Oleh: M. Ischaq Nabil Asshiddiqi

Sebuah artikel jurnal penelitian terbaru dari dosen Keperawatan, Universitas Alma Ata bersama peneliti dari Thailand (Prince of Songkla University) dan Amerika Serikat (Johns Hopkins University) mengungkap bahwa dimensi spiritualitas, terutama ketenangan batin (peace) dan keyakinan spiritual (faith), memiliki hubungan yang erat dengan rendahnya tekanan psikologis (diabetes distress) pada lansia dengan diabetes tipe 2. Studi ini telah diterima untuk publikasi di jurnal internasional Discover Public Health (Springer Nature).

Mengapa Diabetes Distress Penting untuk Diperhatikan?

Diabetes distress adalah beban emosional yang muncul dari rutinitas pengelolaan diabetes yang kompleks dan tidak pernah berhenti: mengatur pola makan, mengecek gula darah, minum obat, dan menghadapi komplikasi. Berbeda dengan depresi klinis, diabetes distress secara langsung terkait dengan rasa gagal, takut, dan lelah karena tuntutan manajemen penyakit diabetes setiap harinya. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan ketidakpatuhan berobat, memburuknya kontrol gula darah, dan menurunnya kualitas hidup.

Namun, di Indonesia, studi tentang faktor pelindung (protective factors) terhadap diabetes distress terutama dari aspek spiritualitas yang lebih spesifik masih sangat terbatas. Penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut.

Bagaimana Penelitian Dilakukan?

Penelitian ini melibatkan 198 lansia dengan diabetes tipe 2 yang berobat di Klinik Geriatri RSUP Soeradji Tirtonegoro, Klaten, Jawa Tengah.

Penelitian ini mengukur:

  • Spiritualitas menggunakan kuesioner FACIT‑Sp‑Ex (23 item) yang mengukur empat domain: makna hidup (meaning), ketenangan batin (peace), keyakinan (faith), dan keterhubungan (relational spirituality).
  • Diabetes distress menggunakan kuesliu Diabetes Distress Scale (DDS‑17) yang juga mengukur empat domain: beban emosional, distress terkait dokter, distress terkait aturan pengobatan, dan distress interpersonal.

Selain itu, faktor sosial ekonomi (pendapatan, pendidikan) dan klinis (lama menderita diabetes, komplikasi, IMT) juga dianalisis sebagai variabel kontrol.

Temuan Utama: Apa yang Membuat Lansia Lebih Tenang?

1. Spiritualitas Lansia Tinggi, Distress Rendah

Secara deskriptif, lansia dalam penelitian ini memiliki tingkat spiritualitas total yang tinggi (rata‑rata skor mentah 74,6 dari kemungkinan maksimal 92). Sebaliknya, tingkat diabetes distress mereka tergolong rendah (rata‑rata skor 1,14 dari skala 1–6). Ini menunjukkan bahwa secara umum, sampel lansia di klinik geriatri memiliki cadangan spiritual yang baik yang mungkin membantu mereka menghadapi penyakit kronis.

2. Domain “Peace” (Ketenangan Batin) Paling Kuat Berhubungan dengan Rendahnya Distress

Dari keempat domain spiritualitas, peace menunjukkan hubungan paling kuat (β = -0,276, p = 0,004). Artinya, semakin tinggi rasa damai, semakin rendah tekanan emosional akibat diabetes.

Apa itu “peace”? Dalam kuesioner FACIT‑Sp Ex, peace mencakup perasaan batin yang tenang, harmoni, dan bebas dari kekhawatiran meskipun sedang sakit. Penelitian ini menemukan bahwa peace lebih dominan dibandingkan domain lain karena ia secara langsung meredam reaksi afektif negatif (cemas, takut, putus asa) terhadap rutinitas diabetes. Peace juga terbukti berhubungan dengan beban emosional, distress terkait aturan pengobatan, dan distress interpersonal – tiga dari empat dimensi diabetes distress.

