Pentingnya Perhatian terhadap Kesehatan Mental Ibu Postpartum dalam Praktik Keperawatan Maternitas

Pentingnya Perhatian terhadap Kesehatan Mental Ibu Postpartum dalam Praktik Keperawatan Maternitas

Penulis : Ika Mustika Dewi

Kesehatan mental ibu setelah melahirkan merupakan salah satu isu penting dalam bidang keperawatan maternitas yang semakin mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Masa postpartum merupakan periode transisi yang kompleks bagi seorang ibu, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Perubahan hormonal, tuntutan peran baru sebagai ibu, kelelahan akibat proses persalinan, serta tanggung jawab dalam merawat bayi dapat memengaruhi kondisi emosional ibu. Apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius. Oleh karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental ibu postpartum menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan maternal.

Gangguan kesehatan mental pada ibu postpartum dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari postpartum blues, depresi postpartum, hingga psikosis postpartum. Postpartum blues merupakan kondisi yang paling umum terjadi dan biasanya muncul pada beberapa hari pertama setelah persalinan. Gejalanya meliputi perasaan sedih, mudah menangis, perubahan suasana hati, kecemasan, dan kelelahan emosional. Meskipun kondisi ini umumnya bersifat sementara dan dapat membaik dalam waktu dua minggu, postpartum blues tetap memerlukan perhatian karena dapat berkembang menjadi depresi postpartum apabila tidak mendapatkan dukungan yang memadai.

Depresi postpartum merupakan gangguan yang lebih serius dan dapat berdampak signifikan terhadap kesejahteraan ibu dan bayi. Ibu yang mengalami depresi postpartum sering menunjukkan gejala seperti perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, gangguan tidur, kelelahan berlebihan, serta perasaan tidak mampu merawat bayi dengan baik. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan ibu, tetapi juga dapat berdampak pada perkembangan emosional dan kognitif bayi. Penelitian menunjukkan bahwa bayi dari ibu yang mengalami depresi postpartum berisiko mengalami gangguan perkembangan, keterikatan yang kurang optimal, serta masalah perilaku di kemudian hari.

Selain faktor biologis, berbagai faktor psikososial juga berperan dalam munculnya gangguan kesehatan mental postpartum. Kurangnya dukungan sosial dari pasangan atau keluarga, tekanan ekonomi, pengalaman persalinan yang traumatis, serta riwayat gangguan mental sebelumnya dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi postpartum. Dalam beberapa kasus, ibu juga dapat mengalami perasaan terisolasi atau tidak percaya diri dalam menjalankan peran barunya sebagai seorang ibu. Kondisi ini menegaskan pentingnya pendekatan yang komprehensif dalam mendukung kesehatan mental ibu setelah melahirkan.

Perawat maternitas memiliki peran yang sangat penting dalam mendeteksi dan menangani masalah kesehatan mental pada ibu postpartum. Sebagai tenaga kesehatan yang memiliki kontak langsung dan berkelanjutan dengan ibu selama masa perawatan, perawat dapat melakukan skrining dini terhadap gejala gangguan mental postpartum. Penggunaan instrumen skrining seperti kuesioner depresi postpartum dapat membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi ibu yang berisiko mengalami gangguan psikologis. Dengan deteksi dini, intervensi yang tepat dapat segera diberikan untuk mencegah kondisi yang lebih berat.

Selain melakukan skrining, perawat juga berperan dalam memberikan edukasi kepada ibu dan keluarga mengenai perubahan emosional yang mungkin terjadi setelah persalinan. Edukasi ini penting untuk meningkatkan pemahaman keluarga sehingga mereka dapat memberikan dukungan yang lebih optimal kepada ibu. Dukungan emosional dari pasangan dan keluarga terbukti menjadi faktor protektif yang dapat membantu ibu melewati masa postpartum dengan lebih baik.

Pendekatan keperawatan yang berfokus pada keluarga (family-centered care) juga sangat penting dalam mendukung kesehatan mental ibu postpartum. Melibatkan pasangan dan anggota keluarga lainnya dalam proses perawatan dapat meningkatkan rasa aman dan kepercayaan diri ibu dalam merawat bayinya. Selain itu, dukungan sosial yang kuat dapat mengurangi perasaan stres dan kecemasan yang sering dialami oleh ibu baru.

Perkembangan teknologi kesehatan juga membuka peluang baru dalam upaya pemantauan kesehatan mental ibu postpartum. Layanan telehealth dan aplikasi kesehatan digital kini mulai digunakan untuk memberikan konseling psikologis serta edukasi kesehatan kepada ibu setelah melahirkan. Inovasi ini memungkinkan ibu untuk mendapatkan dukungan profesional tanpa harus selalu datang ke fasilitas kesehatan, sehingga akses terhadap layanan kesehatan mental menjadi lebih mudah.

