by Admin Keperawatan | Feb 2, 2026 | Artikel
Penulis : Dr. Mahfud, S.Kep., MMR
Perkembangan sistem kesehatan global dan nasional ditandai oleh perubahan pola penyakit, kemajuan teknologi, serta meningkatnya tuntutan terhadap mutu dan keselamatan pasien. Kondisi ini berdampak langsung pada praktik dan manajemen keperawatan. Perawat tidak lagi hanya dituntut memiliki kompetensi klinis, tetapi juga kemampuan manajerial, kepemimpinan, serta pengambilan keputusan berbasis bukti.
Manajemen keperawatan merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang berperan penting dalam menjamin mutu, keselamatan, dan keberlanjutan pelayanan keperawatan. Di era transformasi kesehatan, tantangan yang dihadapi manajemen keperawatan semakin kompleks seiring dengan perubahan demografi, transisi epidemiologi penyakit, serta pesatnya perkembangan teknologi kesehatan.
Indonesia saat ini menghadapi double burden of disease, yaitu masih tingginya angka penyakit menular di satu sisi dan meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular di sisi lain. Kondisi tersebut menuntut manajer keperawatan untuk mampu mengelola sumber daya manusia, sistem pelayanan, dan proses kerja secara adaptif dan inovatif. Oleh karena itu, pendidikan S1 Keperawatan, termasuk di Universitas Alma Ata, memiliki peran strategis dalam menyiapkan calon perawat yang mampu menghadapi tantangan manajemen keperawatan di masa depan.
A. Perubahan Pola Penyakit sebagai Tantangan Manajemen Keperawatan
1. Peningkatan Penyakit Tidak Menular (PTM)
Penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, kanker, dan stroke menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Penyakit-penyakit tersebut bersifat kronis, memerlukan perawatan jangka panjang, serta membutuhkan koordinasi lintas profesi.
Implikasi terhadap manajemen keperawatan meliputi:
- Perencanaan asuhan keperawatan berkelanjutan (continuity of care)
- Pengelolaan beban kerja perawat secara efektif
- Penguatan peran perawat dalam edukasi kesehatan dan manajemen penyakit kronis
2. Penyakit Menular Baru dan Re-emerging Diseases
Pandemi COVID-19 menjadi contoh nyata bagaimana penyakit menular dapat mengubah sistem pelayanan kesehatan secara drastis. Ke depan, potensi munculnya penyakit menular baru maupun penyakit yang kembali muncul tetap menjadi ancaman serius.
Implikasi terhadap manajemen keperawatan meliputi:
- Kesiapsiagaan dan manajemen bencana kesehatan
- Pengelolaan risiko infeksi serta keselamatan kerja perawat
- Penataan ulang sistem dan alur pelayanan keperawatan
3. Masalah Kesehatan Lansia dan Penyakit Degeneratif
Peningkatan usia harapan hidup menyebabkan bertambahnya jumlah lansia dengan penyakit degeneratif dan kondisi komorbiditas.
Implikasi terhadap manajemen keperawatan meliputi:
- Pengembangan layanan keperawatan gerontik
- Manajemen tim keperawatan multidisiplin
- Penguatan layanan berbasis komunitas dan home care
B. Tantangan Manajemen Keperawatan di Masa Depan
1. Tantangan Sumber Daya Manusia Keperawatan
Keterbatasan jumlah perawat, ketimpangan distribusi, serta tingginya beban kerja merupakan permasalahan klasik yang masih berlanjut. Manajer keperawatan dituntut untuk mampu:
- Mengelola sumber daya manusia secara efektif dan adil
- Meningkatkan motivasi serta kinerja perawat
- Mengurangi risiko burnout dan turnover perawat
2. Tantangan Kompetensi Manajerial Perawat
Perawat masa depan tidak hanya berperan sebagai caregiver, tetapi juga sebagai leader dan decision maker. Kompetensi manajerial yang dibutuhkan meliputi:
- Perencanaan dan pengorganisasian pelayanan keperawatan
- Kepemimpinan dan komunikasi yang efektif
- Pengambilan keputusan berbasis data dan bukti ilmiah
3. Tantangan Teknologi dan Digitalisasi
Penerapan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), rekam medis elektronik, dan teknologi digital lainnya menuntut adaptasi cepat dari manajemen keperawatan.