Temuan ini sejalan dengan penelitian global yang menunjukkan bahwa peace adalah “ujung afektif” dari spiritualitas – yaitu kondisi batin yang paling dekat dengan kesejahteraan emosional. Berbeda dengan makna hidup (meaning) yang lebih kognitif, peace bersifat langsung menenangkan sistem saraf dan mengurangi reaktivitas stres. Dalam konteks lansia dengan diabetes, kedamaian batin membantu mereka menerima fluktuasi gula darah atau kegagalan sementara dalam diet tanpa menghakimi diri sendiri.

3. Faith (Keyakinan) Juga Berperan, Terutama pada Beban Emosional

Domain faith (keyakinan kepada Tuhan) juga menunjukkan hubungan negatif yang signifikan (β = -0,199, p = 0,046). Faith terutama terkait dengan rendahnya beban emosional (Emotional Burden) – perasaan marah, takut, putus asa. Keyakinan spiritual memberi makna positif terhadap penderitaan (misalnya: “penyakit ini adalah ujian atau amanah dari Tuhan”) dan menumbuhkan harapan.

Dalam studi kualitatif di Indonesia, pasien diabetes sering menyebut spiritualitas sebagai “obat batin” yang membuat mereka tidak merasa sendiri. Keyakinan bahwa Tuhan selalu bersama dan akan menolong memberikan ketenangan tersendiri. Namun, penelitian ini juga mengingatkan bahwa keyakinan yang keliru (fatalisme pasif) justru dapat membuat pasien menyerah pada pengobatan medis. Oleh karena itu, pendekatan spiritual harus dilakukan dengan bijak dan berimbang.

4. Makna Hidup (Meaning) dan Keterhubungan (Relational) Tidak Signifikan dalam Regresi

Meskipun dalam analisis korelasi sederhana, makna hidup menunjukkan hubungan cukup kuat dengan distress, namun setelah dikontrol dengan peace dan faith dalam analisis regresi, makna hidup menjadi tidak signifikan. Artinya, efek makna hidup terhadap distress sebagian besar “diserap” oleh peace dan faith. Hal yang sama terjadi pada domain keterhubungan (relasional) – tidak terbukti signifikan.

Mengapa domain relational/keterhubungan (rasa terhubung dengan Tuhan, sesama, atau alam) tidak signifikan? Peneliti menduga bahwa dalam budaya Islam yang mayoritas (59,6% sampel Muslim), hubungan dengan Tuhan lebih sering diekspresikan melalui praktik terstruktur (shalat, puasa, zakat) daripada melalui “rasa terhubung” individualistis yang diukur oleh kuesioner FACIT‑Sp Ex. Ini menunjukkan catatan tentang pentingnya alat ukur yang sensitif budaya.

5. Pendapatan Rendah Meningkatkan Risiko Distress

Faktor sosial ekonomi yang paling signifikan adalah pendapatan bulanan. Semakin rendah pendapatan, semakin tinggi diabetes distress (β = -0,153, p = 0,033). Pendapatan rendah menjadi hambatan untuk membeli obat, alat cek gula darah, makanan sehat, dan mengakses edukasi diabetes.

Studi ini merekomendasikan agar tenaga kesehatan secara rutin menanyakan kesulitan finansial pasien, misalnya: “Apakah Anda pernah kesulitan membeli obat atau alat cek gula darah karena biaya?” Jika ya, pasien perlu mendapatkan perhatian lebih seperti kepastian jaminan keksehatan, pemberian obat generik dan penyederhanaan regimen pengobatan yang dapat mengurangi beban biaya.

6. Mengapa Lansia di Klinik Geriatri Hampir Tidak Mengalami Distress Terkait Dokter dan Tenaga Kesehatan (Physician-related Distress)?

Salah satu temuan menarik adalah hampir tidak adanya variasi pada domain physician‑related distress (rerata 1,00, SD 0,02). Semua peserta melaporkan tingkat distress terendah terhadap dokter dan tenaga kesehatan mereka.