Secara keseluruhan, kesehatan mental ibu postpartum merupakan aspek penting yang tidak dapat dipisahkan dari pelayanan kesehatan maternal. Perhatian terhadap kondisi psikologis ibu setelah melahirkan dapat membantu mencegah terjadinya gangguan mental yang lebih serius serta mendukung kesejahteraan ibu dan bayi. Oleh karena itu, tenaga kesehatan khususnya perawat maternitas perlu meningkatkan peran dalam deteksi dini, edukasi, serta pemberian dukungan psikososial kepada ibu postpartum agar proses adaptasi menjadi seorang ibu dapat berlangsung secara optimal.

Kata kunci: kesehatan mental ibu, postpartum, depresi postpartum, keperawatan maternitas, dukungan keluarga.

Lebaran, Musim Menikah: Sudah Siapkah Menjadi Orang Tua Sehat?

Lebaran, Musim Menikah: Sudah Siapkah Menjadi Orang Tua Sehat?

Penulis : Yeni Hendriyanti

Pernikahan adalah awal cerita, prakonsepsi adalah persiapan untuk generasi masa depan.”

Menjelang Lebaran, suasana Indonesia selalu berubah menjadi lebih hidup. Terminal dan bandara dipenuhi pemudik, pusat perbelanjaan ramai, dan rumah-rumah mulai dipenuhi aroma kue kering khas hari raya. Lebaran memang bukan sekadar hari besar keagamaan, tetapi juga momen berkumpulnya keluarga dari berbagai penjuru. Namun bagi sebagian orang, Lebaran juga memiliki makna lain: musim pernikahan.

Tidak sedikit pasangan yang memilih menikah setelah Lebaran. Alasannya sederhana keluarga besar sedang berkumpul, suasana penuh kebahagiaan, dan dianggap sebagai waktu yang baik untuk memulai kehidupan baru. Bahkan di beberapa daerah, jadwal gedung pernikahan setelah Lebaran sering kali sudah penuh jauh-jauh hari.

Persiapan pernikahan biasanya dilakukan dengan sangat matang. Calon pengantin sibuk memilih gedung, menentukan konsep dekorasi, mencoba busana pengantin, hingga mempersiapkan foto prewedding yang sempurna untuk diunggah ke media sosial.

Namun di tengah semua kesibukan tersebut, ada satu hal penting yang sering terlewat: persiapan kesehatan sebelum kehamilan. Padahal bagi pasangan yang ingin memiliki anak, persiapan ini sama pentingnya dengan memilih dekorasi pelaminan.

Pernikahan Bukan Hanya Tentang Pesta

Banyak orang memandang pernikahan sebagai puncak kebahagiaan. Tidak salah. Namun sebenarnya, pernikahan adalah titik awal perjalanan panjang membangun keluarga. Di balik pesta yang meriah, ada tanggung jawab baru yang menanti: menjadi pasangan, menjadi orang tua, dan membangun generasi masa depan.

Sayangnya, masih banyak pasangan yang baru memikirkan kesehatan reproduksi ketika kehamilan sudah terjadi. Padahal menurut para ahli kesehatan, justru masa sebelum kehamilan adalah waktu terbaik untuk mempersiapkan kesehatan ibu dan bayi. Di sinilah pentingnya konsep yang disebut prakonsepsi.

Apa Itu Prakonsepsi?

Prakonsepsi adalah periode sebelum terjadinya kehamilan yang bertujuan mempersiapkan kondisi kesehatan perempuan dan pasangan agar siap menghadapi kehamilan yang sehat (World Health Organization, 2013). Di Indonesia prakonsepsi telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 21 Tahun 2021 yang mengatur Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan, Pelayanan Kontrasepsi, serta Pelayanan Kesehatan Seksual.

Sederhananya, prakonsepsi adalah fase persiapan sebelum memiliki anak. Pada masa ini, pasangan dapat melakukan berbagai langkah penting seperti:pPemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan kadar hemoglobin untuk mendeteksi anemia, skrining penyakit menular, konsultasi gizi, konsumsi asam folat, konseling kesehatan reproduksi Langkah-langkah ini penting karena kondisi kesehatan sebelum hamil sangat mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi di masa kehamilan. Penelitian menunjukkan bahwa perawatan prakonsepsi dapat membantu menurunkan risiko komplikasi kehamilan, kelahiran prematur, bayi berat lahir rendah, serta beberapa kelainan bawaan pada bayi (Dean et al., 2014).

Dengan kata lain, kesehatan generasi masa depan sebenarnya mulai dipersiapkan bahkan sebelum kehamilan terjadi.

Tantangan Prakonsepsi di Indonesia

Di Indonesia, layanan prakonsepsi sebenarnya sudah tersedia di berbagai fasilitas kesehatan seperti puskesmas, klinik, maupun rumah sakit. Salah satu bentuknya adalah pemeriksaan kesehatan calon pengantin (catin). Namun kenyataannya, pemanfaatan layanan ini masih belum optimal. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2023 terdapat sekitar 1,57 juta pernikahan di Indonesia. Namun jumlah perempuan yang mengikuti layanan prakonsepsi masih jauh lebih kecil dibandingkan angka tersebut (BPS, 2023).

Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat tentang pentingnya persiapan kesehatan sebelum kehamilan masih perlu ditingkatkan. Banyak pasangan yang beranggapan bahwa pemeriksaan kesehatan baru diperlukan ketika seseorang sudah hamil. Padahal justru masa sebelum hamil adalah waktu paling efektif untuk melakukan pencegahan masalah kesehatan.

Mengapa Persiapan Ini Penting?

Ada banyak faktor yang sebenarnya sudah dapat dikenali sebelum kehamilan terjadi, misalnya: kekurangan zat besi yang dapat menyebabkan anemia, kekurangan asam folat yang meningkatkan risiko kelainan tabung saraf pada bayi, penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi, pola makan yang tidak seimbang.  Jika kondisi tersebut diketahui sejak awal, maka tenaga kesehatan dapat membantu melakukan intervensi sebelum kehamilan terjadi. Hasilnya bukan hanya kesehatan ibu yang lebih baik, tetapi juga peluang melahirkan bayi yang sehat menjadi lebih besar. Karena itu, prakonsepsi sering disebut sebagai investasi kesehatan bagi generasi masa depan.

Peran Kampus dan Tenaga Kesehatan

Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya prakonsepsi tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Perguruan tinggi, terutama di bidang kesehatan, memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga. Melalui penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat, kampus dapat membantu menyebarkan informasi yang benar mengenai kesiapan kehamilan.

Pemerintah juga berperan melalui berbagai program kesehatan ibu dan anak, termasuk layanan pemeriksaan kesehatan calon pengantin di fasilitas kesehatan. Di sisi lain, keluarga dan masyarakat juga memiliki pengaruh besar dalam membangun kesadaran tentang pentingnya merencanakan keluarga yang sehat. Ketika semua pihak bekerja bersama, maka pemahaman tentang prakonsepsi dapat meningkat secara signifikan.

Lebaran: Waktu yang Tepat untuk Memulai Percakapan

Lebaran adalah momen berkumpulnya keluarga. Selain menjadi waktu untuk saling memaafkan, momen ini juga dapat menjadi kesempatan untuk membuka percakapan tentang hal-hal penting dalam kehidupan, termasuk kesehatan keluarga.

Bagi pasangan yang sedang merencanakan pernikahan setelah Lebaran, mungkin ini saat yang tepat untuk menambahkan satu hal dalam daftar persiapan: memeriksakan kesehatan sebelum kehamilan. Karena pada akhirnya, pernikahan bukan hanya tentang hari bahagia di pelaminan.

Pernikahan mungkin hanya berlangsung satu hari, tetapi kesehatan keluarga akan berlangsung seumur hidup.

Referensi :

World Health Organization. (2013). Meeting to Develop a Global Consensus on Preconception Care to Reduce Maternal and Childhood Mortality and Morbidity.

Dean, S. V., Lassi, Z. S., Imam, A. M., & Bhutta, Z. A. (2014). Preconception care: closing the gap in the continuum of care to accelerate improvements in maternal, newborn and child health. Reproductive Health, 11(Suppl 3), S1.

Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Indonesia 2023.

Ulfah, K., Ferina, F., & Sriyanti, C. (2025). Perspektif Dan Tantangan Pelayanan Prakonsepsi: Studi Kualitatif Pada Bidan Dan Pemangku Kepentingan Di Kota Bandung. Media Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan, 35(2), 574–588. https://doi.org/10.34011/jmp2k.v35i2.2767

Sering Cemas Tanpa Sebab? Kenali Anxiety dan Cara Mengatasinya dengan Hipnoterapi

Sering Cemas Tanpa Sebab? Kenali Anxiety dan Cara Mengatasinya dengan Hipnoterapi

Oleh: Imam Akbar

Key Word : Prodi Keperawatan Unggul di Jogja; Anxiety; Kesehatan Jiwa; Keperawatan UAA

Bayangkan Anda sedang berdiri di depan kelas atau ruang seminar. Semua mata tertuju pada Anda. Tiba-tiba jantung berdetak lebih cepat, telapak tangan berkeringat, dan pikiran terasa kosong. Atau mungkin Anda pernah merasakan kecemasan yang muncul tiba-tiba tanpa alasan yang jelas seolah ada sesuatu yang tidak beres, padahal sebenarnya tidak ada masalah besar yang sedang terjadi. Jika Anda pernah mengalami hal tersebut, Anda tidak sendirian. Bisa jadi itu adalah anxiety atau gangguan kecemasan.

Di era yang serba cepat seperti sekarang, rasa cemas menjadi pengalaman yang semakin sering dirasakan, terutama oleh remaja dan mahasiswa yang menghadapi berbagai tekanan akademik, sosial, dan kehidupan sehari-hari.