Dampak yang dihadapi antara lain:
- Perubahan alur kerja pelayanan keperawatan
- Kebutuhan pelatihan dan peningkatan literasi teknologi bagi perawat
- Tantangan dalam menjaga mutu serta keamanan data pasien
4. Tantangan Mutu dan Keselamatan Pasien
Tingginya tuntutan terhadap mutu pelayanan dan keselamatan pasien menempatkan manajemen keperawatan pada posisi yang sangat strategis. Manajer keperawatan berperan dalam:
- Implementasi standar asuhan keperawatan
- Pengawasan praktik keperawatan di unit pelayanan
- Penguatan budaya keselamatan pasien (patient safety culture)
C. Relevansi bagi Pendidikan S1 Keperawatan Universitas Alma Ata
Program Studi S1 Keperawatan Universitas Alma Ata memiliki peran penting dalam menyiapkan lulusan yang mampu menjawab tantangan manajemen keperawatan di masa depan. Pembelajaran manajemen keperawatan perlu diarahkan pada:
- Penguatan kompetensi manajerial sejak tahap akademik, tidak hanya pada tahap profesi
- Integrasi isu perubahan pola penyakit dan masalah kesehatan aktual dalam pembelajaran
- Penerapan pendekatan problem-based learning dan case-based learning sesuai dengan kondisi nyata pelayanan kesehatan
- Penanaman nilai kepemimpinan, etika profesi, serta kemampuan pengambilan keputusan klinis dan manajerial
Penutup
Perubahan pola penyakit yang semakin kompleks menuntut penguatan manajemen keperawatan di masa depan. Peningkatan penyakit kronis, ancaman penyakit menular baru, serta permasalahan kesehatan lansia menuntut perawat yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial yang kuat. Oleh karena itu, pendidikan S1 Keperawatan, termasuk di Universitas Alma Ata, perlu merespons tantangan tersebut melalui penguatan kurikulum dan pembelajaran manajemen keperawatan yang kontekstual, adaptif, dan berbasis kebutuhan pelayanan kesehatan masa depan.
Kata Kunci : Manajemen Keperawatan Strategis; Pergeseran Epidemiologi; Penyakit Kronis & Degeneratif; Inovasi Teknologi Kesehatan; Kualitas Pelayanan Kesehatan.
by Admin Keperawatan | Jan 28, 2026 | Artikel
Penulis : Rafi Achmad Rukhama
Perkembangan dunia kesehatan bergerak sangat cepat. Profesi keperawatan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan ikut mengalami perubahan signifikan — baik dalam teknologi, model pelayanan, maupun peran profesional perawat itu sendiri. Di tahun 2026, beberapa trend dan isu utama menjadi pembicaraan hangat di komunitas keperawatan global dan nasional.
1. Integrasi Teknologi dan Artificial Intelligence (AI) dalam Praktik Keperawatan
Teknologi bukan lagi sekadar alat tambahan, tetapi telah menjadi bagian penting praktik keperawatan modern. Integrasi Artificial Intelligence (AI) membantu perawat dalam pengambilan keputusan klinis, seperti menganalisis data pasien, memprediksi kondisi kritis, dan mengurangi kesalahan dokumentasi. AI juga digunakan dalam algoritma prediktif untuk mendeteksi risiko sepsis atau komplikasi lebih awal, sehingga perawat dapat mengambil tindakan preventif.
Namun demikian, penggunaan AI tetap menjadi topik perdebatan. Beberapa pihak khawatir bahwa terlalu banyak ketergantungan pada teknologi tanpa kontrol yang tepat dapat mengurangi peran kritis aspek kemanusiaan dalam keperawatan.
2. Telehealth dan Asuhan Keperawatan Jarak Jauh (Telenursing)
Pandemi telah mempercepat adopsi telehealth dan telenursing, yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari pelayanan keperawatan. Melalui platform digital, perawat dapat melakukan konsultasi, monitoring, edukasi pasien, dan tindak lanjut, khususnya untuk pasien dengan penyakit kronis ataupun pasien lansia yang kesulitan datang langsung ke fasilitas kesehatan.
Ini membuka kesempatan baru dalam praktik keperawatan, terutama dalam layanan masyarakat serta untuk menjangkau daerah-daerah terpencil dengan keterbatasan sumber daya.
3. Tantangan Kekurangan Tenaga Perawat dan Dampaknya
Salah satu isu global yang terus memanas adalah kekurangan tenaga perawat. Banyak negara kini menghadapi lonjakan permintaan layanan kesehatan akibat populasi yang menua dan meningkatnya penyakit kronis, namun jumlah perawat yang tersedia tidak seimbang. Proyeksi menunjukkan kebutuhan akan perawat profesional akan terus meningkat hingga dekade mendatang.
Akibatnya, beban kerja perawat semakin berat, berpotensi meningkatkan risiko burnout dan penurunan kualitas layanan apabila tidak ditangani dengan strategi yang tepat seperti peningkatan insentif, sistem kerja yang fleksibel, dan pendidikan berkelanjutan.
4. Pendidikan Keperawatan Berkualitas dan Inovasi Simulasi
Pendidikan keperawatan mengalami inovasi besar-besaran. Teknologi seperti simulasi virtual dan lab berbasis AI kini menjadi alat latihan yang semakin umum, memungkinkan mahasiswa berlatih situasi klinis nyata tanpa risiko terhadap pasien. Selain itu, konferensi internasional seperti Biennial International Nursing Conference memperkuat kolaborasi global dan bertukar gagasan inovatif untuk pendidikan keperawatan yang adaptif.
