Oleh: Despita Pramesti, S.Kep.Ns.,M.Kes
Masa remaja sering disebut sebagai fase pencarian jati diri. Pada periode ini, remaja mulai mengurangi ketergantungan pada orang tua dan semakin banyak menghabiskan waktu bersama teman sebaya. Tidak mengherankan jika pendapat, penerimaan, dan hubungan dengan teman menjadi salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan remaja.
Namun, di balik pentingnya peran teman sebaya, terdapat dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, teman dapat menjadi sumber dukungan yang membantu remaja menghadapi berbagai tantangan hidup. Di sisi lain, tekanan dari kelompok teman (peer pressure) dapat menjadi sumber stres yang berkontribusi terhadap munculnya masalah kesehatan mental, termasuk depresi.
Penelitian yang dilakukan oleh Alfi Rahmadani, Despita Pramesti, bersama tim peneliti dari Universitas Alma Ata Yogyakarta menemukan bahwa kualitas interaksi teman sebaya memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian depresi pada remaja madya. Penelitian yang melibatkan 311 siswa SMK Negeri 1 Sedayu tersebut menunjukkan bahwa semakin baik interaksi sosial yang dimiliki remaja, semakin rendah risiko mereka mengalami depresi.
Remaja dan Kebutuhan untuk Diterima
Bagi sebagian besar remaja, diterima oleh kelompok teman bukan hanya kebutuhan sosial biasa. Penerimaan dari teman sering kali menjadi bagian dari pembentukan identitas diri. Ketika seorang remaja merasa dihargai, didengarkan, dan dianggap sebagai bagian dari kelompok, ia akan memiliki rasa percaya diri yang lebih baik serta kemampuan menghadapi tekanan hidup yang lebih kuat.
Sebaliknya, ketika remaja mengalami penolakan, dikucilkan, atau merasa tidak memiliki teman yang dapat dipercaya, mereka lebih rentan mengalami kesepian, stres emosional, dan gangguan suasana hati. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gejala depresi apabila berlangsung dalam waktu yang lama. Penelitian Despita Pramesti menegaskan bahwa kurangnya dukungan sosial dan adanya penolakan dari teman sebaya dapat menjadi faktor yang memicu munculnya depresi pada remaja.
Teman Sebaya Sebagai Faktor Pelindung
Hubungan pertemanan yang sehat memiliki peran penting sebagai “benteng psikologis” bagi remaja. Teman yang suportif dapat membantu remaja mengatasi tekanan akademik, konflik keluarga, maupun masalah pribadi lainnya.
Remaja yang memiliki teman dekat cenderung lebih mudah berbagi cerita ketika menghadapi masalah. Mereka tidak merasa sendirian dalam menghadapi kesulitan. Dukungan sederhana seperti mendengarkan keluh kesah, memberikan semangat, atau menemani saat menghadapi masa sulit ternyata memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental.
Berbagai penelitian internasional juga menunjukkan bahwa kualitas hubungan teman sebaya berhubungan erat dengan rendahnya gejala depresi pada remaja. Hubungan yang positif dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis serta membantu perkembangan sosial dan emosional yang lebih sehat.
Ketika Peer Pressure Menjadi Ancaman
Meski demikian, tidak semua pengaruh teman sebaya bersifat positif. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak remaja menghadapi tekanan untuk mengikuti norma kelompok. Mereka merasa harus berpakaian seperti teman-temannya, mengikuti tren tertentu, memiliki jumlah teman yang banyak, atau menunjukkan pencapaian tertentu agar diterima oleh lingkungan sosialnya. Fenomena ini dikenal sebagai peer pressure atau tekanan teman sebaya.
Peer pressure sering kali tidak terlihat secara langsung. Tekanan tersebut dapat muncul dalam bentuk sindiran, ejekan, perbandingan sosial, atau ketakutan untuk dianggap berbeda. Akibatnya, remaja dapat merasa harus terus menyesuaikan diri meskipun hal tersebut bertentangan dengan keinginan atau kenyamanan mereka.
Penelitian menunjukkan bahwa tekanan teman sebaya yang tinggi berhubungan dengan menurunnya kepercayaan diri remaja. Semakin besar tekanan untuk mengikuti kelompok, semakin rendah kemampuan remaja mempertahankan keyakinan dan identitas dirinya.
Media Sosial Memperkuat Tekanan Sosial
Di era digital, peer pressure tidak lagi hanya terjadi di sekolah atau lingkungan bermain. Media sosial memperluas ruang interaksi sekaligus memperbesar peluang terjadinya perbandingan sosial. Remaja dapat melihat teman-temannya mengunggah prestasi akademik, kegiatan sosial, liburan, atau kehidupan yang tampak sempurna. Tanpa disadari, mereka mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Perbandingan yang terus-menerus dapat memunculkan perasaan tidak cukup baik, tidak berhasil, atau tertinggal dari teman-temannya. Ketika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, risiko munculnya kecemasan dan depresi menjadi lebih tinggi.
Diskusi masyarakat Indonesia di berbagai platform daring juga menunjukkan bahwa banyak remaja dan mahasiswa merasakan tekanan sosial untuk memiliki banyak teman, aktif dalam pergaulan, serta selalu terlihat berhasil. Beberapa bahkan mengaitkan kesepian dan kurangnya relasi sosial dengan perasaan gagal dalam hidup.
Membangun Lingkungan Pertemanan yang Sehat
Temuan penelitian Alfi Ramadhani, Despita Pramesti dan tim peneliti memberikan pesan penting bahwa kualitas hubungan sosial lebih penting dibandingkan kuantitas pertemanan. Remaja tidak harus memiliki banyak teman untuk merasa bahagia. Yang lebih penting adalah memiliki hubungan yang sehat, saling mendukung, dan memberikan rasa aman secara emosional.
Sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental remaja. Program peer support, edukasi kesehatan mental, pencegahan perundungan, serta peningkatan keterampilan komunikasi dapat membantu remaja membangun hubungan sosial yang lebih positif.
Referensi utama:
• Rahmadani, A., Pramesti, D., Kamala, R. F., & Rofiyati, W. (2024). Hubungan Interaksi Teman Sebaya dengan Kejadian Depresi pada Remaja Madya. (jktp.jurnalpoltekkesjayapura.com)