Penulis : Yeni Hendriyanti
“Pernikahan adalah awal cerita, prakonsepsi adalah persiapan untuk generasi masa depan.”
Menjelang Lebaran, suasana Indonesia selalu berubah menjadi lebih hidup. Terminal dan bandara dipenuhi pemudik, pusat perbelanjaan ramai, dan rumah-rumah mulai dipenuhi aroma kue kering khas hari raya. Lebaran memang bukan sekadar hari besar keagamaan, tetapi juga momen berkumpulnya keluarga dari berbagai penjuru. Namun bagi sebagian orang, Lebaran juga memiliki makna lain: musim pernikahan.
Tidak sedikit pasangan yang memilih menikah setelah Lebaran. Alasannya sederhana keluarga besar sedang berkumpul, suasana penuh kebahagiaan, dan dianggap sebagai waktu yang baik untuk memulai kehidupan baru. Bahkan di beberapa daerah, jadwal gedung pernikahan setelah Lebaran sering kali sudah penuh jauh-jauh hari.
Persiapan pernikahan biasanya dilakukan dengan sangat matang. Calon pengantin sibuk memilih gedung, menentukan konsep dekorasi, mencoba busana pengantin, hingga mempersiapkan foto prewedding yang sempurna untuk diunggah ke media sosial.
Namun di tengah semua kesibukan tersebut, ada satu hal penting yang sering terlewat: persiapan kesehatan sebelum kehamilan. Padahal bagi pasangan yang ingin memiliki anak, persiapan ini sama pentingnya dengan memilih dekorasi pelaminan.
Pernikahan Bukan Hanya Tentang Pesta
Banyak orang memandang pernikahan sebagai puncak kebahagiaan. Tidak salah. Namun sebenarnya, pernikahan adalah titik awal perjalanan panjang membangun keluarga. Di balik pesta yang meriah, ada tanggung jawab baru yang menanti: menjadi pasangan, menjadi orang tua, dan membangun generasi masa depan.
Sayangnya, masih banyak pasangan yang baru memikirkan kesehatan reproduksi ketika kehamilan sudah terjadi. Padahal menurut para ahli kesehatan, justru masa sebelum kehamilan adalah waktu terbaik untuk mempersiapkan kesehatan ibu dan bayi. Di sinilah pentingnya konsep yang disebut prakonsepsi.
Apa Itu Prakonsepsi?
Prakonsepsi adalah periode sebelum terjadinya kehamilan yang bertujuan mempersiapkan kondisi kesehatan perempuan dan pasangan agar siap menghadapi kehamilan yang sehat (World Health Organization, 2013). Di Indonesia prakonsepsi telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 21 Tahun 2021 yang mengatur Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan, Pelayanan Kontrasepsi, serta Pelayanan Kesehatan Seksual.
Sederhananya, prakonsepsi adalah fase persiapan sebelum memiliki anak. Pada masa ini, pasangan dapat melakukan berbagai langkah penting seperti:pPemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan kadar hemoglobin untuk mendeteksi anemia, skrining penyakit menular, konsultasi gizi, konsumsi asam folat, konseling kesehatan reproduksi Langkah-langkah ini penting karena kondisi kesehatan sebelum hamil sangat mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi di masa kehamilan. Penelitian menunjukkan bahwa perawatan prakonsepsi dapat membantu menurunkan risiko komplikasi kehamilan, kelahiran prematur, bayi berat lahir rendah, serta beberapa kelainan bawaan pada bayi (Dean et al., 2014).
Dengan kata lain, kesehatan generasi masa depan sebenarnya mulai dipersiapkan bahkan sebelum kehamilan terjadi.
Tantangan Prakonsepsi di Indonesia
Di Indonesia, layanan prakonsepsi sebenarnya sudah tersedia di berbagai fasilitas kesehatan seperti puskesmas, klinik, maupun rumah sakit. Salah satu bentuknya adalah pemeriksaan kesehatan calon pengantin (catin). Namun kenyataannya, pemanfaatan layanan ini masih belum optimal. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2023 terdapat sekitar 1,57 juta pernikahan di Indonesia. Namun jumlah perempuan yang mengikuti layanan prakonsepsi masih jauh lebih kecil dibandingkan angka tersebut (BPS, 2023).
Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat tentang pentingnya persiapan kesehatan sebelum kehamilan masih perlu ditingkatkan. Banyak pasangan yang beranggapan bahwa pemeriksaan kesehatan baru diperlukan ketika seseorang sudah hamil. Padahal justru masa sebelum hamil adalah waktu paling efektif untuk melakukan pencegahan masalah kesehatan.
Mengapa Persiapan Ini Penting?
Ada banyak faktor yang sebenarnya sudah dapat dikenali sebelum kehamilan terjadi, misalnya: kekurangan zat besi yang dapat menyebabkan anemia, kekurangan asam folat yang meningkatkan risiko kelainan tabung saraf pada bayi, penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi, pola makan yang tidak seimbang. Jika kondisi tersebut diketahui sejak awal, maka tenaga kesehatan dapat membantu melakukan intervensi sebelum kehamilan terjadi. Hasilnya bukan hanya kesehatan ibu yang lebih baik, tetapi juga peluang melahirkan bayi yang sehat menjadi lebih besar. Karena itu, prakonsepsi sering disebut sebagai investasi kesehatan bagi generasi masa depan.
Peran Kampus dan Tenaga Kesehatan
Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya prakonsepsi tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Perguruan tinggi, terutama di bidang kesehatan, memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga. Melalui penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat, kampus dapat membantu menyebarkan informasi yang benar mengenai kesiapan kehamilan.
Pemerintah juga berperan melalui berbagai program kesehatan ibu dan anak, termasuk layanan pemeriksaan kesehatan calon pengantin di fasilitas kesehatan. Di sisi lain, keluarga dan masyarakat juga memiliki pengaruh besar dalam membangun kesadaran tentang pentingnya merencanakan keluarga yang sehat. Ketika semua pihak bekerja bersama, maka pemahaman tentang prakonsepsi dapat meningkat secara signifikan.
Lebaran: Waktu yang Tepat untuk Memulai Percakapan
Lebaran adalah momen berkumpulnya keluarga. Selain menjadi waktu untuk saling memaafkan, momen ini juga dapat menjadi kesempatan untuk membuka percakapan tentang hal-hal penting dalam kehidupan, termasuk kesehatan keluarga.
Bagi pasangan yang sedang merencanakan pernikahan setelah Lebaran, mungkin ini saat yang tepat untuk menambahkan satu hal dalam daftar persiapan: memeriksakan kesehatan sebelum kehamilan. Karena pada akhirnya, pernikahan bukan hanya tentang hari bahagia di pelaminan.
Pernikahan mungkin hanya berlangsung satu hari, tetapi kesehatan keluarga akan berlangsung seumur hidup.
Referensi :
World Health Organization. (2013). Meeting to Develop a Global Consensus on Preconception Care to Reduce Maternal and Childhood Mortality and Morbidity.
Dean, S. V., Lassi, Z. S., Imam, A. M., & Bhutta, Z. A. (2014). Preconception care: closing the gap in the continuum of care to accelerate improvements in maternal, newborn and child health. Reproductive Health, 11(Suppl 3), S1.
Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Indonesia 2023.
Ulfah, K., Ferina, F., & Sriyanti, C. (2025). Perspektif Dan Tantangan Pelayanan Prakonsepsi: Studi Kualitatif Pada Bidan Dan Pemangku Kepentingan Di Kota Bandung. Media Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan, 35(2), 574–588. https://doi.org/10.34011/jmp2k.v35i2.2767