Pendekatan seperti ini menjadi penting untuk mempersiapkan perawat yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga menghadapi tantangan teknologi dan sistem layanan yang berubah cepat.
5. Peran Perawat di Luar Kelasikasi Tradisional
Di banyak negara maju, perawat kini mengambil peran yang lebih luas — termasuk dalam pembuatan kebijakan kesehatan, manajemen kasus kompleks, dan prakarsa kesehatan masyarakat. Perawat juga semakin berpartisipasi dalam advokasi perubahan sistem, misalnya terhadap kondisi kerja, standar keselamatan pasien, maupun pengembangan praktik profesional.
Kesimpulan
Tahun 2026 menjadi era penting dalam perjalanan keperawatan. Transformasi digital, tantangan tenaga kerja, inovasi pendidikan, dan peran profesional yang makin meluas menjadi isu yang sedang hot. Program studi keperawatan harus tetap adaptif menghadapi perubahan ini — melalui kurikulum yang inovatif, penelitian ilmiah, serta kolaborasi lintas disiplin demi mencetak perawat generasi masa depan yang unggul dan siap menghadapi dinamika sistem kesehatan global.
Kata Kunci : keperawatan; profesi keperawatan; perawat profesional; pendidikan keperawatan; dunia keperawatan
by Admin Keperawatan | Jan 28, 2026 | Artikel
Penulis : Despita Pramesti, S.Kep.Ns.M.Kes
Masa remaja merupakan periode antara usia 10 hingga 19 tahun, diibaratkan sebagai pembangunan jembatan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Ia seharusnya menjadi waktu yang dinamis, dipenuhi penemuan jati diri, persahabatan, dan potensi tak terbatas. Namun, bagi banyak generasi muda saat ini, perjalanan ini justru terhenti oleh beban emosional yang berat: depresi remaja. Fenomena ini bukan sekadar suasana hati yang buruk, melainkan kondisi kesehatan mental serius yang telah menjadi epidemi global, mengancam fondasi masa depan generasi Z.
Mengapa Remaja Begitu Rentan?
Depresi remaja berbeda dari kesedihan biasa. Ini adalah gangguan suasana hati klinis yang persisten, memengaruhi cara seorang remaja berpikir, merasa, dan berfungsi sehari-hari. Kerentanan mereka dipicu oleh kombinasi faktor unik:
- Badai Hormonal dan Perubahan Otak: Selama pubertas, terjadi perombakan kimiawi besar-besaran di otak. Area yang mengelola emosi dan reward berkembang pesat, sementara bagian yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pengambilan keputusan rasional (korteks prefrontal) masih dalam tahap pembangunan. Ketidakseimbangan ini membuat emosi menjadi lebih volatil.
- Tekanan Sosial yang Tak Terhindarkan: Sekolah, perguruan tinggi, dan media sosial menuntut kesempurnaan. Remaja berada di bawah tekanan konstan untuk berprestasi akademis, mempertahankan citra diri yang ideal di dunia maya dan menemukan tempat di lingkaran sosial. Kegagalan atau penolakan di lingkungan ini dapat terasa seperti akhir dari segalanya.
- Dinamika Keluarga dan Trauma: Perubahan dalam struktur keluarga, konflik orang tua, atau pengalaman trauma masa lalu dapat menjadi pemicu signifikan yang menguras cadangan emosional remaja.
Depresi pada remaja adalah panggilan keras bagi masyarakat kita untuk memprioritaskan kesehatan mental. Dengan menciptakan lingkungan yang suportif, mengurangi stigma, dan memberikan akses tepat waktu ke bantuan profesional, kita dapat membantu generasi muda ini melalui masa rentan mereka. Kita tidak hanya menyelamatkan potensi mereka, tetapi juga memastikan bahwa jembatan menuju kedewasaan mereka dapat diselesaikan dengan aman dan penuh harapan. “Generasi Z: Bukan Hanya Masa Depan, Tapi Harus Sehat Mental Sekarang.”
Kata Kunci : Prodi Pendidikan Profesi Ners Terbaik di Jogja; Kesehatan Mental Remaja; Depresi pada Remaja
by Admin Keperawatan | Jan 21, 2026 | Artikel
Oleh : Mulyanti
Tahukah kamu? Masa remaja merupakan suatu periode paling menantang dalam hidup seseorang. Di fase inilah remaja mulai mencari jati diri dan mencoba memahami perubahan yang terjadi pada dirinya. Pada masa ini, tubuh berubah cepat sehingga menyebabkan perasaan menjadi campur aduk, disertai dengan tuntutan dari sekolah maupun lingkungan semakin besar. Kesehatan jiwa pada remaja menjadi penting, namun sayangnya saat ini kesehatan jiwa pada remaja sering diabaikan. Padahal data menurut WHO, 1 dari 7 remaja usia 10-19 tahun mengalami gangguan jiwa dan bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga pada remaja usia 15-29 tahun.
