Oleh : M. Ischaq Nabil Asshiddiqi, MNS
Kesepian sebagai Krisis Kesehatan Global
Kesepian (loneliness) pada lansia telah diakui sebagai salah satu krisis kesehatan masyarakat paling mendesak di abad ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian, dengan prevalensi yang sangat tinggi di kalangan lansia (World Health Organization, 2025).
Secara epidemiologis, kesepian pada lansia memang umum secara global, dan relevansinya di Indonesia meningkat seiring bertambahnya populasi usia lanjut (Chawla et al., 2021; Salari et al., 2025). Indonesi menghadapi penuaan penduduk yang cepat, dan beberapa studi menggambarkan kesepian lansia sebagai masalah yang makin nyata dalam konteks perubahan keluarga, urbanisasi, dan migrasi antargenerasi (Asri et al., 2025; Schröders et al., 2021).
Secara konseptual, kesepian didefinisikan sebagai “pengalaman tidak menyenangkan yang muncul ketika jaringan hubungan sosial seseorang tidak memadai secara signifikan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif” (Perlman & Peplau, 1982). Weiss (1974) mengembangkan tipologi yang membedakan antara kesepian emosional (emotional loneliness) sebagai tidak adanya hubungan mendalam, dan kesepian sosial (social loneliness) sebagai tidak adanya jaringan pertemanan atau komunitas yang lebih luas (Weiss, 1974).
Fenomena yang menjadi pusat perhatian dalam riset keperawatan gerontologi saat ini adalah kesepian emosional pada lansia yang justru terjadi di tengah keramaian, ketika seseorang secara objektif memiliki banyak kontak sosial tetapi secara subjektif merasakan kekosongan emosional yang mendalam (Piven et al., 2025). Artikel ini akan mengupas fenomena tersebut, dampaknya terhadap kesehatan, sudut pandang agama Islam, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh perawat, keluarga, dan masyarakat.
Memahami Perbedaan Mendasar: Isolasi Sosial versus Kesepian
Untuk memahami fenomena ini, kita perlu membedakan dua konsep yang kerap tertukar. Isolasi sosial (social isolation) adalah kondisi objektif yang mengacu pada sedikitnya jumlah kontak sosial, kecilnya jaringan pertemanan, atau tinggal sendirian tanpa kehadiran orang lain secara fisik. Kesepian (loneliness) adalah pengalaman subjektif yang menyakitkan, muncul dari ketidaksesuaian antara hubungan interpersonal yang diinginkan dengan hubungan yang dirasakan saat ini (Perlman & Peplau, 1982). Seseorang dapat merasa kesepian meskipun dikelilingi banyak orang, dan sebaliknya, seseorang yang tinggal sendiri belum tentu merasa kesepian.
Penelitian kualitatif oleh Piven dan kolega (2025) mengidentifikasi perbedaan mendasar antara kesepian emosional dan kesepian sosial. Kesepian emosional muncul akibat kehilangan hubungan yang mendalam seperti kehilangan pasangan hidup atau konflik dengan anak yang membuat lansia merasa “tidak memiliki siapa-siapa lagi” meskipun secara fisik tidak sendirian. Sementara itu, kesepian sosial lebih berkaitan dengan kurangnya jaringan pertemanan atau komunitas yang lebih luas (Piven et al., 2025).
Dampak Kesehatan: Ketika Kesepian Merusak Tubuh
Kesepian bukan sekadar pengalaman psikologis; ia merupakan stressor multisistem yang dampaknya pada kesehatan fisik setara dengan faktor risiko utama seperti merokok dan obesitas (Rahman & Zahari, 2026). Berbagai meta-analisis global menunjukkan bahwa kesepian secara konsisten meningkatkan morbiditas dan mortalitas.
- Mortalitas. Sebuah meta-analisis terhadap 86 studi dengan lebih dari 1 juta partisipan menemukan bahwa kesepian meningkatkan risiko kematian semua penyebab sebesar 14% (HR 1,14; IK 95% 1,10–1,18) (Nakou et al., 2025). Tinjauan lain bahkan melaporkan angka hingga 32% (Rahman & Zahari, 2026).