Mengenal Anxiety Lebih Dekat

Secara sederhana, anxiety atau gangguan kecemasan merupakan kondisi psikologis ketika seseorang merasakan kekhawatiran atau ketakutan berlebihan. Biasanya kondisi ini muncul sebagai respon terhadap stres. Namun pada beberapa orang, rasa cemas bisa muncul tanpa pemicu yang jelas dan terjadi secara berulang. Ketika hal ini berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut dapat dikategorikan sebagai gangguan kecemasan.

Berdasarkan data I-NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey) 2022, gangguan kecemasan merupakan masalah kesehatan mental yang paling sering dialami remaja usia 10–17 tahun di Indonesia, dengan prevalensi sebanyak 2,45 juta sekitar 3,7%.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan beberapa gangguan mental lainnya seperti depresi mayor (1,0%), gangguan perilaku (0,9%), serta PTSD dan ADHD yang masing-masing sekitar 0,5%.

Hal ini menunjukkan bahwa anxiety merupakan masalah kesehatan mental yang cukup umum terjadi, namun masih sering dianggap sepele.

Tanda-Tanda Anxiety yang Perlu Diwaspadai

Gangguan kecemasan tidak hanya mempengaruhi pikiran, tetapi juga kondisi fisik seseorang. Gejala Mental dan Emosional Beberapa tanda yang sering muncul antara lain adalah Sulit berkonsentrasi, Emosi terasa sulit dikendalikan, Mudah merasa lelah, Perasaan gugup atau panik yang muncul tiba-tiba.

Selain itu, anxiety juga dapat memunculkan gejala fisik seperti Sakit kepala dan napas terasa pendek, Detak jantung lebih cepat, Tubuh gemetar, Berkeringat berlebihan, Sulit tidur dan Nafsu makan menurun.

Jenis-Jenis Gangguan Anxiety

Tidak semua kecemasan memiliki bentuk yang sama. Dalam dunia kesehatan mental, anxiety memiliki beberapa jenis yang cukup umum ditemukan.

OCD (Obsessive-Compulsive Disorder)

OCD ditandai dengan munculnya pikiran obsesif yang berulang, yang membuat seseorang merasa cemas atau tidak nyaman. Untuk meredakan kecemasan tersebut, penderita biasanya melakukan tindakan tertentu secara berulang.

Contohnya, seseorang merasa harus memeriksa kunci pintu berkali-kali sebelum keluar rumah karena takut terjadi sesuatu yang buruk.

Gangguan Panik

Gangguan ini ditandai dengan serangan panik yang muncul secara tiba-tiba, bahkan tanpa pemicu yang jelas. Gejalanya dapat berupa:

  • Detak jantung sangat cepat
  • Sesak napas
  • Keringat dingin
  • Gemetar
  • Mual

Karena sifatnya yang tidak terduga, penderita sering kali menjadi takut berada di tempat umum.

PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder)

PTSD muncul setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis, seperti kecelakaan, bencana alam, kekerasan, atau kehilangan orang terdekat. Orang dengan PTSD sering mengalami:

  • Kilas balik kejadian traumatis
  • Mimpi buruk
  • Kecemasan berlebihan
  • Sulit tidur
  • Mudah marah

Fobia

Fobia merupakan ketakutan yang sangat kuat terhadap objek atau situasi tertentu, meskipun sebenarnya tidak berbahaya. Salah satu contohnya adalah megalofobia, yaitu ketakutan terhadap benda berukuran sangat besar seperti gedung tinggi, patung raksasa, atau kapal besar.

Generalized Anxiety Disorder (GAD)

GAD adalah kondisi ketika seseorang merasa khawatir berlebihan terhadap berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, seperti pekerjaan, kesehatan, atau kondisi keuangan. Kecemasan ini biasanya berlangsung lama dan sulit dikendalikan, bahkan ketika tidak ada alasan yang jelas untuk merasa khawatir.

Cara Sederhana Mengurangi Anxiety

Ketika rasa cemas mulai muncul, ada beberapa langkah sederhana yang bisa membantu menguranginya adalah Mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, Melakukan teknik relaksasi seperti meditasi atau yoga, Tidur dan beristirahat dengan cukup, Berolahraga secara rutin dan Berbagi cerita dengan teman atau orang yang dipercaya. Meskipun demikian, jika kecemasan sudah terasa berat, bantuan profesional tetap diperlukan.