Apa sebenarnya kesehatan jiwa itu ?
Kesehatan jiwa bukan hanya sekedar seseorang tidak mengalami gangguan jiwa. Namun lebih dari itu, seseorang dikatakan “sehat jiwa” jika mereka mampu memahmi dirinya, menghadapi tekanan sehari-hari, melakukan aktivitas produktif serta dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap lingkungan. Pada remaja, kesehatan mental sangat berkaitan dengan kemampuan mereka beradaptasi, membangun identitas diri, dan mengelola emosi yang sering naik turun.
Mengapa kesehatan jiwa pada remaja itu penting ?
Remaja mengalami perubahan yang cepat secara fisik, hormonal, emosional, hingga sosial. Selain itu, disaat yang sama mereka juga menghadapi tekanan akademik, perbadingan sosial di media sosial, pencarian jati diri, perundungan , ekspektasi keluarga, serta perubahan hubungan dengan teman yang membuat remaja merasa kewalahan dan butuh bantuan. Namun, mereka terkadang takut untuk bercerita karena takut di cap “lebay”.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa remaja
Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan jiwa pada remaja antara lain :
- Tekanan dari media sosial
Remaja mudah merasa tidak cukup baik ketika melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Perbandingan ini sering memicu rasa cemas dan kurang percaya diri.
- Lingkungan keluarga
Ketidakharmonisan keluarga, kurang perhatian dan terlalu menuntut dapat memicu stress pada remaja.
- Bullying/ perundungan
Perundungan yang terjadi baik langsung maupun lewat dunia maya dapat meninggalkan luka emosional jangka panjang.
- Gaya hidup tidak sehat
Kurang tidur, jarang olahraga, hingga kebiasaan makan tidak sehat dapat mengganggu keseimbangan emosi.
- Tekanan Akademik
Kegagalan dan tuntutan dari akademik meningkatkan munculnya stres pada remaja.
Tanda-Tanda Remaja Sedang Mengalami Masalah Kesehatan Mental
Masalah kesehatan jiwa pada remaja sering salah dimengerti sebagai “nakal” atau “fase remaja”. Padahal, ada beberapa tanda yang patut diperhatikan seperti sering marah atau sedih berlebihan, menarik diri dari lingkungan, perubahan makan atau tidur drastis, nilai sekolah turun, melakukan perilaku berisiko (merokok, alkohol, narkoba), kehilangan minat pada aktivitas favorit, atau, munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Jika tanda-tanda ini muncul terus-menerus pada remaja, jangan dianggap sepele.
Jenis Masalah Kesehatan jiwa yang Umum pada Remaja
Beberapa gangguan yang sering muncul antara lain:
- Gangguan Emosional seperti kecemasan, depresi, dan fobia. Banyak remaja merasa cemas berlebihan atau kehilangan minat pada hal-hal yang dulu mereka sukai.
- Gangguan Makan seperti anoreksia, bulimia, atau binge eating, biasanya dipicu oleh tekanan mengenai bentuk tubuh.
- Gangguan Perilaku seperti ADHD, ODD, atau Conduct Disorder yang memengaruhi konsentrasi, kontrol impuls, hingga perilaku agresif.
- Psikosis merupakan gangguan lebih serius yang ditandai dengan halusinasi atau delusi, biasanya muncul di akhir remaja atau awal dewasa.
- Perilaku Berisiko seperti penggunaan alkohol, narkoba, seks bebas, dan kekerasan sebagai pelarian dari tekanan emosional.
Kapan Remaja Harus Mencari Bantuan?
Jangan menunggu semua terlambat. Bantuan profesional diperlukan ketika remaja:
- sulit menjalani aktivitas sehari-hari,
- berubah drastis dalam waktu singkat,
- mulai menyakiti diri, atau
- tampak kehilangan harapan.
Konsultasi bisa dilakukan ke konselor sekolah, psikolog, atau psikiater.
Cara Menjaga Kesehatan Mental Remaja
Berikut langkah sederhana namun sangat berpengaruh:
- Tidur Teratur. Remaja butuh 8–10 jam tidur agar fungsi otak dan emosi tetap stabil.
- Pola Makan Sehat & Aktivitas Fisik. Olahraga 30 menit sehari dan makan bergizi sangat membantu memperbaiki mood.
- Batasi Media Sosial. Atur waktu bebas gadget—minimal 1 jam sebelum tidur.
- Latih Coping Skills/ menyelesaikan masalah. Menulis jurnal, menggambar, meditasi, atau mendengarkan musik bisa jadi cara untuk meredakan stres.
- Berani Bercerita. Remaja perlu tahu bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Berbagi cerita pada orang yang dipercaya adalah langkah besar menuju pemulihan.