- Demensia dan Kognitif. Penelitian berskala besar terhadap 608.561 individu menunjukkan bahwa kesepian meningkatkan risiko demensia secara umum sebesar 31%, dengan rincian 39% untuk penyakit Alzheimer dan 74% untuk demensia vaskular (Luchetti et al., 2024).
- Kardiovaskular dan Metabolik. Kesepian dikaitkan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular (Rahman & Zahari, 2026), serta memperburuk tekanan darah dan respons stres oksidatif.
- Kesehatan Mental. Dampak paling nyata adalah pada psikologis, di mana kesepian meningkatkan risiko depresi dan kecemasan (Rahman & Zahari, 2026)
- Secara biologis, kesepian memicu inflamasi kronis (peningkatan CRP dan IL-6), disregulasi sumbu HPA (peningkatan kortisol), serta atrofi hipokampus yang mengganggu memori dan regulasi emosi (Rahman & Zahari, 2026; Warren, 2025). Singkatnya, kesepian bukanlah kondisi yang “hanya ada di kepala” melainkan ancaman sistemik yang nyata.
Fenomena “Tersosialisasi namun Kesepian”
Salah satu temuan paling menarik dari penelitian terkini adalah bahwa kesepian emosional dapat terjadi pada lansia yang secara objektif memiliki jaringan sosial yang luas. Park dan kolega (2025) mengidentifikasi lima pola hubungan sosial pada lansia dengan gangguan kognitif, dan menemukan bahwa kesepian emosional tertinggi terjadi pada kelompok dengan hubungan dekat yang terbatas atau negatif, termasuk pola hubungan yang beragam namun penuh ketegangan (Park et al., 2025).
Dengan kata lain, memiliki banyak hubungan sosial tidak menjamin perlindungan dari kesepian emosional. Yang menentukan adalah kualitas hubungan di antaranya adalah sejauh mana lansia merasa didengar, dipahami, dan divalidasi secara emosional oleh orang-orang terdekatnya. Seorang lansia dapat hadir dalam pertemuan keluarga setiap minggu, tetapi jika percakapan hanya bersifat transaksional (membahas obat, keuangan, atau cuaca) tanpa ruang untuk berbagi perasaan dan pengalaman batin, maka kesepian emosional tetap dapat terjadi.
Implikasi bagi Praktik Keperawatan
1. Peran Kritis Perawat
Perawat berada di garis depan dalam mendeteksi dan mengintervensi kesepian pada lansia. Sebuah commentary terbaru menyoroti bahwa perawat praktik umum (general practice nurses/GPNs) memiliki potensi besar untuk berperan sebagai “health connectors” menghubungkan lansia dengan sumber daya sosial dan komunitas (Asshiddiqi, 2026). Penelitian yang dikomentarinya (Thompson et al., 2025) menunjukkan bahwa perawat memiliki keterampilan klinis, hubungan terapeutik, dan kemauan untuk memberikan perawatan holistik yang berpusat pada individu (person centered care) (Thompson et al., 2026).
Namun, Asshiddiqi (2026) menegaskan bahwa efektivitas perawat sangat dipengaruhi oleh sistem di mana mereka bekerja. Studi implementasi menunjukkan bahwa meskipun perawat memiliki kemauan dan keterampilan, mereka sering terhambat oleh model pendanaan perawatan primer yang lebih memprioritaskan aktivitas medis akut daripada kerja preventif dan sosial (Asshiddiqi, 2026; Thompson et al., 2026). Hal ini menegaskan bahwa intervensi keperawatan yang sukses memerlukan dukungan kebijakan dan sistem yang selaras.
Lebih jauh, Asshiddiqi (2026) mengutip temuan menarik dari Thompson et al. (2025) bahwa perawat di garis depan menyarankan agar intervensi sosial dimulai lebih awal, idealnya sejak masa pensiun, untuk mencegah isolasi sebelum mengakar. Ini menunjukkan perlunya pendekatan siklus hidup (life-course approach) dalam asesmen risiko kesepian, tidak hanya menunggu hingga lansia berusia lebih lanjut di atas 75 tahun.