Hipnoterapi: Alternatif Pendekatan untuk Mengatasi Anxiety

Salah satu metode yang mulai banyak digunakan untuk membantu mengatasi kecemasan adalah hipnoterapi. Hipnoterapi merupakan teknik terapi yang menggunakan hipnosis untuk membantu seseorang mengakses pikiran bawah sadar. Dalam kondisi ini, pikiran menjadi lebih fokus dan rileks sehingga individu lebih mudah menerima sugesti positif untuk mengubah pola pikir atau kebiasaan tertentu. Kondisi hipnosis sering disamakan dengan keadaan meditasi yang dalam di mana pikiran menjadi lebih tenang dan tidak mudah terganggu oleh hal-hal di sekitar. Melalui proses ini, seseorang dapat mengurangi rasa cemas, mengelola stres dengan lebih baik, meningkatkan konsentrasi, menghadapi ketakutan secara lebih tenang. Hipnoterapi biasanya digunakan sebagai terapi pendamping, yang dilakukan bersama dengan terapi psikologis atau perawatan medis lainnya.

Menjaga Kesehatan Mental Sama Pentingnya dengan Kesehatan Fisik

Kesehatan mental sering kali masih dianggap sebagai hal yang kurang penting dibandingkan kesehatan fisik. Padahal keduanya saling berkaitan dan sama-sama memengaruhi kualitas hidup seseorang. Mengenali tanda-tanda anxiety sejak dini merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental. Dengan penanganan yang tepat—baik melalui perubahan gaya hidup, dukungan sosial, maupun terapi profesional—gangguan kecemasan dapat dikelola dengan baik.

Karena pada akhirnya, pikiran yang tenang adalah kunci untuk menjalani hidup dengan lebih sehat dan seimbang.

Orang dengan Diabetes Mellitus, Bisakah Tetap Berpuasa?Panduan Edukasi Keperawatan

Orang dengan Diabetes Mellitus, Bisakah Tetap Berpuasa?Panduan Edukasi Keperawatan

Oleh: Sofyan Indrayana

Bulan suci Ramadan selalu dinantikan oleh seluruh umat Islam. Secara fisiologis, puasa dapat dikategorikan sebagai praktik Time-Restricted Eating (makan dengan waktu yang dibatasi). Pada dasarnya, tubuh manusia didesain untuk dapat menyesuaikan diri serta menjaga keseimbangan (homeostasis) baik dalam kondisi tidak berpuasa (fed) maupun saat berpuasa (fasted).

Bagi masyarakat umum yang sehat, puasa memberikan berbagai efek positif. Sebuah tinjauan literatur menunjukkan bahwa puasa Ramadan dapat menyebabkan penurunan berat badan yang moderat, menurunkan kadar kolesterol (TC, TG, dan LDL) secara signifikan pada pria, meningkatkan kolesterol baik (HDL) pada wanita, serta tidak memberikan efek buruk yang parah pada fungsi ginjal maupun sistem imun.

Namun, pertanyaannya adalah: “Apakah orang dengan Diabetes Mellitus (DM) aman untuk ikut berpuasa?” Sebagai edukator dan tenaga kesehatan di bidang keperawatan, hal ini perlu dipertimbangkan dengan saksama. Berikut uraian yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan:

Fisiologi Puasa vs Diabetes Mellitus

Pada orang yang tidak berpuasa (baru selesai makan), kadar hormon insulin akan meningkat untuk memberikan sinyal pada tubuh agar menyimpan kelebihan kalori di sel lemak, sehingga pembakaran lemak dihentikan. Sebaliknya, saat dipuasakan, hormon insulin akan menurun sementara glukagon dan hormon pertumbuhan (growth hormone) meningkat, sehingga tubuh mulai membongkar cadangan lemak untuk dibakar menjadi energi (glukoneogenesis). Pada penyandang Diabetes Mellitus terjadi penumpukan glukosa dalam darah (hiperglikemia) yang merusak sistem tubuh dan dapat bermanifestasi sebagai sering buang air kecil (poliuria), cepat lapar (polifagia), dan sering haus (polidipsia). Kondisi ini tentu membuat mekanisme adaptasi puasa pada penyandang DM berbeda dengan orang sehat.

Risiko Berpuasa bagi Penyandang DM

Bagi penyandang DM yang memaksakan diri untuk berpuasa tanpa supervisi medis, terdapat beberapa ancaman komplikasi akut yang nyata:

  • Hipoglikemia: Risiko gula darah turun drastis sangat tinggi selama jam-jam berpuasa.
  • Hiperglikemia: Biasanya terjadi karena kebiasaan makan berlebihan (balas dendam) saat jam berbuka puasa atau akibat perubahan dosis obat penurun glukosa.
  • Ketoasidosis Diabetik (KAD): Kondisi darurat ini lebih rentan terjadi pada penyandang DM Tipe 1 selama puasa.
  • Dehidrasi & Trombosis: Kurangnya asupan cairan yang diperparah dengan diuresis osmotik (banyak kencing akibat gula darah tinggi) menyebabkan penderita rentan mengalami hipovolemia (kekurangan cairan tubuh) dan peningkatan kekentalan darah yang bisa memicu penyumbatan pembuluh darah.
  • Khusus untuk lansia, risiko ditambah dengan adanya penurunan fungsi metabolisme secara umum, perubahan komposisi tubuh, serta rentan memiliki riwayat medis komorbiditas yang kompleks.