Dukungan keluarga adalah fondasi utama kesehatan mental remaja. Orang tua dan lingkungan perlu:
- menjadi pendengar yang baik,
- tidak langsung menghakimi,
- peka terhadap perubahan perilaku,
- menciptakan ruang aman untuk bercerita, dan
- segera mencari bantuan profesional bila diperlukan.
Kesehatan jiwa remaja merupakan isu penting dan perlu diperhatikan bersama. Mengalami tekanan atau merasa tidak baik-baik saja adalah hal yang manusiawi. Namun yang terpenting adalah mau mencari bantuan dan memiliki lingkungan yang mendukung.Mari bersama-sama menciptakan ruang aman bagi remaja agar mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, sehat, dan percaya diri baik secara fisik maupun mental.
Keywords: Kesehatan Jiwa, Remaja, Keperawatan Alma Ata
by Admin Keperawatan | Dec 31, 2025 | Artikel
Oleh: M. Ischaq Nabil Asshiddiqi, S.Kep.,Ns.,MNS
Pengantar
Dalam upaya memahami peta kesehatan Indonesia, kita perlu menyelami lebih dari sekadar data epidemiologi. Global Burden of Disease (GBD) menunjukkan beban yang nyata (1), sementara sikap fatalisme sering kali menjadi tantangan dan hambatan dunia kesehatan (2,3) yang tidak teridentifikasi. Sebagai bangsa dengan mayoritas Muslim, pembahasan tentang kesehatan di Indonesia seringkali tidak dapat dipisahkan dari kerangka nilai-nilai budaya dan agama yang mengakar dalam bentuk perilaku keseharian masyarakatnya. Selain itu, penting untuk merefleksikan bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga menawarkan perspektif mendalam tentang perilaku kesehatan, bagaimana mensyukuri dan menjaga nikmat kesehatan, nikmat yang justru paling sering dilalaikan. Artikel ini akan menghubungkan data GBD dengan koreksi terhadap fatalisme melalui penguatan kesadaran akan kesehatan .
1. Penyakit Kronis dan Nilai-nilai Spiritual
Studi Global Burden of Disease (GBD) secara konsisten menunjukkan pergeseran beban penyakit Indonesia dan banyak negara lainnya dari penyakit menular ke Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan kanker (4,5). Faktor risiko utamanya berkaitan dengan pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan merokok yang mencerminkan perubahan gaya hidup yang tidak sehat. Beban ganda penyakit ini menjadi ujian besar bagi sistem kesehatan nasional.
Penyakit kronis mendominasi GBD karena sifatnya yang progresif dan menyebabkan ketergantungan pengobatan jangka panjang. Faktor risikonya yang dapat dimodifikasi seharusnya menjadi peluang untuk pencegahan. Di sinilah ajaran Islam menawarkan fondasi yang kuat. Konsep menjaga kesehatan dianggap sebagai bagian dari menjaga jiwa (hifdzu an-nafs), yang merupakan salah satu dari lima maqashid syari’ah yang dicetuskan oleh Imam Asy-Syatibi. Dengan demikian, jika kita lihat dengan sudut pandang yang lebih luas, pencegahan penyakit dan perawatan kesehatan bukan hanya tindakan medis semata, tetapi juga kewajiban agama untuk memelihara anugerah kesehatan yang telah Allah SWT karuniakan kepada kita sebagai wujud Amanah dan rasa Syukur kita kepada-Nya.
Nabi Muhammad SAW menerangkan tentang keutamaan Mukmin yang Kuat:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim)
Makna dalam konteks kesehatan: Hadis ini secara eksplisit menyatakan keutamaan menjadi pribadi Mukmin yang kuat. Pribadi yang kuat ini bisa dimaknai kuat dan sehat secara Dzohir maupun Batin. Atau dalam sudut pandang antropologi kesehatan, Mukmin yang kuat adalah Individu yang kuat dalam berbagai aspek meliputi aspek fisik (Bio), mental (Psycho), sosial (Socio), dan spiritual (Spiritual). Selain itu, hadis tersebut juga mengisyaratkan sebuah perintah untuk aktif mencari manfaat atau kebaikan, yang mencakup segala bentuk upaya kebaikan termasuk menjaga kesehatan. Berbagai penelitian telah menunjukkan keterkaitan erat antara nilai-nilai spiritual dengan penyakit kronis dan perilaku kesehatan (6–8), meskipun beberapa diantaranya telah menunjukkan pemahaman yang keliru terkait nilai-nilai spiritual dapat bermanifestasi dalam bentuk fatalisme dan berpengaruh negatif terhadap perilaku kesehatan (2,3,9,10).
3. Mendefinisikan Ulang Fatalisme: Antara Tawakkal dan Ikhtiar dalam Kesehatan
Fatalisme kesehatan yang bermasalah adalah sikap pasif yang mengabaikan ikhtiar, dengan memandang sehat dan sakit sudah ditentukan oleh nasib atau takdir. Sikap ini berbeda dengan tawakkal yang sesungguhnya, yang diawali dengan ikhtiar semaksimal mungkin.
