Penulis : Mulyanti, S.Kep., Ns., M.PH
Banyak mahasiswa merasa stuck dalam menjalani perkuliahan, mulai dari tugas yang menumpuk, praktik yang menegangkan, hingga skripsi yang tidak kunjung selesai. Masalah ini sering kali bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena kurangnya keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri. Konsep self-efficacy yang diperkenalkan oleh Albert Bandura menjelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sangat memengaruhi bagaimana ia berpikir, bertindak, dan menghadapi tantangan. Dengan kata lain, sebelum seseorang benar-benar gagal, sering kali ia sudah “menyerah” dalam pikirannya terlebih dahulu.
Self-efficacy dapat dipahami sebagai keyakinan individu bahwa dirinya mampu menyelesaikan tugas atau menghadapi situasi tertentu. Mahasiswa yang memiliki self-efficacy tinggi cenderung lebih berani mencoba, tidak mudah menyerah, serta mampu bertahan ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, mahasiswa dengan self-efficacy rendah cenderung ragu-ragu, sering menunda pekerjaan, dan menghindari tantangan karena takut gagal. Pola ini bukan hanya menghambat perkembangan akademik, tetapi juga membentuk kebiasaan pasif yang berlanjut hingga dunia kerja.
Dalam kehidupan perkuliahan, self-efficacy memiliki peran yang sangat penting. Mahasiswa yang yakin pada kemampuannya akan lebih aktif dalam proses belajar, berani bertanya, dan terlibat dalam diskusi. Mereka juga lebih mampu mengelola stres dan melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai akhir dari segalanya. Sebaliknya, mahasiswa yang tidak memiliki keyakinan diri cenderung terjebak dalam overthinking, menunda pekerjaan karena merasa belum siap, dan akhirnya kehilangan banyak kesempatan untuk berkembang.
Selain itu, self-efficacy juga berperan besar dalam praktik lapangan atau klinik. Dalam situasi nyata, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memahami teori, tetapi juga mampu mengambil tindakan dan keputusan. Mahasiswa dengan self-efficacy tinggi akan lebih siap menghadapi pasien, berani mencoba, dan belajar dari pengalaman. Sebaliknya, mereka yang kurang percaya diri cenderung pasif, menunggu instruksi, dan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan klinisnya.
Self-efficacy tidak muncul begitu saja, tetapi terbentuk melalui beberapa proses utama. Menurut Albert Bandura, sumber utama pembentukan self-efficacy adalah pengalaman keberhasilan (mastery experience), yaitu pengalaman berhasil menyelesaikan tugas yang akan memperkuat keyakinan diri. Sebaliknya, kegagalan yang tidak dikelola dengan baik dapat menurunkan kepercayaan diri. Selain itu, pengalaman tidak langsung (vicarious experience), seperti melihat teman atau orang lain berhasil, juga dapat meningkatkan keyakinan bahwa diri sendiri mampu. Dukungan verbal (verbal persuasion), seperti dorongan dari dosen, teman, atau keluarga, turut berperan dalam membentuk self-efficacy. Terakhir, kondisi emosional dan fisiologis, seperti kecemasan atau stres, juga memengaruhi bagaimana seseorang menilai kemampuannya sendiri.
Untuk meningkatkan self-efficacy, mahasiswa tidak perlu menunggu merasa “siap” sepenuhnya. Justru, keyakinan diri dibangun melalui pengalaman mencoba dan menghadapi tantangan. Memulai dari target kecil, fokus pada proses, serta berani keluar dari zona nyaman merupakan langkah penting dalam membangun kepercayaan diri. Selain itu, evaluasi diri yang objektif dan lingkungan yang suportif juga berperan dalam memperkuat self-efficacy seseorang. Pada akhirnya, self-efficacy bukan tentang merasa paling mampu, tetapi tentang keberanian untuk tetap melangkah meskipun belum sepenuhnya yakin. Mahasiswa yang mampu mengembangkan self-efficacy akan lebih siap menghadapi tekanan akademik, lebih tangguh dalam menghadapi kegagalan, dan lebih percaya diri dalam memasuki dunia kerja. Tanpa keyakinan diri, potensi yang dimiliki sering kali tidak pernah benar-benar dimaksimalkan.