Kategori Risiko: Siapa yang Boleh Berpuasa?

Untuk menjamin keselamatan, penyandang DM diklasifikasikan ke dalam 4 tingkat risiko berdasarkan penilaian klinis:

1. Risiko Sangat Tinggi (Very High Risk) – Tidak Direkomendasikan Berpuasa

    Kategori ini berlaku jika pasien mengalami hipoglikemia berat atau berulang dalam 3 bulan terakhir, memiliki kondisi DM Tipe 1, hipoglikemia yang tidak disadari (hypoglycemia unawareness), kontrol glikemik yang buruk secara terus-menerus, pernah mengalami ketoasidosis atau koma hiperosmolar 3 bulan sebelum Ramadan, menderita penyakit akut, melakukan kerja fisik intens, atau rutin menjalani cuci darah (dialisis).

    2. Risiko Tinggi (High Risk) – Sebaiknya Tidak Berpuasa

    Termasuk pada penderita dengan hiperglikemia moderat (kadar glukosa darah rata-rata 150–300 mg/dl atau HbA1c 7.5–9.0%), memiliki insufisiensi ginjal, memiliki komplikasi makrovaskuler tahap lanjut, menderita penyakit komorbid tambahan, atau pasien yang tinggal sendirian namun rutin mendapatkan terapi insulin / sulfonilurea.

    3. Risiko Sedang (Moderate Risk)

    Diberikan kepada penyandang diabetes yang kondisinya terkontrol dengan baik dan dikelola dengan pemberian short-acting insulin.

    4. Risiko Rendah (Low Risk)

    Berlaku bagi pasien dengan diabetes terkontrol yang selama ini hanya menjalani terapi perubahan gaya hidup maupun pengobatan antidiabetes oral (bukan insulin).

    5. Rekomendasi agar Aman Selama Berpuasa

    Apabila pasien berada pada risiko rendah hingga menengah dan tetap berkomitmen untuk berpuasa, berikut pedoman yang harus diterapkan:

    • Konsultasi Pra-Ramadan: Pasien wajib memeriksakan diri ke dokter pada 6 hingga 8 minggu sebelum bulan Ramadan dimulai guna menilai tingkat risiko medis serta mengatur ulang dosis dan jadwal konsumsi obat-obatan.
    • Pemantauan Gula Darah Mandiri: Cek gula darah (Self-Monitoring of Blood Glucose) harus rutin dilakukan secara teratur. Pemantauan ini tidak membatalkan puasa.
    • Pahami Kapan Harus Membatalkan Puasa: Segera batalkan puasa apabila: Glukosa darah terdeteksi di bawah 70 mg/dl; Glukosa darah terdeteksi melonjak di atas 300 mg/dl; Timbul gejala nyata terkait hipoglikemia, hiperglikemia, dehidrasi, atau penyakit akut.
    • Aktivitas Fisik: Hindari olahraga berat saat berpuasa. Olahraga dengan intensitas ringan-sedang cukup aman jika dilakukan.
    • Pola Makan Terukur: Jaga pola makan yang wajar ketika jam buka hingga sahur, dan hindari kebiasaan makan terlalu berlebihan (over-eating), terutama sesaat setelah Ramadan berakhir maupun pada momen Hari Raya.

    Sebagai perawat dan pendidik, pendekatan individual (patient-centered care) sangat penting ditekankan. Keputusan berpuasa atau tidak harus didasarkan pada kesepakatan kolaboratif antara dokter, perawat edukator diabetes, serta pasien itu sendiri demi menghindari komplikasi yang membahayakan jiwa.

    Referensi:

    Indrayana, S. (2020). Orang Dengan Diabetes Mellitus, Bisakah Tetap Berpuasa? [Presentasi]. Seminar Kesehatan Edisi Ramadhan, Universitas Alma Ata.

    Hassanein, M., et al. (2022). Diabetes and Ramadan: Practical guidelines 2021. Diabetes Research and Clinical Practice, 185, 109185. (Panduan terbaru dan diperbarui yang menjadi standar pedoman klinis global IDF-DAR).

    PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia). Pedoman Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Individu Dewasa di Bulan Ramadan. (Pedoman standar spesifik Indonesia terbaru).

    Rouhani, M. H., & Azadbakht, L. (2014). Is Ramadan fasting related to health outcomes? A review on the related evidence. Journal of research in medical sciences: the official journal of Isfahan University of Medical Sciences, 19(10), 987–992.

