Mengenal Fatalisme, Burden of Disease, dan Kesehatan yang Terlalaikan dalam Perspektif Islam

Mengenal Fatalisme, Burden of Disease, dan Kesehatan yang Terlalaikan dalam Perspektif Islam

Oleh: M. Ischaq Nabil Asshiddiqi, S.Kep.,Ns.,MNS

Pengantar

Dalam upaya memahami peta kesehatan Indonesia, kita perlu menyelami lebih dari sekadar data epidemiologi. Global Burden of Disease (GBD) menunjukkan beban yang nyata (1), sementara sikap fatalisme sering kali menjadi tantangan dan hambatan dunia kesehatan (2,3) yang tidak teridentifikasi. Sebagai bangsa dengan mayoritas Muslim, pembahasan tentang kesehatan di Indonesia seringkali tidak dapat dipisahkan dari kerangka nilai-nilai budaya dan agama yang mengakar dalam bentuk perilaku keseharian masyarakatnya. Selain itu, penting untuk merefleksikan bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga menawarkan perspektif mendalam tentang perilaku kesehatan, bagaimana mensyukuri dan menjaga nikmat kesehatan, nikmat yang justru paling sering dilalaikan. Artikel ini akan menghubungkan data GBD dengan koreksi terhadap fatalisme melalui penguatan kesadaran akan kesehatan .

1. Penyakit Kronis dan Nilai-nilai Spiritual

Studi Global Burden of Disease (GBD) secara konsisten menunjukkan pergeseran beban penyakit Indonesia dan banyak negara lainnya dari penyakit menular ke Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan kanker (4,5). Faktor risiko utamanya berkaitan dengan pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan merokok yang mencerminkan perubahan gaya hidup yang tidak sehat. Beban ganda penyakit ini menjadi ujian besar bagi sistem kesehatan nasional.

Penyakit kronis mendominasi GBD karena sifatnya yang progresif dan menyebabkan ketergantungan pengobatan jangka panjang. Faktor risikonya yang dapat dimodifikasi seharusnya menjadi peluang untuk pencegahan. Di sinilah ajaran Islam menawarkan fondasi yang kuat. Konsep menjaga kesehatan dianggap sebagai bagian dari menjaga jiwa (hifdzu an-nafs), yang merupakan salah satu dari lima maqashid syari’ah yang dicetuskan oleh Imam Asy-Syatibi. Dengan demikian, jika kita lihat dengan sudut pandang yang lebih luas, pencegahan penyakit dan perawatan kesehatan bukan hanya tindakan medis semata, tetapi juga kewajiban agama untuk memelihara anugerah kesehatan yang telah Allah SWT karuniakan kepada kita sebagai wujud Amanah dan rasa Syukur kita kepada-Nya.

Nabi Muhammad SAW menerangkan tentang keutamaan Mukmin yang Kuat:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim)

Makna dalam konteks kesehatan: Hadis ini secara eksplisit menyatakan keutamaan menjadi pribadi Mukmin yang kuat. Pribadi yang kuat ini bisa dimaknai kuat dan sehat secara Dzohir maupun Batin. Atau dalam sudut pandang antropologi kesehatan, Mukmin yang kuat adalah Individu yang kuat dalam berbagai aspek meliputi aspek fisik (Bio), mental (Psycho), sosial (Socio), dan spiritual (Spiritual). Selain itu, hadis tersebut juga mengisyaratkan sebuah perintah untuk aktif mencari manfaat atau kebaikan, yang mencakup segala bentuk upaya kebaikan termasuk menjaga kesehatan. Berbagai penelitian telah menunjukkan keterkaitan erat antara nilai-nilai spiritual dengan penyakit kronis dan perilaku kesehatan (6–8), meskipun beberapa diantaranya telah menunjukkan pemahaman yang keliru terkait nilai-nilai spiritual dapat bermanifestasi dalam bentuk fatalisme dan berpengaruh negatif terhadap perilaku kesehatan (2,3,9,10). 

3. Mendefinisikan Ulang Fatalisme: Antara Tawakkal dan Ikhtiar dalam Kesehatan

Fatalisme kesehatan yang bermasalah adalah sikap pasif yang mengabaikan ikhtiar, dengan memandang sehat dan sakit sudah ditentukan oleh nasib atau takdir. Sikap ini berbeda dengan tawakkal yang sesungguhnya, yang diawali dengan ikhtiar semaksimal mungkin.

Fatalisme kesehatan sering disalahartikan sebagai bagian dari keimanan. Padahal, dalam ajaran Islam, terdapat keseimbangan yang fundamental antara ikhtiar (usaha) dan tawakkal (berserah diri kepada Allah setelah usaha maksimal).