Peneliti menghubungkan temuan ini dengan studi nasional Arifin dkk. (2019) yang menunjukkan bahwa pasien di pelayanan kesehatan tersier (rumah sakit besar) memiliki kemungkinan distress tinggi hingga 3,68 kali lebih rendah dibanding pasien di pelayanan primer. Pasien di rumah sakit besar merasa lebih percaya pada spesialis dan menganggap fasilitas penunjang serta obat lebih lengkap. Ditambah lagi, budaya Indonesia yang cenderung sangat menghormati otoritas medis juga berperan.

Meskipun ini kabar baik – karena menunjukkan bahwa pelayanan di RSUP sudah berkualitas – peneliti juga mengingatkan bahwa hasil ini tidak bisa digeneralisasi ke semua fasilitas kesehatan. Di puskesmas atau klinik swasta kecil, mungkin tingkat physician‑related distress berbeda. Penelitian lebih lanjut di berbagai tingkat fasilitas diperlukan.

Implikasi untuk Praktik dan Penelitian ke Depan

Bagi Tenaga Kesehatan:

  1. Lakukan skrining spiritual sederhana. Cukup satu pertanyaan: “Apakah Anda merasakan ketenangan atau kenyamanan dari keyakinan spiritual Anda dalam mengelola diabetes?” Jawaban dapat membantu mengidentifikasi lansia yang mungkin mendapat manfaat dari dukungan spiritual.
  2. Integrasikan aspek peace dan faith dalam konseling. Tidak perlu menjadi konselor agama, tetapi tunjukkan penghormatan pada nilai spiritual pasien. Misalnya, “Selain minum obat, apakah ada praktik spiritual yang membuat Bapak/Ibu merasa lebih tenang?”
  3. Perhatikan faktor ekonomi. Sediakan informasi tentang program bantuan biaya, resep obat generik, dan bantuan layanan kesehatan lainnya yang relevan.

Bagi Peneliti Selanjutnya:

  1. Studi longitudinal diperlukan untuk melihat hubungan sebab‑akibat antara spiritualitas dan diabetes distress.
  2. Uji coba intervensi yang secara khusus menargetkan peace (misalnya berbasis mindfulness atau acceptance and commitment therapy) perlu dilakukan.
  3. Pengembangan alat ukur spiritualitas yang lebih sensitif budaya untuk masyarakat Muslim Indonesia menjadi prioritas.

Penutup

Penelitian ini memberikan bukti bahwa ketenangan batin (peace) dan keyakinan spiritual (faith) adalah dua aspek spiritualitas yang paling kuat terkait dengan rendahnya tekanan psikologis pada lansia diabetes. Pendekatan perawatan yang peka terhadap aspek spiritualitas, sekaligus memperhatikan kondisi ekonomi pasien, dapat menjadi strategi sederhana namun berdampak besar untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dengan diabetes.

👨‍⚕️ Para Peneliti

  • Bpk. M. Ischaq Nabil Asshiddiqi (Universitas Alma Ata & The University of Hong Kong) – peneliti utama
  • Prof. Kantaporn Yodchai & Prof. Ploenpit Thaniwattananon (Prince of Songkla University, Thailand)
  • Dr. Emma C. Lewis & Prof. Joel Gittelsohn (the Johns Hopkins University, USA)
  • Prof. Hamam Hadi (Universitas Alma Ata)

Penelitian ini didanai oleh Higher Education Research Promotion and Thailand’s Education Hub for Southern Region of ASEAN Countries Project Office of the Higher Education Commission (Grant No. TEH‑AC 036/2017).

📄 Artikel Lengkap

Naskah lengkap akan segera terbit di Discover Public Health (Springer Nature).

Spirituality and its domain-specific associations with diabetes distress in Indonesian older adults with type 2 diabetes mellitus.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi penulis korespondensi:
M. Ischaq Nabil Asshiddiqi – ischaq.nabil@almaata.ac.id

Referensi:

Asshiddiqi, M. I. N., Yodchai, K., Thaniwattananon, P., Lewis, E. C., Gittelsohn, J., & Hadi, H. (2026). Spirituality and its domain‑specific associations with diabetes distress in older Indonesian adults with type 2 diabetes. Discover Public Health. https://doi.org/10.1186/s12982-026-02291-5