    Patient Safety Culture dalam Manajemen Layanan Kesehatan Indonesia:Pilar Strategis Menuju Mutu dan Kepercayaan Publik

    Patient Safety Culture dalam Manajemen Layanan Kesehatan Indonesia:Pilar Strategis Menuju Mutu dan Kepercayaan Publik

    Penulis : Dihan Fahry Muhammad, S.Kep., Ns., MPH

    Keselamatan pasien (patient safety) merupakan fondasi utama mutu pelayanan kesehatan. Dalam dua dekade terakhir, isu keselamatan pasien berkembang dari sekadar kepatuhan prosedural menjadi indikator strategis keberhasilan tata kelola organisasi kesehatan. Memasuki periode 2026 ini, sistem kesehatan Indonesia menghadapi tantangan kompleks: transformasi digital melalui platform Satu Sehat, keberlanjutan pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), peningkatan ekspektasi masyarakat, serta tuntutan akreditasi nasional dan internasional.

    Laporan global dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa secara global, satu dari sepuluh pasien mengalami kejadian tidak diharapkan selama perawatan, dan sebagian besar kejadian tersebut sebenarnya dapat dicegah. Beberapa negara berpenghasilan menengah dan rendah, beban keselamatan pasien bahkan lebih tinggi karena keterbatasan sistem, sumber daya, dan budaya pelaporan.

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menerbitkan regulasi terkait keselamatan pasien dan mendorong penguatan sistem pelaporan insiden. Sementara itu, standar akreditasi dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) menempatkan keselamatan pasien sebagai komponen inti penilaian mutu. Namun, regulasi dan standar saja tidak cukup. Kunci keberhasilan implementasi terletak pada terbentuknya budaya keselamatan pasien (patient safety culture) dalam organisasi layanan kesehatan.

    Patient safety culture merujuk pada nilai, keyakinan, persepsi, dan pola perilaku yang dianut bersama dalam organisasi terkait keselamatan pasien. Menurut Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ), budaya keselamatan tercermin dalam komunikasi terbuka, kepemimpinan yang mendukung, kerja tim yang efektif, dan sistem pelaporan insiden tanpa hukuman (non-punitive response to error).

    Pendekatan modern keselamatan pasien mengacu pada teori system thinking yang diperkenalkan oleh James Reason melalui model “Swiss Cheese”. Model ini menekankan bahwa kesalahan bukan semata akibat kelalaian individu, melainkan hasil kegagalan sistem yang memiliki banyak celah pertahanan.

    WHO melalui Global Patient Safety Action Plan 2021-2030 menegaskan bahwa transformasi budaya organisasi merupakan pilar utama dalam menurunkan kejadian tidak diharapkan secara global. Di sisi lain, standar internasional seperti International Patient Safety Goals dari Joint Commission International (JCI) mengintegrasikan budaya keselamatan sebagai elemen strategis dalam akreditasi rumah sakit. Dengan demikian, patient safety culture bukan hanya isu klinis, tetapi isu manajerial dan kepemimpinan organisasi.

    Menurut perspektif global oleh WHO memperkirakan bahwa jutaan kejadian tidak diharapkan terjadi setiap tahun di fasilitas kesehatan dunia. Selain dampak klinis, kerugian ekonomi akibat kesalahan medis mencapai miliaran dolar setiap tahun. Organisasi seperti OECD juga melaporkan bahwa investasi pada keselamatan pasien lebih efisien dibandingkan biaya yang timbul akibat adverse events. Tren global saat ini berfokus pada beberapa hal berikut:

    1. Digitalisasi pelaporan insiden keselamatan pasien
    2. Integrasi manajemen risiko klinis
    3. Pendekatan human factors engineering
    4. Leadership accountability dalam keselamatan pasien

    Menurut perspektif di Indonesia, implementasi budaya keselamatan pasien masih menghadapi variasi kualitas antar fasilitas kesehatan. Laporan tahunan BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa peningkatan klaim dan pembiayaan kasus komplikasi seringkali berkaitan dengan mutu pelayanan dan potensi insiden klinis. Kementerian Kesehatan juga terus mendorong integrasi sistem pelaporan insiden keselamatan pasien secara nasional. Namun, beberapa studi nasional menunjukkan masih rendahnya pelaporan near miss karena adanya budaya menyalahkan (blaming culture). Periode 2026 diproyeksikan menjadi fase penting karena tuntutan transformasi budaya organisasi yang lebih kuat dan sistematis, yaitu antara lain:

    1. Integrasi sistem digital kesehatan semakin luas
    2. Penguatan layanan primer
    3. Peningkatan transparansi publik terhadap mutu layanan
    4. Reformasi pembiayaan kesehatan

    Patient safety culture merupakan pilar strategis dalam manajemen layanan kesehatan Indonesia menuju 2026. Regulasi, akreditasi, dan sistem digital hanya akan efektif jika didukung oleh transformasi budaya organisasi. Penguatan kepemimpinan, implementasi just culture, digitalisasi pelaporan, serta integrasi pendidikan keselamatan pasien dalam kurikulum menjadi langkah krusial. Dengan komitmen bersama antara regulator, manajer layanan kesehatan, dan institusi pendidikan, Indonesia dapat mewujudkan sistem kesehatan yang lebih aman, bermutu, dan berkelanjutan.  Perawat sebagai seorang manajer dalam layanan kesehatan, memiliki peran sentral dalam menyiapkan generasi pemimpin kesehatan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga berintegritas dalam membangun budaya keselamatan pasien.

