Dr. Anafrin Yugistyowati, Ns., M.Kep., Sp.Kep.An
Prodi Profesi Ners Universitas Alma Ata
Masa remaja sering kali disebut sebagai masa-masa mencari jati diri. Di fase ini, anak-anak kita mengalami perubahan hormon, emosi yang naik-turun, serta rasa ingin tahu yang sangat besar. Sayangnya, di era digital saat ini, tantangan yang mereka hadapi jauh lebih berat. Salah satu isu yang sedang marak dan banyak dikhawatirkan oleh para orang tua adalah meluasnya kampanye dan normalisasi gaya hidup LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di media sosial, film, hingga tontonan sehari-hari. Sebagai orang tua, tentu muncul rasa cemas: bagaimana cara melindungi anak-anak agar tidak terpengaruh arus tersebut dan tetap tumbuh sesuai dengan fitrahnya?
Secara ilmiah, dunia psikologi perkembangan mengenal sebuah konsep bernama Evidence-Based Practice (praktik berbasis bukti nyata dari hasil riset). Berdasarkan hasil berbagai penelitian, cara paling ampuh untuk menjauhkan remaja dari penyimpangan sosial bukanlah dengan cara memarahi, menghakimi, atau mengucilkan mereka. Sebaliknya, benteng terkuat justru dimulai dari dalam rumah, yaitu melalui secure attachment atau ikatan emosional yang erat antara orang tua dan anak. Ketika seorang anak merasa disayangi, didengarkan, dan diterima di rumah, mereka tidak akan mencari pelarian atau pengakuan dari komunitas yang salah di luar sana. Rumah harus menjadi tempat paling aman bagi remaja untuk menumpahkan segala kebingungan mereka tanpa takut langsung disalahkan.
Selain kedekatan emosional, riset intervensi berbasis keluarga (Family-Based Prevention Programs) juga menunjukkan bahwa komunikasi yang terbuka mengenai edukasi seksualitas dan kesehatan reproduksi sangatlah efektif. Orang tua perlu meluangkan waktu untuk berdiskusi secara sehat, menjelaskan kodrat laki-laki dan perempuan sesuai nilai moral dan agama, serta membangun kemampuan berpikir kritis pada anak. Ajarkan remaja untuk tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka lihat di media sosial. Dengan membatasi konten digital yang negatif, menemani mereka beraktivitas, serta mengarahkan energi besar mereka ke hal-hal yang positif seperti olahraga, seni, atau organisasi keagamaan. Kita dapat membangun daya tahan psikologis (resiliensi) yang kokoh agar mereka mampu menolak pengaruh lingkungan yang menyimpang.
Upaya menyelamatkan masa depan generasi muda dari krisis identitas dan risiko kesehatan, seperti penyakit menular seksual, tentu membutuhkan keterlibatan para tenaga profesional yang ahli di bidangnya. Jika Anda memiliki ketertarikan mendalam untuk menjadi bagian dari solusi kesehatan masyarakat dan ingin mendampingi generasi muda secara medis serta psikologis, Program Studi Pendidikan Profesi Ners Universitas Alma Ata (UAA) Yogyakarta adalah pilihan yang sangat tepat. Memiliki akreditasi UNGGUL dan berpengalaman mencetak lulusan dengan prestasi gemilang termasuk meraih peringkat terbaik dalam Uji Kompetensi Nasional. Program Studi Pendidikan Profesi Ners Universitas Alma Ata memadukan ilmu keperawatan modern, teknologi kesehatan, serta nilai-nilai akhlak mulia. Di sini, Anda akan dibekali keahlian asuhan keperawatan holistik dan komunitas untuk menjadi Perawat Profesional (Ners) yang siap bersaing secara global, baik di dalam maupun luar negeri. Mari bergabung bersama Universitas Alma Ata dan jadilah agen perubahan yang membawa dampak nyata bagi kesehatan dan masa depan bangsa!