Oleh: Yeni Hendriyanti, S.Kep., Ns., MN.Sc

“Sejak punya bayi, saya jadi lebih sering lupa.”

Keluhan seperti ini cukup sering dirasakan oleh ibu setelah melahirkan. Lupa menaruh barang, lupa melakukan sesuatu, atau sulit berkonsentrasi pada hal tertentu sering dianggap sebagai tanda bahwa kemampuan memori ibu menurun. Namun, apakah menjadi ibu benar-benar menyebabkan kemampuan kognitif menurun?

Salah satu penelitian yang dapat membantu menjawab pertanyaan tersebut dilakukan oleh Orchard et al. (2022) melalui studi Evidence of Subjective, But Not Objective, Cognitive Deficit in New Mothers at 1-Year Postpartum. Penelitian ini membandingkan kemampuan kognitif ibu sekitar satu tahun setelah melahirkan dengan perempuan yang belum menjadi ibu.

Hasilnya menarik. Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan pada pengukuran kognitif objektif antara ibu dan perempuan yang belum menjadi ibu. Dengan kata lain, berdasarkan tes kognitif yang digunakan dalam penelitian tersebut, tidak ditemukan bukti bahwa ibu mengalami penurunan kemampuan kognitif objektif.

Namun, ketika ditanya mengenai pengalaman mereka sendiri, ibu melaporkan bahwa kemampuan memorinya terasa lebih buruk dibandingkan kelompok perempuan yang belum menjadi ibu. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan antara apa yang dirasakan ibu mengenai kemampuan memorinya (memori subjektif) dan kemampuan yang terlihat dari hasil tes kognitif (memori objektif).

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa pengalaman ibu terhadap memorinya berkaitan dengan kesejahteraan psikologis dan kondisi sehari-hari, termasuk tidur, kecemasan, dan depresi. Ibu dengan kondisi kesejahteraan yang lebih baik cenderung melaporkan kemampuan memori yang lebih baik, sedangkan kualitas tidur yang lebih buruk serta tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi berkaitan dengan penilaian memori yang lebih buruk. Namun, hubungan tersebut merupakan korelasi, sehingga penelitian ini tidak dapat menyimpulkan bahwa kurang tidur, kecemasan, atau depresi secara langsung menyebabkan penurunan kemampuan memori.

Lalu, bagaimana dengan perhatian ibu terhadap bayinya?

Penelitian Hiraoka et al. (2023) menunjukkan bahwa tangisan bayi merupakan stimulus yang sangat menarik perhatian ibu, terutama ketika tangisan tersebut berasal dari bayinya sendiri. Dalam tugas Stroop, kehadiran tangisan bayi sendiri dikaitkan dengan waktu respons yang sedikit lebih lama. Temuan ini tidak berarti bahwa ibu mengalami penurunan kemampuan kognitif. Sebaliknya, tangisan bayi merupakan stimulus yang sangat relevan bagi ibu sehingga dapat menarik perhatian dan memengaruhi kinerja pada tugas tertentu.

Menurut pandangan penulis, kedua penelitian tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari proses adaptasi ibu terhadap peran dan tuntutan baru setelah memiliki anak.

Setelah melahirkan, ibu tidak hanya mengalami perubahan fisik, tetapi juga harus menyesuaikan diri dengan pola tidur yang berubah, rutinitas baru, tanggung jawab merawat bayi, perubahan emosi, serta kebutuhan untuk terus memperhatikan berbagai tanda dan respons bayi. Dalam waktu yang bersamaan, perhatian ibu juga perlu terbagi antara kebutuhan bayi, dirinya sendiri, rumah tangga, dan berbagai tuntutan lainnya.

Penulis berasumsi bahwa pengalaman “lebih mudah lupa” pada sebagian ibu dapat berkaitan dengan kompleksitas proses adaptasi tersebut. Namun, asumsi ini merupakan interpretasi penulis dan bukan kesimpulan sebab-akibat dari kedua penelitian. Orchard et al. tidak membuktikan bahwa proses adaptasi menyebabkan keluhan memori, sedangkan Hiraoka et al. tidak menunjukkan bahwa perhatian terhadap tangisan bayi menyebabkan ibu menjadi lebih mudah lupa.

Apa Artinya bagi Keperawatan Maternitas?

Temuan ini penting dalam memberikan asuhan kepada ibu postpartum. Ketika seorang ibu mengatakan, “Saya sekarang lebih mudah lupa,” keluhan tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda penurunan fungsi kognitif. Perawat dapat melihat kondisi ibu secara lebih menyeluruh dengan memperhatikan kualitas tidur, kelelahan, kondisi emosional, kecemasan, gejala depresi postpartum, dukungan pasangan dan keluarga, beban pengasuhan, serta proses adaptasi terhadap peran sebagai ibu.

Dengan demikian, perhatian dalam masa postpartum tidak hanya diberikan kepada bayi, tetapi juga kepada ibu yang sedang menjalani proses perubahan besar dalam kehidupannya.

Menjadi Ibu Bukan Sekadar Perubahan Fisik

Penelitian Orchard et al. dan Hiraoka et al. memberikan gambaran bahwa pengalaman menjadi ibu melibatkan berbagai perubahan dalam cara ibu merasakan kemampuan dirinya, mengarahkan perhatian, dan merespons kebutuhan bayinya. Merasa lebih mudah lupa tidak selalu berarti bahwa kemampuan kognitif ibu benar-benar menurun.

Bagi tenaga kesehatan dan mahasiswa keperawatan, penting untuk membedakan antara pengalaman subjektif ibu, hasil pengukuran kognitif objektif, dan respons ibu terhadap stimulus yang berkaitan dengan bayinya. Pemahaman tersebut dapat membantu perawat memberikan edukasi dan dukungan yang lebih empatik, holistik, dan berbasis bukti.

Pada akhirnya, menjadi ibu adalah sebuah proses belajar dan adaptasi. Di balik keluhan sederhana seperti “kok saya sekarang sering lupa?”, mungkin terdapat seorang ibu yang sedang menyesuaikan diri dengan pola tidur baru, tanggung jawab baru, emosi baru, dan kebutuhan bayi yang terus berubah. Karena itu, mendengarkan pengalaman ibu dan memahami konteks kehidupannya merupakan bagian penting dari asuhan keperawatan maternitas.

Referensi

Hiraoka, Y., et al. (2023). Longitudinal changes in attention bias to infant crying in primiparous mothers. Frontiers in Behavioral Neuroscience, 17, 1192275.

Orchard, E. R., et al. (2022). Evidence of Subjective, But Not Objective, Cognitive Deficit in New Mothers at 1-Year Postpartum. Journal of Women’s Health, 31(8).