by Admin Keperawatan | May 21, 2026 | Artikel
Oleh: Sofyan Indrayana, S.Kep., Ns., MS
Hari Raya Idul Adha identik dengan kebersamaan dan konsumsi hidangan berbahan daging merah, seperti sapi dan kambing. Namun, bagi orang dengan penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan asam urat, pola makan yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko komplikasi kesehatan. Oleh karena itu, edukasi kesehatan menjadi penting agar masyarakat tetap dapat menikmati momen Idul Adha dengan aman dan sehat.
Daging merah sebenarnya merupakan sumber protein, zat besi, dan vitamin B12 yang baik bagi tubuh. Akan tetapi, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol, tekanan darah, serta risiko gangguan metabolik lainnya. Konsumsi daging merah berlebih diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular (Widiyanto et al., 2021). Pakar kesehatan menyarankan konsumsi daging merah dalam jumlah terbatas, sekitar 50–100 gram per kali makan agar tubuh tetap sehat selama Idul Adha.
Bagi Penderita diabetes melitus, penting untuk tetap menjaga kestabilan gula darah selama perayaan Idul Adha. Hindari mengonsumsi olahan daging yang tinggi santan, gula, dan garam seperti gulai atau tongseng secara berlebihan. Pilihan memasak yang lebih sehat adalah merebus, mengukus, atau memanggang tanpa banyak minyak. Selain itu, perbanyak konsumsi sayur dan buah untuk membantu mengontrol penyerapan lemak dan menjaga keseimbangan nutrisi.
Penderitahipertensi dan penyakit jantung juga perlu membatasi bagian daging yang berlemak. Pilih potongan rendah lemak dan hindari konsumsi jeroan karena tinggi kolesterol dan purin. Pada penderita asam urat, konsumsi daging berlebihan dapat memicu peningkatan kadar asam urat yang menyebabkan nyeri sendi. Penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi lemak dan rendah serat merupakan salah satu faktor utama meningkatnya penyakit degeneratif di Indonesia (Musta’in et al., 2024).
Selain pengaturan pola makan, aktivitas fisik ringan tetap penting dilakukan selama libur Idul Adha. Jalan pagi, peregangan ringan, atau aktivitas rumah tangga dapat membantu metabolisme tubuh tetap optimal. Penderita juga disarankan tetap rutin minum obat sesuai anjuran tenaga kesehatan dan tidak menunda kontrol kesehatan apabila muncul keluhan seperti nyeri dada, sesak napas, atau peningkatan gula darah.
Keluarga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan anggota keluarga dengan penyakit degeneratif selama Idul Adha. Dukungan keluarga dalam menyediakan menu sehat dan mengingatkan pola hidup seimbang dapat membantu mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Momentum Idul Adha seharusnya tidak hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga pengingat pentingnya menjaga kesehatan bersama keluarga. Dengan pola makan bijak dan gaya hidup sehat, Penderitapenyakit degeneratif tetap dapat menikmati suasana hari raya dengan aman dan nyaman.
Keyword:
- Prodi S1 Keperawatan Terbaik di Jogja
- Kesehatan Lansia Saat Idul Adha
- Tips Sehat Konsumsi Daging Kurban
Referensi
- Musta’in, M., Yuniarti, T., Sani, F. N., & Threesilia, E. A. (2024). Pola makan tidak terkontrol sebagai salah satu pemicu penyakit degeneratif di Indonesia. Prosiding Seminar Informasi Kesehatan Nasional. https://doi.org/10.47701/sikenas.vi.3936
- Susanti, S., Isnawati, I., & Muhaimin, F. I. (2021). Pengurangan konsumsi daging merah berlebih untuk menghambat penuaan. Muhammadiyah Journal of Geriatric, 3(1), 17–22. https://doi.org/10.24853/mujg.3.1.17-22
- Widiyanto, A., Peristiowati, Y., Ellina, A. D., & Atmojo, J. T. (2021). Potensi konsumsi daging merah terhadap risiko hipertensi. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat, 11(2). https://doi.org/10.32583/pskm.v11i2.1224
- World Health Organization. (2024). Healthy diet. WHO Healthy Diet
by Admin Keperawatan | May 14, 2026 | Artikel
Penulis : Ns. Deny Yuliawan, S.Kep., MHPE
Banyak yang bilang kuliah keperawatan itu berat. Tapi, pernahkah mas mbak membayangkan momen pertama kali mas mbak memegang stetoskop, belajar mendengarkan detak jantung manusia, atau memahami bahasa tubuh pasien yang sedang menahan nyeri? Di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata (UAA), pengalaman itu dirangkum secara apik dalam Blok Fundamental Nursing of Practice (FNP). Ini bukan sekadar mata kuliah atau blok, ini adalah fase “metamorfosis” dari seorang mahasiswa menjadi calon tenaga medis yang tangguh.