Nabi Muhammad SAW mencontohkan Prinsip Ikhtiar sebelum Tawakkal. Suatu saat salah seorang sahabat hendak melaksanakan sholat di Masjid dan meninggalkan untanya begitu saja. Melihat hal itu, lalu Nabi SAW mengingatkan sahabat tersebut dan Beliau bersabda:

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

“Ikatlah (untamu) lalu bertawakallah.” (HR. At-Tirmidzi)

Makna dalam konteks kesehatan: “Mengikat unta” adalah contoh analogi untuk melakukan segala upaya preventif dan kuratif yang manusiawi dan logis dalam menjaga kesehatan, baru kemudian berserah diri pada Allah atas hasil akhirnya.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga telah memerintahkan untuk berobat ketika sakit, sebagaimana sabda beliau:

يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِفَاءً، إِلاَّ دَاءً وَاحِدًا الْهَرَمُ


“Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah! Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan menurunkan pula obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu tua.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Daud)

Makna Kesehatan: Ini adalah perintah langsung (amr) untuk aktif mencari pengobatan, yang merupakan antitesis dari sikap fatalis pasif. Perintah ini mencakup pencegahan (mencegah penyakit) dan pengobatan (menyembuhkan penyakit).

Lebih lanjut, Islam juga melarang umatnya untuk berperilaku yang membahayakan dan merugikan:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 195).

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’: 29)

Makna Kesehatan: Ayat-ayat tersebut telah mengisyaratkan tentang larangan perbuatan yang merusak dan merugikan. Dalam konteks kesehatan, perilaku mengabaikan upaya pencegahan penyakit (seperti skrining, vaksinasi), meneruskan gaya hidup berisiko tinggi (merokok, makan berlebihan), atau tidak patuh berobat dapat ditafsirkan sebagai bentuk “membahayakan” atau “membunuh diri” secara perlahan, yang dilarang keras oleh Allah SWT.

4. Kesehatan sebagai Nikmat yang Paling Sering Dilalaikan 

Melampaui diskusi tentang ikhtiar dan tawakkal, Islam secara khusus mengingatkan manusia akan sifat mereka yang sering lalai (ghaflah) terhadap nikmat-nikmat Allah, terutama nikmat yang tampak “biasa”. Di antara semua nikmat, kesehatan dan waktu luang seringkali tidak dihargai hingga keduanya hilang. Nabi Muhammad SAW bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu (merugi) karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Makna Mendalam untuk Kesehatan Masyarakat:

Hadis ini merupakan alarm atau peringatan spiritual dan sosial. Kata مَغْبُونٌ (maghbunun) berarti “tertipu” atau “dirugikan”, menunjukkan bahwa manusia sering kali:

  1. Mengabaikan (Lalai): Menganggap kesehatan sebagai kondisi default yang akan selalu ada, sehingga tanpa disadari perilaku kesehariannya menunjukkan tidak ada urgensi untuk menjaganya.
  2. Menyia-nyiakan: Tidak memanfaatkan masa sehat untuk berbuat kebaikan, termasuk melakukan tindakan pencegahan penyakit, olahraga, atau pola makan sehat dan proporsional (Toyyib).
  3. Baru Menyesal Setelah Hilang: Baru menyadari nilai kesehatan ketika penyakit telah datang.

Dalam konteks fatalisme, kelalaian ini sering kali dimanifestasikan sebagai sikap pasif: “Selama ini baik-baik saja, tidak perlu periksa atau berobat” atau seringkali kita temukan ungkapan “orang merokok dan tidak sama-sama akan mati”. Sikap ini memperparah siklus GBD karena penyakit kronis seperti hipertensi, stroke, dan diabetes sering tidak bergejala di awal, dan baru terdeteksi setelah menyebabkan kerusakan organ.

Hubungan Erat antara GBD, Fatalisme, dan Kelalaian akan Nikmat Sehat

  1. GBD sebagai Cermin Kelalaian Kolektif: Tingginya angka PTM di Indonesia akibat gaya hidup tidak sehat (diet, kurang aktivitas, merokok) adalah bukti empiris dari “kelalaian” massal terhadap nikmat sehat. Masyarakat “menukar” kesehatan jangka panjang dengan kenikmatan sesaat (makanan tinggi gula/lemak, rokok).
  2. Fatalisme sebagai Rasionalisasi Kelalaian: Ketika ditanya mengapa tidak menjaga kesehatan, jawaban fatalis seperti “Itu sudah takdir” atau “Biar saja, nanti juga kena kalau sudah waktunya” sering kali menjadi pembenaran bagi kelalaian dan ketidakmauan untuk mengubah kebiasaan buruk. Ini adalah bentuk pembenaran diri atas sikap pasif yang dikemas sebagai takdir.
  3. Islam Mengajarkan Kewaspadaan Proaktif: Hadis tentang dua nikmat diatas bukan untuk membuat kita bersikap pasif, melainkan untuk membangun kesadaran (awareness). Kesadaran bahwa kesehatan adalah modal yang suatu hari akan dipertanggungjawabkan penggunaannya di hadapan Allah. 

