Penulis : Rafi Achmad Rukhama, S.Kep., Ns., M.N.Sc
Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan lingkungan pelayanan yang dinamis, cepat, dan penuh ketidakpastian. Pasien datang dengan kondisi yang beragam, mulai dari keluhan ringan hingga kondisi yang mengancam kehidupan. Dalam situasi tersebut, tenaga kesehatan dituntut untuk melakukan pengkajian dan intervensi secara cepat dan tepat. Namun, pelayanan kegawatdaruratan tidak seharusnya hanya berorientasi pada stabilisasi kondisi fisiologis pasien. Pasien dan keluarga juga memiliki kebutuhan psikologis, informasi, sosial, spiritual, dan kenyamanan yang perlu diperhatikan sebagai bagian dari pelayanan yang berkualitas.
Kegawatdaruratan merupakan pengalaman yang dapat menimbulkan krisis bagi pasien dan keluarga. Pasien dapat mengalami nyeri, sesak, ketakutan, kebingungan, atau kehilangan kontrol terhadap dirinya. Sementara itu, keluarga menghadapi ketidakpastian mengenai kondisi pasien, tindakan yang sedang dilakukan, prognosis, dan kemungkinan perubahan kondisi secara tiba-tiba. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kecemasan dan perasaan tidak berdaya. Oleh karena itu, pendekatan patient- and family-centered care menjadi penting dalam pelayanan IGD.
Pada pasien, kebutuhan fisiologis dan keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Pengkajian ABCDE, triase, pemantauan tanda vital, pengelolaan jalan napas, pernapasan, sirkulasi, status neurologis, serta pencegahan perburukan merupakan bagian fundamental dari keperawatan gawat darurat. Namun, setelah kebutuhan yang mengancam kehidupan ditangani, perawat perlu memperhatikan kebutuhan lain yang dapat memengaruhi pengalaman pasien selama berada di IGD.
Nyeri, ketidaknyamanan, rasa takut, haus, rasa dingin, kelelahan, dan kecemasan merupakan masalah yang sering dialami pasien. Pemenuhan kebutuhan tersebut dapat dilakukan melalui intervensi klinis maupun komunikasi terapeutik. Penjelasan sederhana mengenai tindakan yang akan dilakukan, alasan tindakan, serta perkembangan kondisi dapat memberikan rasa aman kepada pasien. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga merupakan intervensi keperawatan.
Keluarga juga merupakan bagian penting dalam pelayanan kegawatdaruratan. Ketika seorang anggota keluarga mengalami kondisi gawat, keluarga pada dasarnya turut mengalami krisis. Salah satu kebutuhan yang paling dominan adalah informasi. Ketidakjelasan mengenai kondisi pasien dapat meningkatkan kecemasan dan mendorong keluarga mencari informasi dari sumber yang tidak terpercaya. Perawat memiliki peran penting dalam memastikan keluarga memperoleh informasi yang jelas, konsisten, dan sesuai dengan kewenangan tenaga kesehatan.
Selain informasi, keluarga membutuhkan dukungan emosional. Kehadiran perawat yang responsif, komunikasi yang empatik, serta kesempatan untuk menyampaikan kekhawatiran dapat membantu keluarga menghadapi situasi krisis. Pertanyaan sederhana seperti “Apa yang paling Bapak/Ibu khawatirkan saat ini?” dapat membuka ruang komunikasi dan membantu perawat mengidentifikasi kebutuhan keluarga secara lebih spesifik.
Kedekatan dengan pasien juga dapat menjadi kebutuhan penting bagi keluarga. Dalam kondisi tertentu, keluarga mungkin ingin berada di dekat pasien karena kehadiran tersebut memberikan rasa aman bagi kedua pihak. Namun, penerapan keterlibatan keluarga perlu mempertimbangkan kondisi pasien, keselamatan, privasi pasien lain, jenis tindakan, dan kebijakan IGD. Keterlibatan keluarga bukan berarti keluarga harus selalu berada di samping pasien, tetapi memberikan kesempatan untuk berpartisipasi secara aman ketika kondisi memungkinkan.