Bukan Kuliah Biasa, Ini Adalah Simulasi Kehidupan Apa yang membuat blok FNP ini begitu spesial di kampus biru Alma Ata?
- Lab Skill: Tempat “Magic” Terjadi : Lupakan ruang kelas yang kaku. Di blok FNP, waktu mas mbak akan banyak dihabiskan di laboratorium yang dirancang mirip dengan mini bangsal rumah sakit. Di sini, mas mbak akan belajar: The Power of Touch: Bagaimana memandikan pasien dengan cara yang memanusiakan pasien.
- Mengasah “Critical Thinking” Sejak Dini : Di UAA, mahasiswa tidak hanya diajarkan “bagaimana” cara melakukannya, tapi “mengapa” hal itu dilakukan. Melalui metode Problem Based Learning (PBL) dalam bentuk tutorial, mas mbak akan diajak membedah kasus sederhana, seperti Mengapa komunikasi terapeutik lebih ampuh daripada sekadar memberikan obat?
- Support System yang Solid : Belajar keterampilan dasar keperawatan bisa jadi menantang. Namun, di FKIK UAA, atmosfer kekeluargaan antara dosen dan mahasiswa sangat terasa. Dosen bukan sekadar penguji, melainkan mentor yang siap membimbing hingga mas mbak, untuk benar-benar kompeten.
- Integrasi Nilai Keislaman dan Modernitas : Sebagai bagian dari Universitas Alma Ata, blok FNP juga mengajarkan bagaimana memberikan asuhan keperawatan yang religius dan beretika. Mas mbak akan belajar bahwa merawat adalah ibadah, dan setiap tindakan adalah bentuk pengabdian kepada Tuhan dan kemanusiaan.
Jembatan Emas Menuju Gelar “Ners”
Blok Fundamental Nursing of Practice adalah pondasi. Tanpa fondasi yang kuat di tahap sarjana ini, tahap Profesi (Ners) akan terasa berat. Di UAA, kurikulum dirancang agar transisi dari teori di kampus ke praktik di rumah sakit atau komunitas berjalan mulus dan minim hambatan.“Skill yang hebat dimulai dari dasar yang kuat. Di Blok FNP, kita belajar bahwa hal-hal kecil yang dilakukan dengan penuh cinta adalah inti dari keperawatan.”
Ayo, Mulai Perjalananmu di Program Studi Ilmu Keperawatan FKIK UAA! Menjadi perawat adalah panggilan jiwa. Dan memulai perjalanan itu di Universitas Alma Ata adalah pilihan cerdas untuk masa depanmu. Jangan hanya jadi saksi hebatnya dunia kesehatan, jadilah bagian di dalamnya!
Keyword :
- Keyword : Kuliah Keperawatan Universitas Alma Ata, Fundamental Nursing of Practice UAA, Cara menjadi perawat profesional, Lab Keperawatan FKIK UAA, Jurusan Ners Yogyakarta, Pengalaman kuliah di Alma Ata.
by Admin Keperawatan | Apr 29, 2026 | Artikel
Penulis : Brune Indah Yulitasari, S.Kep., Ns., M.N.s.,
Kadang kita tidak sadar, hubungan kita dengan orang tua atau kakek-nenek di rumah itu perlahan berubah, bukan karena ada konflik besar, tapi karena kita makin jarang benar-benar hadir. Kita lebih sering sibuk dengan dunia sendiri, scroll media sosial, chat teman, atau mengejar aktivitas harian. Sementara mereka ada di dekat kita, tapi tidak benar-benar kita ajak terlibat. Padahal, buat lansia, hal sederhana seperti diajak ngobrol, ditemani duduk, atau sekadar didengarkan itu punya makna yang besar, bahkan bisa berpengaruh ke kesehatan mereka, baik secara mental maupun fungsi kognitif seperti daya ingat dan konsentrasi. Banyak lansia sebenarnya tidak mengeluh ketika merasa kesepian, mereka hanya jadi lebih diam, lebih banyak mengalah, atau tidak lagi mencoba memulai percakapan karena merasa tidak ingin mengganggu. Di sisi lain, kita sebagai generasi muda sering merasa obrolan dengan mereka tidak nyambung, terlalu lambat, atau berulang, sehingga tanpa sadar kita memilih untuk menghindar.
