Oleh: Yeni Hendriyanti, S.Kep., Ns., MN.Sc

Hari Raya Idul Adha merupakan momen penuh kebersamaan yang identik dengan konsumsi berbagai olahan daging kurban. Bagi ibu hamil, momen ini sering kali menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan konsumsi daging serta cara menjaga kesehatan selama perayaan berlangsung. Pemenuhan nutrisi selama kehamilan memang sangat penting, namun tetap perlu dilakukan secara bijak agar kesehatan ibu dan janin tetap terjaga.

Selama masa kehamilan, tubuh mengalami berbagai perubahan fisik maupun hormonal yang menyebabkan ibu hamil lebih sensitif terhadap makanan tertentu. Oleh karena itu, pemilihan jenis makanan, cara pengolahan, hingga jumlah konsumsi perlu diperhatikan dengan baik, terutama saat konsumsi daging meningkat pada perayaan Idul Adha.

Daging sapi maupun kambing sebenarnya memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi ibu hamil. Protein hewani yang terkandung di dalamnya berperan dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan janin. Selain itu, kandungan zat besi dan vitamin B12 pada daging juga membantu mencegah anemia yang sering terjadi selama kehamilan. Anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, pusing, bahkan meningkatkan risiko komplikasi kehamilan apabila tidak ditangani dengan baik.

Meskipun memiliki manfaat, konsumsi daging secara berlebihan tetap tidak dianjurkan. Olahan daging yang tinggi lemak, santan, dan garam dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan, kenaikan berat badan berlebih, hingga meningkatkan tekanan darah. Pada beberapa ibu hamil, makanan berlemak juga dapat memicu rasa mual dan ketidaknyamanan pada lambung.

Selain memperhatikan jumlah konsumsi, proses pengolahan daging kurban juga perlu menjadi perhatian khusus. Pengolahan daging yang tidak higienis dapat meningkatkan risiko kontaminasi bakteri yang berbahaya bagi kesehatan ibu hamil dan janin. Kontaminasi dapat terjadi sejak proses penyembelihan, pemotongan, distribusi, hingga penyimpanan daging.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bakteri seperti Escherichia coli (E. coli) dapat mencemari daging melalui tangan pekerja yang tidak bersih, alat pemotong yang tidak dicuci, air yang tercemar, serta lingkungan pemotongan yang terbuka dan kurang higienis. Daging yang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang tanpa pendinginan juga lebih mudah mengalami pertumbuhan bakteri.

Cara Menyimpan Daging Kurban yang Benar

Penyimpanan daging kurban yang tepat sangat penting untuk menjaga kualitas daging dan mencegah pertumbuhan bakteri yang dapat membahayakan kesehatan.

Salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan masyarakat adalah mencuci daging sebelum disimpan. Daging mentah sebenarnya tidak perlu dicuci sebelum dimasukkan ke dalam kulkas atau freezer. Percikan air dari proses pencucian dapat menyebarkan bakteri ke wastafel, meja dapur, maupun peralatan masak lainnya. Daging cukup dicuci saat akan diolah dan dimasak.

Sebelum disimpan, daging sebaiknya dipotong sesuai kebutuhan agar lebih praktis saat digunakan. Daging kemudian dimasukkan ke dalam wadah bersih atau plastik tertutup untuk menjaga kualitas dan mencegah kontaminasi dengan bahan makanan lain.

Penyimpanan daging mentah juga perlu dipisahkan dari makanan matang. Hal ini bertujuan untuk mencegah kontaminasi silang yang dapat meningkatkan risiko keracunan makanan.

Selain itu, suhu penyimpanan harus diperhatikan. Daging yang akan segera dikonsumsi dapat disimpan di dalam kulkas dengan suhu sekitar 0–4°C. Sementara itu, untuk penyimpanan lebih lama, daging sebaiknya dimasukkan ke dalam freezer dengan suhu sekitar -18°C agar kualitasnya tetap terjaga.

Daging juga tidak dianjurkan dibiarkan terlalu lama di suhu ruang karena kondisi tersebut dapat mempercepat pertumbuhan bakteri, terutama saat cuaca panas selama Idul Adha.

Ibu hamil dianjurkan untuk memastikan daging diolah dengan baik dan dimasak hingga matang sempurna. Konsumsi daging mentah atau setengah matang sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko infeksi yang membahayakan kehamilan.

Untuk menjaga kesehatan selama Idul Adha, ibu hamil disarankan mengonsumsi daging dalam porsi seimbang dan tetap memperbanyak asupan sayur serta buah. Kandungan serat pada sayur dan buah membantu melancarkan sistem pencernaan dan mencegah sembelit yang umum terjadi selama kehamilan. Selain itu, kebutuhan cairan juga perlu dipenuhi dengan minum air putih yang cukup setiap hari.

Aktivitas fisik ringan seperti berjalan santai juga dapat membantu menjaga kebugaran tubuh selama masa kehamilan. Di samping itu, ibu hamil perlu memastikan waktu istirahat tetap cukup meskipun sedang sibuk dengan aktivitas keluarga saat hari raya.

Peran tenaga kesehatan, khususnya perawat, sangat penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pola hidup sehat selama Idul Adha. Edukasi mengenai konsumsi makanan bergizi seimbang, keamanan pangan, dan pentingnya menjaga kebersihan dalam pengolahan daging kurban dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan keluarga.

Dengan pola makan yang tepat, pengolahan makanan yang higienis, dan gaya hidup sehat, ibu hamil tetap dapat menikmati suasana Idul Adha dengan aman dan nyaman. Perayaan hari raya tidak hanya menjadi momen berbagi dan berkumpul bersama keluarga, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan selama kehamilan.