2. Asesmen yang Tepat dan Personal
Praktik asesmen konvensional yang hanya menanyakan “Apakah Anda tinggal sendiri?” atau “Berapa kali Anda bertemu keluarga?” tidak cukup untuk mendeteksi kesepian emosional. Alat ukur seperti UCLA Loneliness Scale versi 3 telah direkomendasikan untuk asesmen di fasilitas kesehatan (Salari et al., 2025).
Asshiddiqi (2026) menekankan bahwa lansia bukanlah kelompok yang homogen; mereka adalah individu unik dengan perspektif, kondisi kesehatan, kepribadian, dan latar belakang budaya yang beragam. Oleh karena itu, pendekatan personal melalui wawancara mendalam sangat penting untuk memahami konteks setiap lansia. Perawat dapat mengajukan pertanyaan terbuka seperti:
- “Kepada siapa Anda biasanya bercerita ketika merasa sedih atau khawatir?”
- “Dalam kunjungan keluarga terakhir, apakah Anda merasa benar-benar didengarkan?”
- “Apakah ada hal yang ingin Anda bagikan tetapi merasa tidak ada orang yang tepat untuk mendengarkannya?”
3. Mendengarkan sebagai Terapi
Salah satu intervensi paling sederhana namun paling kuat adalah mendengarkan secara aktif dan tanpa menghakimi. Lansia dengan kesepian emosional sering kali tidak membutuhkan solusi atas masalah mereka, akan tetapi mereka membutuhkan seseorang yang bersedia mendengar cerita, kekhawatiran, dan kerinduan mereka tanpa tergesa-gesa memberikan nasihat (Piven et al., 2025).
Peran Keluarga: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Meskipun perawat memiliki peran profesional, benteng utama perlindungan bagi lansia tetaplah keluarga.
1. Komunikasi Empatik: Mendengar dengan Hati
Komunikasi empatik adalah fondasi utama. Lansia yang merasa didengarkan dan dipahami akan merasa dihargai serta tidak menjalani masa tua dengan perasaan kesepian.
Beberapa teknik komunikasi empatik yang dapat diterapkan:
- Mendengarkan aktif (active listening): Berikan perhatian penuh saat lansia berbicara. Jangan menyela, terburu-buru memberi solusi, atau memainkan gawai.
- Validasi perasaan: Akui dan terima perasaan lansia tanpa menghakimi. Ucapkan kalimat seperti, “Saya mengerti bahwa Bapak merasa sedih,” bukan “Sudahlah, jangan sedih.”
- Bahasa tubuh yang mendukung: Tatap mata, tersenyum, dan sesekali mengangguk. Sentuhan lembut di pundak atau genggaman tangan juga dapat menyampaikan kehangatan.
- Libatkan dalam diskusi keluarga: Ajak lansia memberikan pendapat dalam pengambilan keputusan keluarga, sekecil apa pun.
2. Kehadiran Fisik yang Berkualitas
Bagi keluarga yang tinggal serumah, luangkan waktu khusus setiap hari untuk mengobrol, mendengarkan cerita mereka, atau sekadar menonton acara TV bersama. Yang terpenting adalah kualitas interaksi, bukan sekadar kehadiran fisik. Mengajak lansia mengobrol, melibatkan mereka dalam keputusan keluarga, dan memberikan dukungan emosional yang konsisten akan membantu mencegah perasaan kesepian (Hajek et al., 2025).
3. Teknologi sebagai Penghubung: Video Call
Bagi keluarga yang tidak lagi tinggal serumah, teknologi komunikasi daring menjadi solusi yang sangat efektif. Tinjauan sistematis tahun 2024 menunjukkan bahwa intervensi berbasis teknologi, termasuk konferensi video, merupakan salah satu kategori intervensi yang efektif untuk mengatasi kesepian pada lansia (Zaharia et al., 2024).
Tips praktis:
- Jadwalkan panggilan video secara rutin, misalnya jika tidak bisa setiap hari, setidaknya setiap hari Minggu atau dua kali seminggu.
- Libatkan cucu-cucu dalam panggilan video, senyum dan celoteh mereka sering kali membawa kebahagiaan tersendiri.