Rasulullah SAW bersabda:

لاَ تُزَوَّلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ


“Kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari Kiamat hingga dia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, tentang ilmunya untuk apa diamalkannya, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. At-Tirmidzi)

Kalimat “tentang tubuhnya untuk apa digunakan” memberikan dimensi tanggung jawab keagamaan yang sangat kuat terhadap bagaimana kita bersikap Amanah terhadap tubuh kita yang merupakan Anugerah yang tak ternilai. Hal ini dapat dievaluasi dan diukur dari perilaku kesehatan kita. Apakah kita sudah mengisi tubuh kita dengan makanan halal dan Toyyib (makanan yang baik, proporsional, dan sehat)? Atau kita melalaikannya dengan berperilaku berlebihan, “sembrono”, hingga mudah sakit? Atau menjaganya sebagai bentuk ketaatan, amanah dan rasa syukur kita  kepada Allah SWT?.

Kesimpulan

Lonjakan Burden of Disease akibat PTM di Indonesia adalah alarm yang memanggil kita untuk bertindak lebih mendalam dan komprehensif. Fatalisme kesehatan, yang kerap bersembunyi di balik pemahaman agama yang parsial, merupakan tantangan yang harus diluruskan dengan pemahaman Islam yang holistik dan dinamis. Mahasiswa, Pendidik, dan Praktisi perlu mengidentifikasi dan menyadari bahwa fatalisme ada di antara perilaku kesehatan masyarakat kita. Islam, dengan dalil-dalil yang jelas, bukan agama yang mengajarkan kepasrahan buta. Ia justru mendorong umatnya untuk berikhtiar maksimal dengan menjaga pola makan, mencegah risiko, dan berikhtiar/berobat ketika sakit sebagai bentuk konkret dari iman, baru kemudian bertawakkal dengan penuh kepercayaan kepada Allah SWT atas hasil akhirnya. Menjaga kesehatan perlu dilihat dengan sudut pandang yang lebih luas. Ia tidak sekedar perilaku yang bersifat duniawi, tetapi juga sebagai modal akhirat dalam bentuk pengabdian atau ibadah dan rasa syukur kepada Allah SWT. Mari bersama bergerak dari narasi “pasrah pada sakit” menuju semangat “berikhtiar untuk sehat sebagai bentuk ibadah”.

Biografi Penulis: 

M. Ischaq Nabil Asshiddiqi, S.Kep., Ns., MNS merupakan dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Alma Ata dan kandidat PhD in Gerontology di the University of Hong Kong dengan fokus pengajaran dan penelitian dibidang keperawatan gerontologi dan komunitas, kesehatan masyarakat, dan penyakit tidak menular.

Daftar Pustaka

1. Vos T, Lim SS, Abbafati C, Abbas KM, Abbasi M, Abbasifard M, et al. Global burden of 369 diseases and injuries in 204 countries and territories, 1990–2019: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2019. The Lancet. 2020 Oct 17;396(10258):1204–22. 

2. Cohn L, Villar OED. Fatalism and health behavior: a meta-analytic review. Ciudad Juárez, Chihuahua, México: Universidad Autónoma de Ciudad Juárez; 2015. 

3. Kulakçı-Altıntaş H, Ayaz-Alkaya S. Fatalism tendency and health beliefs about medication use in older adults: A predictive correlational design. Geriatric Nursing. 2024 Jan 1;55:29–34. 

4. Mboi N, Syailendrawati R, Ostroff SM, Elyazar IR, Glenn SD, Rachmawati T, et al. The state of health in Indonesia’s provinces, 1990–2019: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2019. The Lancet Global Health. 2022 Nov 1;10(11):e1632–45. 

5. Health Development Policy Agency. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 [Internet]. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan | BKPK Kemenkes. 2024 [cited 2025 July 30]. Available from: https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hasil-ski-2023/

6. Asshiddiqi MIN, Yodchai K, Taniwattananon P. Predictors of diabetes distress among older persons with type 2 diabetes mellitus in Indonesia. J Res Nurs. 2021 June;26(4):307–17. 

7. Abu-Raiya H, Pargament KI. Religious coping among diverse religions: Commonalities and divergences. Psychology of Religion and Spirituality. 2015;7(1):24–33. 

8. Koenig HG. Religion, Spirituality, and Health: The Research and Clinical Implications. International Scholarly Research Notices. 2012;2012(1):278730. 

9. Brevik TB, Sæther KW. Approaching religious fatalism in cancer screening education. Journal of Evaluation in Clinical Practice. 2024;30(5):842–7. 10. Franklin MD, Schlundt DG, McClellan LH, Kinebrew T, Sheats J, Belue R, et al. Religious fatalism and its association with health behaviors and outcomes. Am J Health Behav. 2007;31(6):563–72.