Aspek spiritual juga tidak dapat diabaikan. Kondisi kritis dapat memunculkan pertanyaan mengenai kehidupan, kematian, harapan, dan makna penyakit. Perawat dapat mengidentifikasi apakah pasien atau keluarga memiliki kebutuhan spiritual tertentu, seperti kesempatan untuk berdoa atau memperoleh dukungan dari tokoh agama. Pemenuhan kebutuhan tersebut perlu dilakukan berdasarkan preferensi pasien dan keluarga tanpa mengganggu keselamatan serta proses penanganan kegawatdaruratan.
Implementasi pelayanan berbasis pasien dan keluarga memang menghadapi berbagai tantangan. Beban kerja tinggi, keterbatasan tenaga, keterbatasan ruang, jumlah pasien yang tidak dapat diprediksi, serta tuntutan untuk melakukan tindakan segera dapat menyebabkan kebutuhan psikososial dan keluarga kurang diperhatikan. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan pasien dan keluarga perlu diintegrasikan dalam proses keperawatan, bukan dipandang sebagai aktivitas tambahan.
Perawat memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara pasien, keluarga, dan sistem pelayanan kesehatan. Perawat tidak hanya berperan dalam melakukan tindakan klinis, tetapi juga sebagai advokat, edukator, komunikator, dan pemberi dukungan emosional. Kemampuan menyeimbangkan kecepatan tindakan dengan komunikasi yang manusiawi menjadi salah satu kompetensi penting dalam keperawatan gawat darurat.
Pada akhirnya, kualitas pelayanan IGD tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan mempertahankan fungsi vital pasien, tetapi juga oleh kemampuan pelayanan dalam memenuhi kebutuhan pasien dan keluarga secara menyeluruh. Pendekatan berbasis pasien dan keluarga dapat menciptakan pelayanan kegawatdaruratan yang tidak hanya cepat dan aman, tetapi juga manusiawi, responsif, dan menghargai martabat pasien serta keluarganya. IGD bukan sekadar tempat untuk menyelamatkan kehidupan, tetapi juga ruang untuk memberikan rasa aman dan dukungan kepada pasien dan keluarga ketika menghadapi situasi krisis.
Kata kunci: Instalasi Gawat Darurat; pelayanan berpusat pada pasien; pelayanan berpusat pada keluarga; kebutuhan keluarga; keperawatan gawat darurat; kebutuhan pasien dan keluarga.
Referensi yang disarankan
- Rukhama, R. A., Septian, R. B., & Listyaningrum, D. (2025). Adaptation and validation of the critical care family needs inventory – Emergency department (CCFNI-ED) in Indonesian emergency care settings. International Emergency Nursing, 83, 101695. https://doi.org/10.1016/j.ienj.2025.101695
- Walsh, A., Bodaghkhani, E., Etchegary, H., et al. (2022). Patient-centered care in the emergency department: A systematic review and meta-ethnographic synthesis. International Journal of Emergency Medicine, 15, 36. https://doi.org/10.1186/s12245-022-00438-0.
- Bissonette, S., et al. (2024). Interventions to improve nurse–family communication in the emergency department: A scoping review. Journal of Clinical Nursing. https://doi.org/10.1111/jocn.17068.
- Douma, M. J., Myhre, C., Ali, S., et al. (2024). What are the care needs of families experiencing sudden cardiac arrest? A survivor- and family-performed systematic review, qualitative meta-synthesis, and clinical practice recommendations. Journal of Emergency Nursing, 50(1), 6.
- Oyegbile, Y. O., & Brysiewicz, P. (2021). Tools to measure families experience in the emergency department: A scoping review. International Emergency Nursing, 58, 101038.