- Gunakan panggilan video tidak hanya untuk “mengecek keadaan,” tetapi juga untuk bercerita, bernostalgia, atau sekadar “makan bersama” secara virtual.
Landasan Islam: Menghormati Lansia adalah Ajaran Agama
Dalam ajaran Islam, memuliakan orang tua dan lansia adalah perintah yang jelas dan merupakan bagian dari pengagungan kepada Allah SWT. Berikut adalah dalil-dalil yang menjadi landasan.
1. Dalil Al-Qur’an: QS. Al-Isra’ (17): 23
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Terjemahan:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.”
Ayat ini secara tegas mengajarkan bahwa ketika orang tua mencapai usia lanjut, dimana saat mereka paling rentan, kewajiban berbuat baik justru semakin ditekankan. Bahkan mengucapkan kata “ah” (yang menunjukkan rasa tidak sabar) pun dilarang. Dalam konteks kesepian emosional, larangan ini mencakup sikap mengabaikan perasaan mereka atau menunjukkan kebosanan saat mereka bercerita.
2. Hadis Memuliakan Lansia sebagai Pengagungan kepada Allah
Nabi Muhammad SAW, Bersabda:
إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ
Terjemahan:
“Sesungguhnya termasuk pengagungan kepada Allah adalah memuliakan orang Muslim yang telah beruban (lanjut usia).”
(HR. Abu Dawud dan Albukhari)
Dengan demikian, upaya keluarga untuk memberikan perhatian, mendengarkan dengan empati, dan memastikan lansia tidak merasa kesepian bukan hanya tindakan sosial yang terpuji, tetapi juga ibadah yang bernilai di sisi Allah SWT.
Kesimpulan
Kesepian emosional pada lansia adalah fenomena yang nyata, berbahaya, dan sering kali tidak terdeteksi. Kesepian emosional dapat terjadi pada lansia yang tinggal bersama keluarga, aktif secara sosial, dan tampak “baik-baik saja” dari luar. Sebagai perawat, pendidik, dan anggota keluarga, kita memiliki tanggung jawab untuk melihat melampaui permukaan, tetapi juga melihat lebih dalam. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa kesepian emosional merusak kesehatan fisik dan mental, setara dengan faktor risiko utama penyakit kronis (Rahman & Zahari, 2026; Nakou et al., 2025). Namun, intervensi sederhana seperti mendengarkan secara aktif, dan komunikasi rutin baik secara langsung maupun melalui panggilan video terbukti efektif (Zaharia et al., 2024). Dalam perspektif Islam, semua upaya ini bukan sekadar tindakan sosial, melainkan pengamalan perintah Allah untuk memuliakan orang tua dan lansia, sebuah ibadah yang sarat dengan pahala. Maka, sudah saatnya kesepian emosional pada lansia mendapatkan perhatian yang setara dengan hipertensi atau diabetes, sebagai kondisi yang dapat dicegah, dideteksi, dan diintervensi secara holistik, dengan memadukan ilmu keperawatan, kasih sayang keluarga, dan nilai-nilai spiritual.