Meraih Masa Depan Sebagai Perawat Profesional (Ners) Unggul di Prodi Keperawatan Universitas Alma Ata

Meraih Masa Depan Sebagai Perawat Profesional (Ners) Unggul di Prodi Keperawatan Universitas Alma Ata

Oleh: Ika Mustika Dewi

Di era modern ini, peran perawat telah berkembang jauh melampaui peran tradisional. Perawat profesional atau Ners adalah ujung tombak dalam sistem kesehatan, tidak hanya dalam penyembuhan, tetapi yang jauh lebih krusial, dalam pencegahan penyakit. Jika Anda bercita-cita menjadi Perawat Unggul yang kompeten, beretika, dan berorientasi pada masa depan, Program Studi Keperawatan Universitas Alma Ata (UAA) adalah pilihan tepat.

Mengapa Memilih Prodi Keperawatan UAA?

Program Studi (Prodi) Keperawatan UAA dirancang untuk menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan kesehatan global dan lokal, dengan kurikulum yang terintegrasi antara ilmu keperawatan dasar, praktik klinis, dan kekhasan yang kuat.

Kekuatan Inti: Fokus pada Pencegahan Penyakit Degeneratif

Salah satu keunggulan utama Prodi Keperawatan UAA adalah penekanan mendalam pada Pencegahan Penyakit Degeneratif. Penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, dan stroke merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Indonesia. Perawat memainkan peran vital dalam edukasi, screening dini, dan promosi gaya hidup sehat untuk mencegah kondisi ini.

  • Kurikulum Terkini: Mahasiswa dibekali pengetahuan dan keterampilan khusus dalam:
    • Promosi Kesehatan dan Edukasi: Merancang program edukasi masyarakat yang efektif mengenai faktor risiko, nutrisi, dan pentingnya aktivitas fisik.
    • Keperawatan Komunitas: Melaksanakan intervensi berbasis komunitas untuk mendeteksi dan mengelola risiko penyakit degeneratif pada kelompok rentan.
    • Asuhan Keperawatan Holistik: Memberikan asuhan yang tidak hanya fokus pada penyakit, tetapi juga pada upaya wellness dan peningkatan kualitas hidup.

Melalui keunggulan ini, lulusan UAA tidak hanya menjadi perawat yang “merawat sakit,” tetapi menjadi Perawat Unggul yang “menjaga sehat” masyarakat.

Menjadi Lulusan Perawat Unggul dan Berdaya Saing

Prodi Keperawatan UAA memastikan setiap lulusannya memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja, baik di dalam maupun luar negeri.

1. Fasilitas dan Lingkungan Belajar Modern

UAA menyediakan fasilitas laboratorium keperawatan yang lengkap dan canggih, memungkinkan mahasiswa berlatih simulasi klinis yang realistis. Lingkungan akademik yang mendukung didukung oleh dosen-dosen berkualitas dan berpengalaman di bidangnya.

2. Peluang Praktik Lapangan yang Luas

Mahasiswa akan menjalani praktik klinik di berbagai tatanan pelayanan kesehatan, mulai dari rumah sakit hingga puskesmas dan komunitas. Ini memberikan pengalaman langsung yang krusial untuk menguasai berbagai prosedur keperawatan dan pengambilan keputusan klinis.

3. Integrasi Ilmu Keperawatan dan Teknologi Kesehatan

Dalam upaya menciptakan Perawat Unggul, UAA juga mendorong pemanfaatan teknologi informasi kesehatan untuk manajemen data pasien dan peningkatan mutu pelayanan keperawatan, selaras dengan perkembangan smart health.

Prospek Karier Perawat Profesional (Ners) Lulusan UAA

Lulusan Prodi Keperawatan UAA berhak menyandang gelar Ners dan memiliki prospek karier yang sangat luas:

  • Klinisi: Bekerja di rumah sakit, puskesmas, klinik, dan layanan kesehatan lainnya.
  • Edukator dan Konsultan: Menjadi tenaga pengajar atau konsultan kesehatan masyarakat, khususnya di bidang pencegahan penyakit degeneratif.
  • Wirausaha Kesehatan: Membuka praktik keperawatan mandiri atau layanan perawatan di rumah (home care).
  • Karier Internasional: Dengan kompetensi yang diakui, lulusan berkesempatan bekerja sebagai perawat profesional di luar negeri.

Memilih Prodi Keperawatan Universitas Alma Ata berarti memilih jalan untuk menjadi seorang Perawat Profesional (Ners) yang memiliki nilai tambah signifikan, terutama dalam kekhasan Pencegahan Penyakit Degeneratif. Bergabunglah sekarang dan jadilah bagian dari agen perubahan kesehatan yang akan memimpin upaya promotif dan preventif di masa depan.
Kata kunci: Perawat Unggul; Ners; Prodi Keperawatan; Penyakit Degeneratif