Perubahan ini sebenarnya tidak terjadi begitu saja. Cara hidup kita sekarang memang sangat berbeda dibandingkan generasi mereka. Dulu, interaksi dalam keluarga terjadi secara alami—di ruang makan, di teras rumah, atau saat berkumpul tanpa banyak distraksi. Sekarang, hampir semua orang punya kesibukan masing-masing, dan ketika ada waktu luang pun, perhatian kita sering terbagi dengan layar. Teknologi memang memudahkan banyak hal, tapi juga secara perlahan mengurangi kualitas interaksi langsung. Selain itu, banyak keluarga yang sekarang tidak lagi tinggal dalam satu lingkungan yang sama; anak-anak merantau untuk sekolah atau bekerja, sehingga hubungan dengan orang tua menjadi lebih jarang dan lebih formal. Perubahan peran dalam keluarga juga ikut berpengaruh, di mana lansia yang dulu menjadi pusat pengambilan keputusan kini lebih sering berada di posisi pasif, hanya mengikuti alur yang sudah ditentukan oleh generasi yang lebih muda. Semua hal ini membuat jarak antar generasi tidak selalu terlihat, tapi terasa. Padahal kalau kita mau sedikit saja melambat dan membuka ruang, ada banyak hal yang bisa kita dapat—cerita hidup yang nyata, cara mereka menghadapi masa sulit tanpa kemudahan teknologi, sampai nilai-nilai sederhana tentang kesabaran, ketahanan, dan arti keluarga. Hubungan antar generasi sebenarnya bukan soal siapa yang harus berubah mengikuti siapa, tapi bagaimana kita bisa saling mendekat meskipun hidup di zaman yang berbeda. Kita tidak harus selalu punya topik yang menarik atau percakapan panjang, cukup mulai dari hal kecil seperti menyapa dengan sungguh-sungguh, bertanya tentang keseharian mereka, atau meluangkan waktu tanpa tergesa-gesa dan tanpa distraksi. Bahkan hal seperti mengajarkan mereka menggunakan ponsel atau menemani menonton televisi bisa menjadi momen yang membuat mereka merasa dihargai dan tidak sendirian. Yang sering kita anggap sepele, justru bisa jadi hal yang paling berarti bagi mereka. Dan tanpa kita sadari, hubungan seperti ini bukan hanya membantu lansia merasa lebih sehat dan bahagia, tapi juga membentuk kita menjadi pribadi yang lebih peka, lebih sabar, dan lebih menghargai keberadaan orang-orang terdekat. Karena pada akhirnya, kedekatan dalam keluarga tidak tercipta dari hal-hal besar atau momen tertentu saja, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus, dari kesediaan untuk benar-benar hadir, dan dari perhatian sederhana yang mungkin tidak terlihat besar, tapi dampaknya bisa sangat dalam bagi mereka yang merasakannya.
by Admin Keperawatan | Apr 29, 2026 | Artikel
Penulis: Dr. Anafrin Yugistyowati, Ns., M.Kep., Sp.Kep., An
Membawa pulang bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) seringkali menjadi momen yang mendebarkan bagi orang tua. Setelah hari-hari penuh pengawasan medis di ruang perinatologi, wajar jika muncul pertanyaan di benak Ibu dan Ayah: “Sanggupkah kami merawat bayi sekecil ini sendirian di rumah?” Kecemasan ini adalah hal yang manusiawi, namun tidak boleh dibiarkan tanpa solusi.
Di sinilah peran penting Discharge Planning atau perencanaan pulang yang dimulai sejak bayi baru lahir hingga siap meninggalkan rumah sakit. Berdasarkan hasil riset terbaru, persiapan kepulangan bukan sekadar urusan administrasi atau tanda tangan surat izin pulang. Ini adalah proses pemberdayaan yang terstruktur untuk mengubah kecemasan keluarga menjadi kemandirian yang kuat.
Perawat di ruang perinatologi memegang peran sentral sebagai pendamping dan edukator utama. Sejak bayi dirawat, perawat bertugas “memandirikan” keluarga melalui bimbingan praktis yang melibatkan tidak hanya Ibu, tapi juga Ayah dan anggota keluarga terdekat. Keterlibatan Ayah dalam perawatan BBLR sangat krusial sebagai sistem pendukung utama yang dapat memberikan ketenangan emosional bagi Ibu.
Melalui bimbingan langsung dari perawat, keluarga dilatih untuk menguasai keterampilan khusus, seperti Perawatan Metode Kanguru (PMK) yakni teknik mendekap bayi di dada untuk menjaga suhu tubuhnya tetap stabil layaknya di dalam inkubator. Selain itu, keluarga diajarkan cara memberikan nutrisi yang tepat dan mengenali tanda-tanda bahaya secara dini. Kemandirian ini penting agar saat di rumah nanti, keluarga tidak lagi merasa kebingungan menghadapi kondisi bayi yang rentan.