Daftar Pustaka
Asri, Y., Hartono, A., Murwani, A., Kristiarini, J. J., & Manga, Y. B. (2025). Prevalence and Associated Factors of Loneliness Among Older Adults in Indonesia: Insights from the Indonesian Family Life Survey (IFLS-5). Jurnal Ners, 20(1), 9–16. https://doi.org/10.20473/jn.v20i1.59927
Asshiddiqi, M. I. N. (2026). Commentary: The pivotal role of general practice nurses in addressing loneliness and fostering social connectedness among older people. Journal of Research in Nursing, 31(3–4), 260–262. https://doi.org/10.1177/17449871251408187
Chawla, K., Kunonga, T. P., Stow, D., Barker, R., Craig, D., & Hanratty, B. (2021). Prevalence of loneliness amongst older people in high-income countries: A systematic review and meta-analysis. PLOS ONE, 16(7), e0255088. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0255088
Hajek, A., Sutin, A. R., Posi, G., Stephan, Y., Peltzer, K., Terracciano, A., Luchetti, M., & König, H.-H. (2025). Chronic loneliness and chronic social isolation among older adults. A systematic review, meta-analysis and meta-regression. Aging & Mental Health, 29(2), 185–200. https://doi.org/10.1080/13607863.2024.2385448
Luchetti, M., Aschwanden, D., Sesker, A. A., Zhu, X., O’Súilleabháin, P. S., Stephan, Y., Terracciano, A., & Sutin, A. R. (2024). A meta-analysis of loneliness and risk of dementia using longitudinal data from >600,000 individuals. Nature Mental Health, 2(11), 1350–1361. https://doi.org/10.1038/s44220-024-00328-9
Nakou, A., Dragioti, E., Bastas, N.-S., Zagorianakou, N., Kakaidi, V., Tsartsalis, D., Mantzoukas, S., Tatsis, F., Veronese, N., Solmi, M., & Gouva, M. (2025). Loneliness, social isolation, and living alone: A comprehensive systematic review, meta-analysis, and meta-regression of mortality risks in older adults. Aging Clinical and Experimental Research, 37(1), 29. https://doi.org/10.1007/s40520-024-02925-1
Park, S., Park, S., Kim, B., Amano, T., & Baek, J. (2025). Social relationship patterns and their association with emotional and social loneliness in older adults with cognitive impairments. Aging & Mental Health, 29(6), 1152–1161. https://doi.org/10.1080/13607863.2025.2475313
Perlman, D., & Peplau, L. A. (1982). Theoretical approaches to loneliness. John Wiley & Sons. https://www.researchgate.net/publication/284634633_Theoretical_approaches_to_loneliness
Piven, M., Swissa, S., Asulin, O., & Osnat, B. (2025). Characteristics of Coping with Loneliness and the Influence of Living Arrangements Among Older Adults: Findings from a Comparative Qualitative Study. Journal of Gerontological Social Work, 68(1), 3–22. https://doi.org/10.1080/01634372.2024.2430604
Rahman, H. A., & Zahari, N. H. (2026). The Silent Crisis: Loneliness in Older Adults—A Critical Review of Impacts, Strategies and Path Forward. Scandinavian Journal of Caring Sciences, 40(3), e70292. https://doi.org/10.1111/scs.70292
Salari, N., Najafi, H., Rasoulpoor, S., Canbary, Z., Heidarian, P., & Mohammadi, M. (2025). The global prevalence and associated factors of loneliness in older adults: A systematic review and meta-analysis. Humanities and Social Sciences Communications, 12(1), 985. https://doi.org/10.1057/s41599-025-05304-x
Schröders, J., Nichter, M., San Sebastian, M., Nilsson, M., & Dewi, F. S. T. (2021). ‘The Devil’s Company’: A Grounded Theory Study on Aging, Loneliness and Social Change Among ‘Older Adult Children’ in Rural Indonesia. Frontiers in Sociology, 6. https://doi.org/10.3389/fsoc.2021.659285
Thompson, C., Halcomb, E., Montgomery, A., & Peters, K. (2026). Factors influencing the implementation of a general practice nurse-led intervention to improve social connectedness among older people in Australia: A qualitative descriptive study. Journal of Research in Nursing, 31(3–4), 243–259. https://doi.org/10.1177/17449871251410561
Warren, A. (2025). Loneliness as a driver of allostatic load: Mechanisms linking social disconnection to physiological dysregulation and health disparities. Stress, 28(1), 2594067. https://doi.org/10.1080/10253890.2025.2594067
Weiss, R. S. (1974). Loneliness: The Experience of Emotional and Social Isolation. publisher not identified.
World Health Organization. (2025). Loneliness and isolation – the hidden threat to global health we can no longer ignore. World Health Organization. https://www.who.int/news-room/commentaries/detail/loneliness-and-isolation-the-hidden-threat-to-global-health-we-can-no-longer-ignore
Zaharia, G., Ibáñez-del Valle, V., Cauli, O., & Corchón, S. (2024). The Long-Lasting Effect of Multidisciplinary Interventions for Emotional and Social Loneliness in Older Community-Dwelling Individuals: A Systematic Review. Nursing Reports, 14(4), 3847–3863. https://doi.org/10.3390/nursrep14040281