Fatalisme kesehatan sering disalahartikan sebagai bagian dari keimanan. Padahal, dalam ajaran Islam, terdapat keseimbangan yang fundamental antara ikhtiar (usaha) dan tawakkal (berserah diri kepada Allah setelah usaha maksimal).
Nabi Muhammad SAW mencontohkan Prinsip Ikhtiar sebelum Tawakkal. Suatu saat salah seorang sahabat hendak melaksanakan sholat di Masjid dan meninggalkan untanya begitu saja. Melihat hal itu, lalu Nabi SAW mengingatkan sahabat tersebut dan Beliau bersabda:
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
“Ikatlah (untamu) lalu bertawakallah.” (HR. At-Tirmidzi)
Makna dalam konteks kesehatan: “Mengikat unta” adalah contoh analogi untuk melakukan segala upaya preventif dan kuratif yang manusiawi dan logis dalam menjaga kesehatan, baru kemudian berserah diri pada Allah atas hasil akhirnya.
Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga telah memerintahkan untuk berobat ketika sakit, sebagaimana sabda beliau:
يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِفَاءً، إِلاَّ دَاءً وَاحِدًا الْهَرَمُ
“Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah! Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan menurunkan pula obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu tua.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Daud)
Makna Kesehatan: Ini adalah perintah langsung (amr) untuk aktif mencari pengobatan, yang merupakan antitesis dari sikap fatalis pasif. Perintah ini mencakup pencegahan (mencegah penyakit) dan pengobatan (menyembuhkan penyakit).
Lebih lanjut, Islam juga melarang umatnya untuk berperilaku yang membahayakan dan merugikan:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 195).
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’: 29)
Makna Kesehatan: Ayat-ayat tersebut telah mengisyaratkan tentang larangan perbuatan yang merusak dan merugikan. Dalam konteks kesehatan, perilaku mengabaikan upaya pencegahan penyakit (seperti skrining, vaksinasi), meneruskan gaya hidup berisiko tinggi (merokok, makan berlebihan), atau tidak patuh berobat dapat ditafsirkan sebagai bentuk “membahayakan” atau “membunuh diri” secara perlahan, yang dilarang keras oleh Allah SWT.
4. Kesehatan sebagai Nikmat yang Paling Sering Dilalaikan
Melampaui diskusi tentang ikhtiar dan tawakkal, Islam secara khusus mengingatkan manusia akan sifat mereka yang sering lalai (ghaflah) terhadap nikmat-nikmat Allah, terutama nikmat yang tampak “biasa”. Di antara semua nikmat, kesehatan dan waktu luang seringkali tidak dihargai hingga keduanya hilang. Nabi Muhammad SAW bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu (merugi) karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)
Makna Mendalam untuk Kesehatan Masyarakat:
Hadis ini merupakan alarm atau peringatan spiritual dan sosial. Kata مَغْبُونٌ (maghbunun) berarti “tertipu” atau “dirugikan”, menunjukkan bahwa manusia sering kali:
- Mengabaikan (Lalai): Menganggap kesehatan sebagai kondisi default yang akan selalu ada, sehingga tanpa disadari perilaku kesehariannya menunjukkan tidak ada urgensi untuk menjaganya.
- Menyia-nyiakan: Tidak memanfaatkan masa sehat untuk berbuat kebaikan, termasuk melakukan tindakan pencegahan penyakit, olahraga, atau pola makan sehat dan proporsional (Toyyib).
- Baru Menyesal Setelah Hilang: Baru menyadari nilai kesehatan ketika penyakit telah datang.
Dalam konteks fatalisme, kelalaian ini sering kali dimanifestasikan sebagai sikap pasif: “Selama ini baik-baik saja, tidak perlu periksa atau berobat” atau seringkali kita temukan ungkapan “orang merokok dan tidak sama-sama akan mati”. Sikap ini memperparah siklus GBD karena penyakit kronis seperti hipertensi, stroke, dan diabetes sering tidak bergejala di awal, dan baru terdeteksi setelah menyebabkan kerusakan organ.
Hubungan Erat antara GBD, Fatalisme, dan Kelalaian akan Nikmat Sehat
- GBD sebagai Cermin Kelalaian Kolektif: Tingginya angka PTM di Indonesia akibat gaya hidup tidak sehat (diet, kurang aktivitas, merokok) adalah bukti empiris dari “kelalaian” massal terhadap nikmat sehat. Masyarakat “menukar” kesehatan jangka panjang dengan kenikmatan sesaat (makanan tinggi gula/lemak, rokok).
- Fatalisme sebagai Rasionalisasi Kelalaian: Ketika ditanya mengapa tidak menjaga kesehatan, jawaban fatalis seperti “Itu sudah takdir” atau “Biar saja, nanti juga kena kalau sudah waktunya” sering kali menjadi pembenaran bagi kelalaian dan ketidakmauan untuk mengubah kebiasaan buruk. Ini adalah bentuk pembenaran diri atas sikap pasif yang dikemas sebagai takdir.