    Menyingkap Keseruan Blok Fundamental Nursing of Practice, Lebih dari Sekadar

    Menyingkap Keseruan Blok Fundamental Nursing of Practice, Lebih dari Sekadar

    Penulis : Ns. Deny Yuliawan, S.Kep., MHPE

    Teori: Gerbang Utama Menjadi Perawat Profesional di Universitas Alma Ata

    Tahukah Kamu? Dunia keperawatan bukan sekadar tentang menyuntik atau memberikan obat. Lebih dari itu, menjadi seorang perawat adalah seni merawat kehidupan dengan penuh empati dan ketepatan ilmiah.

    Banyak orang bilang, kuliah keperawatan itu berat. Tapi, pernahkan membayangkan momen pertama kali anda memegang stetoskop, untuk belajar mendengarkan detak jantung manusia atau memahami bahasa tubuh pasien yang menahan nyeri??

    Di Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata (UAA), perjalanan transformatif ini dimulai dari sebuah blok yang sangat krusial dan dirangkum secara apik dalam Blok Fundamental Nursing of Practice (FNP). Kegiatan ini, bukan sekadar blok/ mata kuliah, tetapi “Metamorfosis” dari seorang mahasiswa menjadi calon tenaga medis yang tangguh.

    Mengapa blok ini disebut sebagai “jantung” dari pendidikan sarjana keperawatan? Mari kita bedah apa saja yang membuat blok ini begitu menarik atau spesial di kampus biru Alma Ata?

    1. Membangun Fondasi “The Art of Caring”

    Pada tahap sarjana, mahasiswa tidak langsung diterjunkan ke kasus penyakit berat. Di blok FNP, mahasiswa akan belajar tentang hakikat manusia dan bagaimana cara berkomunikasi yang menyentuh hati. Mahasiswa akan memahami bahwa seorang perawat adalah orang pertama yang memberikan rasa aman bagi pasien melalui keterampilan dasar yang mumpuni.

    2. Lab Skill yang Interaktif dan Futuristik

    Belajar teori di kelas tentu penting, namun di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata, blok FNP menjadi seru karena porsi latihan di laboratorium (Skill Lab) yang intens dengan kelompok kecil. Di sini, mahasiswa akan belajar:

    • The Power of Touch: Bagaimana memandikan, merapikan rambut pasien sesuai SOP.

    3. Mentransformasi Teori Menjadi Aksi

    Pernah membayangkan bagaimana rasanya mengukur tanda-tanda vital dengan akurasi tinggi? Di blok ini, mahasiswa akan belajar bahwa tekanan darah atau denyut nadi bukan sekadar angka, melainkan “bahasa” tubuh pasien yang harus mampu diterjemahkan oleh seorang perawat.

    4. Dosen Praktisi yang Inspiratif

    Salah satu keunggulan belajar di Universitas Alma Ata adalah bimbingan dari para dosen yang tidak hanya ahli secara akademis, tetapi juga memiliki pengalaman klinis yang luas atau menjadi perawat klinis di rumah sakit ternama, dengan gelar Magister. Diskusi di kelas seringkali diwarnai dengan case study nyata atau di kelas tutorial dengan problem-based learning yang membuat suasana belajar menjadi hidup dan tidak membosankan.

    5. Persiapan Matang Menuju Tahap Profesi Ners

    Blok Fundamental Nursing of Practice adalah investasi jangka panjang. Mahasiswa yang menguasai blok ini dengan baik akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi saat nantinya memasuki Tahap Pendidikan Profesi Ners. Fondasi yang kuat di masa sarjana adalah kunci keberhasilan saat menghadapi tantangan di rumah sakit yang sesungguhnya.

    “Di Universitas Alma Ata, kami tidak hanya mencetak perawat yang cerdas secara intelektual, tapi juga unggul dalam nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual.”

    Kesimpulan

    Belajar di Blok Fundamental Nursing of Practice di PSIK FKIK UAA adalah pengalaman yang mendebarkan sekaligus membanggakan. Belajar di Blok ini, adalah fase dimana identitas mahasiswa sebagai calon tenaga kesehatan mulai terbentuk. Dengan fasilitas yang lengkap dan kurikulum yang adaptif, Universitas Alma Ata siap menemani langkah pertama mahasiswa menjadi Ners masa depan yang membanggakan.

    Keyword : Blok Fundamental Nursing of Practice, Ilmu Keperawatan Universitas Alma Ata, Belajar keperawatan dasar, Pendidikan Profesi Ners Yogyakarta