Penulis:
Dr. Anafrin Yugistyowati, Ns., M.Kep., Sp.Kep., An
Dosen Prodi Profesi Ners Universitas Alma Ata

Stunting masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia. Di balik angka prevalensi dan laporan statistik, terdapat realitas kehidupan keluarga dan ibu hamil yang berjuang memenuhi kebutuhan gizi, menjaga kesehatan kehamilan, serta menghadapi keterbatasan akses informasi dan layanan. Melalui hibah pengabdian kepada masyarakat, Program EMAS ZEST (Empowering Mothers and Society for Zero Stunting) hadir sebagai upaya nyata untuk menjawab tantangan tersebut langsung dari akar permasalahan, yaitu di tingkat desa.

Program EMAS ZEST dilaksanakan di Kalurahan Guwosari, Kabupaten Bantul, yang merupakan salah satu lokus prioritas penanganan stunting. Wilayah ini memiliki potensi kader posyandu yang aktif dan dukungan pemerintah desa yang kuat, namun masih menghadapi keterbatasan kapasitas kader, rendahnya partisipasi ibu hamil, serta belum optimalnya pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber gizi keluarga. Kondisi ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak cukup hanya mengandalkan intervensi medis, tetapi memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan partisipatif.

Berangkat dari kondisi tersebut, Program EMAS ZEST dirancang dengan pendekatan Integrasi Layanan Primer (ILP) yang memadukan edukasi kesehatan ibu hamil, pemberdayaan kader posyandu, penguatan literasi kesehatan, serta inovasi ketahanan pangan keluarga. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada perubahan perilaku dan kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatan ibu dan anak sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Kegiatan utama program meliputi pelatihan dan pendampingan kader posyandu serta ibu hamil, yang dilaksanakan melalui workshop, praktik lapangan, simulasi, dan diskusi kelompok terarah. Kader dibekali pemahaman tentang alur Posyandu ILP, komunikasi efektif, dan konseling gizi ibu hamil, sementara ibu hamil didampingi untuk memahami pentingnya gizi seimbang, pemantauan kesehatan kehamilan, serta pengelolaan stres. Untuk mendukung proses pembelajaran, tim pengabdian juga mengembangkan berbagai media inovatif, seperti Modul Pelatihan ILP, Kartu Pintar Pemantau Gizi Ibu Hamil, EMAS ZEST Kit, serta media digital berbasis website.

Salah satu inovasi yang menjadi daya tarik program ini adalah penerapan aquaponik ember “KITA PANEN” sebagai solusi ketahanan pangan keluarga. Melalui sistem sederhana ini, ibu hamil dan keluarga diajak memanfaatkan lahan terbatas untuk menanam sayuran dan memelihara ikan, sehingga kebutuhan pangan bergizi dapat dipenuhi secara mandiri. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan ketersediaan pangan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan partisipasi aktif keluarga dalam upaya pencegahan stunting.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Program EMAS ZEST memberikan dampak positif yang signifikan. Pengetahuan kader dan ibu hamil meningkat secara nyata, dengan kenaikan skor pengetahuan rata-rata sebesar 28,5% setelah pelatihan. Selain itu, keterampilan kader dalam pelaksanaan layanan Posyandu ILP berada pada kategori baik hingga sangat baik, terutama pada aspek sikap pelayanan dan koordinasi tim. Ibu hamil juga menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi terhadap layanan posyandu serta mulai aktif memanfaatkan aquaponik ember sebagai sumber pangan keluarga.

Lebih dari sekadar peningkatan angka, program ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah kunci utama pencegahan stunting yang berkelanjutan. Ketika kader merasa mampu dan percaya diri, serta ibu hamil merasa didampingi dan didukung, perubahan perilaku kesehatan menjadi lebih mungkin terjadi. Program EMAS ZEST membuktikan bahwa integrasi ilmu pengetahuan, inovasi teknologi sederhana, dan partisipasi masyarakat dapat menghasilkan dampak nyata di tingkat komunitas.

Ke depan, Program EMAS ZEST diharapkan dapat menjadi model pengabdian masyarakat yang dapat direplikasi di wilayah lain, khususnya dalam mendukung pencapaian target nasional penurunan stunting dan visi Generasi Emas Indonesia 2045. Pencegahan stunting bukan hanya tentang memperbaiki gizi anak, tetapi tentang membangun sistem pendukung yang kuat bagi ibu, keluarga, dan komunitas sejak awal kehidupan.

Sebagai penutup, satu pesan penting yang ingin disampaikan melalui program ini adalah bahwa desa memiliki kekuatan besar untuk melindungi generasi masa depan. Dengan kader yang berdaya, ibu hamil yang teredukasi, dan keluarga yang mandiri pangan, upaya pencegahan stunting bukan lagi sekadar program, tetapi menjadi gerakan bersama.

Key Word: Prodi Pendidikan Profesi Ners Terbaik di Jogja; Program EMAS ZEST; Pengabdian Masyarakat; Pencegahan Stunting; Pemberdayaan Kader; Posyandu ILP; Ketahanan Pangan Keluarga