- Islam Mengajarkan Kewaspadaan Proaktif: Hadis tentang dua nikmat diatas bukan untuk membuat kita bersikap pasif, melainkan untuk membangun kesadaran (awareness). Kesadaran bahwa kesehatan adalah modal yang suatu hari akan dipertanggungjawabkan penggunaannya di hadapan Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
لاَ تُزَوَّلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ
“Kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari Kiamat hingga dia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, tentang ilmunya untuk apa diamalkannya, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. At-Tirmidzi)
Kalimat “tentang tubuhnya untuk apa digunakan” memberikan dimensi tanggung jawab keagamaan yang sangat kuat terhadap bagaimana kita bersikap Amanah terhadap tubuh kita yang merupakan Anugerah yang tak ternilai. Hal ini dapat dievaluasi dan diukur dari perilaku kesehatan kita. Apakah kita sudah mengisi tubuh kita dengan makanan halal dan Toyyib (makanan yang baik, proporsional, dan sehat)? Atau kita melalaikannya dengan berperilaku berlebihan, “sembrono”, hingga mudah sakit? Atau menjaganya sebagai bentuk ketaatan, amanah dan rasa syukur kita kepada Allah SWT?.
Kesimpulan
Lonjakan Burden of Disease akibat PTM di Indonesia adalah alarm yang memanggil kita untuk bertindak lebih mendalam dan komprehensif. Fatalisme kesehatan, yang kerap bersembunyi di balik pemahaman agama yang parsial, merupakan tantangan yang harus diluruskan dengan pemahaman Islam yang holistik dan dinamis. Mahasiswa, Pendidik, dan Praktisi perlu mengidentifikasi dan menyadari bahwa fatalisme ada di antara perilaku kesehatan masyarakat kita. Islam, dengan dalil-dalil yang jelas, bukan agama yang mengajarkan kepasrahan buta. Ia justru mendorong umatnya untuk berikhtiar maksimal dengan menjaga pola makan, mencegah risiko, dan berikhtiar/berobat ketika sakit sebagai bentuk konkret dari iman, baru kemudian bertawakkal dengan penuh kepercayaan kepada Allah SWT atas hasil akhirnya. Menjaga kesehatan perlu dilihat dengan sudut pandang yang lebih luas. Ia tidak sekedar perilaku yang bersifat duniawi, tetapi juga sebagai modal akhirat dalam bentuk pengabdian atau ibadah dan rasa syukur kepada Allah SWT. Mari bersama bergerak dari narasi “pasrah pada sakit” menuju semangat “berikhtiar untuk sehat sebagai bentuk ibadah”.
Biografi Penulis:
M. Ischaq Nabil Asshiddiqi, S.Kep., Ns., MNS merupakan dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Alma Ata dan kandidat PhD in Gerontology di the University of Hong Kong dengan fokus pengajaran dan penelitian dibidang keperawatan gerontologi dan komunitas, kesehatan masyarakat, dan penyakit tidak menular.
Daftar Pustaka
1. Vos T, Lim SS, Abbafati C, Abbas KM, Abbasi M, Abbasifard M, et al. Global burden of 369 diseases and injuries in 204 countries and territories, 1990–2019: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2019. The Lancet. 2020 Oct 17;396(10258):1204–22.
2. Cohn L, Villar OED. Fatalism and health behavior: a meta-analytic review. Ciudad Juárez, Chihuahua, México: Universidad Autónoma de Ciudad Juárez; 2015.
3. Kulakçı-Altıntaş H, Ayaz-Alkaya S. Fatalism tendency and health beliefs about medication use in older adults: A predictive correlational design. Geriatric Nursing. 2024 Jan 1;55:29–34.
4. Mboi N, Syailendrawati R, Ostroff SM, Elyazar IR, Glenn SD, Rachmawati T, et al. The state of health in Indonesia’s provinces, 1990–2019: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2019. The Lancet Global Health. 2022 Nov 1;10(11):e1632–45.
5. Health Development Policy Agency. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 [Internet]. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan | BKPK Kemenkes. 2024 [cited 2025 July 30]. Available from: https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hasil-ski-2023/
6. Asshiddiqi MIN, Yodchai K, Taniwattananon P. Predictors of diabetes distress among older persons with type 2 diabetes mellitus in Indonesia. J Res Nurs. 2021 June;26(4):307–17.
7. Abu-Raiya H, Pargament KI. Religious coping among diverse religions: Commonalities and divergences. Psychology of Religion and Spirituality. 2015;7(1):24–33.
8. Koenig HG. Religion, Spirituality, and Health: The Research and Clinical Implications. International Scholarly Research Notices. 2012;2012(1):278730.