LARI, MEDSOS, DAN EGO: JANGAN SAMPAI “FLEXING” BERUJUNG DI IGD

LARI, MEDSOS, DAN EGO: JANGAN SAMPAI “FLEXING” BERUJUNG DI IGD

Oleh: Allama Zaki Almubarok

Lari kini bukan sekadar olahraga kardio, melainkan telah bertransformasi menjadi gaya hidup dan konten media sosial. Di Yogyakarta dan kota-kota besar lainnya, linimasa media sosial kita sering dipenuhi tangkapan layar dari aplikasi pelacak olahraga (seperti Strava, Garmin, atau Nike Run Club). Data seperti Pace (kecepatan), Heart Rate (detak jantung), dan Jarak Tempuh (KM) dipamerkan sebagai bentuk pencapaian. Hal ini tentu positif untuk motivasi. Namun, ada sisi gelap yang sering tidak disadari yaitu Tekanan Sosial Digital. Bagi orang awam atau mereka yang jarang berolahraga, melihat teman memposting lari 10 KM dengan Pace 4 atau 5 (sangat cepat) seringkali menjadi trigger (pemicu) psikologis. Timbul keinginan impulsif untuk menyamai angka tersebut agar terlihat “keren” atau “mampu”, tanpa sadar bahwa kemampuan fisik setiap orang berbeda jauh.

Euforia digital ini berbahaya jika tidak dibarengi dengan pemahaman fisiologis tubuh. Berikut adalah rangkuman risiko medis akibat memaksakan diri demi angka di media sosial.

Jebakan “Flexing” Statistik dan Risiko Medis

Banyak pemula terjebak membandingkan “Bab 1” mereka dengan “Bab 20” orang lain. Mereka yang memposting pace kencang mungkin sudah berlatih bertahun-tahun. Saat pemula dengan gaya hidup sedenter (kurang gerak) tiba-tiba mencoba meniru angka tersebut:

  1. Bahaya Lonjakan Pace (Kecepatan)
    Seseorang yang kemampuan alaminya berada di Pace 8 atau 9 (jogg santai), namun memaksakan diri berlari di Pace 4 atau 5 karena “terpanas” melihat postingan orang lain, sedang menempatkan jantungnya dalam bahaya. Jantung dipaksa memompa darah 2-3 kali lebih cepat secara mendadak. Pada tubuh yang tidak terlatih, ini memicu iskemia (kekurangan oksigen) pada otot jantung yang bisa berujung pada Henti Jantung Mendadak (Sudden Cardiac Arrest), terutama jika ada kelainan jantung tersembunyi.
  2. Mengabaikan Heart Rate (HR) Maksimal 
    Aplikasi lari sering menampilkan zona Heart Rate. Kesalahan fatal pemula adalah berlari terus-menerus di zona merah demi mengejar pace cepat. Setiap orang memiliki batas Detak Jantung Maksimal (Maximum Heart Rate/MHR).
  • Rumus Kasar: 220 dikurangi Usia.
  • Contoh: Jika Anda berusia 30 tahun, MHR Anda ±190 bpm.
  • Zona Aman: Lari sehat sebaiknya di 60-75% MHR (sekitar 114-142 bpm).
  • Zona Bahaya: Jika Anda lari hingga HR menyentuh >90% (misal: 175-180 bpm) dalam durasi lama tanpa latihan, risiko kolaps meningkat drastis.
  1. Cedera Muskuloskeletal
    Otot, tendon, dan tulang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk beradaptasi dengan beban lari. Memaksakan jarak jauh atau lari cepat secara tiba-tiba dapat menyebabkan Shin SplintsStress Fracture (retak tulang halus), hingga Rhabdomyolysis (kerusakan otot akut yang merusak ginjal).

Rekomendasi: Run Your Own Race

Jangan biarkan algoritma media sosial mendikte kesehatan jantungmu. Berikut panduan lari yang aman:

  • Pahami Kemampuan Diri: Jika pace nyaman Anda adalah jalan cepat atau lari kecil (Pace 9-10), lakukanlah dengan bangga. Itu tetap menyehatkan jantung.
  • Filter Media Sosial: Sadari bahwa apa yang diposting orang lain adalah hasil latihan panjang mereka. Jangan jadikan statistik orang lain sebagai standar latihan hari pertama Anda.
  • Pantau Nadi, Bukan Pace: Saat lari, lebih baik fokus melihat Heart Rate di jam tangan daripada melihat Pace. Jika nadi sudah terlalu tinggi (dada sesak, napas pendek), berjalanlah. Tidak ada yang salah dengan berjalan kaki.
  • Mulai Bertahap: Gunakan metode Walk-Run (Lari 1 menit, Jalan 2 menit). Tingkatkan jarak maksimal 10% setiap minggunya.
  • Skrining Kesehatan: Terutama bagi pria >35 tahun atau memiliki riwayat hipertensi/obesitas, sangat disarankan cek rekam jantung (EKG) sebelum memulai rutin lari intensitas tinggi.

Ingat, garis finis terbaik adalah sampai di rumah dengan selamat, bukan sekadar angka cantik di layar ponsel. Listen to your body, not your social media feed.

