Oleh: Brune Indah Yulitasari, S.Kep., Ns., MNS

Kesepian dan depresi ternyata tidak hanya menjadi persoalan anak muda. Lansia juga dapat mengalaminya, dan kondisi tersebut berkaitan dengan kualitas hidup mereka. Lalu, apa yang bisa dilakukan Gen Z? Bagi generasi Z, kehidupan sehari-hari mungkin terasa sangat sibuk. Kuliah, pekerjaan, organisasi, pertemanan, hingga scrolling media sosial bisa membuat waktu berjalan begitu cepat. Tanpa disadari, ada orang-orang terdekat yang mungkin jarang kita tanyakan kabarnya—termasuk orang tua, kakek, dan nenek. Padahal, perhatian sederhana dari keluarga bisa menjadi sesuatu yang berarti bagi lansia.

Sebuah penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sleman, Yogyakarta, terhadap 192 lansia penderita hipertensi dan diabetes melitus menunjukkan adanya hubungan antara kesepian dan depresi dengan kualitas hidup lansia. Hasilnya cukup menarik. Sebanyak 58,9% lansia berada pada kategori kesepian rendah, sedangkan 39,1% berada pada kategori tidak kesepian. Meskipun sebagian besar berada pada tingkat rendah, tetap terdapat lansia yang mengalami kesepian sedang hingga tinggi.

Yang perlu dipahami, kesepian tidak selalu berarti seseorang tinggal sendirian. Seorang lansia bisa saja tinggal bersama keluarga, tetapi tetap merasa kesepian apabila jarang diajak berbicara, tidak dilibatkan dalam aktivitas keluarga, atau merasa tidak memiliki tempat untuk berbagi cerita.

Penelitian menemukan hubungan negatif yang bermakna antara kesepian dan kualitas hidup (r = -0,418; p < 0,001). Sederhananya, semakin tinggi tingkat kesepian yang dirasakan lansia, semakin rendah kualitas hidupnya.

Depresi juga perlu diperhatikan

Hal serupa ditemukan pada kondisi depresi. Sebagian besar responden memang berada dalam kategori normal, yaitu 82,3%. Namun, 13,5% mengalami depresi ringan, 2,6% depresi sedang, dan 1,5% depresi berat.

Depresi juga memiliki hubungan negatif yang bermakna dengan kualitas hidup (r = -0,464; p < 0,001). Hubungan ini sedikit lebih kuat dibandingkan hubungan kesepian dengan kualitas hidup.

Artinya, kondisi psikologis lansia tidak boleh dianggap sepele.

Kadang-kadang, tanda-tandanya tidak terlihat jelas. Lansia mungkin lebih banyak diam, kehilangan minat melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai, jarang berinteraksi, atau mengatakan bahwa dirinya tidak ingin merepotkan keluarga.

Kalimat seperti “Aku nggak apa-apa” juga tidak selalu berarti semuanya benar-benar baik-baik saja.

Gen Z bisa melakukan apa?

Kabar baiknya, membantu lansia tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar.

Pertama, mulai dari komunikasi sederhana. Kirim pesan WhatsApp, telepon, atau lakukan video call. Pertanyaan seperti “Mbah lagi apa?”, “Sudah makan?”, atau “Hari ini kegiatannya apa?” dapat membuka ruang percakapan.

Kedua, luangkan waktu untuk hadir. Tidak harus berjam-jam. Duduk bersama sambil minum teh, menemani berjalan pagi, atau sekadar mendengarkan cerita mereka sudah merupakan bentuk perhatian.

Ketiga, libatkan lansia dalam aktivitas. Ajak mereka mengikuti kegiatan keluarga, kegiatan sosial, olahraga ringan, kegiatan keagamaan, atau aktivitas produktif sesuai kemampuan dan minat mereka. Merasa masih dilibatkan dan dibutuhkan dapat membuat lansia memiliki kesempatan untuk tetap aktif secara sosial.

Keempat, jangan hanya bertanya tentang kesehatan fisik. Sesekali tanyakan juga, “Belakangan ini Ibu/Bapak merasa kesepian nggak?” atau “Ada yang sedang dipikirkan?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat membuka percakapan tentang kondisi emosional yang mungkin selama ini mereka simpan. Yang juga penting, jangan menunggu sampai lansia meminta perhatian. Banyak lansia tidak ingin merepotkan anak atau cucunya sehingga memilih diam ketika membutuhkan teman berbicara.

Hadir ternyata punya arti besar Penelitian ini memang tidak membuktikan bahwa kesepian atau depresi secara langsung menyebabkan rendahnya kualitas hidup karena penelitian menggunakan desain cross-sectional. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa kondisi psikologis dan kualitas hidup lansia saling berkaitan dan layak mendapatkan perhatian.

Kualitas hidup lansia bukan hanya soal bebas dari penyakit. Ada aspek fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan yang ikut berperan. Karena itu, perhatian kepada lansia seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Keluarga dan generasi muda juga memiliki peran penting.

Bagi Gen Z, mungkin perhatian itu terlihat kecil. Hanya sebuah telepon. Sebuah kunjungan. Atau sekadar duduk dan mendengarkan cerita yang mungkin sudah pernah kita dengar berkali-kali. Tetapi bagi seorang lansia, perhatian tersebut bisa menjadi pesan sederhana bahwa mereka masih dianggap penting, masih didengar, dan masih menjadi bagian dari kehidupan kita. Jadi, kalau hari ini kamu belum menghubungi orang tua atau kakek-nenekmu, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengirim satu pesan:

“Lagi apa? Aku kangen.” ❤️