Oleh: Dr. Anafrin Yugistyowati, Ns., M.Kep., Sp.Kep., An
Dosen Prodi Profesi Ners Universitas Alma Ata

Masalah stunting dan kesehatan gizi anak usia dini merupakan tantangan bersama yang membutuhkan tindakan nyata dari lini terkecil, yaitu keluarga dan lingkungan pengasuhan dasar. Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Alma Ata Yogyakarta bergerak meluncurkan program pemberdayaan inovatif bertajuk ASIH IBU PAUD, yang merupakan singkatan dari “Akselerasi Penurunan Stunting Melalui Intervensi Holistik Ibu Berbasis PAUD”, berlokasi di Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul. Program yang didanai oleh Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026 melalui Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat ini hadir menghadirkan secercah harapan baru bagi pencegahan stunting berbasis komunitas.

Inisiatif ini dipimpin oleh Dr. Anafrin Yugistyowati, Ns., M.Kep., Sp.Kep., An dari Prodi Pendidikan Profesi Ners, berkolaborasi dengan ahli gizi Hastrin Hositanisita, S.Gz., M.Sc dan pakar sistem informasi Tri Rochmadi, S.Kom., M.Kom serta melibatkan peran aktif para mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan Universitas Alma Ata. Dipilihnya Kalurahan Guwosari bukan tanpa alasan, sebab wilayah ini merupakan salah satu kawasan lokus prioritas penanganan stunting di Bantul yang memerlukan dorongan berupa penguatan pengetahuan gizi terstandar serta pola pengasuhan yang lebih responsif dari orang tua dan kader PAUD.

Rangkaian kegiatan dikemas secara interaktif dan menyenangkan untuk merangkul 33 peserta yang terdiri dari kelompok ibu PAUD dan ibu dengan balita setempat. Mengawali program, tim menguji tingkat pemahaman awal peserta yang saat itu mencatatkan rerata skor pengetahuan sebesar 68,7 persen, di mana mayoritas peserta masih berada pada kategori pengetahuan cukup dan kurang. Berangkat dari kondisi tersebut, intervensi holistik mulai dijalankan dengan memberikan Modul Pelatihan ASIH IBU PAUD dan Buku Panduan Responsive Feeding yang telah terlindungi Hak Cipta resmi. Ibu-ibu tidak hanya mendengarkan teori, tetapi diajak langsung mempraktikkan pengolahan bahan pangan lokal bernilai gizi tinggi melalui sesi fun cooking yang menggugah semangat.

Inovasi digital turut diperkenalkan melalui Buku Saku Digital ASIH berbasis WhatsApp Group. Teknologi ini menjadi instrumen praktis yang memudahkan ibu mencatat tumbuh kembang anak secara mandiri dari layar ponsel mereka. Jika pada awal program keterampilan digital peserta hanya berada di angka 46,15 persen dan didominasi kategori kurang, pemanfaatan sistem WhatsApp ini berhasil membawa transformasi dramatis. Hasil evaluasi akhir mencatat tingkat kemandirian digital peserta meningkat pesat mencapai 83,55 persen, tanpa ada lagi peserta yang berada pada kategori kurang.

Tidak berhenti pada edukasi digital dan kuliner, program ini menjamin ketahanan pangan keluarga secara konkrit dan berkelanjutan. Tim menyalurkan bantuan PAUD Kit ASIH-Grow yang dilengkapi fasilitas pendukung berupa instalasi Kandang Telur ASIH dan Kebun Daun ASIH vertikultur. Sebanyak 18 unit instalasi ayam petelur dan tanaman sayuran organik kini menghiasi pekarangan rumah tangga peserta, membuat seratus persen mitra sasaran memiliki akses mandiri terhadap telur segar dan sayuran kaya vitamin tanpa perlu bergantung sepenuhnya pada bahan belanjaan pasar.

Dampak keseluruhan dari intervensi holistik ini mencatatkan angka yang sangat menginspirasi. Pemahaman ibu-ibu Guwosari mengenai gizi dan pola asuh meningkat sebesar 30,13 persen dengan rata-rata skor akhir mencapai 89,4 persen, yang menempatkan seratus persen peserta berada pada kategori pengetahuan baik dan sangat baik. Keberhasilan di lapangan ini makin disempurnakan dengan terbitnya tiga Hak Cipta HKI, publikasi di media massa nasional, karya video edukasi di YouTube, hingga rekognisi 6 SKS MBKM bagi mahasiswa yang berdedikasi mendampingi masyarakat.

Apresiasi tinggi datang dari Lurah Guwosari Bapak Masduki Rahmad, SIP yang menggarisbawahi pentingnya pencegahan stunting dari rumah tangga. Sementara itu, Dr. Anafrin Yugistyowati, Ns., M.Kep., Sp.Kep., An menegaskan bahwa kolaborasi erat antara kampus, pemerintah kalurahan, puskesmas, dan masyarakat ini merupakan bukti bahwa stunting dapat diatasi dengan pendekatan yang ramah, inovatif, dan berorientasi kemandirian. Model ASIH IBU PAUD kini siap dijadikan contoh praktik baik yang dapat direplikasi di wilayah lain demi mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan bebas stunting.

Key Word: Prodi Pendidikan Profesi Ners Terbaik di Jogja; Stunting; PKM Universitas Alma Ata; ASIH IBU PAUD; Pengabdian Masyarakat Alma Ata; Penurunan Stunting Bantul