Oleh: Sofyan Indrayana
Bulan suci Ramadan selalu dinantikan oleh seluruh umat Islam. Secara fisiologis, puasa dapat dikategorikan sebagai praktik Time-Restricted Eating (makan dengan waktu yang dibatasi). Pada dasarnya, tubuh manusia didesain untuk dapat menyesuaikan diri serta menjaga keseimbangan (homeostasis) baik dalam kondisi tidak berpuasa (fed) maupun saat berpuasa (fasted).
Bagi masyarakat umum yang sehat, puasa memberikan berbagai efek positif. Sebuah tinjauan literatur menunjukkan bahwa puasa Ramadan dapat menyebabkan penurunan berat badan yang moderat, menurunkan kadar kolesterol (TC, TG, dan LDL) secara signifikan pada pria, meningkatkan kolesterol baik (HDL) pada wanita, serta tidak memberikan efek buruk yang parah pada fungsi ginjal maupun sistem imun.
Namun, pertanyaannya adalah: “Apakah orang dengan Diabetes Mellitus (DM) aman untuk ikut berpuasa?” Sebagai edukator dan tenaga kesehatan di bidang keperawatan, hal ini perlu dipertimbangkan dengan saksama. Berikut uraian yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan:
Fisiologi Puasa vs Diabetes Mellitus
Pada orang yang tidak berpuasa (baru selesai makan), kadar hormon insulin akan meningkat untuk memberikan sinyal pada tubuh agar menyimpan kelebihan kalori di sel lemak, sehingga pembakaran lemak dihentikan. Sebaliknya, saat dipuasakan, hormon insulin akan menurun sementara glukagon dan hormon pertumbuhan (growth hormone) meningkat, sehingga tubuh mulai membongkar cadangan lemak untuk dibakar menjadi energi (glukoneogenesis). Pada penyandang Diabetes Mellitus terjadi penumpukan glukosa dalam darah (hiperglikemia) yang merusak sistem tubuh dan dapat bermanifestasi sebagai sering buang air kecil (poliuria), cepat lapar (polifagia), dan sering haus (polidipsia). Kondisi ini tentu membuat mekanisme adaptasi puasa pada penyandang DM berbeda dengan orang sehat.
Risiko Berpuasa bagi Penyandang DM
Bagi penyandang DM yang memaksakan diri untuk berpuasa tanpa supervisi medis, terdapat beberapa ancaman komplikasi akut yang nyata:
- Hipoglikemia: Risiko gula darah turun drastis sangat tinggi selama jam-jam berpuasa.
- Hiperglikemia: Biasanya terjadi karena kebiasaan makan berlebihan (balas dendam) saat jam berbuka puasa atau akibat perubahan dosis obat penurun glukosa.
- Ketoasidosis Diabetik (KAD): Kondisi darurat ini lebih rentan terjadi pada penyandang DM Tipe 1 selama puasa.
- Dehidrasi & Trombosis: Kurangnya asupan cairan yang diperparah dengan diuresis osmotik (banyak kencing akibat gula darah tinggi) menyebabkan penderita rentan mengalami hipovolemia (kekurangan cairan tubuh) dan peningkatan kekentalan darah yang bisa memicu penyumbatan pembuluh darah.
- Khusus untuk lansia, risiko ditambah dengan adanya penurunan fungsi metabolisme secara umum, perubahan komposisi tubuh, serta rentan memiliki riwayat medis komorbiditas yang kompleks.
Kategori Risiko: Siapa yang Boleh Berpuasa?
Untuk menjamin keselamatan, penyandang DM diklasifikasikan ke dalam 4 tingkat risiko berdasarkan penilaian klinis:
1. Risiko Sangat Tinggi (Very High Risk) – Tidak Direkomendasikan Berpuasa
Kategori ini berlaku jika pasien mengalami hipoglikemia berat atau berulang dalam 3 bulan terakhir, memiliki kondisi DM Tipe 1, hipoglikemia yang tidak disadari (hypoglycemia unawareness), kontrol glikemik yang buruk secara terus-menerus, pernah mengalami ketoasidosis atau koma hiperosmolar 3 bulan sebelum Ramadan, menderita penyakit akut, melakukan kerja fisik intens, atau rutin menjalani cuci darah (dialisis).