9. Brevik TB, Sæther KW. Approaching religious fatalism in cancer screening education. Journal of Evaluation in Clinical Practice. 2024;30(5):842–7. 10. Franklin MD, Schlundt DG, McClellan LH, Kinebrew T, Sheats J, Belue R, et al. Religious fatalism and its association with health behaviors and outcomes. Am J Health Behav. 2007;31(6):563–72.
by Admin Keperawatan | Dec 25, 2025 | Artikel
Oleh: Ika Mustika Dewi
Di era modern ini, peran perawat telah berkembang jauh melampaui peran tradisional. Perawat profesional atau Ners adalah ujung tombak dalam sistem kesehatan, tidak hanya dalam penyembuhan, tetapi yang jauh lebih krusial, dalam pencegahan penyakit. Jika Anda bercita-cita menjadi Perawat Unggul yang kompeten, beretika, dan berorientasi pada masa depan, Program Studi Keperawatan Universitas Alma Ata (UAA) adalah pilihan tepat.
Mengapa Memilih Prodi Keperawatan UAA?
Program Studi (Prodi) Keperawatan UAA dirancang untuk menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan kesehatan global dan lokal, dengan kurikulum yang terintegrasi antara ilmu keperawatan dasar, praktik klinis, dan kekhasan yang kuat.
Kekuatan Inti: Fokus pada Pencegahan Penyakit Degeneratif
Salah satu keunggulan utama Prodi Keperawatan UAA adalah penekanan mendalam pada Pencegahan Penyakit Degeneratif. Penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, dan stroke merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Indonesia. Perawat memainkan peran vital dalam edukasi, screening dini, dan promosi gaya hidup sehat untuk mencegah kondisi ini.
- Kurikulum Terkini: Mahasiswa dibekali pengetahuan dan keterampilan khusus dalam:
- Promosi Kesehatan dan Edukasi: Merancang program edukasi masyarakat yang efektif mengenai faktor risiko, nutrisi, dan pentingnya aktivitas fisik.
- Keperawatan Komunitas: Melaksanakan intervensi berbasis komunitas untuk mendeteksi dan mengelola risiko penyakit degeneratif pada kelompok rentan.
- Asuhan Keperawatan Holistik: Memberikan asuhan yang tidak hanya fokus pada penyakit, tetapi juga pada upaya wellness dan peningkatan kualitas hidup.
Melalui keunggulan ini, lulusan UAA tidak hanya menjadi perawat yang “merawat sakit,” tetapi menjadi Perawat Unggul yang “menjaga sehat” masyarakat.
Menjadi Lulusan Perawat Unggul dan Berdaya Saing
Prodi Keperawatan UAA memastikan setiap lulusannya memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja, baik di dalam maupun luar negeri.
1. Fasilitas dan Lingkungan Belajar Modern
UAA menyediakan fasilitas laboratorium keperawatan yang lengkap dan canggih, memungkinkan mahasiswa berlatih simulasi klinis yang realistis. Lingkungan akademik yang mendukung didukung oleh dosen-dosen berkualitas dan berpengalaman di bidangnya.
2. Peluang Praktik Lapangan yang Luas
Mahasiswa akan menjalani praktik klinik di berbagai tatanan pelayanan kesehatan, mulai dari rumah sakit hingga puskesmas dan komunitas. Ini memberikan pengalaman langsung yang krusial untuk menguasai berbagai prosedur keperawatan dan pengambilan keputusan klinis.
3. Integrasi Ilmu Keperawatan dan Teknologi Kesehatan
Dalam upaya menciptakan Perawat Unggul, UAA juga mendorong pemanfaatan teknologi informasi kesehatan untuk manajemen data pasien dan peningkatan mutu pelayanan keperawatan, selaras dengan perkembangan smart health.
Prospek Karier Perawat Profesional (Ners) Lulusan UAA
Lulusan Prodi Keperawatan UAA berhak menyandang gelar Ners dan memiliki prospek karier yang sangat luas:
- Klinisi: Bekerja di rumah sakit, puskesmas, klinik, dan layanan kesehatan lainnya.
- Edukator dan Konsultan: Menjadi tenaga pengajar atau konsultan kesehatan masyarakat, khususnya di bidang pencegahan penyakit degeneratif.
- Wirausaha Kesehatan: Membuka praktik keperawatan mandiri atau layanan perawatan di rumah (home care).
- Karier Internasional: Dengan kompetensi yang diakui, lulusan berkesempatan bekerja sebagai perawat profesional di luar negeri.
Memilih Prodi Keperawatan Universitas Alma Ata berarti memilih jalan untuk menjadi seorang Perawat Profesional (Ners) yang memiliki nilai tambah signifikan, terutama dalam kekhasan Pencegahan Penyakit Degeneratif. Bergabunglah sekarang dan jadilah bagian dari agen perubahan kesehatan yang akan memimpin upaya promotif dan preventif di masa depan.
Kata kunci: Perawat Unggul; Ners; Prodi Keperawatan; Penyakit Degeneratif