Penulis : Rafi Achmad Rukhama, S.Kep., Ns., M.N.Sc
Ketika seorang lansia tiba-tiba menjadi bingung, sering melamun, berbicara tidak nyambung, atau tampak seperti “pikun mendadak”, banyak keluarga menganggap kondisi tersebut sebagai bagian normal dari proses penuaan. Padahal, perubahan mental yang terjadi secara tiba-tiba pada lansia dapat menjadi tanda kegawatan medis yang dikenal sebagai delirium. Kondisi ini sering tidak dikenali, bahkan oleh tenaga kesehatan, meskipun berhubungan dengan peningkatan risiko kematian, perawatan rumah sakit yang lebih lama, dan penurunan kualitas hidup setelah pasien pulang.
Delirium adalah gangguan fungsi otak akut yang ditandai dengan perubahan kesadaran, perhatian, dan kemampuan berpikir yang muncul dalam hitungan jam hingga beberapa hari. Berbeda dengan demensia yang berkembang perlahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, delirium terjadi secara mendadak. Seorang lansia yang pagi hari masih mampu berkomunikasi dengan baik dapat menjadi sangat bingung pada malam harinya. Karena gejalanya sering menyerupai pikun, depresi, atau kelelahan biasa, banyak kasus yang terlambat mendapatkan penanganan.
Yang menarik, delirium sering kali bukan penyakit utama, melainkan sinyal bahwa tubuh sedang mengalami gangguan serius. Infeksi saluran kemih, pneumonia, dehidrasi, gangguan elektrolit, efek samping obat, hipoksia, hingga serangan jantung dapat memicu terjadinya delirium. Pada lansia, otak menjadi lebih sensitif terhadap perubahan fisiologis sehingga gangguan kecil sekalipun dapat menimbulkan perubahan perilaku yang signifikan.
Salah satu alasan delirium menjadi kegawatan yang tersembunyi adalah karena gejalanya tidak selalu berupa agitasi atau perilaku agresif. Banyak pasien justru mengalami hypoactive delirium, yaitu kondisi ketika pasien tampak sangat tenang, mengantuk, kurang berinteraksi, dan lebih banyak tidur. Tipe ini sering dianggap sebagai tanda pasien sedang beristirahat atau kelelahan, padahal justru memiliki risiko keterlambatan diagnosis yang lebih tinggi dibandingkan delirium hiperaktif.
Di instalasi gawat darurat, perubahan status mental akut pada lansia seharusnya dipandang sebagai tanda vital keenam. Sama seperti tenaga kesehatan menilai tekanan darah, nadi, atau frekuensi napas, perubahan kesadaran dan perilaku perlu dievaluasi secara sistematis. Sayangnya, fokus penilaian sering masih tertuju pada keluhan fisik sehingga delirium terlewatkan. Padahal, keberadaan delirium dapat menjadi petunjuk awal adanya kondisi yang mengancam jiwa.
Keluarga memiliki peran penting dalam mendeteksi delirium karena mereka adalah pihak yang paling mengenal kondisi normal pasien. Informasi sederhana seperti “biasanya ibu tidak seperti ini” atau “bapak tiba-tiba tidak mengenali anggota keluarga” dapat menjadi petunjuk klinis yang sangat berharga. Oleh karena itu, keterlibatan keluarga dalam proses asesmen lansia perlu menjadi bagian dari pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien.
Penanganan delirium tidak hanya berfokus pada gejala kebingungan yang muncul, tetapi juga mencari dan mengatasi penyebab yang mendasarinya. Semakin cepat penyebab ditemukan, semakin besar peluang pasien untuk pulih tanpa mengalami penurunan fungsi kognitif jangka panjang. Lingkungan yang tenang, pencahayaan yang cukup, orientasi waktu yang jelas, serta kehadiran anggota keluarga juga dapat membantu mempercepat pemulihan.
Di tengah meningkatnya jumlah populasi lansia, delirium layak mendapatkan perhatian lebih sebagai salah satu kegawatan geriatri yang sering tidak terlihat. Ketika seorang lansia tiba-tiba berubah menjadi bingung, mengantuk, atau tidak seperti biasanya, jangan langsung menganggapnya sebagai proses penuaan. Bisa jadi, kondisi tersebut adalah alarm dari tubuh yang sedang menghadapi masalah serius dan membutuhkan pertolongan segera. Mengenali delirium berarti memberikan kesempatan yang lebih besar bagi lansia untuk mendapatkan penanganan tepat waktu dan mempertahankan kualitas hidupnya.
Kata Kunci : Delirium pada lansia, Kegawatan geriatri, Perubahan status mental akut pada lansia, Acute Confusional State, Delirium di Instalasi Gawat Darurat, Kegawatan tersembunyi pada lansia
Referensi :
Potter, J., & George, J. (2006). The prevention, diagnosis and management of delirium in older people: Concise guidelines. Clinical Medicine, 6(3), 303–308.
National Institute for Health and Care Excellence. (2023). Delirium: Prevention, diagnosis and management in hospital and long-term care (CG103).
Silva, L. O. J. E., Berning, M. J., Stanich, J. A., Gerberi, D. J., Murad, M. H., Han, J. H., & Bellolio, F. (2021). Risk factors for delirium in older adults in the emergency department: A systematic review and meta-analysis. Annals of Emergency Medicine, 78(4), 549–565.
Chen, F., Liu, L., Wang, Y., Liu, Y., Fan, L., & Chi, J. (2022). Delirium prevalence in geriatric emergency department patients: A systematic review and meta-analysis. American Journal of Emergency Medicine, 59, 121–128.
Iglseder, B., Frühwald, T., & Jagsch, C. (2022). Delirium in geriatric patients. Wiener Medizinische Wochenschrift, 172, 114–121.