2. Risiko Tinggi (High Risk) – Sebaiknya Tidak Berpuasa
Termasuk pada penderita dengan hiperglikemia moderat (kadar glukosa darah rata-rata 150–300 mg/dl atau HbA1c 7.5–9.0%), memiliki insufisiensi ginjal, memiliki komplikasi makrovaskuler tahap lanjut, menderita penyakit komorbid tambahan, atau pasien yang tinggal sendirian namun rutin mendapatkan terapi insulin / sulfonilurea.
3. Risiko Sedang (Moderate Risk)
Diberikan kepada penyandang diabetes yang kondisinya terkontrol dengan baik dan dikelola dengan pemberian short-acting insulin.
4. Risiko Rendah (Low Risk)
Berlaku bagi pasien dengan diabetes terkontrol yang selama ini hanya menjalani terapi perubahan gaya hidup maupun pengobatan antidiabetes oral (bukan insulin).
5. Rekomendasi agar Aman Selama Berpuasa
Apabila pasien berada pada risiko rendah hingga menengah dan tetap berkomitmen untuk berpuasa, berikut pedoman yang harus diterapkan:
- Konsultasi Pra-Ramadan: Pasien wajib memeriksakan diri ke dokter pada 6 hingga 8 minggu sebelum bulan Ramadan dimulai guna menilai tingkat risiko medis serta mengatur ulang dosis dan jadwal konsumsi obat-obatan.
- Pemantauan Gula Darah Mandiri: Cek gula darah (Self-Monitoring of Blood Glucose) harus rutin dilakukan secara teratur. Pemantauan ini tidak membatalkan puasa.
- Pahami Kapan Harus Membatalkan Puasa: Segera batalkan puasa apabila: Glukosa darah terdeteksi di bawah 70 mg/dl; Glukosa darah terdeteksi melonjak di atas 300 mg/dl; Timbul gejala nyata terkait hipoglikemia, hiperglikemia, dehidrasi, atau penyakit akut.
- Aktivitas Fisik: Hindari olahraga berat saat berpuasa. Olahraga dengan intensitas ringan-sedang cukup aman jika dilakukan.
- Pola Makan Terukur: Jaga pola makan yang wajar ketika jam buka hingga sahur, dan hindari kebiasaan makan terlalu berlebihan (over-eating), terutama sesaat setelah Ramadan berakhir maupun pada momen Hari Raya.
Sebagai perawat dan pendidik, pendekatan individual (patient-centered care) sangat penting ditekankan. Keputusan berpuasa atau tidak harus didasarkan pada kesepakatan kolaboratif antara dokter, perawat edukator diabetes, serta pasien itu sendiri demi menghindari komplikasi yang membahayakan jiwa.
Referensi:
Indrayana, S. (2020). Orang Dengan Diabetes Mellitus, Bisakah Tetap Berpuasa? [Presentasi]. Seminar Kesehatan Edisi Ramadhan, Universitas Alma Ata.
Hassanein, M., et al. (2022). Diabetes and Ramadan: Practical guidelines 2021. Diabetes Research and Clinical Practice, 185, 109185. (Panduan terbaru dan diperbarui yang menjadi standar pedoman klinis global IDF-DAR).
PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia). Pedoman Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Individu Dewasa di Bulan Ramadan. (Pedoman standar spesifik Indonesia terbaru).
Rouhani, M. H., & Azadbakht, L. (2014). Is Ramadan fasting related to health outcomes? A review on the related evidence. Journal of research in medical sciences: the official journal of Isfahan University of Medical Sciences, 19(10), 987–992.