam promosi kesehatan pendengaran melalui edukasi, pengkajian kebiasaan mendengarkan, pengenalan tanda awal, serta rujukan bila ditemukan keluhan. Mahasiswa keperawatan juga dapat memasukkan edukasi safe listening dalam kegiatan penyuluhan di sekolah, kampus, keluarga, dan masyarakat.
Keluarga dapat menjadi teladan dengan mengatur volume televisi dan perangkat audio secara wajar, mengingatkan anak untuk beristirahat, serta menyediakan pelindung telinga saat menghadiri kegiatan bising. Pendekatan sebaiknya bersifat suportif, bukan melarang atau menyalahkan pengguna perangkat.
Kapan Harus Mencari Pertolongan?
Segera cari pertolongan medis apabila pendengaran tiba-tiba menurun pada satu atau kedua telinga, terutama jika disertai tinnitus atau pusing berputar. Kondisi tersebut perlu dinilai dengan cepat oleh tenaga kesehatan.
Konsultasikan pula ke puskesmas, klinik, dokter THT, atau tenaga kesehatan pendengaran apabila tinnitus menetap, pendengaran semakin berkurang, percakapan sulit dipahami, telinga terasa penuh terus-menerus, atau terdapat nyeri maupun cairan dari telinga. Pemeriksaan pendengaran diperlukan untuk mengetahui penyebabnya; pembaca tidak dianjurkan menegakkan diagnosis sendiri.
Kesimpulan
TWS bukanlah musuh kesehatan telinga, tetapi kebiasaan mendengarkan yang tidak aman dapat menjadi masalah. Perangkat nirkabel maupun berkabel sama-sama dapat menimbulkan risiko ketika digunakan terlalu keras dan terlalu lama. Sebaliknya, keduanya dapat digunakan dengan lebih aman apabila volume, durasi, kondisi lingkungan, dan waktu istirahat dikendalikan.
Mari mulai memperlakukan kesehatan pendengaran sebagai bagian dari pola hidup sehat. Dengarkan dengan nyaman, beri telinga waktu beristirahat, dan jangan ragu memeriksakan pendengaran ketika muncul keluhan.
Disclaimer
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, pengobatan, atau konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan.
Daftar Pustaka
Centers for Disease Control and Prevention–National Institute for Occupational Safety and Health (CDC–NIOSH) (2024) ‘Understand noise exposure’. Available at: https://www.cdc.gov/niosh/noise/prevent/understand.html (Accessed: 4 August 2026).
Dillard, L.K., Arunda, M.O., Lopez-Perez, L., Martinez, R.X., Jiménez, L. and Chadha, S. (2022) ‘Prevalence and global estimates of unsafe listening practices in adolescents and young adults: a systematic review and meta-analysis’, BMJ Global Health, 7(11), e010501. Available at: https://doi.org/10.1136/bmjgh-2022-010501.
Hoshina, T., Fujiyama, D., Koike, T. and Ikeda, K. (2022) ‘Effects of an active noise control technology applied to earphones on preferred listening levels in noisy environments’, Journal of Audiology & Otology, 26(3), pp. 122–129. Available at: https://doi.org/10.7874/jao.2021.00612.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2025) ‘Kemenkes ajak masyarakat peduli kesehatan pendengaran’. Available at: https://www.kemkes.go.id/eng/kemenkes-ajak-masyarakat-peduli-kesehatan-pendengaran (Accessed: 4 August 2026).
National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (2025) ‘Noise-induced hearing loss’. Available at: https://www.nidcd.nih.gov/health/noise-induced-hearing-loss (Accessed: 4 August 2026).
World Health Organization (2019) Safe listening devices and systems: a WHO–ITU standard. Geneva: World Health Organization and International Telecommunication Union. Available at: https://iris.who.int/handle/10665/280085 (Accessed: 4 August 2026).
World Health Organization (2026) ‘Deafness and hearing loss: Safe listening’. Available at: https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/deafness-and-hearing-loss-safe-listening (Accessed: 4 August 2026).