Keyword: Lari, Strava, Pelari Kalcer, Kuliah Keperawatan, Yogyakarta

Referensi:

  1. American Heart Association. (2023). Target Heart Rates Chart. AHA Journals.
  2. De la Haye, K., et al. (2017). The contagion of physical activity behavior in social networks. PloS one, 12(3). (Studi tentang pengaruh jejaring sosial terhadap aktivitas fisik).
  3. Kim, J. H., Malhotra, R., Chiampas, G., dkk. (2012). Cardiac Arrest during Long-Distance Running Races. New England Journal of Medicine.
  4. Vina, J., et al. (2012). Exercise acts as a drug; the pharmacological benefits of exercise. British Journal of Pharmacology.

JAGA TUMBLER, JAGA KESEHATAN

JAGA TUMBLER, JAGA KESEHATAN

Oleh: Sofyan Indrayana

Menyimpan air minum dalam tumbler (botol minum isi ulang: plastik, stainless steel, vacuum tumbler, dsb.) saat ini umum dilakukan untuk kenyamanan dan pengurangan sampah plastik sekali pakai. Namun, taukah kamu jika tumbler-mu bisa berdampak terhadap kesehatanmu? Berikut rangkuman penelitian terbaru, implikasinya, dan rekomendasi untuk kamu.

Penggunaan tumbler ternyata memiliki resiko terhadap kesehatan. Eitss… don’t get me wrong …, Baca sampai akhir ya! Berikut resiko kesehatan penggunaan tubler dan implikasinya:

    1. Efek mikrobiologis 

Penelitian menunjukkan tumbler yang digunakan berulang dapat menjadi tempat berkembangnya komunitas mikroba dan biofilm pada permukaan dalamnya. Biofilm ini melindungi bakteri dari pembersihan biasa dan memungkinkan akumulasi organisme potensial patogenik (misal: Enterobacteriaceae, Pseudomonas spp., bakteri heterotrof). Kondisi hangat /lembap dan sisa minuman (mis. teh, susu) mempercepat pembentukan biofilm. Studi survei pada botol sehari-hari didapatkan peningkatan jumlah bakteri, bahkan beberapa sample menunjukkan keberadaan koliform dan bakteri resisten obat—mengindikasikan potensi risiko bagi pengguna dengan penurunan imunitas atau terdapat luka pada mulut. Implikasi: penggunaan tumbler bergantian tanpa pembersihan yang memadai dapat meningkatkan risiko penularan mikroba.

    1. Pelepasan bahan kimia

Material plastik (terutama polycarbonate dan beberapa plastik lain yang mengandung aditif) dapat melepaskan senyawa seperti bisphenol A (BPA) dan turunan lain terutama saat terpapar suhu tinggi, goresan, atau penuaan material. Penelitian menegaskan hubungan antara suhu atau pemakaian berulang dengan peningkatan migrasi bahan kimia ke air. Tumbler stainless steel umumnya lebih stabil secara kimia dibanding plastik, tetapi lapisan cat atau komponen seal (karet/silikon) juga bisa menjadi sumber kontaminan jika kualitasnya rendah. Implikasi: paparan kronis terhadap endokrin disruptor seperti BPA menjadi perhatian, meskipun banyak efek jangka panjang masih diteliti. Menghindari pemanasan dalam botol plastik dan mengganti botol yang tergores/tua mengurangi risiko.

    1. Mikroplastik dan nanoplastik

Penelitian terkini menemukan bahwa botol plastik (termasuk sekali pakai dan pakai ulang) dapat melepaskan partikel mikro- dan nanoplastik ke air minum. Ini menunjukkan kemasan/tumbler plastik adalah sumber potensial paparan partikel kecil yang dapat menembus jaringan. Implikasi: konsekuensi kesehatan jangka panjang dari paparan nanoplastik belum pasti, namun studi awal menunjukkan potensi inflamasi dan efek sistemik. Oleh karena itu, prinsip kehati-hatian dianjurkan. 

Menyimpan air minum dalam tumbler praktis dan ramah lingkungan bila dilakukan dengan benar. Berikut rekomendasi penggunaan tumbler yang aman:

    1. Pilih material yang aman: gunakan tumbler stainless steel food-grade atau kaca bila memungkinkan; hindari penggunaan wadah plastik yang tak jelas spesifikasinya untuk air panas.
    2. Hindari mengisi dengan air panas ke tumbler plastik: suhu tinggi meningkatkan migrasi bahan kimia.
    3. Bersihkan setiap hari secara menyeluruh: cuci dengan sabun dan sikat yang cukup untuk mencapai sela-sela tutup; jemur sampai benar-benar kering sebelum disimpan. Untuk botol bersegmen (sedotan/tutup kompleks) bongkar dan bersihkan semua komponen.
    4. Ganti botol yang tergores/berbau/berjamur: tanda-tanda ini menandakan kerusakan permukaan dan akumulasi mikroba.
    5. Perhatian untuk kelompok rentan: pasien imunosupresif, bayi, atau orang dengan gangguan imun sebaiknya menghindari reuse tanpa sterilisasi rutin.
    6. Biasakan membawa botol cadangan, mengosongkan sisa minuman yang tidak diminum lama, dan hindari menyimpan minuman lebih dari 24 jam tanpa pendinginan/sterilisasi.