Mengapa persiapan ini begitu krusial? Persiapan yang matang terbukti secara ilmiah mampu menurunkan tingkat stres dan kecemasan keluarga. Saat Ibu dan Ayah merasa yakin dan terampil merawat bayinya, risiko depresi pasca-melahirkan dapat ditekan. Kondisi psikologis Ibu yang tenang dan dukungan penuh dari Ayah akan sangat membantu kelancaran ASI, sehingga bayi dapat tumbuh dengan lebih optimal.
Lebih jauh lagi, kemandirian keluarga dalam merawat BBLR di rumah adalah langkah nyata dalam memutus rantai stunting. BBLR memang memiliki risiko tumbuh kembang yang lebih menantang, namun dengan pemantauan nutrisi, kehangatan, dan cinta yang konsisten dari keluarga yang berdaya, risiko tersebut bisa kita cegah bersama.
Pada akhirnya, kepulangan BBLR adalah sebuah kemenangan kecil yang harus dirayakan dengan kesiapan. Dengan peran aktif perawat dalam memberikan edukasi yang tepat sejak di rumah sakit, kita tidak hanya mengirim bayi pulang, tetapi kita mengirimkan sebuah keluarga yang siap, percaya diri, dan penuh harapan untuk mengawal masa depan buah hati yang sehat, kuat, dan bebas stunting.
Key Word: Prodi Pendidikan Profesi Ners Terbaik di Jogja; BBLR; Program Discharge Planning; Kemandirian Ibu; Risiko Stunting
by Admin Keperawatan | Apr 22, 2026 | Artikel
Penulis : Tifany Hayuning Ratri,S.Kep.,Ns.,M.Kep
Stroke sering kali datang tanpa peringatan, namun tubuh sebenarnya memberikan tanda-tanda awal yang sering diabaikan. Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, sehingga menyebabkan jutaan sel otak mati.
Mengapa Deteksi Dini itu Penting ?
Stroke masih menjadi penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di Indonesia. Namun kabar baiknya stroke dapat dicegah dan diobati dengan cepat.Golden Periode (periode emas) adalah rentang waktu kurang dari 4,5 jam setelah muncul gejala dimana terapi medis sangat efektif mengurangi dampak stroke.
Kenali Metode “ FAST”
Kementrian Kesehatan RI merumuskan singkatan yang mudah untuk mengenali gejala stroke :
F (Fase / wajah) : Minta orang tersebut tersenyum.Perhatikan apakah satu sisi wajah terkulai atau tidak simetris.
A (Arm/lengan) : Minta orang tersebut mengangkat kedua lengan. Periksa Apakah salah satu lengan melemah atau jatuh.
S (Speech/Bicara) : Minta orang tersebut mengulangi kalimat sederhana. Apakah bicaranya pelo, tidak jelas, atau tidak mampubicara ?
T (Time/Waktu) : Jika terdapat salah satu gejala diatas, segera bawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas penanganan stroke.
Selain tanda itu, tanda lain yang muncul yaitu pandangan kabur secara tiba-tiba dan sakit kepala hebat yang datang mendadak.
Faktor Resiko yang Harus Diwaspadai
Stroke tidak hanya menyerang lansia, namun kini usia muda pun beresiko.Faktor utama stroke yaitu:
- Hipertensi (tekanan darah tinggi)
- Diabetes Melitus
- Kolestrol Tinggi
- Merokok
- Kurang olahraga dan obesitas
Tindakan Pencegahan (CERDIK)
Lakukan langkah “CERDIK” untuk mencegah stroke:
- Cek kesehatan secara berkala
- Enyahkan asap rokok
- Rajin aktivitas fisik/olahraga
- Diet seimbang (kurangi garam/gula/lemak)
- Istirahat cukup
- Kelola stres
Jangan pernah mengabaikan gejala stroke meskipun ringan dan hilang timbul, karena bisa menjadi peringatan stroke ringan (TIA) sebelum serangan besar terjadi. Waktu adalah Otak !
Referensi:
- Kementrian Kesehatan RI.(2019,29 Oktober). begini cara mengenali gejala stroke.Ayo Sehat Kemkes.kemkes.go.id
- Nasution,A.,& Sari,D.P.(2024). Edukasi dan simulasi deteksi dini stroke dengan pendekatan FAST pada kelompok beresiko. Jurnal Pengabdian Masyarakat SPIKesNas,2(1),22-29