Penulis: Despita Pramesti, S.Kep.Ns.,M.Kes

Masa SMA sering dipandang sebagai masa yang penuh cerita: persahabatan, pencarian jati diri, prestasi akademik, organisasi, hingga berbagai rencana masa depan. Namun, di balik aktivitas tersebut, sebagian remaja dapat mengalami tekanan emosional yang tidak selalu terlihat. Perasaan gagal, merasa tidak cukup baik, takut tidak diterima, dibandingkan dengan teman, atau merasa tidak mampu memenuhi harapan orang lain dapat perlahan memengaruhi cara remaja memandang dirinya sendiri.

Salah satu aspek yang penting diperhatikan adalah harga diri (self-esteem). Harga diri berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai, menerima, dan menghargai dirinya. Ketika harga diri melemah, remaja dapat lebih mudah memandang dirinya secara negatif. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat berjalan bersama dengan munculnya gejala depresi.

Temuan penelitian Cindy Amalia Sari, Despita Pramesti, Fatma Siti Fatimah, dan Mulyanti yang diterbitkan dalam Journal of Mental Health Concerns pada tahun 2026 memberikan gambaran empiris mengenai hubungan tersebut pada remaja madya usia 15–18 tahun.

Mengapa Remaja SMA Rentan Mengalami Masalah Harga Diri?

Masa remaja merupakan periode perubahan fisik, emosional, kognitif, dan sosial yang cepat. Pada masa ini, remaja sedang membangun identitas dan semakin memperhatikan bagaimana dirinya dilihat oleh orang lain. Penerimaan teman sebaya, prestasi akademik, penampilan fisik, relasi sosial, kondisi keluarga, serta pengalaman di media sosial dapat menjadi bagian dari proses tersebut.

Bagi remaja SMA, tuntutan untuk berprestasi juga dapat terasa kuat. Nilai ujian, persaingan masuk perguruan tinggi, ekspektasi orang tua, organisasi, kegiatan sekolah, dan hubungan pertemanan dapat menjadi sumber tekanan. Ketika tekanan tersebut bertemu dengan pola pikir seperti “saya tidak cukup pintar”, “saya tidak sebaik teman-teman saya”, atau “saya selalu gagal”, penilaian negatif terhadap diri dapat semakin kuat.

Harga diri yang rendah bukan sekadar kurang percaya diri dalam satu situasi. Dalam konteks kesehatan mental, remaja dapat mulai merasa dirinya tidak berharga, sulit melihat kelebihan diri, lebih sensitif terhadap penolakan, menarik diri dari lingkungan, atau merasa tidak mampu menghadapi masalah.

Depresi Bukan Sekadar Sedih

Sedih setelah mendapat nilai yang tidak sesuai harapan, bertengkar dengan teman, atau mengalami kegagalan merupakan respons emosional yang dapat terjadi pada siapa saja. Depresi berbeda karena gejalanya dapat menetap, mengganggu fungsi sehari-hari, dan memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, serta berperilaku.

Pada remaja, tanda yang perlu diperhatikan antara lain perubahan suasana hati yang menetap, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, menarik diri dari pergaulan, perubahan pola tidur atau makan, kelelahan, sulit berkonsentrasi, penurunan motivasi belajar, rasa bersalah atau tidak berharga, serta munculnya pikiran tentang kematian atau menyakiti diri. WHO menyebut depresi sebagai salah satu masalah kesehatan mental utama pada remaja dan menekankan pentingnya dukungan sosial, pengembangan keterampilan sosial-emosional, dan akses terhadap layanan kesehatan mental. (WHO, 2025)

Bagaimana Harga Diri dan Depresi Saling Berkaitan?

Hubungan harga diri dan depresi dapat dipahami melalui cara remaja memaknai pengalaman sehari-hari. Ketika seorang remaja memiliki penilaian diri yang relatif positif, kegagalan atau kritik tidak selalu diterjemahkan sebagai bukti bahwa dirinya tidak berharga. Ia masih dapat melihat kegagalan sebagai pengalaman yang dapat diperbaiki.

Sebaliknya, harga diri yang rendah dapat membuat pengalaman negatif terasa lebih personal. Nilai yang buruk dapat dimaknai sebagai “saya bodoh”; penolakan teman menjadi “tidak ada yang menyukai saya”; atau kegagalan dalam suatu kegiatan menjadi “saya memang tidak mampu”. Pola penilaian seperti ini dapat memperkuat emosi negatif dan membuat remaja semakin menarik diri.

Dalam penelitian Sari dan kolega, rendahnya harga diri berkaitan dengan tingkat depresi yang lebih tinggi. Temuan tersebut memperkuat pentingnya melihat kesehatan mental remaja bukan hanya dari gejala depresi, tetapi juga dari cara remaja menghargai dan memandang dirinya sendiri.

Apa yang Bisa Dilakukan Remaja?

  1. Kenali cara berbicara kepada diri sendiri: Perhatikan pikiran seperti “aku tidak berguna” atau “aku selalu gagal”. Cobalah menilai apakah pikiran tersebut benar-benar sesuai fakta.
  2. Pisahkan nilai diri dari hasil: Nilai ujian, jumlah teman, penampilan, atau keberhasilan dalam satu kegiatan tidak menentukan seluruh nilai diri seseorang.
  3. Bangun aktivitas yang bermakna: Kegiatan olahraga, seni, organisasi, ibadah sesuai keyakinan, belajar, atau aktivitas bersama orang yang dipercaya dapat membantu menjaga keseimbangan hidup.
  4. Cari orang yang aman untuk bercerita: Teman yang dipercaya, orang tua, guru, wali kelas, konselor sekolah, psikolog, atau tenaga kesehatan dapat menjadi tempat mencari dukungan.
  5. Jangan menunggu sampai keadaan semakin berat: Jika perubahan suasana hati, kehilangan minat, menarik diri, atau gangguan fungsi berlangsung dan mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan profesional perlu dipertimbangkan.

Daftar Pustaka

  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Depresi pada anak muda di Indonesia: Fact Sheet Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Pentingnya kesehatan mental bagi remaja dan cara menghadapinya. Ayo Sehat.
  • Rahmadani, A., Pramesti, D., Kamala, R. F., & Rofiyati, W. (2024). Hubungan interaksi teman sebaya dengan kejadian depresi pada remaja madya. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7(1). https://doi.org/10.47539/jktp.v7i1.378
  • Sari, C. A., Pramesti, D., Fatimah, F. S., & Mulyanti. (2026). The relationship between self-esteem and depression among middle adolescents. Journal of Mental Health Concerns, 5(2), 196–201. https://doi.org/10.56922/mhc.v5i2.3319
  • World Health Organization. (2025). Mental health of adolescents. WHO.