Keyword: Tumbler, Kuliah Keperawatan, Yogyakarta

Referensi:

  • Hariharan, A. V., & Sankar, M. M. (2024). Daily Use Water Bottles as a Hub for Microbial Population: A Comparative Study of PET vs. Stainless Steel Water Bottles and Outcome of Washing Strategy Intervention. Journal of pharmacy & bioallied sciences, 16(Suppl 2), S1242–S1245. https://doi.org/10.4103/jpbs.jpbs_559_23
  • Honeycutt JA, Nguyen JQT, Kentner AC, Brenhouse HC. Effects of Water Bottle Materials and Filtration on Bisphenol A Content in Laboratory Animal Drinking Water. J Am Assoc Lab Anim Sci. 2017 May 1;56(3):269-272. PMC5438920.
  • Ighalo, J. O., Kurniawan, S. B., Khongthaw, B., Buhari, J., Chauhan, P. K., Georgin, J., & Pfingsten Franco, D. S. (2024). Bisphenol A (BPA) toxicity assessment and insights into current remediation strategies. RSC Adv., 14(47), 35128–35162. https://doi.org/10.1039/D4RA05628K.
  • Zhang, J.; Liu, Y.; Zhao, L.; Peng, C.; Wang, L. Microplastics and nanoplastics in drinking water and beverages: occurrence and human exposure. J. Environ. Expo. Assess. 2024, 3, 24. http://dx.doi.org/10.20517/jeea.2024.37.

Pencegahan Perilaku Seksual Pra-Nikah Remaja: Peran Kunci Orang Tua

Pencegahan Perilaku Seksual Pra-Nikah Remaja: Peran Kunci Orang Tua

Penulis: Dr. Wahyuningsih, S.Kep., Ns., M.Kep.

Perilaku seksual berisiko, seperti hubungan seksual pra-nikah pada remaja, merupakan masalah serius yang berdampak pada kehamilan di luar nikah dan aborsi tidak aman. Di Indonesia, diperkirakan 30% dari 2,3 juta kasus aborsi tahunan dilakukan oleh remaja. Meskipun Pemerintah telah mengatur upaya preventif dan promotif kesehatan reproduksi (melalui PP No. 61 Tahun 2014 dan UU No. 36 Tahun 2009), data lapangan menunjukkan dampak regulasi tersebut belum maksimal. Hal ini mengindikasikan bahwa peran lingkungan terdekat remaja, terutama orang tua, sangat krusial dalam pencegahan.

Peran orang tua menjadi hal yang sangat penting untuk mencegah perilaku seksual beresiko. Dua di antaranya adalah tentang pola asuh dan kelekatan. Pola asuh memiliki beberapa komponen, yaitu:

1) pengawasan (sebaiknya orangtua tidak hanya mengawasi anak dengan cara memantau temannya saja);

2) kontrol perilaku dan kedisiplinan (adanya aturan yang dibuat untuk dilaksanakan anak misalnya tidak boleh main lebih dari jam 9 malam);

3) sikap terhadap pelanggaran (tidak menyikapi kesalahan anak dengan marah atau emosi);

4) pengasuhan (mencukupi kebutuhan finansial dan Pendidikan saja tidak cukup untuk pengasuhan kepada anak, perlu dilengkapi dengan pendidikan agama, akhlak, norma, kasih saya, dan dapat menjadi teman bagi anak.

Yang kedua adalah kelekatan (attachment), terdiri dari komponen:

1) kepercayaan (kepercayaan penuh yang diberikan orangtua kepada anak);

2) komunikasi dan keterbukaan (merupakan komponen kritis, dan orang tua wajib memiliki komunikasi dan keterbukaan dengan anak karena saat ini anak cenderung kurang terbuka dengan orang tua dan lebih nyaman bercerita dengan teman);

3) pengasingan (alienation) terdiri dari komponen:

     1) kedekatan (kelekatan kepada orangtua sebaiknya dapat setara tidak hanya lekat kepada ibu saja atau ayah saja, hal ini                penting untuk perkembangan anak);

     2) mengenali masalah (orangtua terkadang tidak mampu mengenali ketika anak sedan gada masalah, hal ini disebabkan                  karena kurangnya keterbukaan);

     3) sikap terhadap masalah (kebanyakan orantua akan cuek terhadap permasalahan anak hanya karena anak tidak terbuka,              dan menganggap dengan tidak bercerita maka anak dapat mengatasi masalahnya).

Seluruh komponen tersebut merupakan hal yang sangat penting dan sebaiknya dilakukan oleh orangtua agar anak terhindar dari perilaku seksual beresiko.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2018 di Trirenggo, Bantul orangtua telah menjalankan pengawasan dan kontrol, tetapi belum optimal dalam dimensi emosional dan komunikasi. Kegagalan orang tua untuk menjadi sosok teman yang aman dan nyaman bagi anak, ditambah dengan faktor kesibukan, menciptakan jarak emosional. Hal ini membuat remaja mencari validasi, kenyamanan, dan ruang bercerita kepada teman sebaya, yang berpotensi menjerumuskan mereka pada perilaku berisiko. Perlu adanya tindak lanjut dari hasil penelitian ini, berupa peningkatan kesadaran orangtua dan anak remaja untuk saling terbuka dan tidak mendahulukan ego masing-masing.

Pesan kami untuk para orangtua dan anak remaja, jadilah teman yang saling terbuka dan saling memahami serta saling melengkapi. Wujudkan keluarga berkualitas melalui pola asuh dan kelekatan yang tentunya dimulai sejak anak usia sebelum remaja. Selalu cintai keluarga kalian karena setelah sibuknya dunia di luar rumah, maka kalian akan kembali ke keluarga, dan merekalah yang akan menerima kita apapun kondisinya.

Kata kunci: Prodi Pendidikan Profesi Ners Terbaik di Jogja, Perilaku seksual pra nikah, keluarga berkualitas

Resonansi Kepedulian: Memutus Rantai Bullying dengan Pendekatan “STOP” dari Perspektif Kesehatan Jiwa

Resonansi Kepedulian: Memutus Rantai Bullying dengan Pendekatan “STOP” dari Perspektif Kesehatan Jiwa

Oleh: Imam Akbar

Key Word : Prodi Keperawatan Terbaik di Jogja; STOP Bullying; Kesehatan Jiwa; Keperawatan UAA

Dalam diskursus kesehatan masyarakat modern, bullying (perundungan) tidak lagi dipandang sekadar dinamika sosial remaja, melainkan sebuah patologi perilaku yang memerlukan intervensi klinis dan psikososial. Bullying didefinisikan sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang kali dengan adanya ketimpangan kekuatan, di mana pelakunya secara sengaja bertujuan merendahkan atau menyakiti individu yang lebih lemah. Bagi civitas akademika keperawatan, fenomena ini adalah alarm kegawatdaruratan kesehatan mental yang menuntut respons komprehensif, mengingat dampaknya yang mampu merusak homeostasis fisik dan psikis korbannya.

Membedah etiologi perundungan memerlukan pemahaman psikologis yang mendalam. Perilaku ini sering kali bukan lahir dari ruang hampa, melainkan manifestasi dari defisit empati dan pengaruh lingkungan. Pelaku mungkin mereplikasi kekerasan yang ia saksikan di lingkungannya, atau terdorong oleh tekanan sosial (peer pressure) demi mendapatkan pengakuan kelompok dan menunjukkan superioritas kekuasaan semu . Tanpa intervensi, siklus ini melahirkan dampak sistemik yang fatal. Korban tidak hanya mengalami isolasi sosial dan penurunan prestasi akademik, tetapi juga berisiko tinggi menderita gangguan kesehatan mental serius seperti depresi, kecemasan, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) . Lebih jauh, tubuh merespons stres kronis ini melalui gejala psikosomatis, seperti sakit kepala persisten, insomnia, hingga cedera fisik yang nyata.

Sebagai respons solutif, pendekatan keperawatan komunitas dapat mengadopsi kerangka kerja “STOP”—sebuah akronim dari Sadar, Tolong, dan Perangi—yang digagas untuk memberdayakan teman sebaya sebagai agen perubahan. Tahap pertama, Sadar, menuntut kognisi kita untuk memahami bahwa bullying memiliki berbagai wajah, mulai dari fisik, verbal, sosial, hingga cyber bullying yang marak di era digital . Kesadaran ini menjadi fondasi untuk memahami bahwa setiap tindakan agresif memiliki konsekuensi jangka panjang bagi kesehatan jiwa.

Langkah kedua, Tolong, adalah manifestasi dari nilai caring dalam keperawatan. Kita didorong untuk meninggalkan peran pasif sebagai penonton (bystander) dan beralih menjadi pelindung aktif yang berani membela korban serta menjadi pendengar yang penuh empati. Mekanisme pelaporan kepada pihak berwenang seperti dosen atau konselor juga menjadi langkah krusial dalam tahap ini. Tahap terakhir, Perangi, adalah aksi kolektif untuk menciptakan Bully-Free Zone. Ini bukan tentang kekerasan membalas kekerasan, melainkan membangun solidaritas untuk menolak normalisasi bullying dan menciptakan lingkungan positif di mana setiap individu merasa aman.

Kesehatan mental adalah hak asasi, dan menciptakan ruang aman adalah tanggung jawab kolektif. Dikutip dari Quotes Coach Akbar bahwa setiap kejadian dalam hidup adalah berkah, setiap momen adalah keindahan, dan setiap yang ada pada hidup kita adalah anugerah. Jangan sampai anugerah kehidupan ini tercederai oleh perilaku yang saling menyakiti. Mari kita sinergikan kompetensi keperawatan dan kepedulian kemanusiaan untuk bersama-sama mengatakan: STOP Bullying!!!!!